The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 49. BUNUH DIRI



Perdana Menteri Li Feng, mengambil tali yang di Lempar Pangeran Kàn Yún dengan tangan gemetar, dan dengan wajah pucat tak bercahaya. Ia masih memandang tali itu dengan bingung entah harus melakukan rencana apa, Ia pun memberanikan dirinya untuk bertanya, "Ta ... ta ... tapi ... rencana apa yang harus Aku kerjakan, Pangeran?"


Pangeran Kàn Yún membalasnya dengan singkat sambil menatap tajam kearah Pria Tua itu, "Gantung diri!"


Mendengar perkataan itu, Perdana Menteri Li Feng segera bersujud sambil terus memegang kaki Pangeran Kàn Yún, "Mohon ampuni saya Pangeran, Aku mohon padamu Pangeran beri Aku kesempatan lagi. Aku akan melakukan semua yang Kau perintahkan."


Sambil mendekatkan wajahnya di hadapan Li Feng, "Dan sekarang apa Li Feng? Kau tak melakukan apa yang Aku perintahkan bukan? Bagaimana bisa Aku akan percaya lagi padamu, Perdana Menteri Li Feng? kembali Ia menjauhkan wajahnya dan mulai mengelilingi Li Feng dan berkata, "Kau tinggal memilih saja sekarang, Lakukan apa yang Aku perintahkan, atau ... Aku yang akan membunuhmu. Keduanya memang sama tapi Kau bisa memilihnya kembali, mati dengan ragamu yang utuh, atau mati dengan raga yang akan di cabik-cabik oleh serigala, sudah jelas tak akan ada sisa lagi. Jika itu terjadi maka kekaguman dalam dirimu tak akan bisa Kau pamerkan lagi, setidaknya tak ada yang kurang."


"Tolong jangan lakukan ini Pangeran, Aku mohon beri Aku kesempatan lagi." sambil kembali bersimpuh di Kaki Pangeran Kàn Yún, akan tetapi Pangeran Kàn Yún malah menendangnya.


"Itu konyol, Li Feng. Pengawal! Cepat Kau tangkap Para Pelayan wanita yang kabur itu. Bunuh Mereka dan buang Mereka di hutan. Ingat! Jangan sampai ada yang selamat, kalau tidak kalian yang akan mati."


"Baik Pangeran," kemudian Mereka bergegas pergi menjalankan perintahnya.


Kembali Ia menatap Li Feng, "Jangan menghabiskan kesabaranku Li Feng, Cepat lakukan!"


Pangeran Kàn Yún mengambil tali itu kembali, kemudian melemparnya ke atas palang rumah dan mengikatnya dengan erat, sambil mencoba menariknya untuk memastikan apakah ikatannya kuat. Pangeran Kàn Yún kembali menyeret Pria Tua itu ke arah tali, dan memaksanya untuk melakukan perintahnya dengan cepat. Dan dengan terpaksa Ia menaiki kursi dan memasukan kepalanya kedalam tali, sambil berkata dengan penuh kebencian kepada Pangeran Kàn Yún, "Dengarkan Aku baik-baik Kàn Yún, Kau akan menerima akibat perbuatanmu."


"Diam Kau KEPARAT!" sambil menendang kursi tempat Perdana Menteri Li Feng berpijak, dan tentu saja Pria Tua itu tergantung, Ia berusaha mencari pijakan lainnya tetapi tak bisa di raihnya. Li Feng mulai kehilangan kesadaran, beberapa detik kemudian Ia kejang-kejang, lengan dan tungkainya bergerak dengan spontan, tubuhnya meronta berusaha menarik tali yang mengikat lehernya akan tetapi sia-sia, Pria Tua itu telah kehilangan fungsi ototnya. Perlahan gerak nafasnya melemah lidahnya mulai terjulur tetapi tubuhnya terus saja meronta-ronta hingga akhirnya Perdana Menteri Li Feng pun tewas dengan mata terbuka menatap kaku kearah Kàn Yún. Terlihat busa halus dan liur keluar dari sudut bibirnya seolah menambah kesan Ia benar-benar mati Bunuh Diri.


Pangeran Kàn Yún yang menyaksikan proses kematiannya hingga akhir, kini mulai tertawa terbahak-bahak seolah hatinya terpuaskan saat menyiksa seseorang dengan cara baru. Ya, jelas cara yang baru, tanpa mengotori tangannya sendiri seperti yang di katakan Pangeran Jīnlóng saat di Pertemuan itu.


"Ha ... ha ... ha... Kau benar Jīnlóng, Aku tak perlu mengotori tanganku sendiri," menumpahkan kekesalannya. Pangeran Kàn Yún kembali menuju Paviliun miliknya, Ia menutup dengan rapat pintu rumah Perdana Menteri Li Feng untuk menghindari kecurigaan. Tibanya di Paviliun Istana, Pengawal kembali menghadap dan melaporkan tugas yang telah mereka laksanakan.


