The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 59. Nona Huálì



Hening, kata yang pantas untuk menggambarkan keadaan yang terjadi saat ini. Dari rasa penasaran yang seakan membuat banyak pertanyaan dalam pikiran, di tambah lagi udara awal musim semi yang masih terasa dingin. Semuanya terlihat menatap kaku ke arah jalan setapak, sambil bergelut dengan banyak tanda tanya yang seakan menyerang saraf otak karena keanehan yang sulit di percaya.


Hal yang di nanti kini mulai terlihat melewati jalan setapak, bergerak pelan menuju kediaman Pangeran Kedua. Ketiganya yang duduk menanti dengan rasa penasaran akan tamu misterius, kini bangkit dari tempat duduk dan mulai melangkah mendekati halaman rumah.


Terlihat jelas Pangeran Shuǐlóng, mulai mendekati halaman rumah, "Kakak, akhirnya berhasil membawakan bunga untukku," kata Yi Lan sambil tersenyum ceria.


"Bunga? Apakah tamu misterius yang Kau maksudkan itu adalah bunga?" tanya Pangeran Lóng Huǒ yang semakin bingung.


"Kakak, Aku meminta kepada Kakak Pertama untuk membawakan Aku bunga yang ada di atas bukit, apa Kakak tidak lihat bunga berwarna ungu itu?" jawab Yi Lan menjelaskan sambil menunjuk bunga yang berada di genggaman Huálì.


"Dan Tamu Misterius yang sedang menggenggam bunga itu? Apa Kau meminta untuk membawakannya kesini juga?" tanya Pangeran Lóng Huǒ yang tak bisa lagi menahan rasa penasarannya.


Yi Lan menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak sambil terus tersenyum ke arah Kedua pasangan yang telah mendekati halaman.


"Tidak? Yi Lan, bisakah Kau menjelaskannya lebih lengkap kepada Kakakmu ini?" tanya Pangeran Lóng Huǒ sekali lagi.


"Penjelasannya, telah ada di depan Kita Kakak," ucap Yi Lan singkat.


Pangeran Li De Lóng yang juga ingin tahu, hanya bisa menahan rasa penasarannya dengan perkataan Yi Lan yang kini terlihat nyata. Pangeran Shuǐlóng dan Huálì kini telah berada di selasar rumah, Ketiganya memyambut sembari membungkuk memberi hormat. Huálì yang menyaksikan tindakan itu, kini mulai menyimpan tanya baru dalam pikirannya, "Bukankah Mereka adalah Pangeran? Astaga! Mengapa Aku baru menyadarinya sekarang? Berarti Pria yang bersamaku adalah Pangeran Pertama yang di katakan dingin itu? Aku sempat mendengar bahwa Pangeran Pertama sangat jarang terlihat, pantas saja Aku tak mengenalnya. Bahkan juga dengan Mereka Bertiga yang hanya sekilas pernah melihatnya, atau mungkin Akulah yang jarang keluar di tempat keramaian hingga tak mengenal jelas Silsilah Keluarga di dalam Istana, lagi pula tak ada gunanya, bahkan Mereka tak akan peduli padaku meski Aku mengenalnya. Tapi sekarang ... mengapa Aku harus dibawanya kesini?" gumam Huálì dalam hati.


Lamunan Huálì seketika buyar karena suara Yi Lan, "Kakak, Apakah bunga yang di pegang Nona ini untukku?" tanya Yi Lan kepada Kakak Pertamanya.


"Itu ... bunga itu ... sebenarnya ...." jawab Pangeran Shuǐlóng dengan terbata-bata, karena yang sebenarnya terjadi tak sesuai yang di harapkan Yi Lan.


"Ada apa Kakak? Kau tidak salah mengambilnya, itu memang bunga yang Aku maksudkan padamu, yang ada di atas bukit itu," ujar Yi Lan menjelaskan.


Pangeran Shuǐlóng kembali menatap Huálì, berharap mau memberikan bunga itu untuk Adiknya. Dan apa yang di harapkannya pun akhirnya terwujud, Huálì memberikan bunga itu kepada Yi Lan tetapi bukan karena permintaan Pangeran Shuǐlóng, melainkan karena Huálì menyukai Yi Lan yang terlihat seperti gadis biasa yang baik.


"Gadis cantik, ini untukmu," kata Huálì sambil memberikan bunga kepada Yi Lan.


"Terima kasih, Nona ... apa terjadi sesuatu hingga Kau kesini bersama Kakakku?" tanya Yi Lan kembali sembari mengambil bunga yang di berikan Huálì.


Huálì, menjawabnya dengan anggukan, akan tetapi Ia tak tahu harus menjelaskannya dari mana. Melihat mimik Huálì yang terlihat bingung untuk menjelaskan, Pangeran Li De Lóng mulai membuka suara, "Yi Lan persilahkan dulu Mereka masuk."


"Baiklah Kakak, Nona silahkan masuk," ucap Yi Lan mempersilahkan.


