The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 4. Liánhuā dan genggamannya



Mèimei menoleh kearah suara itu berasal, terlihat sosok Pemuda tampan dan tinggi, rambutnya panjang setengah terkuncir di hiasi mahkota giok merak dengan tusuk rambut yang terbuat dari tangkai bunga persik.


Wajahnya yang oval dengan mata sedikit sipit tetapi terlihat sangat tajam,ditambah lagi bibirnya yang tipis membuat wajahnya terlihat sempurna, tubuhnya yang kekar dibalut dengan pakaian Hanshu sutra dengan warna hijau muda yang lembut, seolah menambah kesan anggun dan berwibawa.



Pemuda itu bernama Liánhuā, Ketua Sekte Tulang Putih, tetapi Mèimei tak mengenalnya sama sekali.


Liánhuā perlahan mendekati Mèimei yang sedari tadi memperhatikan sosok pria itu dengan sedikit lamunannya yang konyol, tanpa menyadari jika Liánhuā telah berada di depannya.


"Táohuā..." kata Liánhuā sambil sedikit membungkuk agar berada sejajar dengan wajah Mèimei.


Lamunan Mèimei seketika buyar saat wajah Liánhuā telah berada sangat dekat di wajahnya, dia seketika mundur, " Si ... siapa dirimu?" tanya Mèimei sedikit waspada.


Liánhuā kembali ke posisi berdiri dan kembali mendekatinya.


"Tetap disana! Ja ... jangan mendekat!" (waspada virus corona😁) kata Mèimei yang mulai tak nyaman sambil melangkah mundur.


Liánhuā menghentikan langkahnya, agar Mèimei kembali nyaman.


Mèimei beralih memegang Bunga Persik yang ada di dekatnya, bermaksud mengendalikan dirinya agar tetap tenang.


" Táohuā ..." Liánhuā mengulang kata itu lagi.


"Iya, Aku tahu ini Táohuā (arti kata Bunga Persik), tak perlu menjelaskannya padaku," kata Mèimei seolah mengerti apa maksud dari Liánhuā.


Pria itu menggelengkan kepalanya dan mulai melangkah perlahan mendekatinya lagi.


"Sudah kubilang jangan mendekatiku, ka ... kalau tidak, Aku akan membunuhmu!" terlihat panik.


" Jika Kau membunuhku, maka Táohuā tidak akan membiarkannya," kata Liánhuā dengan sedikit memamerkan senyum manisnya.


"Apa maksudmu Táohuā? Siapa dia?" jawab Mèimei yang kini menyadari bahwa kata Táohuā adalah nama seseorang, tiba-tiba dia teringat kata terakhir yang di ucapkan Jiějiě, itu kata yang sama dengan yang dia dengar saat ini, Mèimei pun di buat penasaran.


Sadar akan rasa penasaran Mèimei, Liánhuā segera berbalik arah meninggalkannya dan kembali ketempat dia memainkan kecapinya tadi.


"Hei, tunggu ... Kau mau kemana? Hei, kembali ... Aku belum selesai denganmu, siapa Kau? Ah, tidak maksudku ... siapa namamu?" tanya Mèimei sambil berteriak dan mengikuti arah pria itu pergi.


"Ah ... rupanya kau disini," kata Mèimei yang kini telah duduk di depannya.


Liánhuā hanya melirik sesaat dan mulai memainkan kecapinya kembali, dia berpura-pura tak ingin menghiraukan Mèimei yang duduk di depannya.


Mèimei yang kesal karena tak dihiraukan mulai mengarahkan tangannya ke senar kecapi dan menahannya sambil terus memandangi Liánhuā.


"Singkirkan tanganmu!" kata Liánhuā


Mèimei menggelengkan kepalanya tanda tak mau melakukannya dan tetap menatap Liánhuā.


Liánhuā semakin salah tingkah di buatnya, dia langsung memukuli tangan Mèimei yang menahan senar kecapinya.


"Aw ... ! wah, Pria ini kejam sekali," sindir Mèimei sambil memegang tangan yg dipukul Liánhuā tadi.


Liánhuā sedikit melirik kemudian memainkan kembali kecapinya.


Liánhuā tetap saja tak menghiraukan Mèimei,


"Hey, Aku sedang bertanya padamu, baiklah jika Kau tidak mengatakannya, Aku akan membuatkan Nama untukmu, hm ... Èmó Rén (pria iblis), Ah tidak, itu terdengar menakutkan, atau mungkin Táo Shù Jūmín (penghuni pohon persik), ah, itu juga terlalu panjang, bagaimana dengan ... Yī Tuán Bīng? (sebongkah es) Hey, bukankah itu sangat cocok denganmu? Jika Kau hanya diam saja berarti Kau menyetujuinya, ah ... sudah kuduga Kau akan menyukai Nama itu, wah ... Mèimei ... Mèimei .... Kau benar-benar ahli dalam membuat nama."


