The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 19. Kekuatan Iblis Zhīzhū



Kekuatan Iblis Zhīzhū yang di kuasai Táohuā mempunyai khas Wanita Iblis yang mampu memikat siapa pun yang menatapnya. Ketika lawan mulai terpana dan hanyut akan tatapan itu, tanpa sadar seluruh tubuhnya akan terbungkus dengan Benang Penembus Sukma, sehingga harus berusaha meloloskan diri dalam pikirannya.


Permainan teka-teki seolah hadir dalam pikiran, jiwa yang tersesat dengan begitu banyak rintangan, harus terus berusaha mencari jalan keluar, semuanya tak semudah saat dalam nyata.


Hóng Eūyā yang kini terjebak dalam pikirannya sendiri, harus melewati rintangan yang telah di buatnya. Táohuā yang ikut mengambil risiko yang sama seakan membuat khawatir Para Anggota Sekte Tulang Putih termasuk Liánhuā, bagaimana tidak Táohuā yang ikut beradu dalam pikiran Hóng wūyā, harus bisa berhasil keluar, karena jika tidak dia akan di kuasai oleh pikiran Hóng Wūyā itu sendiri.


***


Táohuā yang telah berada dalam pikiran Hóng Wūyā, mulai mencari jalan keluar begitu pun juga dengan Hóng Wūyā sendiri.


Pikiran Hóng Wūyā terlalu banyak jebakan, rencananya bahkan tak bisa ditebak, akan membuat kesulitan saat melewatinya.


“Apa ini? Benar-benar rencana tak beraturan, dasar Iblis tak tahu malu! Niat kotor apa yang di lakukannya,” kata Táohuā sambil terus memeriksa sudut ruangan dalam pikiran Hóng Wūyā.


Ikut masuk bukan berarti tak memiliki rencana apapun, Hóng Wūyā yang sibuk menyembunyikan Kelemahan dengan memberi banyak rintangan dalam pikirannya, sehingga membuat Táohuā kesulitan menemukan Kelemahannya itu. Keduanya saling menjebak, melakukan pertarungan, beradu dalam batas waktu yang begitu singkat dan berusaha keluar.


Tak lama berselang Hóng Wūyā mampu membebaskan diri dari pikiran palsu yang sengaja di buat dari Kekuatan Iblis Zhīzhū itu.


Benang Penembus Sukma yang membelenggunya perlahan mulai terlepas, sehingga membuat panik Anggota Sekte Tulang Putih, karena Táohuā tak kunjung keluar, sementara yang mereka tahu jika belenggunya telah terlepas akan membuat Táohuā terjebak selamanya dalam pikiran Hóng Wūyā dan akan dengan mudah di kendalikan.


Táohuā tengah sibuk mencari sisi lemah dari Hóng wūyā, terus memeriksa ke seluruh ruangan pikiran, sisa waktu yang didasarkan oleh lepasnya belenggu adalah waktu yang singkat dan mustahil untuk bisa mencari lagi.


Táohuā mulai memejamkan mata berkonsentrasi penuh pada pemikirannya sendiri. Saat itu dia mengerti dengan kalimat yang bermain dalam pikirannya.


“Jiwa yang Suci, ada dalam benak yang terdalam, dan Pemikiran yang Buruk, ada di bagian atas Pemikiran Sebenarnya, Kelemahan tersimpan di antaranya”.


Táohuā segera membuka mata dan mampu melihat seluruh kelemahan Hóng Wūyā membuat dirinya tersenyum geli, dan mulai bergegas untuk keluar, bersamaan dengan terlepasnya belenggu di tubuh Hóng Wūyā.


Kejadian yang berlangsung menegangkan itu membuat seluruh Anggota sekte yang menyaksikannya mulai lega. Posisi yang sama, saat ini keduanya berhasil melewatinya.


Hóng Wūyā yang berhasil keluar lebih dulu, kini mulai menyindir Táohuā.


“Kekuatan Iblis Zhīzhū jelas tak berguna, bagaimana bisa digunakan dalam pertarungan.”


Táohuā hanya tersenyum mendengarkan perkataan bodoh yang dibuat Hóng Wūyā, seakan mengundang tanya semua yang menyaksikannya.


“Kau terjebak Hóng Wūyā, bahkan baru awalnya saja.”


“Terjebak katamu? Bahkan Aku telah berhasil keluar dari pikiran palsu yang kau buat itu, permainan anak kecil apalagi sekarang? Ayo, perlihatkan padaku.”


Mendengar perkataan Táohuā, dirinya mulai penasaran, hal apa lagi yang akan di lakukan Táohuā kepadanya, meskipun tak tampak kekhawatiran di wajahnya, tetap saja dalam hati selalu berada dalam waspada, karena Táohuā bukanlah lawan yang biasa saja baginya.


