The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 26. Lamunan Yang Nyata



Tak sempat melanjutkan perkataannya, Dao langsung memanggil taksi yang lewat di hadapannya.


Dalam perjalanan menuju Butik Xunzhao, dia mulai mengingat wajah pria yang menerobos masuk ke dalam taksi itu.


“Yín Gōng, benarkah yang kulihat barusan adalah Yín Gōng? Ah kalau seperti ini, bagaimana bisa di bilang kebetulan? Tapi ... mengapa Dia terlihat buru-buru, apa yang terjadi padanya? Mungkin ... Dia sedang menemui Hóng Wūyā?” sambil tersenyum mengingat mimpi panjang yang di alaminya.


“Aku mulai kasihan pada Yín Gōng, semoga Dia bisa bertemu Xiǎo Húlí di kehidupan selanjutnya, ah, Siapa yang peduli, bahkan sekarang tak ada yang memperdulikan Ku, meski Aku hampir gila dengan mimpi yang Aku alami.”


Tak lama berselang, Dao pun sampai di Butik Xunzhao, dia langsung membayar taksi dan segera turun tanpa mengucap apapun.


Butik Xunzhao, berada di antara Pertokoan lainnya, kesan pertama yang terlihat saat berada di depan Butik adalah warna cat merah muda menyala, di bagian atas tertulis jelas Butik Xunzhao dengan sedikit lukisan Naga Hijau yang terlihat mencolok ketika berpadu dengan warna tembok, entahlah Dao selalu tersenyum saat melihat lukisan itu, jelas tak sesuai dengan nuansa Butik yang lembut.


“Hah, Aku tak mengerti dengan jiwa seni yang di miliki Xunzhao, jelas-jelas ini adalah Butik, mengapa ... Dia memilih lukisan Naga? Bukankah ... Lukisan Phoenix akan terlihat cocok? Ah, biarlah lagi pula ... Butik ini miliknya, jadi terserah Dia mau di apa kan,” kata Dao sambil berjalan masuk ke Butik.


Butik Xunzhao sangat ramai, pelanggan setianya rela menunggu antrean untuk Mengecek baju pesanan mereka, karena jiwa pengiritan yang di milikinya, Xunzhao hanya memperkerjakan dua karyawan saja, selebihnya dia akan memilih mengatasinya sendiri.


Dao melewati seluruh pelanggan Xunzhao dengan berjalan santai menuju ruangan saudaranya itu.


“Xunzhao ... Aku datang, wah Kau sibuk sekali, apa Kau sedang membuat bajuku?”


“Ini baju Pelanggan, apa Kau tidak lihat Mereka sedang Antri di luar? Bagaimana bisa membuat bajumu.”


“Ah, Xunzhao tapi Kau sudah berjanji padaku, mengapa tiba-tiba Kau mengingkarinya?” jawab Dao sedih, sambil terus melihat hasil karya milik Xunzhao yang telah jadi.


“Duduklah dulu, jangan banyak bertanya, Aku sedang sibuk sekarang, pesanlah makanan jika Kau lapar.”


“Lantas apa maksudmu menyuruhku kemari? bukankah ... di kasur lebih nyaman, baiklah Aku akan memesan makanan,” sambil berbaring di sofa lembut milik Xunzhao dia mulai memesan makanan Online.


Xunzhao gadis yang penuh kemandirian ini, begitu menyenangi pekerjaannya bahkan tak akan memikirkan lelah sedikit pun.


Dao yang tengah berbaring di sofa, mulai mengajukan pertanyaan kepada Xunzhao, “Xunzhao, kapan Kau bisa memiliki waktu luang? Aku ingin sekali bicara denganmu, tapi ... tidak dengan keadaan seperti ini.”


Dao sambil memandang langit-langit ruangan, perasaan yang sepertinya tak bisa tertahan, hanya bisa berharap saudaranya akan mengerti apa yang dia maksudkan.


Semenjak mimpi panjang itu, Dao semakin tak bisa konsentrasi pada setiap aktivitas yang dia jalani, di tambah lagi hal-hal aneh yang di lihatnya, entah kebetulan atau pun tidak, semuanya hampir sama dengan mimpi yang dia alami.


Xunzhao yang mendengar ucapan yang tak biasa itu, mulai menjawabnya dengan lembut, “akan Aku usahakan, jangan memikirkan hal apapun sementara ini, besok kita akan ke Acara Pernikahan, setelah itu mungkin Aku akan memiliki banyak waktu luang.”


“Aku tidak akan pergi jika Kau tak membuatkan Baju untukku, hah, ayolah ... Kau sudah berjanji padaku.”


