
(Markas Sekte Bayangan)
Masih terus berlangsung pertarungan antara Anggota Sekte Bayangan dan Yín gōng, tak sedikit juga yang telah meregang nyawa akibat pertarungan sengit itu, Yín gōng yang tengah berjuang sendiri masih tetap berusaha bertahan meskipun terjadi beberapa kali benturan, dan di penuhi banyak luka sayatan sehingga darah yang keluar seakan membasahi pakaiannya, tapi tetap saja tak di hiraukannya.
Darah di mana-mana, korban terus berjatuhan, pasukan mulai ikut bergabung seolah tak ada habisnya, tenaganya kini mulai berkurang, semakin lama seakan tak mampu lagi bertahan, hanya bisa berharap dalam hati agar Sekte Tulang Putih akan segera datang membantunya, terlebih penting baginya Xiǎo Húlí bisa selamat, meskipun dirinya harus meregang nyawa, setidaknya Xiǎo Húlí dapat hidup dan kembali ke asalnya, harapan yang selalu bermain dalam pikirannya dengan kekuatan yang kini melemah, seolah tak ada batas akhir meskipun telah jatuh tersungkur tetap saja mereka terus menyerangnya.
Pedang menari memasuki Markas Sekte Bayangan, menebas setiap Pasukan yang ada di dalamnya, senyuman bahagia mulai tergambar dalam wajah, jelas Yín Gōng tahu siapa pemiliknya.
Harapan yang di nantikan kini telah ada di depan mata, Sekte Tulang Putih memasuki Markas Sekte Bayangan, senyuman dan tenaga seolah bangkit dengan sendirinya, kembali mencoba berdiri dan melakukan pertarungan bersama.
Sekte Tulang Putih berjalan membentuk kelompok besar, tepat di barisan terdepan Ketua Sekte Tulang Putih bersama Dewi Beracun yang tengah di genggamnya.
Sekte Tulang Putih tempat di mana Iya berjaya, tempat di mana keceriaan terpenuhi di dalamnya, Anggota yang tak pernah saling menyalahkan, semua tak selalu membandingkan antara Pelayan, Pasukan, bahkan Anggota serta Ketua Sekte itu sendiri, semuanya saling menghormati, meskipun tugas tak pernah ada habisnya, akan ada satu titik di mana mereka dapat memiliki waktu bersama seperti di momen saat ini seolah melupakan dendam yang terjadi sebelumnya.
Tak satu pun yang berdiam diri, bahkan semuanya melakukan hal yang sama yaitu bertarung, termasuk Xiǎo Húlí yang kini telah menjadi bagian dari Sekte Tulang Putih.
Saat pertarungan terjadi, salah satu Anggota Sekte Bayangan melesat kan anak panah ke arah Yín Gōng, seakan telah menyimpan dendam dalam diri pria itu, Xiǎo Húlí yang sadar akan kejadian itu mulai berlari ke arah Yín Gōng, dia berusaha menghalangi anak panah dan itu jelas berhasil di lakukannya, meskipun harus merasakan sakit tetap saja menikmatinya dengan senyuman, seolah petualangannya kali ini benar-benar menakjubkan.
Yín Gōng yang masih sempat menahan tubuh pasangannya, kini mulai membaringkannya dalam pelukan, terus memeluknya erat , tangisan yang di sertai teriakan dengan perasaan yang seakan tak bisa lagi di gambarkan, bagaimana bisa menghiraukan lagi pertarungan yang masih terus berlanjut.
Yín Gōng yang terus saja memanggil Xiǎo Húlí berharap masih di beri kesempatan untuk hidup.
Xiǎo Húlí dalam pejaman matanya mencoba bertahan, terus bermohon dalam hatinya agar masih bisa menatap Yín Gōng meski hanya sesaat.
Berusaha dengan tenaga akhirnya, untuk bisa memandang Yín Gōng dan itu masih bisa di lakukannya, sambil tersenyum dia masih sempat membuat kalimat lucu agar Yín Gōng ikut tersenyum.
“Ini tidak masuk akal, Aku hanya Rubah kecil yang tak memiliki Sembilan nyawa.”
Jelas bukanlah perkataan yang lucu untuk saat ini, itu terdengar begitu menyakitkan.
Xiǎo Húlí mencoba mengangkat tangannya hanya untuk bisa membelai wajah Yín Gōng, terus saja tersenyum dan bahagia bisa melakukannya hingga pejaman akhir.
Teriakan yang begitu menggema seakan mengantar kepergian pasangannya, dengan kemarahan yang tak bisa lagi di perhitungkan. Yín Gōng menatap tajam pria yang telah melesat kan panah kepada pasangannya itu.
Kekuatan yang tak lagi terkendali, dia mengangkat tangannya seolah sedang menanti busur dalam genggamannya dan busur cahaya yang di milikinya pun keluar, kini mulai menariknya, seketika anak panah yang tak terlihat saat dia lesat kan itu telah menembus tubuh Anggota Sekte Bayangan.
