
“Hei, bangunlah ... lihatlah sudah berapa lama Kau tidur? Apa ceritanya sangat seru? Hah, Kau terlalu banyak bermimpi, Dao Qiang Yin, bisakah ... Kau segera bangkit dari peristirahatanmu?”
“Jiějiě Kau kembali? Kau baik-baik saja? Hah Kau tak terluka sama sekali, syukurlah kalau begitu.”
“Rupanya setelah bermimpi Kau jauh lebih bisa menghormati yang lebih Tua.”
“Xunzhao Yang, bisakah Kau lebih lembut saat membangunkanku? Hah, bagaimana bisa menyebutmu Jiějiě jika perlakuanmu kejam sekali kepadaku.”
“Kau tahu? membangunkanmu begitu menguras tenaga, setelah bangun masih melakukan perdebatan, segera bersiap! Kau akan berangkat denganku menaiki mobil atau berusaha berlari lagi mengejar bus, jika tidak ingin melakukan hal itu maka cepatlah, Aku tak akan menunggu terlalu lama.”
“Wah, gadis ini selalu memperlakukanku dengan kejam, baiklah Aku segera bersiap, kumohon tunggulah sebentar, berilah Aku tumpangan ... hah, bahkan Aku harus mengemis padamu, tidak masuk akal!” mulai bergegas, bersiap untuk berangkat.
***
Di awali hari yang cerah, matahari tak terlihat malu-malu lagi saat menampakkan sinarnya, Xunzhao Yang dan Dao Qiang Yin adalah Dua kakak beradik yang memiliki hobi berbeda tetapi dengan tujuan yang sama.
Xunzhao Yang adalah nama dari seorang gadis yang berwajah oriental, gadis ini memiliki jiwa seni yang bisa menghasilkan dan juga adalah seorang kakak dari gadis yang bernama Dao Qiang Yin.
Dao Qiang Yin adalah seorang gadis yang juga memiliki ciri khas yang sama tetapi tak memiliki jiwa seni sama sekali, mungkin itu yang menjadi perbedaannya, Dao cara orang menyapanya, gadis yang memiliki hobi menulis syair klasik ini sangat menggemari pria yang mungkin tak terlalu di kenal banyak orang tetapi selalu di kenang banyak orang, Dia adalah Qu Yuan.
Xunzhao menghasilkan uang dari karya seni yang di buatnya, menjadi Seorang Desainer adalah pekerjaan yang dia lakukan saat ini, berbekal dari harta warisan yang di tinggalkan oleh Kedua Orang Tua, dia mulai mencoba menggeluti bidang usahanya dengan sangat serius. Lain halnya dengan Dao, anak yang rajin menggunakan kartu kredit dalam kehidupannya ini, sekarang sedang berusaha meraih mimpinya mengikuti lomba sastra. Dao adalah Mahasiswi Jurusan Sastra di salah satu Universitas ternama di kotanya.
Xunzhao dan Dao, saudara kembar yang sekarang adalah anak yatim piatu, tetapi mereka berdua tak pernah berlarut-larut dalam kesedihan, itu karena kedua orang tuanya saat akan pergi pernah mengatakan “Dalam kehidupan pasti ada Kematian, mengapa harus Bersedih?” seolah mengisyaratkan agar mereka tetap harus dalam kondisi baik.
***
“Turunlah, sudah sampai perhatikan langkahmu, jauhkan lamunanmu untuk saat ini, ah ... Aku bahkan kurang yakin Kau masuk di Universitas dengan Beasiswa Prestasi, melihat tingkahmu seperti ini, membuat semuanya tidak masuk akal.”
“Xunzhao, Patung Karya Seni, bisakah Kau berbicara dengan syair yang indah? Kau membuat puluhan ribu kata di sepanjang perjalanan, apakah ... Kau sedang menggeluti bidang lain?” jawab Dao sambil turun dari mobil dan bergegas menuju kelas sastranya.
“Hah, Anak ini entah kapan Dia akan mandiri” gumamnya dalam hati sambil memandang Dao dan berlalu pergi.
Rutinitas yang selalu mereka jalani sepanjang kehidupan, sering terjadi perdebatan hampir di sela-sela pembicaraan, cara mereka mengungkapkan rasa sayang meski sedikit terdengar kasar tetapi bagi mereka itu hanyalah lelucon saja.
Saat akan memasuki kelas, tiba-tiba seorang temannya langsung menerobos masuk dan menghalangi jalannya.
