The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 33. Arloji Aneh



“Anak ini, mengapa ... syairnya terlihat seperti nyata, tetapi ... terlalu sulit menjelaskan apa maksud dari syair ini sebenarnya,” Gumam Tian dalam hati, sambil sesekali memandang Dao dan kertas syair yang di pegangnya.


“Hei, ada apa denganmu? Mengapa memandangku seperti itu? Apa Kau tidak yakin jika Aku yang membuatnya? Bagaimana menurutmu?”


“Apa benar Syair ini Kau yang membuatnya? Syair ini sepertinya ... mengandung arti yang bisa berbeda-beda, tapi ... terarah pada suatu tujuan yang sulit Aku artikan, apakah ... Kau memahami arti syair ini setelah Kau menulisnya?”


“Apakah ... Kau salah satu Juri dari Lomba Syair itu? Mengapa detail sekali pertanyaannya, ini terlihat seperti sedang mengintimidasiku, Aku yang menulis syairnya, jadi sudah jelas Aku mengetahui maksud dari syair itu, tapi jika Aku jelaskan sekarang, kapan Kau akan menyalinnya? Cepat! Masukan lebih dulu dalam Pendaftaran.”


“He ... baiklah, Aku hampir lupa dengan hal itu,” sambil menyalin semua syair hingga selesai.


“Akhirnya ... selesai juga, bagaimana menurutmu, apa Datanya sudah benar?” tanya Tian kembali sambil menyodorkan laptop ke arah Dao.


“Wah ... lengkap sekali Biodatanya, bahkan Kau tak menanyakan apapun padaku saat mengisinya, Kau hebat!”


“Sudah ku bilang, Kau bisa mengandalkanku untuk hal yang satu ini, selebihnya ... Kau perjuangkan nasibmu sendiri, pastikan Aku tetap menjadi Idola Kampus, Ayo ... kalahkan Suji!”


Dao tersenyum mendengar kata menyemangati yang terdengar seperti akan sedang menyerang seseorang.


Dao kembali ke tempatnya, menunggu Dosen datang sambil memandangi taman yang terlihat jelas dari jendela kelasnya, ia mulai mengingat kejadian aneh yang terlihat nyata tetapi tak bisa membuktikan apapun. Dao kembali teringat tentang arloji kuno yang belum sempat ia teliti lagi, kali ini Dao selalu membawa arloji itu dalam tasnya, dan akan menggenggamnya jika merindukan Liánhuā, seolah telah menemukan cara untuk mengontrol perasaannya. Seperti saat sekarang arloji kuno itu di genggamnya dengan sangat erat, sambil terus memandang taman tempat ia melihat Liánhuā dalam nyata.


“Hah, ini terasa menyakitkan, Dao Kau harus mencari tahu semua kejadian aneh ini, bagaimana jika ... menceritakannya kepada Xunzhao, ah baiklah Aku akan cerita semua pada Xunzhao.”


Tak lama berselang Dosen pun tiba, dan hanya mengantarkan tugas kelompok, kemudian pergi kembali.


“Kali ini buatlah kelompok, dan kerjakan tugasnya, setiap kelompok satu materi, Kita bertemu minggu depan.” Kata singkat dari Dosen kemudian berlalu pergi.


Dao kembali memandang Tian dengan lambaian tangan, kembali mengingatkan janjinya, Tian hanya menatapnya sembari menggelengkan kepala.


Rutinitas kampus yang melelahkan baginya akhirnya selesai, Dao mulai mengirim pesan singkat kepada Xunzhao, [Apa Kau sibuk? Jika tidak segera pulang, Aku membutuhkanmu.]


Lala kembali menghampiri Dao di kelasnya yang saat ini telah bersiap keluar kelas, begitu pun dengan Tian, “Aku pulang lebih dulu, ada hal penting di kantor, sampai bertemu lagi,” ucap Tian sambil berlari ketika telah berada di luar kelas.


Dao dan Lala hanya menjawabnya dengan anggukan, seolah telah memahami kesibukan Tian yang sangat padat. Mereka pun berjalan menuju halte menanti bus untuk pulang.


“Dao, apa Kau telah bertemu dengan Pria yang Kau kagumi itu?” tanya Lala mengawali perbincangan.


“Belum, bahkan mungkin itu tidak lagi bisa terjadi,” dengan wajah yang tak bisa lagi menyembunyikan kesedihan.


