The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 29. Kegelisahan



Sambil mengingat kejadian sebelumnya, semuanya terlihat bingung dengan tingkah Dao, tiba-tiba langsung melanjutkan perkataannya, “Aha, bukankah Kau yang menerobos masuk ke dalam taksiku? Memangnya ada apa begitu terburu-buru?”


Sambil tersenyum mengingat kejadian itu, Jian pun menjelaskan kepada semuanya, “Oh ... soal itu? sebelumnya maafkan Aku, kemarin Aku harus ke Butik kakakmu, karena Lili sudah mulai kesal saat itu jadi aku harus secepatnya pergi ke Butik, dan langsung menerobos masuk taksi, kejadian itu mungkin sangat mengesalkan bagimu, jadi ... sekali lagi maafkan Aku.”


“Aiyo ... kalau tahu seperti itu, mengapa Aku tak ikut masuk juga, padahal saat itu Aku akan ke Butik Xunzhao, tapi ... sekarang tidak masalah, karena Kau telah meminta maaf secara langsung padaku, jadi Kau aman sekarang.”


Mereka hanya menggelengkan kepala mendengar perkataan Dao yang tak berperasaan itu.


Pesta pernikahan yang berlangsung meriah, kini para tamu mulai berpamitan begitu pula dengan Xunzhao dan Dao.


Dengan menaiki mobil kembali menuju rumah, selama perjalanan Dao hanya terus memikirkan Liánhuā, Dao bahkan mulai ragu menceritakan mimpinya kepada Xunzhao, dia berpikir semua akan sama saja.


Tak lama mereka pun tiba di rumah, dengan rasa lelah yang teramat sangat mereka langsung bersiap untuk tidur, Xunzhao mulai terlelap lebih dulu karena kesibukan yang padat membuat tubuhnya benar-benar merasa nyaman ketika merasakan kasur empuk miliknya.


Malam yang semakin larut, Dao masih terjaga dengan lamunannya, dia mulai sedikit khawatir dengan keadaannya sekarang, yang hampir terlihat seperti orang tak waras, bahkan dia tak tahu entah sampai kapan akan seperti ini, Dao terus menstabilkan dirinya dengan memejamkan mata hingga terlelap.


Pagi menyapa, rutinitas kembali berjalan seperti biasanya, Xunzhao berangkat lebih awal lagi, kali ini tanpa membangunkan Dao, semuanya bukan tanpa alasan karena sejak semalam dia melihat keadaan Dao yang terlihat buruk. Xunzhao hanya bisa melakukan hal itu sementara ini, mengingat pekerjaannya yang masih saja menumpuk sehingga tak memungkinkan untuk membahas hal yang terlihat begitu menguras hati dan pikirannya itu.


Tak lama Dao pun bangun, meski dengan sedikit memaksa tubuhnya untuk bangkit. Dao tak lagi memperdulikan apapun, bahkan dia menyadari bahwa Xunzhao telah berangkat sejak tadi, Dao mulai menyantap makanan yang telah di sediakan Xunzhao, dan bersiap berangkat ke kampus, seperti biasa menanti bus di halte depan rumahnya, kali ini tanpa Lala yang biasa menemaninya, karena Lala pun memiliki jadwal pagi.


Bus pun tiba, hanya sedikit orang di dalamnya mungkin karena semua berangkat lebih awal. Sesampainya di kampus, Dao tak langsung ke kelasnya, dia menuju ke taman, mencoba menenangkan perasaannya, Dao telah melewatkan Jam pelajaran di awal, baginya semua tak berguna jika tetap memaksakan dirinya untuk masuk, karena pikirannya tak bisa lagi menampung pelajaran saat ini, jelas semuanya akan sia-sia saja.


Dao mulai menatap langit, dengan ribuan pertanyaan yang ingin dia ajukan, tak peduli akan bisa mendapat jawaban atau tidak, hanya saja dia ingin melampiaskan perasaannya yang semakin tak terarah karena hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini.


