
Pagi menyapa dengan hangat, sinaran Mentari Pagi masuk melalui jendela kamar yang telah terbuka lebar, tak ada mimpi apapun semalam di tidur lelapnya. Teriakan Khasnya di Pagi hari, mengawali aktivitasnya.
“Kakak ....” teriak Yi Lan yang masih tak ingin beranjak dari tempat tidurnya.
“Bangunlah ....” sambil menghampiri dan menyambutnya dengan menggendong Yi Lan.
“Kakak, apakah Kita akan segera berangkat ke Rumah Kakak Pertama?”
“Hei lihatlah, Kau baru saja bangun bahkan belum merapikan dirimu. Ayo rapikan dirimu, lalu berangkat.”
Pangeran Li De Lóng terbiasa di sibukkan dengan rutinitas merawat Adiknya, sampai hal memandikan, memilih baju bahkan merapikan rambut Yi Lan, meskipun sedikit terlihat berantakan tapi setidaknya Yi Lan tetap terlihat manis.
**
Dengan menunggangi kuda, mereka menuju ke Paviliun Pangeran Shuǐlóng, berada di depan sambil bersenandung tanpa arti, entah lagu apa yang dinyanyikannya, menyapa ribuan bunga dalam lirik lagunya, seakan meramaikan perjalanan yang hanya ada mereka berdua. Cuaca yang juga mendukung membuat semuanya terlihat indah ketika mata memandang ke segala penjuru.
Jarak yang lumayan jauh, sesekali berhenti dan istirahat sejenak, kembali melanjutkannya lagi, semua di nikmati Yi Lan tanpa keluhan.
“Kakak, apa perjalanannya masih akan jauh?”
“Kita hampir sampai, setelah melewati bukit itu.”
Sesampainya mereka di Paviliun Pangeran Shuǐlóng, Yi Lan bergegas ingin cepat turun. Pangeran Shuǐlóng yang juga telah menanti mereka di teras rumah menyapa Yi Lan dengan senyuman.
“Kakak rumahmu bagus sekali, wah ... banyak bunga,” sambil terus mengelilingi taman paviliun yang tak besar tetapi sangat nyaman.
“Yi Lan, Kakak harus segera pergi, ingatlah untuk tetap jadi anak manis,” kata Pangeran Li De Lóng mengingatkan, Sambil mengusap pelan rambut Yi Lan.
“ Baik Kakak, Kau bisa mengandalkanku.”
Kembali Ia mengarahkan pandangannya kepada Pangeran Li Shuǐlóng, “Kak Shuǐlóng, Aku permisi.”
“Segera beri kabar,” kalimat singkat yang mengandung arti. Pangeran li delong yang paham akan maksud perkataan itu hanya bisa membalasnya dengan anggukan kemudian berlalu pergi.
Yi lan melambaikan tangannya sambil sedikit berpesan “Kakak, jaga dirimu,” terus melambaikan tangan hingga tak terlihat dari pandangannya.
“Yi Lan, ayo masuk,”
Kembali Yi Lan membalas dengan anggukan sambil berjalan masuk.
“Kakak, apa Kau hanya tinggal sendiri saja?”
“Terkadang tinggal sendiri,” jawab Pangeran Shuǐlóng singkat.
Tiba-tiba Yi Lan menghentikan langkahnya, “Ada apa?” tanya Pangeran Shuǐlóng bingung.
“Kakak, bicaramu sedikit sekali, Kau juga jarang tersenyum.”
Pangeran Shuǐlóng kembali bingung, tak tahu harus berkata apa, kebiasaannya sulit di hilangkan, tapi Ia tetap mencobanya agar Yi Lan tetap merasa nyaman berada di dekatnya.
“Mengapa? Apa Kau merasa takut?” sambil tersenyum mencoba mencairkan suasana.
Yi Lan membalasnya lagi dengan anggukan pelan sambil terus menatap Kakak Pertamanya.
“Kalau begitu, apakah Kakak harus tersenyum sepanjang waktu saat denganmu?”
Kembali Yi lan membalas dengan anggukan.
“Ah, baiklah. Apakah seperti ini cara tersenyum?” menampakkan senyum merekah ke hadapan Yi Lan sehingga membuat tawa lepas bersama. Hal yang benar-benar di luar kendali bahkan tak pernah Ia lakukan, hanya Yi Lan yang mampu mengubah semuanya.
“Kakak, bisakah ... Kau merapikan rambutku? Ini begitu mengganggu.”
“Apa? Aku? Merapikan rambut? Yi Lan, tapi ... Aku ....”