“Benarkah? Di mana? Maksudku ... mana bajunya? Bisakah Aku mencobanya sekarang?”


Xunzhao tak mengatakan apapun, dia hanya menunjuk lemari yang ada di depannya sambil terus melanjutkan pekerjaan. Dao berjalan menghampiri lemari itu dan membukanya, hanya ada satu baju yang tergantung di dalamnya, segera dia mengambilnya dan mulai berlari ke ruang ganti untuk mencoba baju yang telah di buat Xunzhao.


Baju berwarna hijau muda, warna favorit Dao, dengan sedikit sentuhan kain sutra yang begitu lembut, terlihat elegan dengan pita berwarna kuning keemasan sebagai ikat pinggangnya, baju hanfu yang modern, membuat senyuman merekah di wajah Dao, seolah melupakan masalah yang aneh dalam kehidupannya.


Dia pun menghampiri Xunzhao, memamerkan gaunnya sambil berputar, Xunzhao hanya tersenyum melihat tingkah Dao yang mulai terlihat kekanak-kanakan, akan tetapi dalam hatinya sangat bahagia karena telah berhasil membuat senyuman di wajah Dao.


“Xunzhao, kapan Kau membuatnya? Mengapa ... cepat sekali jadinya? Kau tidak membelinya bukan?”


“Ya ampun anak ini, mengapa berpikir sependek itu, Aku membuatnya sudah lama, tetapi belum memiliki waktu untuk memberikannya kepadamu.”


“Begitu rupanya, hah ... Xunzhao Kau sangat baik ternyata, Aku begitu menyukai gaun ini,” kata Dao sambil terus memamerkan gaunnya dengan sesekali berputar.


Tak lama pesanan makanan pun telah tiba, Dao segera mengganti kembali pakaiannya, dan melanjutkan makannya.


Waktu tak terasa begitu cepat berlalu, malam kembali menyapa dengan hadirnya bintang seolah ikut meramaikan kota, Xunzhao dan Dao mulai bersiap untuk kembali ke rumah.


Keesokan paginya, rutinitas berlangsung seperti biasa, Xunzhao masih saja berangkat lebih awal dan Dao memilih untuk menaiki bus ke kampusnya bersama temannya Lala, karena dia tidak ingin bersiap ke kampus dengan cara terburu-buru, itu akan membuatnya tertekan hingga tak bisa mengerjakan apapun.


Di kampus pun hal yang sama terus di lakukannya, mencoba menikmati pelajaran dengan keadaan hati yang tak bisa di jelaskan, setelah selesai, Dao kembali dalam lamunannya sambil menatap luar jendela yang ada di dekatnya, berharap mendapat jawaban dari semua pertanyaan yang ingin sekali di ajukan kepada siapa pun yang ingin mendengarkan apa yang dia bicarakan, tetapi kembali lagi dia memikirkan semuanya pasti akan mengatakannya gila.


Perasaan yang menjadikan dia berada dalam tekanan batin yang belum bisa terobati itu, membuat air matanya mengalir tapi tetap saja belum bisa membuat perasaannya lega.


Setelah melakukan aktivitas kampusnya dia kembali pulang bersama Lala, tetapi kali ini tanpa suara apapun, Dao tak seperti biasanya, keceriaannya seakan memudar, bahkan tak bisa lagi memikirkan tentang lomba yang selalu di nantikannya itu.


“Dao, kenapa denganmu akhir-akhir ini? Apa Kau ada masalah? Cerita saja kepadaku, siapa tahu Aku bisa membantu,” Lala mulai terlihat bingung dengan keadaan Dao yang tak lagi ceria seperti biasanya.


“Memilih untuk tidak mengetahui apapun itu akan bisa membantuku, jika Kau mengetahuinya itu akan sama dengan keadaanku sekarang,” jawab Dao sambil terus memandang luar jendela bus, cara yang selalu dia lakukan untuk menenangkan hatinya meski hanya sementara waktu.


“Apa maksudmu? Maafkan Aku Dao, sepertinya ... Aku tak mengerti maksudmu.”


“Kalau begitu cobalah untuk tidak mengerti, itu akan membantumu hidup normal.”


Lala hanya terdiam mendengar perkataan Dao yang semakin lama membuatnya semakin tak mengerti. Melihat kesedihan yang masih terlihat di wajah Dao, Lala mulai menepuk-nepuk bahu Dao untuk membuatnya tenang.


Dao yang telah sampai di rumahnya, tiba-tiba mendapat pesan dari Xunzhao, ‘Dao, datanglah ke Butik sekarang.’