
Di tempat Pangeran Shuǐlóng.
Pagi yang menyapa dengan Sinaran mentari yang cerah, seakan memberi kehangatan di awal musim semi. Pangeran Shuǐlóng yang saat itu tengah bersiap untuk pergi ke tempat Pangeran Li De Lóng, tiba-tiba teringat dengan permintaan Yi Lan untuk mengambil bunga di atas bukit. Ia bahkan terlihat bingung dengan permintaan aneh dari adiknya itu. Sejauh mata memandang hingga tak terhitung berapa kali Ia melewati bukit kecil itu, tak pernah terlihatnya bunga yang di katakan Yi Lan padanya, seakan membuatnya ragu untuk pergi ke atas bukit itu.
"Bagaimana Yi Lan bisa tahu ada bunga berwarna ungu di atas bukit itu? Bahkan Aku tak pernah melihatnya meski telah benerapa kali melewati bukit itu. Tapi ... selama ini Yi Lan tak pernah berkata bohong, jika Ia mengatakan hal itu, berarti Ia benar-benar melihatnya. Baiklah Aku akan mencoba kesana," gumam Pangeran Shuǐlóng sambil bersiap menaiki Kudanya.
***
Setibanya di atas bukit, Pangeran Shuǐlóng mulai menyibukkan dirinya mencari bunga yang di maksud oleh Yi Lan. Ketika menengok ke arah lainnya Ia melihat Seorang gadis yang akan bersiap memetik bunga.
"Siapa gadis itu? Sedang apa Ia di bukit ini?" kata Pangeran Shuǐlóng yang teralihkan pandangannya oleh gadis itu. Pangeran Shuǐlóng mulai memperhatikan apa yang sedang gadis itu lakukan, saat Pangeran Shuǐlóng menyadari bahwa Ia sedang memetik bunga yang di maksud Yi Lan, Ia pun dengan cepat melangkah ketempat gadis itu berdiri.
"Tunggu, jangan mengambilnya," ujar Pangeran Shuǐlóng dengan sedikit berteriak.
"Siapa Kau? Jangan mendekat! Tetap disana!" kata Gadis itu yang juga dengan suara lantang, sehingga membuat langkah Pangeran Shuǐlóng yang semakin dekat ke arahnya terhenti.
"Maaf Nona, Aku tak bermaksud kurang ajar padamu, hanya saja ... bunga itu ...." kata Pangeran Shuǐlóng dengan wajah gelisah, sambil berharap semoga gadis itu menyerahkan bunga yang di maksudkan Yi Lan kepadanya.
"Ada apa dengan bunga ini? Apa Kau ingin merebutnya dariku? Bahkan Kau juga melihatnya kalau Aku yang lebih dulu memetiknya bukan?" jawab Gadis itu sambil menjauhkan bunganya dari pandangan Pangeran Shuǐlóng.
"Tapi ... bisakah Kau memberikannya untukku? Kau bisa memetik bunga yang lainnya dan tolong berikan bunga itu kepadaku." pinta Pangeran Shuǐlóng
"Apa katamu? Kau bahkan terlihat seperti seorang Pendekar, tapi Kau malah mau merampas bunga ini dari seorang wanita, dasar tidak tau malu!"
"Hei, Aku hanya memintanya, bukan merampasnya. Jika Kau tidak ingin memberikannya itu tidak masalah dan Aku tidak akan memaksanya," ujar Pangeran Shuǐlóng yang mulai terlihat kesal.
"Lantas apa yang Kau perhatikan sejak tadi? Sudah jelas dari awal, kalau Aku tak akan memberikan bunga ini kepadamu, tetapi Kau terus memintanya seolah tak memiliki kekuatan untuk mencarinya di tempat lain. Lalu apa kata yang benar selain memaksa? Pergilah mencari di tempat lain dan jangan bermimpi untuk bisa merebutnya dariku," jawab Gadis itu dengan kalimat yang berentetan tanpa henti, membuat Pangeran Shuǐlóng mundur dan berbalik meninggalkan gadis itu tanpa mengucapkan sepatah kata pun karena kekesalannya. Begitupun dengan gadis itu, yang juga berjalan berlawanan arah dengan Pangeran Shuǐlóng untuk kembali ke rumahnya.