“Kakak ....” dengan wajah memelas kembali membujuk Pangeran Pertama.
“Ah, baiklah ....” jawab Pangeran Shuǐlóng yang tak bisa lagi menolak permintaan adiknya itu.
“Kakak, apa Kita akan jalan-jalan? Aku ingin membeli permen, kata Kakak Kedua di Desa dekat Kau tinggal, ada banyak yang menjual permen yang enak.”
“Baiklah, setelah merapikan rambutmu Kita akan kesana.”
Senyuman bahagia terlihat jelas seakan tanpa kesabaran, tetapi mencoba untuk tenang. Sangat lama bahkan kebingungan harus merapikan rambut, dengan gerakan Yi Lan yang sulit untuk diam dan terus saja menggoyangkan Kakinya.
Menanti cukup lama, Yi Lan mulai kesal, “Kakak, apa sudah selesai?”
“Yi Lan, bagaimana akan bisa cepat, jika Kau terus saja bergerak, sedikit lagi.”
Kembali fokus untuk mengikat rambut Yi Lan, “Selesai!” kalimat yang di nantikan oleh Keduanya.
“Kakak, ayo berangkat!”
Pangeran Shuǐlóng hanya bisa menganggukkan kepalanya, seakan tenaganya benar-benar terkuras hanya sekedar untuk merapikan rambut adiknya. Apapun itu Pangeran Shuǐlóng tetap bahagia karena tak pernah mendengar keluhan ataupun tangisan yang akan membuat kepanikan.
**
Tibalah mereka di salah satu Desa yang tak jauh dari Paviliun Pangeran Pertama, pemukiman yang padat dengan para penjual yang menjajakan banyak barang dagangan terlihat ramai seperti pasar.
Yi lan berjalan dengan santainya sambil tetap memegang jari telunjuknya sendiri.
“Mengapa berjalan seperti itu? Ada apa dengan jari telunjukmu?” tanya Pangeran Shuǐlóng melihat keanehan yang baru dilihatnya.
“Aku melakukannya supaya membuatku nyaman saat berjalan, jika bersama kakak Kedua, Aku akan memegang telunjuknya, tapi jika tanpa Kakak Kedua, Aku akan melakukan hal ini. Apakah ... Kakak pertama akan melakukan hal yang sama?” jawab Yi Lan penuh harap.
Pangeran Shuǐlóng perlahan menyodorkan jari telunjuknya kepada Yi lan, dengan segera Yi Lan langsung menggapai jari telunjuknya sambil melempar senyuman ke arah Kakak Pertama.
Kembali Ia melangkah dengan penuh keceriaan, sesekali menggoyangkan tangan Kakak Pertamanya dan terkadang menariknya dengan sedikit memaksa menuju tempat yang Ia sukai.
Semakin lama Pangeran Shuǐlóng mulai menikmati keakraban bersama Adiknya, senyum lebar terus terlihat di setiap langkah, semua karena Yi Lan membuat harinya penuh keceriaan.
Membeli banyak permen, hingga mengantongi lainnya untuk di bawa pulang.
Tetapi tiba-tiba langkah Yi Lan terhenti, dan mulai berkata sedikit memohon, “Kakak, maafkan Aku karena merepotkanmu, bisakah ... Kita segera pulang? Aku ... Aku ... Aku ....” hingga perkataan akhir yang melemah.
“Ada apa? Katakan saja?”
Yi Lan tak mampu lagi melanjutkannya, keringat dinginnya keluar seperti menahan rasa sakit, Ia memegang bagian dadanya, kantung permen yang di pegangnya tak mampu lagi Ia genggam dan membiarkannya jatuh.
Kembali Ia hanya bisa berkata “Kakak ....” sambil memandangi Pangeran Shuǐlóng.
Pangeran Shuǐlóng mulai terlihat panik, dengan segera Ia menggendong Yi Lan sambil berlari dengan kekuatan meringankan tubuhnya menuju Paviliun bahkan tak sempat lagi memikirkan untuk menaiki kuda.
Sesampainya di Paviliun, tubuh Yi Lan sangat dingin, karena tak kuasa menahan sakit Yi Lan pun pingsan, Pangeran Shuǐlóng berusaha menyembuhkannya dengan kekuatan yang di milikinya tetapi hanya bertambah parah, kepanikan yang membuatnya tak tahu harus berbuat apa, hanya bisa mendekapnya dengan erat dalam pelukannya di sertai tangisan yang berharap ada keajaiban yang terjadi.
Pangeran Shuǐlóng kembali menggoyangkan tubuh Yi Lan sambil terus memanggilnya.