The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 10. Rencana Awal



Sadar dengan apa yang dilihatnya, Xiǎoyù pun mulai angkat bicara.


"Ah ... Yī Tuán Bīng, ayolah ... Kita tidak akan pergi sangat jauh, bukankah Kau melihat tadi Aku menunjuk ke arah mana, jika Kau menahannya seperti ini, bagaimana bisa mencicipi hidangan lezat," disertai anggukan Táohuā seakan menyetujui perkataan temannya.


"Liánhuā, bukankah Kau memiliki urusan penting dengan Kakek Guru Putih?" kata Táohuā mengingatkan.


"Aiyo ... baiklah Kalian pergilah sana, Xiǎoyù ... ingat janjimu jangan berulah, Liánhuā jangan terlalu khawatir biarkan Dia bersama Xiǎoyù," kata Kakek Guru Putih sambil mengajaknya ke tempat lain.


Liánhuā pun melepas Genggamannya dan kemudian mulai mengacak-acak rambut Táohuā sambil tersenyum dan pergi kearah yang berlawanan tentunya bersama Kakek Guru Putih.


Sambil berjalan santai mereka memulai perbincangan yang panjang, tentu saja


Xiǎoyù memulainya lebih dulu.


"Hei Táohuā, bagaimana dengan tugasmu akhir-akhir ini? Wah, membayangkannya saja sudah terasa sulit."


Sambil tersenyum Táohuā pun menjawab pertanyaan dari temannya itu.


"Kalau begitu jangan membayangkannya, Aku bahkan lelah ketika ditugaskan di Bumi, entahlah sepertinya ... banyak yang ingin menguasai Alam itu, sangat sulit membedakan Siapa yang harus diselamatkan dan Siapa yang harus di musnahkan, semuanya hidup dalam kepura-puraan, Dunia Fana terlalu sulit untuk di tebak."


"Táohuā, apa Kau merasa bosan melakukan semuanya? Meski wajahmu tak terlihat lelah, tapi ... ketika mendengar ceritamu Kau sepertinya banyak beban."


Táohuā menggelengkan kepalanya untuk jawaban tidak kemudian berkata, "Aku tidak merasa bosan, itu mungkin karena menjalaninya bersama Liánhuā, tapi ... ketika terjadi Pertarungan Aku seperti menjadi Orang lain, mungkin itu memang seharusnya terjadi, hanya saja ... setelahnya Liánhuā selalu terlihat gelisah."


" Ah ... Yī Tuán Bīng ini sepertinya Pria penuh kekhawatiran, Aku bahkan jarang melihatnya tersenyum, benar-benar dingin bahkan sangat dingin, untung saja Kau masih bertahan dengannya," kata Xiǎoyù meledek temannya.


Setibanya di tempat hidangan, mereka langsung mencicipi satu demi satu makanan lezat yang telah di sediakan, tanpa menghiraukan siapapun yang sedang memperhatikan mereka, saat sedang menikmati hidangan kedua sahabat ini mendengar pembicaraan para tamu entah siapa, mereka tak begitu mengenalnya.


"Wah, rupanya Mereka berteman, sepertinya ... Dia tak terlihat takut, aneh sekali mengapa Racun Murni Wanita itu tak berpengaruh kepadanya? Padahal yang Aku tahu Dia hanyalah Dewi biasa yang tak memiliki gelar dan bahkan kekuatannya hanya biasa saja."


" Maksudmu Xiǎoyù? Bukankah Dia dirawat oleh Guru Putih? Jelas Dia pasti memiliki cara untuk bisa berada sedekat itu dengannya atau mungkin ... Wanita itu memang telah mampu mengontrolnya, hah, apapun itu jangan mencobanya."


Mendengar pembicaraan itu mereka hanya bisa saling menatap dan tersenyum, setelah mencicipi semuanya mereka langsung pergi ketempat duduk tak jauh dari Kakek Guru Putih dan Liánhuā berada, seolah sedang menepati janji mereka.


Sambil duduk mereka melanjutkan perbincangan yang terdengar seru, itu mungkin hanya bagi mereka berdua saja.


"Táohuā apa Kau dengar tadi? Kau begitu menakutkan bagi Mereka, hah ... yang benar saja, aAku bahkan tak melihat hal yang menakutkan itu dari dirimu."


"Hei, Kau ini, apa kau sedang meledekku? Jika mendengar pembicaraan itu terus menerus sebenarnya ... akan membuat banyak pertanyaan tentang Diriku sendiri, tetapi ketika ingin mengajukan pertanyaan kepada Liánhuā, Dia hanya mengatakan jangan memikirkan itu, menurutmu ... bukankah itu menyebalkan?"


"Tapi menurutku Yī Tuán Bīng ada benarnya juga, ah ... tak perlu memikirkannya, Kau lihat Dewi disana?"


"Ada apa dengannya?" Tanya Táohuā penasaran.


"Bukankah Dia terlalu genit? Ah ... Xiǎoyù, Kau mulai berulah lagi," kata Xiǎoyù yang mulai mengingat lagi janjinya pada Kakek.


Mereka memperhatikan Dewi itu sambil tertawa, saat Kakek Guru Putih dan Liánhuā mulai memperhatikan, mereka pun langsung diam dan melakukan pembicaraan lagi dan lagi.


