The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 52. Perayaan Istana II



Telah tiba bersama bahkan tak di rencanakan. Seakan memiliki ikatan emosi yang kuat, melangkah bersama memasuki Istana. Terpana, kata yang pantas untuk menggambarkan mimik semua Pangeran yang mengarahkan pandangannya ke Yi Lan. Putri nan anggun menuruni kereta sambil di bantu Pangeran Kedua, "Tak di sangka Pendekar Wanita yang sulit berjalan teratur, bisa seanggun ini, benar-benar menipu mata," kata Pangeran Lóng Huǒ yang jelas tahu sifat asli Adiknya.


"Kau benar Pangeran Ketiga, Putri Yi Lan sangat anggun," sambung Pangeran Utara yang juga ikut terpesona.


"Kau jangan terus menatapnya, itu terlihat tidak sopan dan Aku tidak menyukai hal itu," balas Pangeran Lóng Huǒ


Pangeran Utara hanya membungkuk sebagai tanda mengerti sambil tersipu malu.


Mereka mulai berjalan menuju ruang Perjamuan, Langkah Pangeran yang gagah di temani Seorang Putri cantik seolah menambah kesan ksatria yang hebat tengah melindungi Sang Putri.


Mendalami strategi perang, bahkan di kuasai oleh Kelima Pangeran itu, hingga mereka tak menyadari bahwa telah melakukannya meski hanya berjalan melewati Koridor Istana. Di barisan terdepan, Pangeran Li Shuǐlóng dan Li De Lóng mengawali langkah tanpa melakukan percakapan, tatapan mereka terus fokus ke arah depan. Pangeran Li Lóng Huǒ pada barisan kedua sambil menggenggam tangan Yi Lan sebagai tanda jangan ada yang berani menyentuh Adiknya sedikitpun. Perasaan yang terus memenuhi pikirannya, bahkan tak ada yang di ijinkan untuk menatap Adiknya terlalu lama. Berada paling akhir, seolah memberi perlindungan yang sempurna, Pangeran Li Jīnlóng dan juga Pangeran Khagan Běiduān melangkah sambil melakukan perbincangan ringan, tetapi tetap waspada.


Tiba di Ruangan Perjamuan, senyuman merekah dari Permaisuri. Memandangi Kelima Anaknya, rasa bangga bercampur haru tak terasa begitu cepat pertumbuhan mereka. Mungkin karena jarang bertemu hingga Sang Permaisuri merasa terlalu cepat untuk melihat Kelima anaknya itu dewasa.


Di hadapan Kaisar dan Permaisuri, beserta Ibu Selir. Kelima Pangeran dan juga Putri Yi Lan serentak membungkuk untuk memberi hormat. Dari arah samping telah berdiri Pangeran Kàn Yún dan juga Putri Yōuměi, dengan wajah sinis seakan seisi tubuh mereka di penuhi kecemburuan.


"Bagaimana Kabarmu Putri Yi Lan? Apakah perjalanannya menyenangkan? Kau jarang sekali mengunjungi Istana sehingga Putri Yōuměi tak memiliki teman bermain," Kata Ibu Selir yang mulai berbasa basi, menyembunyikan kebenciannya di hadapan Kaisar.


"Kabarku baik Ibu, Kakak Kedua memiliki banyak kesibukan jadi sangat sulit untuk berkunjung ke Istana, jika akan berkunjung kembali Yi Lan akan menemani Kak Yōuměi bermain," kata Yi Lan yang juga ikut berbasa basi, seolah ikut masuk dalam permainan Ibu Selir.


"Baiklah, karena semuanya telah disini, Aku persilahkan Para Undangan untuk menyantap hidangan yang telah di sediakan. Hari ini adalah Hari lahir Sang Permaisuri jadi silahkan menikmati perayaannya. Dan juga kepada Pangeran Utara, ini juga adalah perjamuan selamat datang sekaligus ucapan terima kasih karena telah bersedia hadir di Kerajaan Kami. Semoga kerja sama selalu terjalin," Kata Kaisar membuka Perayaan.


"Semoga Permaisuri berumur panjang," ucap seluruh Tamu undangan dan juga Anggota Kerajaan, sambil membungkuk ke arah Kaisar dan Permaisuri.


"Terima kasih atas semuanya, Aku turut bersuka cita atas perayaan ini, sekali lagi terima kasih. Silahkan menikmati perayaannya," kata Permaisuri yang merasa tersanjung dengan ucapan seluruh para undangan.


Semua nampak bahagia, tapi tidak untuk kubu lawan. Meski senyuman merekah selalu terpampang di hadapan semua tamu yang hadir, siasat terus saja berjalan dan selalu memastikan jangan sampai gagal. Keempat Pangeran termasuk Yi Lan terus membaca situasi, sesekali saling memandang satu sama lain, mencari jawaban bersama dalam rencana Perayaan Istana yang menurut Mereka terasa aneh.


