The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 37. Ramalan yang Nyata



Musim yang terus saja berulang, tak terasa tumbuh dewasa sangatlah cepat. Berjalan mengelilingi koridor istana, melompat kegirangan sambil terus menyapa, tak pernah membedakan siapa pun, akan terus membungkuk lebih dulu meskipun hanya seorang pelayan di hadapannya. Ingatan yang melekat dalam pikirannya, ‘yang lebih tua haruslah di hormati agar nantinya kelak bisa di segani.’ Nasehat Pangeran Li De Lóng itu rupanya telah menjadi kebiasaannya sekarang.


Tubuh kecil dan mungil, kepangan rambut yang sedikit berantakan, senyuman yang terus merekah, tangisan kesal sesaat dan tertawa kembali, begitu mudah untuk membujuknya, siapa sangka Keempat Pendekar akan berebutan untuk menjaganya.


Waktu yang di nantikan Pangeran Li De Lóng akhirnya tiba, Putri Yi Lan telah cukup umur untuk dibawa ke Paviliun miliknya dan tinggal bersama, akan tetapi hati seorang Ibu masih sedikit berat untuk melepasnya.


Saat di ruangan Permaisuri, Pangeran Li De Lóng akan berpamitan untuk kembali ke Paviliun.


“Ibu, Aku akan membawa Yi Lan tinggal bersamaku, untuk menjaga hal-hal buruk itu terjadi, setidaknya Ia akan baik-baik saja bersamaku.”


“Tapi ... bisakah Kau berangkat esok hari? Entahlah, Ibu hanya ingin tidur bersamanya semalam saja,” dengan wajah penuh memelas.


“Baiklah Ibu, Aku akan menundanya sampai besok, tidurlah bersama Yi Lan malam ini, jika membutuhkan sesuatu, ibu bisa memanggilku.”


“Terima kasih pangeran tampan,” sambil tersenyum bahagia.


“Sama-sama Ibu, Aku akan membawanya menemuimu nanti, Aku permisi dulu.”


Pangeran Li De Lóng kembali menuju ruangannya, Ia menghampiri Yi Lan yang telah duduk manis di kamarnya, lebih tepatnya kamar mereka berdua.


“Ah ... Kakak, Kau sudah kembali, bisakah Kau merapikan rambutku? Rambutku tersangkut di ranting bunga saat bermain di taman tadi,” sembari memberikan alat perapi rambut kepada Pangeran Li De Lóng.


“Mengapa ... tak meminta pelayan untuk merapikannya? Bukankah ... akan membutuhkan waktu lama jika harus menungguku?” sambil menyisir perlahan rambut Yi Lan.


“Kakak ... bukankah Kau pernah mengatakan padaku bahwa tidak baik menyuruh Seorang Pelayan yang sedang sibuk? Sedari tadi Aku melihat semua Pelayan penuh dengan kesibukan sepanjang hari, bagaimana bisa menyuruh Mereka untuk memperbaiki rambutku?” dengan memandangi Pangeran Kedua di pantulan cermin, sambil menggoyangkan kakinya yang masih belum mencapai lantai saat Ia duduk.


Pangeran Li De Lóng hanya bisa tertawa kecil saat mendengar perkataan Yi Lan, Ia tak percaya kalau nasehatnya akan terus di ingat oleh adiknya yang baru sekecil ini.


Kembali Yi Lan melanjutkan bicaranya, “Kakak, apa Kita akan tinggal di rumahmu? Apa di sana sangat indah? Apa di sana akan banyak Bunga? Apa ... Ibu dan Ayah sudah mengizinkannya?”


“Aih ....” Pangeran Li De Lóng di buatnya melongo kagum, tak percaya pertanyaan sebanyak itu akan keluar dari mulut anak kecil yang Ia nantikan sepanjang waktu.


“Yi Lan, Kau membuat pertanyaan yang banyak hari ini, tapi ... baiklah itu tidak masalah.”


Pangeran Li De Lóng yang telah selesai merapikan rambut Yi Lan, kini mulai membalikkan kursi Yi Lan ke arahnya.


Kembali Ia melanjutkan perkataannya, “Dengarlah, itu bukan hanya tempat tinggalku, tapi itu juga adalah tempatmu. Semua yang Aku miliki, Kau pun bisa memilikinya, asalkan terus bersikap manis dan tetaplah bersamaku, suasana di sana sangatlah indah, Kakak bisa menjamin Kau akan betah berada di tempat itu. Ibu dan Ayah mengizinkannya, hanya saja ... malam ini Kau harus tidur bersama Ibu, Kita akan berangkat besok, jadi Ibu ingin bersamamu malam ini, bisakah ... Yi Lan menemani Ibu malam ini?”


