The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 45. Ingatan yang Kuat.



Pandangan Pangeran Li De Lóng menatap tajam Yi Lan, Ia mulai memikirkan hukuman apa yang pantas untuk Adiknya. perlahan Ia mulai bersuara, "Yi Lan, Kita pulang sekarang," dengan nada lembut dan tak menampakkan kemarahan. Yi Lan segera beranjak dari duduknya menghampiri Pangeran Kedua dan seperti biasa menggandeng jari telunjuknya.


Mendengar nada yang lembut itu Yi lan pun bergumam dalam hati, "Sepertinya, Aku akan aman dari hukuman. Sudah kuduga, Kakak tak akan tega menghukumku," sambil memandangi Kakak Keduanya dengan senyuman.


"Jīnlóng, Aku permisi. Lanjutkan saja tugasmu," di sambung oleh Yi Lan yang juga ikut berpamitan sambari melambaikan tangannya.


Pangeran Jīnlóng membalas keduanya dengan Anggukan. Kembali Mereka berjalan melewati Koridor Istana, Pangeran Kedua sambil berbisik kepada Pengawal Dìbàng untuk menyuruhnya pergi ke Perpustkaan, "Pergilah ke Perpustakaan Istana, bawalah kitab Peraturan Kuno ke Paviliun, katakan kepada Penjaga kalau Putri Yi Lan yang meminjamnya," hanya dengan anggukan, Pengawal Dìbàng kembali berbalik menuju Ruang Perpustakaan Istana.


Kembali ke Paviliun, Yi Lan yang sudah kembali rapi, dan duduk manis di serambi rumah, tiba-tiba di panggil oleh Kakak Keduanya, dengan segera Yi Lan pun menghampirinya.


"Ada apa Kakak? Mengapa memanggilku?"


"Kesini duduklah," sambil menarik bangku untuk mempersilahkan Yi Lan duduk. Yi Lan mulai bingung, karena Ia berhadapan dengan meja besar, tempat biasa Keempat Kakaknya mengatur strategi perang.


"Mengapa Kakak menyuruhku duduk disini?"


"Yi Lan, apa Kau lihat catatan kuno itu?"


Yi lan segera mengambil catatan kuno yang tertulis rapi dalam bilahan bambu yang terkait dengan benang rajutan. kembali Ia menatap Pangeran Kedua dan berkata, "Kakak, bukankah ... ini adalah catatan Aturan Etika Kerajaan? Untuk apa Kau membawanya kesini?"


"Untuk Kau salin kembali dalam lembaran kertas, itu sebagai hukuman karena Kau telah berani membantah Kakakmu, dan malah memilih untuk bertengkar dengan Yōuměi. Jadi sekarang Pendekar Wanita ini harus di hukum karena kesalahan yang di buatnya. Kakak tak akan mengajakmu jalan jika salinannya belum selesai," sambil berlalu pergi.


"Tapi Kakak, Aku tak sepenuhnya bersalah. Itu karena Kak Yōuměi yang memulainya lebih dulu. Kakak, ayolah jangan menghukumku," dengan suara sedikit berteriak agar Kakaknya mendengar keluhannya, akan tetapi Pangeran Li De Lóng tak menghiraukan meskipun Ia mendengarnya dan tetap terus berjalan keluar Paviliun.


"Hah, mengapa nasib Seorang Pendekar akan berakhir seperti ini? Kakak mengapa Kau semakin kejam padaku sekarang? Apa Kau sudah tak menyayangi Adikmu ini? Habislah Aku, ini sangat banyak, kapan bisa selesai menyalinnya?" sambil mengabil lembaran kertas dan mulai menyalinnya perlahan dengan wajah yang tak lagi bersemangat.


Saat sedang seriusnya menjalani hukuman, Yi Lan di hampiri Kakak Ketiganya yang baru saja tiba.


"Yi Lan, dimana Kakak Kedua?"


"Aku tak tahu kemana perginya, jangan tanyakan padaku, apa Kakak tak melihat kalau Aku sedang kesal sekarang?" sambil terus menyalin catatan.


"Kesal? Yi Lan, Seorang Pendekar tak boleh terlihat kesal. Sebentar, apa yang sedang Kau tulis?"


"Semua ini gara-gara Kau juga Kakak!"


"Aku? Mengapa menyalahkan Kakakmu yang baru saja tiba?"


"Itu karena Kakak mengajariku menjadi Seorang Pendekar, dan Aku hampir saja memukuli Kak Yōuměi karena jiwa Pendekar yang Aku miliki. Sudah jelas-jelas Dia yang salah tapi malah Aku yang terkena hukuman. Hah, ini tidaklah adil."