"Pria itu aneh sekali, mengapa harus bunga ini yang Dia inginkan? Tunggu dulu, sepertinya ... Aku mengenal Pria itu, bukankah Dia adalah Pangeran ... Ah, siapapun Dia, Aku tetap tak akan memberikan bunga ini," gumam Huálì sambil terus melangkah untuk kembali.
Di arah yang berlawanan.
"Yi Lan, apa Kau yakin bunga yang Kau inginkan hanya yang berwarna ungu saja? Ah, andai Gadis itu berbaik hati memberikannya padaku, Aku pasti tak pulang dengan tangan kosong. Bagaimana mengatakannya pada Yi Lan nanti?" gumam Pangeran Shuǐlóng sambil berjalan menuruni bukit dengan perasaan ragu.
Tiba-tiba langkahnya pun terhenti, "Tidak-tidak, Aku harus kembali menemuinya, jika Aku pulang dengan tangan kosong maka akan membuat Yi Lan kecewa. Bagaimana jika Aku membeli bunga itu, pasti Dia akan memberinya. Baiklah, Aku akan mencobanya," kata Pangeran Shuǐlóng sambil berbalik menemui Huálì.
Masih dengan keraguan, berjalan di belakang gadis itu, memikirkan bagaimana cara yang baik untuk memintanya. Ia pun Sedikit tersenyum melihat langkah Huálì yang tak beraturan sama persis dengan Adiknya,Yi Lan.
Huálì hampir mendekati rumah, akan tetapi langkahnya terhenti ketika melihat Seorang Pria bersama beberapa Pasukan yang tengah menyeret Ayahnya dengan paksa untuk pergi bersama Mereka entah kemana.
Mengetahui hal itu, Ia pun langsung bersembunyi di balik pohon dekat dari tempat tinggalnya. Rasa ketakutan dan cemas, ingin sekali Ia menolong Ayahnya, akan tetapi langkahnya terhenti saat tahu ayahnya menoleh ke arah Huálì dan menggelengkan kepala sebagai tanda larangan untuk tidak mendekat. Huálì hanya bisa menuruti permintaan ayahnya dari kejauhan. Pria itu terus menyeret ayahnya memasuki kereta.
Di tempat yang juga sama, tepat di belakang Huálì, Pangeran Shuǐlóng berdiri dan ikut menyaksikan apa yang terjadi, Ia merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Pria yang jelas di kenalnya, "Kàn Yún? Apa yang sedang Ia rencanakan? Siapa Pria yang di seretnya itu? Apakah Ia ikut bersekutu dengan Kàn Yún dan Ibu Selir juga?" pertanyaan yang terus saja berada dalam pikirannya.
"Ayah ...." suara lirih Huálì menahan kesedihannya. Huálì segera mundur bermaksud menjauh dari kediamannya, akan tetapi kakinya terpeleset sehingga menimbulkan suara berisik yang terdengar oleh prajurit.
"Siapa disana!" tegur salah seorang prajurit menengok ke arah sumber suara. Untung saja saat itu Pangeran Shuǐlóng dengan sigap menahannya,dan dengan gerak refleks medekap tubuh Huálì agar tak terlihat oleh prajurit saat menoleh kearah Mereka.
Berada dalam posisi yang begitu dekat, keduanya saling menatap sangat lama, perasaan yang berbeda dari sebelumnya kini mulai merasa ada hal aneh entah apa masih belum bisa mereka pikirkan, degup jantung yang juga seirama membuat mereka menjadi salah tingkah berada dalam posisi yang tidak sewajarnya untuk orang yang tak saling mengenal.
Prajurit yang penasaran dengan sumber suara yang terdengar mencurigakan itu, kini mulai menuju ke arah pohon tempat Pangeran Shuǐlóng dan Huálì bersembunyi. Keduanya pun kembali terlihat tegang, Pangeran Shuǐlóng kembali memikirkan cara untuk mengalihkan salah seorang Prajurit itu, Ia pun mengambil sebuah batu dan melemparnya ke arah lain, berharap cara itu bisa mengalihkan pandangan prajurit ke arah mereka.