***
Hóng Wūyā hanya dengan menjentikkan jarinya ke arah lawan sudah mampu membuat para Pasukan Sekte Tulang Putih tumbang satu demi satu.
Semua memiliki batas kemampuan, tetapi ketika bersama tidak ada yang tidak mungkin.
Yín Gōng mulai mengarahkan panahnya ke arah Hóng Wūyā seolah ingin melampiaskan dendamnya selama ini.
Hóng Wūyā yang terlihat marah, kini mulai menyerap seluruh Kekuatan Yín gōng hingga dia pun jatuh tersungkur. Para Anggota yang mencoba membantunya mendapat perlakuan yang sama, Anggota Sekte Tulang Putih yang hanya terbilang sedikit itu mulai berkurang.
Xiǎo Mìfēng yang melihat Yín Gōng berada dalam masa sekaratnya, dia pun mulai menuju ke arah Yín Gōng berada, sambil terus memainkan pedangnya melawan Para Pasukan Sekte Bayangan.
Dia telah menganggap Yín Gōng seperti kakak sendiri, karena saat Xiǎo Mìfēng pertama kali bergabung bersama Sekte Tulang Putih, Yín Gōng adalah orang yang selalu mengajarkannya bela diri dan terus berusaha menstabilkan kekuatan Xiǎo Mìfēng, hubungan persaudaraan yang telah tercipta begitu lama seakan tak ingin membiarkan kakaknya itu berada sendiri di saat-saat sekaratnya.
Xiǎo Mìfēng berusaha membawa Yín Gōng keluar markas, tetapi saat akan berada di pintu keluar Hóng Wūyā melesat kan Sinar Setajam Pedang ke arah mereka, Yín Gōng yang berusaha menghalangi, tak menyangka sinar pedang itu mampu menembus hingga keluar tubuh Xiǎo Mìfēng, mereka yang saling memandang hanya bisa tersenyum menghadapi kematian bersama, pada akhirnya persaudaraan sehidup semati telah terjadi dalam cerita pertarungan ini.
Táohuā adalah salah satu orang yang benar-benar merasa kehilangan, penyesalan yang teramat dalam untuk kedua kalinya, tak sempat menolong Jiwa yang begitu menyayangi dan menghormatinya, meninggalkannya begitu lama dan ketika bertemu kembali hanya sesaat untuk bisa bersama.
Kesedihan yang tak bisa lagi menjatuhkan air matanya, amarah dan kendali diri yang sejak tadi di tahan dalam genggaman Liánhuā, kini mulai mencapai batas akhir hingga tak ada lagi yang mampu mengontrolnya.
Tatapan tajam mengarah ke salah satu tujuan utamanya, seakan tahu tugas yang di maksudkan Langit kepadanya.
Semua terencana, Liánhuā pun mulai melepaskan genggamannya seolah membiarkan Langit yang mengendalikannya.
Táohuā dengan teriakannya yang menggema seakan melepas seluruh Serangga yang ada di dalam tubuhnya, pancaran kekuatan yang begitu dahsyat, membuat seluruh Anggota Sekte berusaha memalingkan wajah agar tak berdampak buruk bagi mereka, semua pasukan dari ke Dua Sekte pun terlempar ke seluruh sisi ruangan.
Serangga yang telah dapat di kendalikannya ini, kini membentuk barisan lurus menuju ke arah Hóng wūyā, tetapi itu hal yang biasa saja bahkan akan dengan mudah dia musnahkan, Táohuā buka tidak tahu seberapa besar kekuatan yang di miliki Iblis itu, hanya saja Táohuā masih ingin bermain-main dengan Serangganya sengaja ingin menciptakan amarah dalam diri Hóng Wūyā.
Táohuā menarik kembali serangga itu dan menjadikannya cambuk, dia mulai mendekati Hóng Wūyā dengan gaya genitnya saat berjalan, jelas seperti Iblis wanita yang penuh hasrat membuat Hóng Wūyā sulit untuk mengedipkan matanya.
Penguasa Kegelapan sepertinya akan menjadi julukan Táohuā saat ini, karena dia mampu menciptakan Kekuatan dari semua Iblis, titipan Langit yang telah dia terima tanpa di sadari.
Táohuā mulai memamerkan satu demi satu Kekuatan Iblis yang dia miliki, agar bisa menyiksa Hóng wūyā secara perlahan.
Kekuatan Iblis Zhīzhū, berada dalam urutan awal penyiksaan.
Semua Anggota dan Pasukan yang berada di dalam Markas Sekte Bayangan tak lagi melakukan pertarungan, kini hanya bisa terpukau menyaksikan seperti apa kekuatan yang di perlihatkan Táohuā saat ini.