Dia bernama Lala gadis manis yang terlihat centil itu adalah teman Dao, pertemanan yang terjalin saat pertama kali memasuki universitas, meski pada akhirnya tak sekelas tetapi mereka sangat akrab.
“Ayolah ... apalagi ini, apa Kau tidak lihat? wajahku seperti tak bernyawa.”
Seolah tak memperdulikan perkataan Dao, Lala pun langsung mengajukan pertanyaan.
“Dao apakah Kau telah mendaftar Lomba Sastra? Bukankah ... Kau menantikan lomba itu hadir lagi, kali ini kategorinya adalah Menulis Syair, bagaimana menurutmu?”
“Benarkah? Kapan Kau mendengarnya? Ah, maksudku ... melihatnya? Ah, tidak bukan begitu di mana kau lihat? Hah, sama saja.”
Lala yang telah paham dengan maksud temannya itu, mulai mengajaknya menuju papan pengumuman yang terletak tak jauh dari kelas mereka.
Dao membacanya secara teliti, dengan suara pelan dan fokus pada persyaratan lomba.
“Ah, persyaratannya ribet sekali, mengapa harus mengambil formulir pendaftarannya melalui email? Jaman sudah semakin canggih rupanya, membuatku sulit beradaptasi.”
“Hei, apakah Kau sedang berada dalam kehidupan masa lampau? Jelas Kau harus mendaftarnya melalui email, hah, Temanku ini benar-benar kuno,” kata Lala sambil menggandeng temannya memasuki kelas masing-masing.
Dalam kelas saat menerima materi, Dao terlihat tak fokus, pikiran yang sepertinya bercabang ada dalam lamunannya, entahlah apa yang harus dia selesaikan saat ini.
“Dao, apa Kau masih di sana?” tanya Dosen yang sedari tadi memperhatikan Dao tengah melamun dengan tatapan kosong tak bernyawa itu, hal yang sering di lakukannya saat ada dalam dilema.
Dao yang tak mendengar apa yang di katakan oleh Dosen Sastranya itu, kini mulai menghampiri Dao.
“Nona Dao?” kata Dosen itu lagi dengan suara yang sangat keras, sehingga membuyarkan lamunannya.
“Hadir!” Jawab Dao dengan spontan.
“Siapa yang sedang mengambil daftar hadir? Kita sudah berada di pertengahan Materi dan Kau baru saja hadir.”
Semua teman sekelasnya langsung tertawa, membuat wajah Dao memerah, dan mulai melempar senyuman memelas ke arah Dosen itu.
“Hah, untung saja Dosen hari ini penuh welas asih kalau tidak ... habislah Aku,” kata Dao dalam hati.
Tak lama berselang waktu pemberian materi telah selesai, sambil menanti pergantian jam, Dao mulai keluar menuju ke kelas temannya.
“Lala, ayo Kita pergi!”
“Baiklah,” jawab Lala sambil menuju ke arah Dao, seolah tahu kemana mereka akan pergi.
“Ah, Aku lapar sekali, pagi tadi Aku hanya mendapatkan sarapan ocehan tak bernada dari Xunzhao, entahlah Gadis itu terlalu mandiri.”
Lala hanya tersenyum mendengar perkataan temanya itu.
Sesampainya di kantin, Dao dan Lala langsung memesan makanan dan kembali melanjutkan perbincangan.
“Lala apa Kau akan mengikuti Lomba Sastra itu? Bukankah ... hadiahnya lumayan?”
“Hei, Dao Qiang yin, Kau tahu jelas Aku tak mahir membuat syair, mengapa harus menyibukkan pikiranku dalam mengikuti lomba yang alurnya begitu panjang? Bahkan memikirkannya saja Aku sudah lelah.”
“Kau benar juga, Aku bahkan berpikir yang mendaftar akan sangat banyak, dan sepertinya bukan hanya di Universitas Kita saja, tetapi berbagai Universitas akan ikut di dalamnya, ah, membuatku menyerah sebelum bertanding”
“Jangan seperti itu, bukankah ... Kau telah menantikan lomba semacam ini? Mengapa setelah mengetahuinya Kau mulai berubah pikiran? Bagaimana menurutmu? Apakah ... Kau akan mengikuti lombanya?” tanya Lala kepada Dao.
Akan tetapi Dao tak meresponsnya, lagi-lagi dia berada dalam lamunannya, “Ah, anak ini benar-benar menguras tenaga, hei! Kau belum menjawabnya, katakan padaku kau mau ikut lomba atau tidak?”
Dao yang kaget mulai meresponsnya dengan sangat aneh, “Apa? Aku? Menurutmu? Ah, entahlah Aku ...”