“Mengapa? Apakah ... Dia akan ke suatu tempat? Ah, sepertinya akan sangat lama, benarkah begitu?”


“Lala, Kau tak akan mengerti, bagaimana jika Aku mengatakan kalau ... Pria itu tak ada di dunia ini, apakah ... Kau masih akan mencari identitasnya? Hah, bahkan Aku tak tahu harus berbuat apa lagi untuk menghilangkan perasaan ini.”


“Dao, sepertinya ... Kau harus cek keadaanmu ke Psikolog, Aku bahkan mengkhawatirkan keadaanmu yang semakin lama terlihat seperti sedang tak ada dalam dunia yang sebenarnya.”


“Hei, Aku baik-baik saja, pikiranmu saja yang buruk,” sambil berjalan masuk ke dalam bus dan memilih duduk di dekat jendela, diikuti Lala yang duduk di sebelahnya.


Dao kembali memeriksa pesan di ponselnya, berharap ada balasan dari Xunzhao, akan tetapi tak ada balasan sama sekali, kembali ia mengirim pesan berikutnya, [Apa Kau sudah di rumah? Mengapa tak membalas pesanku? Apa Kau masih sibuk? Aku akan segera tiba di rumah.] Tak lama ponselnya berbunyi, Xunzhao akhirnya membalas pesannya, [Aku masih di Butik] pesan singkat yang membuat Dao kesal dan langsung memasukkan ponselnya ke dalam tas, Lala yang menyaksikan kekesalan itu mulai bertanya karena penasaran.


“Ada apalagi sekarang, mengapa terlihat kesal? Perasaanmu sepertinya terus berubah-ubah, sebaiknya Kau harus mendengarkan saranku tadi.”


“Lala ... Kau pikir hanya Aku saja yang pikirannya akan berubah-ubah? Bagaimana saat Tian sedang tersenyum kepadamu, bahkan Kau terlihat seperti orang kehilangan akal sehat.”


“Hei, itu beda lagi, ah ... baiklah Kau masih normal, setidaknya masih bisa di ajak berkomunikasi.”


Dao membalasnya dengan senyuman, sedikit tertawa dan kembali mengalihkan pandangannya ke jendela bus.


“Xunzhao, Aku benar-benar membutuhkanmu, bisakah beri waktumu untukku, ah ... Gadis ini terlalu sibuk,” gumam Dao sambil kembali memeriksa ponselnya.


Tak lama berselang Dao tiba di rumahnya, “sampai bertemu besok,” ucap Dao kepada Lala yang masih akan melanjutkan perjalanannya kembali, karena rumah Lala agak sedikit jauh, Lala pun membalasnya dengan anggukan sambil melambaikan tangannya.


Saat akan memasuki rumah, Dao melirik ke arah kiri tepat di garasi rumahnya, memastikan apakah Xunzhao sudah kembali, tetapi wajahnya kembali sedih saat mengetahui mobil Xunzhao belum terparkir di sana.


Kembali ia memasuki rumah sambil menggerutu, “Xunzhao, Kau seperti bukan kembaranku saja, saudara kembar yang lainnya akan merasa gelisah jika salah satu dari Mereka ada masalah, tetapi tidak denganmu, bahkan tak akan membalas pesanku tepat waktu, dan juga balasannya sangat singkat, selalu menyertakan kata ‘sibuk’ di dalamnya, hah ... menyebalkan sekali.”


Dao menuju kamarnya, selera makannya bahkan menghilang, tapi tetap saja dia mengambil ponselnya untuk memesan makanan, hal yang sering terjadi jika ia hanya sendiri di rumah, berharap tak lagi menunggu pesanan tiba saat ia benar-benar lapar.


Dao kembali mengirim pesan kepada Xunzhao, mencoba mengganggu ketenangan saudaranya itu, karena tak ada yang bisa ia lakukan sekarang selain menceritakan semuanya kepada Xunzhao, [Xunzhao ...] pesan singkat itu terkirim, Dao membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil terus menggenggam ponselnya menanti balasan Xunzhao, setengah jam berlalu bahkan tak ada balasan yang hinggap di ponselnya, Dao langsung bangkit dari tempat tidurnya dan melempar ponselnya di atas kasur, sedikit menumpahkan kekesalannya tetapi itu tidak lama, karena ia kembali mengingat arloji kuno yang harus segera di perbaiki.


