
Seperti Tanaman yang akan tumbuh subur di Bumi, Sang pemilik hati yang tenang, Pangeran Li De Lóng begitu Pria itu di sapa.
Pangeran Kedua dari Permaisuri, hatinya yang tenang dan penuh kelembutan, kewibawaannya yang selalu menghargai setiap yang ada di dekatnya, dan juga di segani banyak orang, sedikit sama dengan Pangeran Pertama memilih tinggal di paviliun miliknya, di bandingkan harus hidup glamor dalam lingkup Istana.
Semua hidup dalam aturan kerajaan, mulai dari Marga, Adat Istiadat, bahkan Keyakinan, seluruhnya telah tertata dalam kerajaan. Baik buruknya juga telah memiliki aturan hukum yang berlaku saat itu.
Pangeran Li De Lóng yang juga memilih andil dalam kemiliteran, menjadi bagian penasihat militer sesuai dengan sikapnya yang tenang dan tidak terlihat gegabah saat mengambil keputusan, jelas hal itu sangat di butuh kan sebelum benar-benar mengatur strategi.
Dìbàng merupakan pengawal setia Pangeran Li De Lóng, akan tetap mengikuti kemana pun pangeran itu pergi, keramahan yang juga dimiliki seolah seperti sahabat yang tak bisa di pisahkan.
Kedamaian hal yang paling ingin di nikmatinya, kekuatan tenaga dalam yang jarang ia pamerkan, hanya mengandalkannya ketika mendesak, selebihnya dia memilih untuk menghindar.
Membawa suling kemana pun ia pergi, ketika gelisah akan memainkannya di bawah keheningan malam.
Awal yang damai, dan berharap terus selamanya, membutuhkan hiburan di setiap kegelisahan yang terjadi, siapa sangka akan membuat kesibukan sepanjang hari.
Malam akhir musim gugur, duduk sendiri di bawah sinar bulan, merindukan canda entah siapa yang di nantikannya.
Sendiri dalam paviliun ingin sekali menumpahkan kasih sayang, hanya saja bukan pada seorang kekasih, hal yang selalu ia harapkan, entah bagaimana caranya untuk meminta, senyuman itu terus saja hadir ketika akan meminta, sesekali mengunjungi istana hanya untuk menemui Sang Permaisuri, tetapi perasaan malu terus saja menyelinap dalam pikiran, entah harus dari mana memulai perkataan, kembali menunggu dengan sabar sampai perayaan dan mengajukan permintaan hadiah.
**
Jiwa yang berkobar, terlihat sejak usia balita, selalu saja ingin berlari melihat prajurit yang sedang berlatih, hingga saat ini jiwa itu tak pernah berhenti menatap medan pertempuran.
Li Lóng Huǒ Nama pangeran Ketiga, menginjak usia remaja sudah menantang mautnya di medan pertempuran, tak perlu di jelaskan seberapa giatnya ia berlatih, hingga saat ini mengambil alih kekuatan militer kerajaannya, menjadi Jendral di usia yang belum pantas menerima jabatan itu. Selalu memiliki ambisi besar, dalam pikirannya hanya ada satu kata Kemenangan bahkan tak ada satu pun yang bisa menggoyahkan pikirannya itu, ya tak satu pun.
Suasana yang nyaman dalam kehidupan adalah ketika setiap orang memiliki tempat tinggal yang rapi, agar dapat merebahkan tubuh dan bermimpi, tetapi baginya semua tempat akan di rasanya nyaman ketika menang, bahkan menikmati tidurnya dengan buaian mimpi walau sekujur tubuhnya masih bersimbah darah sisa peperangan.
Perkemahan di medan perang, hampir setiap saat api unggun di nyalakan, meminum arak bersama prajurit, merayakan kemenangan di akhir musim gugur.
Jendral, sebutan yang jelas di mana pun Ia berjalan, seakan melupakan statusnya sebagai Pangeran, pendengaran yang tajam, meskipun dalam keadaan terlelap, itulah mengapa Ia nyaman di mana saja.
Panah di lesatkan hanya sekali memandang meski memalingkan wajahnya, tak akan pernah salah sasaran. Mendengar dari kejauhan, meski pun di tempat yang ramai, hanya cukup memejamkan mata, tersenyum ketika berhasil melakukannya.
Tak tinggal di Istana, tapi selalu saja kesana, melakukan perdebatan di dalamnya, akan kembali ketika berhasil memenangkannya. Menghabiskan waktu bersama Keluarga Kerajaan, Ia akan lebih memilih sekedar menyapa dan pergi melanjutkan tugasnya, terlihat seperti keangkuhan yang besar, tetapi alasan sebenarnya adalah jika Ia mati di medan pertempuran, tak akan ada yang akan larut dalam kesedihan, karena telah terbiasa di abaikannya.