"Lapor Pangeran, Kami telah menyelesaikan Para Pelayan itu."


"Bagus! Pergilah!" Para Pengawal itu berbalik meninggalkan Paviliun. Kembali Pangeran Kàn Yún tertawa terbahak-bahak sambil sesekali meneguk arak. Sangat mabuk, hal yang tergambar jelas di dirinya saat ini, entah berapa guci arak yang Ia habiskan untuk merayakan keberhasilannya dan itu di rayakannya sendiri tanpa seorang pun.


***


Keesokan harinya, di Tempat yang begitu nyaman. Paviliun Pangeran Kedua, Yi Lan mulai menyibukkan dirinya dengan Merajut Sapu Tangan untuk di hadiahkan kepada Keempat Kakaknya. Pagi itu Ia memulai rajutan pertamanya, sambil duduk santai di serambi rumah, tetapi tiba-tiba terdengar teriakan dari kejauhan, "Yi Lan ...."


Pangeran Lóng Huǒ datang dan segera menghampiri Yi Lan yang sedang sibuk dengan Rajutannya, "Hei, Anak Manis bagaimana kabarmu? Ah, Kau jahat sekali tak membalas sapaan Kakakmu yang bahkan telah memangilmu dari jauh."


"Kabarku kacau Kakak," jawab Yi Lan yang kesal karena harus memulai rajutannya dari awal lagi.


"Kacau? Katakan padaku Siapa yang sedang mengacaukanmu! Berani-beraninya Orang itu! Tapi tunggu, sebenarnya apa yang membuatmu kacau?


Yi Lan yang sedari tadi terus memperbaiki rajutannya saat Pangeran Ketiga berceloteh, kini memberhentikan kegiatannya itu dengan kesal dan berkata, "Kau-lah yang mengacaukanku Kakak ...."


"Apa? Aku? Benarkah? Tapi mengapa?" Pangeran Lóng Huǒ semakin bingung.


"Ah ... Kakak, apa Kau tidak lihat kalau rajutanku rusak? Mengapa harus dengan berteriak saat menyapaku? Beri Aku sesuatu! Kalau tidak Aku akan mengadukannya pada Kakak Kedua."


"Astaga ... Anak ini, Kau belajar dari Siapa cara mengancam seperti itu?"


"Aku belajar dari Seorang Jendral. Kakak ... tentu saja Kau-lah yang mengajarkannya, siapa lagi yang akan mengajarkan hal yang buruk selain dirimu."


Pangeran Lóng Huǒ kemudian menyodorkan permen ke arah Yi Lan sambil berkata, "Berhentilah mengancamku, Apakah Permen cukup untuk menghilangkan kekesalanmu itu?"


Yi Lan langsung mengambil permen kesukaannya, "Sepertinya ... Kakak Pertama yang menitipkan permen ini kepada Kakak untuk di berikan padaku kan? Ah, Kau benar-benar mengambil kesempatan ini Kakak."


"He ... Iya, Kau benar. Hah ... Gadis ini sulit untuk di bohongi. Tapi ... apa yang sedang Kau buat? Bisakah Kakak melihatnya?"


"Tidak boleh! Kakak, apa Kau lupa kalau Kakak telah merusak rajutanku? " Jawab Yi Lan sambil memegang erat rajutannya.


"Baiklah, Kakak tidak akan memaksa. Hah, Kakak akan masuk saja menemui Kakak Kedua, dan Kau jangan terlalu lama di luar."


Yi Lan hanya membalasnya dengan anggukan kepala, tanpa melihat ke arah Kakaknya yang telah memasuki rumah. Ia sibuk membongkar kembali rajutannya yang salah, dan mulai merajutnya lagi dari awal. Beberapa saat kemudian terdengar suara menyapanya dengan penuh karisma kerajaan, "Yi Lan ...."


Lagi-lagi Yi Lan mengenal siapa pemilik suara berkarisma itu, "Iya Kakak masuklah, Kakak Ketiga juga telah berada di dalam," jawab Yi Lan tanpa menoleh lagi ke arah Pangeran Jīnlóng dan terus saja melanjutkan rajutannya dengan teliti, tetapi rajutannya terhenti karena Ia merasa ada Orang lain selain Kakaknya yang datang, sesaat Ia mengira itu adalah Huáng Lín, Pengawal Kakak Keempatnya. Tetapi ketika Ia menoleh, terlihat Seorang Pria dengan badan tegap dan tinggi, berdiri tepat di samping Kakak Keempatnya. Rasa penasaran kembali bersarang dalam pikiran gadis itu, Ia pun bangkit dari tempat duduknya dan sedikit mendekat ke arah Kakak Keempatnya, "Kakak, apa Kau telah menambah Pengawal baru? Ada apa dengan Pengawal Huáng Lín? Dia baik-baik saja bukan?"