Menuju meja belajar, Dao mengeluarkan arloji kunonya dari dalam tas, memandangnya perlahan kemudian mulai membongkarnya, Dao memastikan apa putaran girnya masih tetap sama, dan ternyata masih belum berubah sama sekali, ia terus memperhatikan putaran gir arloji itu, tetapi baru menyadari kalau arloji itu tak memiliki baterai untuk menggerakkannya, kembali Dao memeriksanya lagi dengan teliti.


“ Astaga! Mengapa baru mengingatnya, seharusnya arloji ini memiliki baterai untuk menjalankannya, tetapi ... di mana letaknya ya? Ah, alat sekecil ini mengapa organ tubuhnya sangat banyak? Baterai di mana Kau?”


Saat sedang seriusnya memeriksa, Xunzhao masuk ke kamar dan langsung menyapa Dao dengan suara petasannya, “Hei, sedang apa Kau!”


Dao yang kaget saat itu langsung melempar arloji yang ada di tangannya, “hah, Kau ini ... untung saja tidak jatuh ke lantai,” kembali ia mengambilnya.


Xunzhao penasaran dengan arloji yang belum pernah di lihatnya itu, dan langsung merampasnya dari tangan Dao, “jam apa ini? Mengapa kuno sekali sepertimu?”


“bisakah Kau menyebutnya dengan arloji? Kaulah yang kuno, kembalikan padaku.”


“Hah, ambillah ... bahkan Aku tak tertarik.”


“Xunzhao, apakah Kau masih banyak kesibukan sekarang? Mengapa Kau tak membalas pesanku? Apa Kau ... sudah tak peduli lagi dengan kembaranmu ini? Ah, bahkan Aku harus mengemis lagi padamu, menyebalkan sekali, setidaknya ... berilah waktumu sedikit padaku, Kau bahkan tak tahu kalau Aku hampir di bawa Lala ke Psikolog,” sambil terus mencari alat penggerak di dalam arloji kuno.


“Ada apa dengan pikiranmu? Mengapa Lala harus melakukan hal itu? Aku sedang bersama pelangganku jadi tak membalasnya, baiklah ... maafkan Aku karena mengabaikanmu, besok Aku akan pulang lebih awal, dan ceritakan semuanya, sekarang perbaiki kerutan di wajahmu, Aku akan pergi memasak.”


Tak lama bel rumah berbunyi, Xunzhao langsung memandangi Dao, seolah tahu siapa yang datang.


“Kenapa memandangku seperti itu? Segera buka pintunya, he ... sekalian bayarkan juga.”


“Anak ini membuatku kesal saja,” sambil berlalu pergi menuju pintu rumah.


“Aku saudaranya, ini bayarannya sisanya ambil saja.”


“Baiklah, terima kasih Nona, Aku permisi dulu.”


Xunzhao membalasnya dengan anggukan kemudian menutup pintunya kembali.


“Dao, jangan selalu memesan makanan di luar, ah ... percuma Kau akan terus melakukannya.”


“Aku pikir Kau akan pulang larut malam, jadi Aku memesannya.”


Mereka pun mulai menyantap makanan yang telah di pesan tadi.


**


Malam yang semakin larut, Dao terjaga dalam lamunannya kembali, ia membalikkan badannya ke arah Xunzhao dan terus memandangnya, “Jiějiě, benarkah yang Aku lihat adalah dirimu? Aku bahagia ketika di setiap kehidupan selalu bersamamu, entahlah selanjutnya akan seperti apa.”


Dao kemudian memejamkan matanya, mencoba untuk tidur hingga terlelap.


**


Pagi pun tiba, Dao bangun lebih awal dan langsung bersiap, begitu pun dengan Xunzhao.


“Mengapa Kau cepat bangun? Tak biasanya seperti itu.”


“Xunzhao, bisakah Kau pulang lebih awal hari ini? Aku harus benar-benar membicarakan hal ini kepadamu.”


“Baiklah, ayo berangkat.”


Tiba di kampus, Dao hanya melirik ke taman tempat di mana Ia melihat pria itu, dalam hatinya masih berharap bisa melihat pria itu lagi, kembali dia melanjutkan langkahnya memasuki ruang kelas.


Masih di depan kelas, Tian terlihat mondar-mandir seperti sedang menanti seseorang, saat melihat Dao tepat di depannya dengan segera Tian menarik tangannya menuju tempat duduk, kembali ia membuka laptop dan menyodorkan ke arah Dao.


“Ada apa?” tanya Dao sambil memandangi Tian dengan wajah bingung.