Semuanya telah selesai menikmati hidangan, bahkan perayaan pun telah usai, Tamu Undangan banyak yang telah berpamitan termasuk Para Anggota Kerajaan yang bertempat di luar Istana. Kelima Anak Permaisuri itu semakin bingung, karena tak ada sedikitpun rencana Kubu Lawan yang terlihat. Kini hanya tersisa Anggota Keluarga Kerajaan, yang masih menyibukkan diri untuk sekedar berbincang.


Yi Lan tengah asyik menikmati buah anggur yang ada di genggamannya dan tak lagi memperdulikan masalah siasat yang terus saja menghantui mereka. Tapi tiba-tiba Putri Yōuměi datang menghampirinya, "Yi Lan, ada baiknya Kau segera berpamitan. Aku khawatir dengan Istana ini, jika Kau terus berlama-lama disini bukankah ... akan membuat semuanya mengalami kesialan? Hah, semoga saja itu tidak terjadi," kata Putri Yōuměi melampiaskan kekesalannya.


"Kak Yōuměi, Aku sampai menghafal perkataanmu itu, apakah hanya kalimat seperti itu yang bisa Kau ucapkan? Semoga saja Aku bisa melihat peningkatannya lain waktu. Oh Iya, Kak Yōuměi ada baiknya Kau tidak perlu menghampiriku seperti ini. Aku bahkan khawatir kepadamu, jangan sampai kesialanku ini akan menimpamu, bukankah ... itu akan sangat buruk untukmu? Jika Ibu Selir menyuruhku untuk menemanimu bermain, Aku akan dengan senang hati mengiyakannya, tapi ... apa Kak Yōuměi akan siap menerima nasib buruk itu?”


Putri Yōuměi memandang Yi Lan dengan wajah sangat kesal, seakan ingin menerkam Yi Lan. Melihat wajah itu,Yi Lan kembali melanjutkan perkataannya, "Kak Yōuměi, Kau tak perlu memandangku seperti itu, Aku hanya bercanda. Apa Kau mau anggur? Tenang saja ini hanya buah anggur tak akan membuatmu sial, hanya saja ... lagi-lagi Aku yang memberikannya, itu terlihat mengerikan bukan?" sambil menyodorkan buah anggur yang ada di tangannya.


Putri Yōuměi segera menjauhkan jaraknya dengan Yi Lan, seolah percaya dengan perkataan Yi Lan tentang kesialan yang akan menimpanya, "Dasar Anak pembawa Sial," kata Putri Yōuměi sambil berlalu pergi dengan wajah memerah karena menahan kemarahannya.


"Perbaiki langkahmu Kak Yōuměi," lanjut Putri Yi Lan sambil tersenyum geli melihat kekhawatiran di wajah Putri Yōuměi.


Mereka kembali berkumpul, melakukan perbincangan hangat bersama Kaisar. Seperti biasanya, Ibu Selir memulai muslihatnya, "Pangeran Utara, Kau begitu luar biasa, kehebatanmu dalam berperang bahkan selalu di bicarakan oleh banyak orang, di lihat dari usiamu sepertinya Kau telah pantas untuk segera mencari seorang Isteri. Bukankah ... Kau satu-satunya calon penerus Kekaisaran di Kerajaanmu? Kau memang pantas mendapatkannya, karena kewibawaanmu telah terlihat jelas. Benarkah seperti itu Permaisuri?"


"Iya itu benar," jawaban singkat dari pemaisuri sambil melemparkan senyuman ke arah Pangeran Utara.


"Terima kasih atas pujian yang di berikan," jawab Pangeran Běiduān yang sedikit tersipu mendengar pujian yang di tujukan hanya kepadanya itu.


"Tak perlu sungkan. Oh ya, sepertinya akan sangat baik jika Kita menjalin kekeluargaan antar Kerajaan, agar kedekatan Kita semakin erat. Bagaimana jika ... Anak Kami Putri Yi Lan bisa lebih dekat dengan Pangeran Utara, umur yang terpaut tak cukup jauh, bukankah ... akan bisa lebih cepat akrab? Bagaimana menurutmu Kaisar, mohon persetujuannya," lanjut Ibu Selir yang telah memulai siasatnya.


"Ide yang sangat baik, Aku sangat setuju untuk hal ini," jawab Kaisar yang juga tengah memikirkan ide yang sama.


Melihat tatapan Yi Lan yang terlihat sedih dan terus memandang Keempat Kakaknya, seolah tak menginginkan Ide yang Selir dan Kaisar ciptakan membuat Pangeran Lóng Huǒ mulai geram, terlihat kemarahan dari kepalan tangannya yang tak bisa lagi Ia sembunyikan. Ia pun mulai bersiap untuk berdiri bermaksud mengajukan pendapatnya, akan tetapi gerakannya tertahan oleh Pangeran Kàn Yún yang telah berdiri dan berbicara lebih dulu, seakan ingin menghalangi Keempat Pangeran untuk mengacaukan rencana busuk mereka.