"Yi Lan, Kau hanya menyuruh Nona itu masuk, sedangkan Aku sedari tadi telah tiba tak Kau persilahkan masuk," ledek Pangeran Lóng Huǒ yang tak terlihat lucu oleh semuanya.


Yi Lan yang mendengarkan perkataan Kakak Ketiganya, hanya menanggapinya dengan perkataan singkat, "Itu melelahkan Kakak," sambil melangkah memasuki rumah.


"Yi Lan, Kau ... bahkan tak memperdulikan Aku lagi karena Tamu Misterius itu? Hei, bagaimana jika Kita latihan berkuda? Ah, Anak itu melupakan Kakaknya lagi," ujar Pangeran Lóng Huǒ berusaha mencari perhatian dari Adiknya, kembali Ia menengok Pangeran Shuǐlóng dan melanjutkan perkataannya, "Kakak, apa Kau juga akan melakukan hal yang sama seperti Yi Lan?"


Pangeran Shuǐlóng hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah aneh Adik Ketiganya, dan berjalan masuk meninggalkan Pangeran Lóng Huǒ. Karena rasa penasaran yang kembali muncul dalam pikirannya, Ia pun ikut bergegas masuk.


Di dalam ruangan.


Mereka pun duduk di ruangan yang biasa di gunakan untuk rapat. Baru akan memulai perbincangan, tiba-tiba Pangeran Jīnlóng bersama Keempat Pengawal yang juga datang secara bersamaan memasuki ruangan.


Tanpa lagi menyapa, Pangeran langsung bertanya ketika melihat Orang Asing yang ada di dalam ruangan, "Kakak, apa Kita kedatangan Seorang Tamu?"


"Kau benar Kakak, Nona ini datang bersama Kakak Pertama," jawab Yi Lan dengan polosnya.


"Benarkah? Ah Aku bahkan masih tak percaya," ucap Pangeran Jīnlóng sedikit meledek, dan langsung mengambil tempat untuk duduk.


Semuanya terdiam sambil terus menatap Huálì. Tanda tanya yang berbeda dari Keempat Pangeran atas kedatangan Tamu Misterius yang terus di nantikan Yi Lan sejak kemarin.


"Kakak Pertama, apa Kau melihat sesuatu di sana?" tanya Yi Lan memulai pembicaraan.


Mendengar pertanyaan itu, Pangeran Shuǐlóng langsung mengganggukan kepalanya. "Ia, Aku melihat Pangeran Kàn Yún disana."


Ketiga Pangeran sontak kaget mendengarnya dan langsung mengarahkan pandangan Mereka kepada Yi Lan dengan tatapan aneh.


Yi Lan sekali lagi tak memperdulikan tatapan itu dan melanjutkan bicaranya, "Lalu apa yang di lakukan Pangeran Kàn Yún disana Kakak?"


"Dia menyeret paksa Seorang Pria Tua yang tinggal di dekat bukit itu, Aku tak mengerti apa alasannya," ujar Pangeran Shuǐlóng menjelaskan.


"Dia adalah Ayahku, dan Aku tinggal disana, Namaku


Huálì. Aku kesini karena Kakak kalian menyuruhku untuk ikut agar bisa mendengar penjelasan yang sebenarnya. Tapi apakah kalian benarlah Pangeran?" ucap Huálì, memotong pembicaraan Pangeran Shuǐlóng.


"Kau benar Nona Huálì, Kakakku Shuǐlóng adalah Pangeran pertama, ini adalah Kakak Li De Lóng yang juga Pangeran Kedua, dan itu Pangeran Ketiga, yang bernama Lóng Huǒ, Aku sendiri bernama Jīnlóng yang merupakan Pangeran Keempat, dan yang terakhir ada Gadis cantik bernama Putri Yi Lan," ujar Pangeran Jīnlóng menjelaskan dengan begitu ramah.


"Kalau begitu, terimakasih telah menerimaku dengan ramah disini, Aku datang kesini berharap bisa menemukan jawaban dari kejadian yang menimpa Ayahku tadi, mendengar percakapan sebelumnya sepertinya ... Kalian telah mengetahui Orang yang menyeret Ayahku itu, benarkah seperti itu?" kata Huálì.


Mendengar perkataan itu, Keempat Pangeran saling memandang satu sama lain, seolah ragu untuk menjelaskan secara lengkap apa yang sebenarnya terjadi.


Yi Lan yang juga mengerti akan hal itu, mulai mengajukan pertanyaan kepada Huálì, "Kak Huálì, bisakah Aku bertanya sesuatu kepadamu?"


Huálì mempersilahkannya dengan Anggukan.


"Baiklah, maaf jika Aku kurang sopan. Kak Huálì bisakah Kau memberitahukan kepada Kami apa pekerjaan Ayahmu?"


Pertanyaan yang juga ingin di ajukan oleh Keempat Pangeran, Mereka kembali menatap aneh Yi Lan yang seolah bisa membaca apa yang Mereka pikirkan.