Liánhuā pun terlihat kesal dibuatnya, tapi dalam hatinya sangat bahagia karena Táohuā telah ada bersamanya saat ini, meskipun harus menanti kesadarannya pulih.


Mèimei kembali melakukan trik baru, seolah memiliki banyak ide konyol di kepalanya, dia kini menopang dagunya dengan satu tangan dan tangan satunya menarik-narik baju hanshu yang di pakai Liánhuā


sambil memandangnya, kali ini dengan wajah memelas.


" Ayolah, beritahu aku siapa Táohuā."


Liánhuā pada akhirnya berhenti memainkan kecapinya, dia mengulurkan tangan agar supaya menggenggamnya, Mèimei mengerutkan dahinya tanda tak mengerti. Sadar akan hal itu Liánhuā kembali mengulurkan tangannya lebih dekat kearah Mèimei bermaksud agar segera di genggamnya.


"Apa maksudmu? Aku tidak mau! Kau jangan mengambil kesempatan," Mèimei melakukan penolakan.


"Sudahlah, kalau tidak ingin tahu," Liánhuā kembali menarik tangannya.


"Ayolah, jangan seperti ini, bukankah ... Aku terlihat begitu mengasihankan? Hah, Táohuā ... Táohuā, mengapa begitu banyak yang mengagumi dirimu, Pemuda ini contohnya, bahkan Jiějiě yang saat akhir masih menyebut namamu seolah-olah Aku adalah Táohuā," Mèimei yang sadar dengan ucapannya kembali berkata,


"apa ... aku? Apakah itu aku? Benarkah?" Mèimei menoleh ke arah Liánhuā yang sedari tadi memperhatikannya berbicara.


"Hei, Yī Tuán Bīng benar begitu bukan?"


Liánhuā hanya diam saja sambil terus memperhatikan Mèimei.


"Hah, Aku sangat putus asa, mengapa semua merahasiakannya dariku, Aku bahkan bertemu dengan orang-orang yang sulit berbicara, bukankah itu sangat membuang tenaga? Aku membuat seribu kata dan Mereka hanya menjawab bukan, tidak, jangan, apa, dan kata yang sangat membuatku menguras tenaga adalah Táohuā, ah ... entahlah aku masih penasaran dengan kata terakhir itu, astaga ... Aku membuat kalimat panjang lagi," kembali menopang dagunya.


Liánhuā kemudian mengambil pedangnya dan di letakkan di depan Mèimei.


"Apa ini? Kau ingin Aku membunuhmu? Kemudian Táohuā pada akhirnya akan datang melindungimu, dan aku akan dibunuhnya? Wah, Yī Tuán Bīng Kau kejam sekali rupanya, mengapa tak Kau saja yang membunuhku? Percuma jika Aku melihat Táohuā tanpa sempat bertanya apapun padanya," kata Mèimei dengan wajah kesal.


"Mainkan pedangnya!" kata Liánhuā sambil menyerahkan pedangnya.


"Aku? Memainkannya? Apa ... pikiranmu sedang kacau? Tidak! aku tidak mau."


Liánhuā mengambil tangan Mèimei dan memaksanya untuk memegang pedang, Mèimei mengepalkan tangannya tanda penolakan, Liánhuā memegang tangannya semakin erat, karena merasa kesakitan Mèimei pun pada akhirnya mau memegang pedang itu dengan wajah yang cemberut.


Liánhuā kemudian mulai memainkan kecapinya, Mèimei sekarang berdiri agak sedikit jauh dari dirinya tapi tetap berada di hadapannya, kini terlihat bingung harus melakukan apa dengan pedang yang di pegangnya.


" Ya ampun, apa lagi yang harus Aku buat sekarang, Yī Tuán Bīng, Kau benar-benar menguji kesabaranku, kalau bukan karena penasaran, Aku bahkan sudah menelanmu, membuatmu di makan Serangga Beracun milikku, atau Gagak yang sedari tadi menjadi pasukanku, oh ya, dimana gagak-gagak itu? Mengapa mereka tidak lagi mengikutiku? Ah sudahlah Aku akan mencarinya nanti setelah mendapatkan Táohuā," katanya dalam hati sambil memandangi Liánhuā yang telah memainkan kecapinya.


Liánhuā yang sedari tadi memperhatikan Mèimei tak melakukan apapun kini menghentikan kecapinya.


"Mengapa diam saja? Ayo lakukan!"


" Iya, Aku mengerti, Kau diamlah! Apa Kau tidak lihat aku sedang mengumpulkan tenaga?" kata Mèimei beralasan


Liánhuā menggelengkan kepala dan mulai memainkan lagi kecapinya, kini Mèimei mulai memejamkan mata, dan memegang pedang dengan kedua tangannya kemudian mulai memusatkan pikirannya.