Pangeran Ketiga hanya bisa tersenyum mendengar tuduhan yang di lemparkan kepadanya, "Tapi ... mengapa Pendekar harus di hukum seperti ini? Kasihan sekali, Kakak turut prihatin."


"Aku? He ... Yi Lan, sepertinya itu tidak akan mudah."


"Hah, sudah kuduga Kakak tidak akan berani melakukannya."


Tak lama berselang, Pangeran Li De Lóng tiba dan seperti biasa masih tetap tak menghiraukan Yi Lan. Pangeran Ketiga yang juga mengetahui kehadiran Kakak Keduanya itu mulai menyapanya dan kembali memfokuskan dirinya pada permasalahan Kerajaan , " Apa kabar Kakak. Bagaimana, apakah ada kabar tentang Pangeran Kàn Yún?"


"Belum ada, tapi saat disana Aku tak melihatnya sama sekali, sepertinya ... Ia tak berada di Istana. Kita harus lebih bersiaga, Aku memiliki firasat bahwa Kàn Yún memiliki rencana baru."


Tiba-tiba Yi Lan menyela pembicaraan Kedua Kakaknya itu, "Kakak, tadi saat Aku sedang bermain di taman, sekilas Aku mendengar Ibu Selir berkata kepada Seorang Pengawalnya. Ia berkata ... mencuri kambing sepanjang perjalanan, sama halnya seperti tumpukan butir pasir menghasilkan sebuah pagoda. Aku tak sempat mendengar lainnya karena Pengawal Dìbàng telah datang menghampiriku. Apa Kakak mengerti maksud dari kalimat itu?"


Kedua Pangeran itu menatap Yi Lan dengan mimik seperti tak percaya, "Apa Kau benar-benar mendengar hal itu dari bibir Ibu Selir?" tanya Pangeran Lóng Huǒ sekedar memastikan.


Yi Lan membalasnya dengan anggukan. Kembali Pangeran Lóng Huǒ berkata, "Wah ... Pendekar, Kau benar-benar hebat!" sambil bertepuk tangan untuk memuji Adiknya. Akan tetapi Ia kembali keposisi serius karena tatapan Pangeran Kedua sebagai tanda peringatan.


Mendengar perkataan Kakak Ketiganya, Yi Lan pun mengambil kesempatan untuk meloloskan diri dari hukumannya, "Kakak, jadi ... apakah Aku bisa terbebas dari hukuman?"


"Tidak, Kau harus menyelesaikannya. Seorang Pendekar haruslah bisa menerima hukuman dari kesalahannya, itulah sifat dari Pendekar yang sebenarnya." kata Pangeran Li De Lóng yang di ikuti anggukan setuju dari Pangeran Ketiga.


"Baiklah Kakak, Yi Lan mengerti," kembali melanjutkan hukumannya, kali ini tanpa rasa kesal melainkan semangat jiwa Pendekar yang mulai mengalir dalam tubuhnya. Yi Lan tak menghiraukan lagi perbincangan serius dari Kedua Kakaknya, Ia lebih memilih fokus pada salinannya agar cepat selesai.


***


Terjadi perbincangan serius antara Kedua Pangeran.


"Kakak, sepertinya ... Ibu Selir ini telah memulai rencana barunya," kata Pangeran Lóng Huǒ mengawali perbincangan.


"Itu benar, Ia berusaha mengambil sekecil apapun keuntungan dalam setiap kesempatan, agar bisa melumpuhkan secara perlahan rencana yang sudah Kita buat. Untung saja Yi Lan mendengarnya, kalau tidak Kita akan dalam masalah."


"Hah, Aku masih tak percaya kalau kalimat sepanjang itu bisa di ingat jelas oleh Anak sekecil ini," kata Pangeran Lóng Huǒ sambil menatap Yi Lan dengan penuh kekaguman.


"Ada baiknya Kau lakukan penangkapan jika terjadi pemberontakan, kalau Kita hanya membiarkannya saja, Mereka akan terus melakukannya. Setidaknya Anggota Lawan semakin berkurang."


"Baiklah Kakak, tolong kabarkan juga hal ini kepada Adik Keempat agar Ia berhati-hati ketika menjalankan rencana. Karena Mata-Mata yang Aku kirim dalam Istana menginformasikan bahwa ada Seorang Pelayan Wanita yang di pekerjakan Ibu Selir untuk mendengar pembicaraan Adik Keempat dengan siapa saja. Sudah malam, Aku harus segera kembali. Yi Lan, Kakak pulang dulu."


"Baiklah, jaga dirimu."


Di lanjutkan dengan Yi Lan yang hanya menjawabnya dengan lambaian tangan.