“Jangan memandangku, lihatlah ke arah laptop, bacalah dengan teliti.”


Dao mulai membacanya ‘Selamat Anda lolos persyaratan lomba, segera persiapkan diri Anda untuk mengikuti lomba dua minggu dari sekarang.’


“ Benarkah? Aku lolos? Wah ... Aku masih belum percaya.”


“Hei, Kau masih belum membaca semuanya, baiklah ... tidak masalah Aku akan memberitahukannya, lomba kali ini akan di adakan di Kampus Kita, tempatnya di Aula Kampus, jadi persiapkan dirimu, terutama syairnya, pastikan membuat Mereka terkesima, ah ... Aku bahkan tidak sabar menantinya.”


“Ah, ini akan menegangkan, jika lombanya di kampus kita, sudah pasti Suji akan datang, dan Idola Kampus kita akan ...”


“Akan di abaikan, bukankah itu perkataan selanjutnya? Ah, Kau mengejekku lagi.”


“Perbaiki kerutanmu, Aku hanya bercanda, lihatlah wajah sinis para wanita itu, apa Kau melihatnya? Seolah Mereka ingin menarik rambutku karena kesal, bukankah ... itu penggemarmu? Ah, Aku harus berhati-hati sekarang, jangan sampai mereka mencegatku di jalan.”


Tian hanya tersenyum mendengarnya, Dao kembali menuju bangkunya, seperti biasa menanti Dosen tiba hingga akhir aktivitas perkuliahan.


Waktu yang di nantikan pun tiba, hari yang begitu melelahkan seakan ingin segera cepat sampai di rumah dan membaringkan tubuhnya yang lelah.


“Dao, Aku pulang lebih dulu, urusan kantor memanggil,” kata Tian berpamitan.


“Baiklah, Pak Manajer terima kasih bantuannya hari ini,” di sertai lambaian tangan.


Lala pun datang menghampiri Dao untuk mengajaknya pulang bersama, “hah, bahkan Aku belum sempat memandangi wajahnya hari ini, Pak Manajer itu sudah pergi.”


“Ayo pulang! penggemar setia,” ledek Dao sambil tersenyum.


Seperti biasa menaiki bus hingga tiba di rumah, setibanya ia langsung menuju kamar dan segera merebahkan badannya yang teramat lelah dengan aktivitas yang menguras pikirannya.


Xunzhao belum kembali, jelas hari masih sore itu bukan waktunya untuk pulang, Dao tidur sebentar sambil menanti Xunzhao kembali, akan tetapi suara mobil terdengar memasuki garasi rumah.


“Benarkah itu Xunzhao? Mengapa cepat sekali Dia pulang? Baguslah itu lebih baik.”


“Aku pulang ... Dao kemarilah sebentar.”


Dao segera keluar dari kamarnya, Xunzhao membawa makanan kesukaan Dao, dan menyantapnya bersama.


Malam pun tiba, mereka telah berada dalam kamar, tempat yang paling nikmat saat bersantai, Xunzhao memulai percakapan.


“Dao apa yang ingin Kau ceritakan? Katakanlah sekarang, Aku siap mendengarnya.”


Dao pun menghampiri Xunzhao sambil membawa arloji, “Perhatikan arloji ini,” sambil mengarahkan bagian belakang arloji yang telah di bukanya.


Kembali ia berkata, “Arloji ini bergerak tanpa baterai, girnya pun sangat banyak, bahkan putarannya pun bisa berubah”


Dao membalikkan arloji kuno itu dan menunjukkan jarumnya, “Jarumnya banyak, apa Kau melihat yang paling kecil itu? Perhatikan juga angkanya, ini jelas menunjukkan derajat pada busur lingkaran, bukan seperti arloji normal biasanya.”


Xunzhao mulai merasa aneh dengan arloji kuno, “Di mana Kau menemukannya?” tanya Xunzhao yang makin penasaran.


“Soal itu akan Ku jelaskan nanti, sekarang lihatlah yang akan Aku lakukan,” Dao pencabut patahan lidi yang menahan gir, dan menahannya ke gir yang lain.


“Kau lihat? Jarumnya berlawanan waktu, sekarang Aku akan menempatkannya ke gir yang lain, lihatlah putaran jarum jamnya terbagi, apa menurutmu ... ini hal biasa?”


“Wah, Aku hampir gila di buatnya, sekarang katakan padaku, Kau temukan arloji ini di mana?”


“Ku rasa Kau akan gila jika mendengarnya.”