The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 32. Pendaftaran Lomba



Dao tak sempat melanjutkan perkataannya, karena Dosen telah memasuki ruangan kelas. Kali ini perasaan Dao membaik, rupanya ia mulai terbiasa dengan keanehan yang di alaminya.


Materi pertama, materi kedua, hingga materi ketiga dalam setiap mata kuliah bisa di nikmatinya tanpa lamunan, Dao benar-benar mengambil momen ini dengan baik, karena ia berpikir besok perasaannya entah akan seperti apa lagi.


Tugas yang di berikan pun tak akan membuat Dao terbebani kali ini, setiap mata kuliah yang selalu menyisipkan tugas kelompok di dalamnya tak akan lagi di hiraukannya, ketika mendengar kata ‘tugas kelompok’ Dao akan menulis dalam secarik kertas [Pastikan Aku sekelompok denganmu, tepati janjimu ....] kemudian membentuknya seperti pesawat dan menerbangkannya ke arah Tian, Dao sangat kompeten dalam hal menerbangkan pesawat kertas, salah satu hal kuno yang sering dia lakukan.


Tian yang membacanya pun akan tersenyum dan langsung memandangi Dao yang telah siap dengan lambaian tangan sebagai peringatan.


Aktivitas belajar telah usai saatnya pulang, Lala memasuki ruangan kelas jelas itu akan sering di lakukannya saat perkuliahan usai, memanggil Dao untuk pulang bersama. Tian yang akan bersiap untuk pulang mulai menghampiri Dao.


“Dao, persiapkan semuanya besok, jangan mengulur waktu, itu tidak akan baik.”


“Baiklah, Aku bisa pastikan besok semuanya siap, tapi ... Kau tak boleh mengabaikan tugasku, jika tidak hidupku akan berantakan.”


“Kau tenang saja, serahkan semuanya kepadaku.”


Lala yang tengah mendengar percakapan aneh itu mulai menanggapinya, “Konspirasi apa yang telah terjadi sekarang? Mengapa Kalian tak mengikut sertakan Diriku? Bisakah ... Aku juga ikut bergabung? Sepertinya terlihat seru.”


“Lala, ini bukan konspirasi tapi pembagian tugas, jika Kau ingin ikut serta ... baiklah itu tidak masalah, Aku akan memberikan tugas juga padamu.”


“Ah ... begitu rupanya, sepertinya Aku tidak tertarik.”


“Benarkah? Bagaimana jika ... tugas itu di kerjakan bersama Idola Kampus, ah tapi sepertinya Kau sudah tidak tertarik lagi.”


“Bu ... bukan seperti itu, tapi ... jika Kau memaksa, Aku akan ikut serta untuk membantu tugas kalian,” jawab Lala dengan wajah memerah karena malu.


“Tian, Kau dengar itu? Gadis ini akan membagi tugas denganmu, wah ... Aku merasa terharu dengan welas asih Kalian.”


Perbincangan yang membuat tawa lepas ketiganya, seakan sedang memperjuangkan kemenangan bersama, hal yang selalu Dao sematkan dalam ingatannya agar tidak pernah menyerah dengan apa yang sedang ingin di raihnya.


Dao dan Lala telah menanti bus di halte depan kampus, sementara Tian akan pulang menaiki mobil yang selalu menjemputnya tepat waktu, jelas itu bukan lagi hal yang mengherankan, karena Tian adalah anak dari Pengusaha sukses di bidang Properti, akan tetapi itu tak membuatnya untuk bermalas-malasan, bahkan alasan mengapa dia harus pulang tepat waktu itu karena Tian akan melanjutkan aktivitas berikutnya di kantor bersama kakaknya Jian, yang sekarang telah menjabat sebagai Direktur Utama di Perusahaan milik Ayahnya, sedangkan Tian di percayakan sebagai Kepala Manajer oleh Ayahnya. Kekuasaan penuh itu di berikan kepada kedua pria yang tak pernah memperebutkan jabatan sama sekali, Ayah mereka yang telah mencapai usia lanjut tak lagi ikut andil dalam Perusahaan, semuanya di percayakan kepada kedua anaknya itu.


Dao dan Lala yang lelah menanti datangnya bus, kini beralih rencana.


“Ah, melelahkan sekali, Dao bisakah kita ke pusat perbelanjaan lebih dulu?”


“Apa yang ingin Kau lakukan di sana?”


“Menyapu halaman! Aiyo ... Dao mengapa masih menanyakannya? Dasar Gadis Kuno! Aku ingin membeli sepatu baru untuk menambah koleksiku.”