Bagai Busur dan Panah, kata yang di sematkan para prajurit kepada mereka, bahkan banyak juga yang akan salah mengira bahwa pengawalnya adalah Pangeran begitu pun sebaliknya, mereka akan memanfaatkan situasi itu. Semua karena tampilan Pangeran yang terlihat brutal, tak selalu menikmati pakaian kerajaan, dan akan merasa nyaman jika baju perang itu terus menempel di tubuhnya.
Berbeda dengan pengawal setianya, yang selalu membuat dirinya rapi bahkan saat akan turun berperang, hal yang selalu di katakannya, “Setidaknya mati dalam keadaan tampan,” sehingga membuat Pangeran Li Lóng Huǒ kehabisan kalimat.
Jika Pangeran Li Lóng Huǒ memilih merayakan kemenangan bersama prajurit, pengawalnya akan lebih memilih kembali ke paviliun milik Pangeran, bukan bermaksud ingin menguasai, melainkan untuk menjaga martabat Seorang Pangeran yang terlihat brutal, jelas itu tidaklah bisa di sebut Seorang Pangeran, bahkan untuk hal seperti ini, Xuè Chèng akan terus melakukannya tanpa meminta ijin kepada Pangeran terlebih dahulu.
Para Pendekar selalu menjulukinya Pendekar Naga Api karena kekuatan pertahanannya, meskipun jiwanya terus berkobar seperti napas Naga yang membakar lawannya dalam pertempuran, tetapi tak ada yang tahu seberapa dalam kerapuhan hatinya.
Siang dan malam terus saja di medan perang, dari wilayah satu ke wilayah lainnya, kehidupan yang tak berkesudahan, entah berapa banyak yang habis di tangannya, bahkan akan lelah jika menghitungnya. Berdiri di perbatasan, mempertahankan wilayah, suatu kebanggaan yang membuat senyumannya merekah.
**
Istana adalah satu-satunya tempat tinggal, bukan berarti tak pernah keluar. Pangeran Keempat Li Jīnlóng, pria yang tampan dan berkarisma ini, telah banyak di isukan sebagai Calon Kaisar selanjutnya, meski bergabung dalam bagian kemiliteran tetapi kemahirannya dalam berpolitik mampu menggoyahkan lawan.
Strategi perang, siapa sangka Pangeran Li Jīnlóng yang akan membuatnya. Kelemahan dari setiap lawan, akan mampu di bacanya hanya dengan melihat strategi perang lawan, politik yang ada di dalamnya pun mampu Ia kuasai, bahkan siasat yang telah di atur oleh lawan dengan mudah Ia ketahui.
Kehormatan yang Ia dapatkan dari berbagai pihak, seolah menyetujui calon Kaisar selanjutnya. Berjalan dengan penuh kewibawaan, selalu membawa kipas kemana pun Ia melangkah, cara yang anggun saat melakukan perlawanan.
Banyak bicara tapi juga pendengar yang baik, dalam pertemuan Istana, siapa yang akan berani berdebat dengannya, semuanya akan takut jika kebusukan mereka akan terpampang nyata di hadapan Kaisar.
Pangeran Li Jīnlóng, satu-satunya yang bisa di andalkan oleh ketiga kakaknya saat terjadi perdebatan dalam Istana, karena Ia telah menguasai seluruh ruang lingkup yang ada di Istana.
Naga Logam, para tokoh politik itu menyebutnya, seperti tiang penyangga yang tangguh, akan tetap berdiri kokoh, sampai lawan bertekuk lutut di hadapannya.
Sebaiknya jangan memikirkan rencana buruk di hadapannya, itu akan lebih baik, karena Pangeran Li Jīnlóng mampu menebak pikiran seseorang, hanya dengan melihat denyut nadi bahkan tanpa harus menyentuhnya.
Huáng Lín, pengawal setia yang selalu ada dalam setiap misinya. Tak seperti pengawal lainnya, Huáng Lín sangat jarang berada di samping Pangeran Li Jīnlóng, itu karena Ia akan mendapat tugas utama dalam setiap misi yang di buat, tetapi antara mereka berdua, bisa di ibaratkan seperti Selembar kertas dan Pena, akan mempelajari misi bersama dan akan mengaturnya bersama.
Kekuatan yang menyatu, seharusnya mampu memperluas Kerajaan, hal yang selalu di capai oleh setiap Kerajaan, akan tetapi Keempat Pendekar ini tak memiliki ambisi untuk itu, bagi mereka mempertahankan wilayah seperti menjaga diri dari keserakahan, meskipun lari dari aturan kerajaan, hanya membutuhkan siasat untuk menutupinya.
Debat yang melelahkan, hampir di setiap pertemuan politik, tak akan ada yang mengetahui seberapa banyak Ia mendongeng sejak akhir Musim Gugur itu.