“Baiklah Kakak, kalau begitu Kau harus menjaga dirimu malam ini.”


Lagi-lagi Pangeran Kedua hanya bisa tersenyum mendengar setiap perkataan aneh dari adiknya itu.


**


Malam pun tiba, Yi Lan bersama Pangeran Kedua menuju ruangan Permaisuri. Yi Lan yang terbiasa memegang jari telunjuk Pangeran Li De Lóng untuk di gandengnya, hal yang membuat Ia merasa nyaman saat melangkah, dan jika hanya dirinya sendiri yang berjalan, Ia akan memegang Jari telunjuknya sendiri sambil membayangkan Pangeran Li De Lóng.


Tiba di pintu ruangan Permaisuri, “Pangeran Li De Lóng menghadap,” sambil sedikit membungkuk di hadapan Permaisuri.


Perlakuan yang membuat decak kagum para pelayan Permaisuri, termasuk Permaisuri itu sendiri.


“Ibu, apa Kau memintaku untuk tidur bersamamu? Apa Kakak juga akan turut serta?”


“Aih ...” dengan suara lirih Pangeran Kedua mulai memandang Yi Lan dengan rasa heran dan sedikit malu.


Semua pelayan hanya bisa tersenyum mendengar pertanyaan polos Putri Yi Lan.


“Yi Lan, Kakakmu sudah besar, jadi sudah seharusnya Ia tidur sendiri. Iya sayang, Ibu yang memintanya.”


“Baiklah Ibu, Aku akan tidur bersamamu,” kembali Ia menoleh ke arah Kakaknya.


“Kakak, kalau begitu Kau boleh kembali, Ibu tak mengizinkanmu tidur disini, jadi Kau harus menjaga dirimu sendiri.”


“Jika menyuruhku untuk menjaga diri, setidaknya ... Putri yang manis ini harus memberi tanda aman kepadaku.”


Yi Lan pun melangkah ke arah kakaknya yang mulai jongkok ketika Yi Lan mendekatinya. Yi Lan mengecup kening Pangeran Li De Lóng sambil berkata, “Kakak, Kau akan aman dengan kecupan itu, Aku akan mengambilnya lain waktu.”


Pangeran Li De Lóng membalas dengan usapan lembut di rambutnya, “Mimpilah yang indah anak manis,” kembali Ia berdiri dan mulai berpamitan.


“Ibu, Aku permisi dulu,” sambil melambaikan tangan kepada Yi Lan dan berlalu pergi.


Malam semakin larut, Yi Lan terlihat begitu pulas, akan tetapi Permaisuri terus saja terjaga, terus menatap dan membelai Yi Lan sekaligus memuaskan pandangannya. Ia hanya berharap ramalan itu tak akan pernah benar, sehingga bisa terus bersama putrinya sepanjang waktu.


Tak lama saat Permaisuri akan bersiap untuk tidur, Yi Lan mulai terlihat gelisah sambil terus memejamkan mata, tubuhnya keluar keringat dingin seperti sedang bermimpi buruk, akan tetapi bukan itu hal yang terjadi. Suhu tubuh Yi Lan tak stabil, kadang Panas Kadang sangat dingin, Yi Lan pun semakin merintih kesakitan.


Permaisuri mulai terlihat khawatir, segera Ia memerintahkan pelayannya untuk memanggil Pangeran Kedua.


Tibalah pelayan itu di ruangan Pangeran Li De Lóng, “Maaf Pangeran, Permaisuri memanggil Anda segera, Putri Yi Lan ....” belum sempat melanjutkan Pangeran Li De Lóng langsung berlari menuju ruang Permaisuri.


“Ah, Kau sudah datang. Yi Lan tiba-tiba saja suhunya tidak stabil,” kata Permaisuri yang mulai panik.


Kaisar yang juga mendengar kabar tersebut segera menuju ke ruangannya.


“Maafkan Aku Ibu, Aku harus membawa Yi Lan kembali ke Paviliun malam ini juga, Dia tak akan cocok tinggal terlalu lama di sini,” kembali Pangeran Kedua menoleh ke arah Kaisar yang telah berada dalam ruangan.


“Ayah, izinkan Aku membawa Yi Lan kembali.”


“Baiklah, lakukan saja yang menurutmu terbaik, jagalah Dia dengan baik.”


Kembali Permaisuri berkata, “Tapi ... apakah tidak membutuhkan Tabib Istana?”


“Percuma Ibu, perkataan Mereka akan tetap sama, Aku akan menetralisirnya sendiri, tak banyak waktu lagi, Aku permisi!” sambil menggendong Yi Lan dengan sedikit berlari menuju kereta yang telah di siapkan pengawalnya.