“Baiklah, kita kesana sekarang, tetapi ... Kau tak boleh menghina jualan mereka jika Kau tak menyukai modelnya, hilangkan penyakit burukmu itu.”


“Hei, itu hanya penyakit lama yang sering kambuh, aku tidak menghina tetapi berkata jujur, ayo berangkat ....” sambil menarik tangan Dao memasuki taksi yang telah di panggilnya.


Sesampainya di pusat perbelanjaan, Dao dan Lala memasuki salah satu toko sepatu, mulai melihat-lihat berbagai model yang terpajang rapi di setiap raknya.


Saat sedang asyik mencoba, Dao mulai melirik sepatu balet berwarna hijau muda.


“Aku akan membeli ini,” sambil memamerkan sepatu yang dipegangnya di hadapan Lala.


Lala dengan spontan tertawa seolah tak percaya dengan apa yang di dengarnya, “sejak kapan Kau menggemari tarian balet?”


“Aku tak menggemarinya, hanya saja ini sangat cocok dengan gaun hanfu yang di buat Xunzhao.”


Lala kembali tertawa, dia tahu bahwa Dao adalah gadis yang tak paham soal modis, karena Lala sempat melihat baju itu dalam ponsel pintar milik Dao, dia mulai mengambil sepatu lainnya dan menyerahkan kepada Dao.


“Ini sepatu yang cocok dengan Gaun itu, sepatu balet ini hanya akan cocok dengan rok pendek di atas paha bukan gaun yang menutupi keseluruhan kakimu, apa Kau mengerti sekarang?”


“Baiklah, Aku akan memilih yang ini.”


Keduanya mulai membayar, lagi-lagi menggunakan kartu kredit, dan Kembali menaiki bus menuju rumah masing-masing.


Malam yang semakin larut, Xunzhao masih dengan kesibukannya seakan tak ada waktu hanya untuk mengobrol, tetapi masih menyempatkan dirinya hanya sekedar menyapa.


Perlahan berada dalam lamunan, tarian syair menari di hadapannya, mulai menulis menemukan bait pertama, lamunan yang tak henti menari, kembali ia melanjutkan tulisan syair hingga berhenti di bait ke empat.


“Selesai!” kata yang terucap dengan nada penuh semangat, Dao mulai menyeka keringatnya, salah satu di antara hal lainnya yang akan terjadi saat akan menulis syair.


Lelah dengan keseharian yang padat, Dao segera membaringkan tubuhnya di tempat tidur ,dengan membiarkan Xunzhao yang masih sibuk bergadang dengan rancangan baju barunya.


**


Dao terlelap hingga pagi tiba, Xunzhao kembali membangunkan Dao dengan teriakan khas petasan miliknya.


“Dao ... bangun ...”


Dao dengan segera bangkit dari tempat tidurnya, dan bergegas bersiap. Xunzhao memperhatikan saudaranya itu dengan wajah bingung, seolah tak percaya dengan apa yang di lihatnya.


Tak lama berselang Dao langsung memasang wajah manis di depan Xunzhao, “Aku sudah siap, ayo berangkat.”


“Ada apa dengan Gadis Lorong Waktu ini? Apa Kau salah minum obat semalam? Ah berharap ini akan terus terjadi, agar tak sesulit itu membangunkanmu.”


“Sudahlah, jangan mengejekku lagi, ayo berangkat sekarang.”


Sesampainya di kampus, semua telah ramai, Dao tak lagi menghampiri taman, dia langsung bergegas menuju kelas untuk menemui Tian.


“Tian ... Aku datang ...”


“Akhirnya, Kau datang juga, cepatlah perlihatkan Syairnya padaku, ini hari terakhir Pendaftarannya.”


“Tenanglah, Kau jangan panik, kalau tidak Kau akan salah menyalin Syair yang Kubuat.”


Tanpa menjawab, Tian langsung melihat Syair yang di tulis Dao, dan segera membacanya.


*Asa


Berlari menuju Lingkaran Waktu.


Memecah Galaksi, menari bersama Bintang.


Menyeberangi samudra biru, membelah lautan.


Melintasi Cakrawala, menari di atas Awan.


Semuanya tak ada yang sia-sia


Kapal bersandar, seberapa megahnya dia terlihat.


Berjalan perlahan, menyingkapi Pakaian hanfu.


Cara yang baik untuk melangkah.


Menghindari jatuh terlalu dalam.


Menatap langit, membuai seribu khayalan.


Menikmati Alam Semesta, kebahagiaan tiada tara.


Berjalan mengikuti Cahaya, selalu saja ada Bayangan.


Bercerminlah, semuanya tak ada yang kebetulan*.


Setelah selesai membaca, Tian langsung menatap Dao dengan penuh tanda tanya.