
Huáng Lín yang sedari tadi menanti di pintu istana, mencoba tetap tenang agar tidak tampak kecurigaan, sedikit saja Ia terlihat gelisah maka akan membuat lawan mengetahui rencana mereka.
Tibalah Pangeran Li Jīnlóng di pintu istana, Huáng Lín segera menghampiri untuk menyampaikan informasi.
“Pangeran, segeralah ke ruang pertemuan Istana, rapat sementara berlanjut, Pangeran Kàn Yún telah memulai siasatnya lagi."
“Ah, pria itu benar-benar kehilangan akal sehatnya!”
**
“Di mana Pangeran Li Jīnlóng, mengapa Ia tidak hadir di saat pertemuan penting,” tanya Kaisar yang memperhatikan satu demi satu Anggota Kerajaan yang hadir.
“Maaf Yang Mulia, sepertinya Pangeran Li Jīnlóng lebih menikmati tugas militernya, di bandingkan harus mengatur rencana perluasan wilayah,” kata Pangeran Li Kàn Yún yang mulai mencoba menarik simpati Kaisar.
“Sibuk dengan kemiliteran? Bahkan belum melakukan perluasan wilayah sama sekali, segera panggil Pangeran Jīnlóng kesini!” dengan sedikit nada keras meluapkan kekesalannya.
Pangeran Kàn Yún tersenyum sinis karena begitu mudahnya memancing kemarahan kaisar. Kasim Istana segera mempercepat langkahnya menuju ruangan pangeran Jīnlóng, akan tetapi langkahnya terhenti oleh datangnya Pangeran Jīnlóng bersama pengawalnya.
“Pangeran Jinlong menghadap yang mulia,” sambil membungkuk perlahan.
“Kesibukan apa yang Kau lakukan, hingga tak berada di Istana sepanjang waktu. Pangeran Jīnlóng ....” kata Kaisar yang masih menampakkan kekesalan.
“Maaf Yang Mulia, Kami sedang mengatur misi baru untuk pertahanan wilayah,” jawab Pangeran Jīnlóng melakukan pembelaan diri.
Pangeran Kàn Yún kembali menyulut amarah Sang Kaisar.
“Pangeran Li Jīnlóng, Kau hampir setiap saat melakukan taktik dalam setiap misi pertahanan. Tetapi ... mengapa sampai sekarang Kau bahkan begitu lambat mengurus semuanya? Jika Kau ingin melarikan diri dalam tugas Istana ada baiknya Kau berdiam diri saja dan tak perlu melakukan hal yang terus saja sia-sia.”
“Pangeran Kàn Yún, lantas bagaimana denganmu? Setiap pertemuan selalu menggebu-gebu dalam penyampaian perluasan wilayah, tetapi ... tak sejengkal pun yang bisa diraih.”
“Cukup! Sebenarnya apa yang ingin kalian sampaikan.” Kaisar segera menyela percakapan dengan marah.
“Maaf Yang Mulia, jika harus mengatur rencana yang sama , ada baiknya mengikut sertakan setiap Perdana Menteri yang ada di Istana, akan percuma jika hanya menikmati jabatan dan duduk diam saja dalam Istana,” kata Pangeran Jīnlóng yang makin terlihat kesal.
“Itu sama saja! Kau terus saja melarikan diri Pangeran Jīnlóng,” terus saja Pangeran Kàn Yún memancing amarah.
Kembali Pangeran Jīnlóng menjelaskan, “Tugasku berada di bagian kemiliteran, jika pertahanan wilayah masih terus saja melakukan misi ada baiknya melakukannya dengan cara lain. Keahlian dalam Kerajaan bukan hanya peperangan, bisa meluaskan wilayah dengan cara lainnya. Jika harus terus melibatkan Prajurit maka pertahanan akan segera melemah, keduanya akan sia-sia. Perdana Menteri bisa turut andil untuk hal itu, bersahabat tanpa mengenal memang tidaklah baik, tetapi saling menukarnya dengan imbang akan dapat mempelajari banyak hal dalam wilayah lawan.”
“Bagaimana menurutmu Pangeran Kàn Yún?” Kaisar mencoba mencari pendapat lainnya.
“Yang Mulia, kekuatan militer kita sangat kuat, jika harus menggunakan cara penukaran keahlian bukankah ... akan sangat mudah bagi Mereka untuk memanfaatkan setiap kesempatan? Prosesnya tentu akan sangat lama, dan tetap saja dimata lawan akan tetap menganggap kita sebagai musuh.”