"Táohuā, apa Kau telah mengetahui tugasmu selanjutnya? wah ... Kau benar-benar sibuk hingga jarang untuk bertemu denganku."


"Entahlah, kali ini tak ada yang memberitahukan tugas apa yang harus dijalani, bahkan Liánhuā sendiri saat Aku bertanya apa yang harus dilakukan selanjutnya, Dia pun hanya diam saja dan langsung mengalihkan ke pembicaraan lain, sepertinya ... ada yang Dia rahasiakan dariku, akhir-akhir ini dia terlihat gelisah, ah ... Aku semakin bingung di buatnya."


"Menurutku ada yang aneh, Kakek Guru juga meskipun dihadapanku terlihat biasa saja, tetapi ... saat sendiri Aku sempat melihat kegelisahan di Raut Wajahnya, ah ... Aku tidak ingin memikirkan hal ini."


"Táohuā, berhentilah memikirkannya, entah apa yang terjadi selanjutnya kita tetap tidak akan pernah tahu."


***


Di lain sisi kedua pria itu melakukan perbincangan yang cukup serius, ya ... tentu saja Kakek Guru Putih dan Liánhuā.


"Bagaimana dengan masalah Sekte?" tanya Guru Putih mencari tahu informasi.


"Hóng Wūyā memisahkan diri dari Sekte, Dia berambisi untuk menguasai Tiga Alam dan terus menyerap kekuatan Para Dewa."


"Rupanya Kita tetap harus melakukan rencana awal, karena hanya kekuatannya yang mampu mengalahkan Hóng Wūyā, Aku melihat ada kekuatan baru dalam tubuhnya terlihat seperti Cahaya Phoenix yang berapi, dan Aku pikir akan sulit terkontrol olehmu."


"Berikan Aku waktu untuk mencobanya, agar tak perlu melakukan Rencana Awal."


"Jika Kau mencobanya, kekuatanmu akan melemah, itu jelas tak akan berguna ketika tiba saatnya untuk penyerangan semuanya akan sia-sia."


Liánhuā semakin terlihat gelisah karena harus melepas genggamannya, Guru Putih yang melihatnya khawatir mulai menenangkan sahabatnya itu.


"Aiyo ... tugas tetaplah tugas, tenanglah ... Dia tak akan sendirian, Dia sering mengatakan ingin bersama Temannya walau hanya sebentar, Xiǎoyù tak akan berbuat ulah saat bersamanya, ini akan berbeda dari biasanya, bukankah ... Kau bisa terus memantau Mereka dari kejauhan?"


"Tapi bagaimana dengan ingatannya?"


"Hei ... itu urusanmu bersama Pasanganmu, nanti akan tetap pulih dengan caramu, hah ... Xiǎoyù anak ini harus melakukan pengorbanan yang menyakitkan, tetapi ... jika tak mengikut sertakan Dia dalam tugas ini, semua akan menjadi rencana yang buruk, karena hanya kekuatannya yang mampu mengontrol Táohuā."


Kedua Pria itu mulai memandangi Táohuā dan Xiǎoyù dengan perasaan sedih dan hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi kepada mereka selanjutnya.


"Walau bagaimanapun Mereka tetaplah gadis yang bodoh, harus menjalani tugas besar yang tiba-tiba telah ada di depan mata, sudahlah ... Kita lihat nanti setelahnya," kata Guru Putih yang masih juga cemas dengan tugas baru yang begitu menguras perasaan.


Mereka pun mulai berjalan menghampiri Xiǎoyù dan Táohuā, dengan menampakkan wajah seolah tak terjadi sesuatu. sesampainya mereka Liánhuā langsung berkata.


"Táohuā, ayo kembali ..."


Táohuā membalasnya dengan anggukan kepala.


"Baiklah, sepertinya Yī Tuán Bīng ini tidak ingin melepas Genggamannya terlalu lama," kata Xiǎoyù meledek.


Táohuā tersenyum mendengar perkataan temannya, berbeda dengan liánhua meskipun terlihat kesal mendengar nama aneh itu , dia hanya diam saja seolah tak menghiraukannya.


"Xiǎoyù, Kita juga harus kembali," kata Kakek Guru agar Xiǎoyù tidak lagi mengatakan hal yang aneh.


Xiǎoyù membalasnya dengan anggukan sambil mulai menggandeng Kakek Guru Putih


"Táohuā, sampai bertemu kembali, pastikan lebih lama dari hari ini" kata Xiǎoyù berpamitan.


Kedua pria itu langsung berada dalam kecemasan, seolah Alam telah menyetujui rencana mereka.


"Baiklah, sampai bertemu lagi, Kakek kami permisi lebih dulu" kata Táohuā sambil melambaikan tangan.


Liánhuā membungkuk untuk berpamitan, dan mereka pun berjalan menuju arah yang berlawanan, Táohuā dan Xiǎoyù masih tetap memalingkan wajahnya sambil terus melambaikan tangan.


"Sampai ketemu lagi, Kita akan bertemu lagi," kata yang terus di ulang Xiǎoyù di sela lambaian tangannya.