“Bisakah menjelaskan semuanya? Apakah benar-benar tak ada jawaban? Bisa melewatinya sejauh ini, entah sampai kapan mampu menahannya, bagaimana dengan yang terlihat nyata? Apa semuanya hanya kebetulan? Bagaimana dengan genggaman? Apakah ... hanya sebatas mimpi saja? Kalau seperti ini bagaimana bisa terus mencarinya? Apakah salah jika mempersalahkan semuanya? Bagaimana jika semua kegilaan ini terus terjadi? Apa yang harus ku lakukan setelahnya? Bahkan ingin menceritakan semua hal ini kepada semua orang, Aku akan dianggap tak waras, hah ... ini benar-benar tidak masuk akal, percuma saja melakukannya, bahkan tak ada jawaban yang terdengar,” tak terlihat tangisan kali ini, tetapi perasaannya masih tetap sama, Dao mulai membiasakan dirinya menerima keadaan yang terus menimbulkan pertanyaan.


Setelah sedikit tenang Dao mulai kembali ke kelasnya, Tian yang menyadari kedatangannya mulai menghampiri Dao dan duduk tepat di hadapannya.


“Bagaimana perasaanmu?” tanya Tian yang kini menyadari kesalahpahaman yang terjadi semalam.


“Baik,” jawab Dao singkat.


“Apa ... Kau masih marah padaku? Aku hanya ....” tak sempat melanjutkannya karena Dao mulai memotong pembicaraan lagi.


“Hei, jangan mengalihkan pembicaraan lagi, bisakah Kau menjelaskan semuanya? Sebenarnya apa yang terjadi? Mengapa Kau terlihat murung akhir-akhir ini? Maaf jika Aku terlalu ikut campur, tapi ... ini akan memperburuk keadaanmu jika terus seperti ini.”


“Tian, apa Kau yakin akan mampu menjawab semua pertanyaanku? Bagaimana jika apa yang Aku rasakan sekarang akan berdampak juga kepadamu? Dan jika Aku menceritakan semuanya kepadamu, apa Kau yakin tidak akan menganggapku Gadis Kuno yang gila? Tak perlu memikirkan keadaanku, ini hanya karena Aku belum terbiasa saja, setelahnya semua akan normal kembali.”


“Hah, baiklah jika Kau tak ingin menceritakannya, Aku tidak akan memaksa, tapi soal lomba yang Kau tanyakan tadi, sepertinya ... selain mendaftar melalui email, Kau juga harus menyertakan syair, jika syairmu memenuhi syarat kau akan bisa diikutkan dalam lomba.”


“Aneh sekali, Aku ingin mengikuti lomba, bukan sedang mendaftarkan diri untuk lomba, mengapa harus lewat seleksi lebih dulu? Benar-benar tak masuk akal.”


“ Hei, itu jelas masuk akal, mungkin Mereka ingin melihat keseriusan Para Pendaftar Lomba.”


“Ah, tapi seperti akan mendaftar masuk kampus saja aturannya, baiklah itu tidak masalah.”


“Jadi ... apa Kau akan mengikuti lomba itu?”


“Menurutmu? Apa Kau tidak yakin jika Gadis Kuno ini akan menjadi pemenangnya? Ah, pikiranmu buruk sekali.”


“Bukan seperti itu, maksudku ... melihat keadaanmu sekarang, apa Kau bisa melewati semuanya? Tapi ... jika Kau benar-benar ingin mengikuti lomba itu, Aku akan membantu mendaftarkan dirimu, Kau hanya perlu menyiapkan syairnya saja, bagaimana? Apakah itu cukup membantu?”


“Baiklah, itu memang cukup untuk menebus kesalahanmu semalam.”


“Dao, jika perasaanmu kembali memburuk, Aku berharap Kau tidak berada dalam kesendirian, meskipun tak ingin menjelaskannya, setidaknya ... Kau akan lebih tenang ketika bersama temanmu.”


“Wah, idola kampus ini mulai memamerkan kedewasaannya, lihatlah keriput di wajahmu, Kau terlihat tua sekarang.”


Tian hanya bisa tersenyum, akhirnya dia bisa melihat Dao yang sebenarnya, berbeda dengan Dao yang selalu saja membohongi perasaannya.


Tak lama berselang saat sedang asyik membahas persoalan lomba, Lala terlihat berlari memasuki kelas Dao, mereka berdua tampak bingung dengan tingkah Lala yang terlihat panik.


“Dao, mengapa tak mengangkatnya, Aku menghubungimu sejak tadi, hah, Kau ini hampir membuatku gila saja.”


“Lala, atur napasmu lebih dulu, lalu bicara yang jelas, tak perlu harus memarahiku di awal pembicaraan, hah ... aneh sekali, sebenarnya ada apa denganmu? Mengapa terlihat sangat panik?”