Pangeran Jīnlóng melangkah ke arah Kàn Yún, mendekatkan wajahnya ke arah telinga, kembali Ia berkata dengan sedikit berbisik, “Itu akan lebih baik untuk menarik hati Sang Kaisar bukan?”
Pangeran Kàn Yún yang terlihat dilema, sudah jelas rencana yang di buatnya akan menjerumuskannya ke dalam medan perang yang melelahkan, bahkan jika mengiyakannya akan sangat sulit untuk mengatur siasat selanjutnya.
“Sialan! Beraninya Dia menjerumuskanku, Aku sebaiknya memilih hal yang lainnya” gumamnya dalam hati.
“Pangeran Kàn Yún, mengapa diam saja, cepat! katakan pendapatmu,” kata Kaisar yang tengah menanti kepastian rencana.
“Baik Yang Mulia, menurutku ada baiknya kita melakukan rencana Pangeran Jīnlóng untuk melakukan penukaran keahlian, Kita memiliki banyak Perdana Menteri yang menguasai Bidang Kesenian, sementara kita sangat kurang berpengalaman dalam bidang perluasan wilayah, terutama bagian kemiliteran, itu akan lebih baik, agar Pangeran Jīnlóng dan juga bagian kemiliteran lainnya bisa menambah kekuatan militernya,” jawab Pangeran Kàn Yún sedikit menyinggung kekuatan militer yang lemah dalam pimpinan Pangeran Keempat.
Pangeran Jīnlóng yang juga kesal, lebih memilih santai dan sebisa mungkin mengontrol emosinya, “Kalau begitu terima kasih untuk Pangeran Kàn Yún yang masih memberi peluang pertahanan yang baik, Kami akan menanti ahli kemiliteran yang Anda ajukan.”
“Baiklah, Kita akan melakukan rencana baru ini.” Kata kaisar menyetujui hasil perdebatan sengit itu.
“Siap! Yang mulia” jawaban dari Kedua Pangeran yang kini membungkuk menghormati, mundur perlahan dan berbalik meninggalkan ruang pertemuan dengan perubahan wajah yang penuh kemarahan dari keduanya.
**
“Pangeran, apa menurutmu Pangeran Kàn Yún akan melakukan hal yang sesuai,” tanya pengawal setianya, sembari berjalan menuju ruangan.
“Kau bisa menebaknya sendiri, meskipun melakukannya sesuai aturan, itu jelas tidak akan baik bagi Kita, tapi setidaknya bisa mengulur waktu untuk mengatur rencana selanjutnya, lakukan urusan Kerajaan seperti biasanya. Ini akan membutuhkan waktu lama bagi Pangeran Kàn Yún untuk melakukan negosiasi di beberapa wilayah. sepertinya tak akan mudah, tetapi ... jika Dia berhasil Kita harus lebih waspada.”
“Tapi, apa Mereka akan menunggu?”
“Menurutku tidak, terdengar dari argumen yang Dia lontarkan, sepertinya Mereka akan langsung melanjutkan rencana berikutnya. Yang bisa Kita lakukan hanyalah mempelajari setiap rencana yang Mereka jalani, tapi tetap tanpa pemantauan. Bagaimanapun caranya Kita akan memikirkannya setelah ini, waspada saat melakukan gerakan, jangan lengah, Aku hanya berpikir Mereka memiliki komplotan yang besar hampir separuh keanggotaan Istana.”
“Baik Pangeran, Aku akan segera pergi untuk melakukan penundaan, permisi.”
**
Di tempat lainnya Pangeran Kàn Yún yang telah kembali, meluapkan emosinya kepada seluruh Pelayan, Para Kasim, dan juga Pengawalnya. Hal yang biasa di lakukannya, neraka akan terus saja terlihat jika Pangeran mereka sedang marah.
“Sial! Aku benar-benar akan membunuhmu Jīnlóng, Kau sangat pandai menunda. Kau pikir rencanamu akan benar setelah ini? Aku akan melumpuhkan pertahanan yang Kau buat. Ha ... ha ... ha....”
“Pengawal! Segera lakukan pemantauan, cari tahu rencana apa yang akan Mereka lakukan selanjutnya. Jika sampai Kau tak berhasil mengetahuinya, Nyawamu akan habis! Cepat pergi!”
Dengan wajah yang terlihat ketakutan, Pengawal itu segera pergi melakukan tugasnya.