Hóng Wūyā bukanlah Iblis yang suka menanti penyerangan, dia akan lebih dulu menyerang bahkan dengan cara tiba-tiba.


Hóng Wūyā mulai menyerang Táohuā dengan Jarum Pemisah Jiwa, asap tebal mengantar ribuan jarum ke arah Táohuā, sehingga membuat Jiwa Dewi Beracun itu terpisah menjadi sangat banyak, jelas ini bukanlah hal yang baik bagi Táohuā karena bahkan dirinya sendiri tidak akan bisa mengenal jiwa aslinya, jika jiwa yang sebenarnya tidak di dapatkan, maka dia akan menjadi abu dan tak akan lagi ada meski di kelahiran selanjutnya.


Kepanikan mulai terjadi dalam dirinya, semua jiwa Táohuā saling memandang satu sama lain, seakan sedang mencari jiwa yang sebenarnya.


Hóng Wūyā yang tampak bahagia, mulai meninggalkan ruangan, seolah sedang memberi kesempatan Táohuā untuk berperang melawan dirinya sendiri, jelas kesombongan yang berlebihan.


“Ha ... ha ... ha.... Gadis kecil, Jiwamu tak bisa di temukan, selesaikan urusanmu lebih dulu,” kata Hóng wūyā sambil berlalu pergi.


Pertarungan antar Anggota Sekte kembali berlanjut, membuat konsentrasi Táohuā terganggu. Liánhuā yang tak lagi memperdulikan pertarungan yang terjadi, kini mulai mendekati Jiwa Táohuā satu demi satu, tetapi semuanya mengelilingi dan mengulurkan tangan ke arah Liánhuā untuk di genggamnya. Situasi yang sengaja di buat untuk mengacaukan pikiran Liánhuā.


Liánhuā yang sedari tadi terdiam kini mulai menggenggam salah satu Jiwa Táohuā sambil tersenyum, seolah telah memiliki cara untuk menemukan jiwa yang sebenarnya. Liánhuā mulai membelai wajah Jiwa Táohuā yang di genggamnya, berharap rencananya berhasil. Semua Anggota Sekte yang masih terus bertarung di buat penasaran dengan apa yang di lakukan oleh Ketua Sekte Tulang Putih itu.


Liánhuā masih terus membelainya di hadapan seluruh Jiwa Táohuā, tetapi tiba-tiba terdengar suara teriakan nyaring tak bernada dari salah satu Jiwa Táohuā.


“Yī Tuán Bīng!” teriak salah satu Jiwa Táohuā dengan wajah penuh kekesalan.


Liánhuā langsung memandang Jiwa Táohuā itu dengan tersenyum, berjalan perlahan kearahnya dan segera memeluknya. Seketika Jiwa Táohuā lainnya ikut melebur masuk dalam Jiwa Táohuā yang sebenarnya.


Liánhuā kembali melepas genggamannya, membiarkan Táohuā melanjutkan pertarungan. Karena dia tahu bahwa Táohuā telah bersumpah kepada Langit bahwa dirinya akan menjalankan Tugas Langit tanpa Liánhuā kali ini.


(Jika lupa mari baca lagi Sumpah Táohuā di Episode 11. Racun atau Penawarnya)


“Hóng Wūyā, keluar Kau Iblis pengecut! Aku masih ingin bermain denganmu,” teriak Táohuā dengan penuh kekesalan.


Hóng Wūyā kembali menampakkan wajahnya di hadapan Táohuā, semua pertarungan pun kembali terhenti. Táohuā tanpa banyak bicara mulai menyerang Hóng wūyā dengan Kekuatan Iblis Wú.


Semua Anggota Sekte yang menyaksikannya tercengang, seakan tak percaya jika Táohuā memiliki Kekuatan Iblis Wú dalam dirinya, jelas semua Iblis mengetahui bahwa kekuatan itu tak akan mampu di kuasai oleh Wanita, tetapi pada kenyataannya Táohuā memiliki kekuatan itu.


Anggota Sekte Tulang Putih mulai mempertanyakan identitas Táohuā yang sebenarnya, karena yang mereka tahu Táohuā hanyalah Serpihan Batu Meteor Merah yang di genggam Liánhuā ketika akan jatuh ke Bumi saat menjalankan tugas penangkapan Iblis yang ingin menguasai Planet Merah.


Semua Anggota Sekte kini memandangi Liánhuā seolah menyimpan berjuta pertanyaan tentang apa yang terjadi sebenarnya, akan tetapi Liánhuā tak menghiraukan pandangan itu.