
Di seberang tempat Pangeran Jīnlóng berdiri, terlihat Perdana Menteri Li Feng sedang tertunduk ketakutan.
"Pangeran Kàn Yún, jawablah!" Kata Kaisar yang di buat penasaran.
"A ... Aku, bukan, maksudku ... Aku tak tahu. Pangeran Jīnlóng, Kau jelas tahu, akhir-akhir ini Aku sibuk dengan tugas Kerajaan, bukankah ... itu tugasmu? Mengapa menanyakan hal itu kepadaku?"
"Baiklah, Siapa yang bermain Api, Dialah yang akan terbakar nantinya. Aku telah menangkap Pemberontak itu, dan telah mengetahui Siapa yang memerintah Mereka, akan tetapi jika hanya mematahkan batang pohon, tetap akan tumbuh lagi. Mencabut akarnya adalah hal yang utama. Benar begitu Perdana Menteri Li Feng?"
Langsung menatap Pangeran Jīnlóng karena menyebut Namanya, dengan suara terbata-bata Ia pun menjawabnya, "Be ... benar, Pa ... Pangeran."
"Baguslah, jika Kau menyetujui perkataanku, dan Kau Pangeran Kàn Yún, mohon beritahu Aku jika mendengar ada Pemberontakan lagi, jangan mengotori tanganmu sendiri," sambil memandangi lekat-lekat wajah Pangeran Kàn Yún.
Perdana Menteri terlihat gugup dengan tatapan tajam dari Pangeran Kàn Yún sambil mengepalkan tangannya sangat erat, "Kubunuh Kau Li Feng," katanya Pangeran Kàn Yún dalam hati.
"Maaf Yang Mulia, Pangeran Jīnlóng undur diri. Tugas lainnya sedang menanti," sambil membungkuk menghormati di ikuti Pangeran Li De Lóng dengan cara yang sama.
Kembali melewati Koridor Istana, kekesalan masih tergambar jelas dari Keduanya, akan tetapi segera menghilang saat memasuki Ruangannya dan melihat Yi Lan yang tertidur pulas dengan gaya khasnya yang berantakan, "Hah, Anak Gadis ini tak seperti Putri, tidurnya berantakan sekali," sambil mengangkat kaki Yi Lan yang satunya masih menempel di atas lantai.
"Jīnlóng, apa Kau yakin Perdana Menteri Li Feng akan baik-baik saja?" tanya Pangeran Li De Lóng yang mulai memikirkan keadaan selanjutnya.
"Sudah tentu tidak Kakak, bahkan jika Dia mati, Kita tak perlu memperdulikannya. Aku hanya bermaksud menghambat gerak Mereka. Setidaknya cara memberontak tak akan lagi di pakai sebagai siasat Kubu Lawan. Yang sekarang Kita pikirkan adalah Pangeran Utara, jika Dia sampai di Kerajaan, tentu saja hambatan untuk Kita juga akan ada. Lagi-lagi Rencana Baru, Aku hampir lelah dengan semua ini. Sebenarnya cara yang paling cepat adalah langsung membunuh Kàn Yún saja. Hah , ini tidak masuk akal."
"Tak perlu mencemaskan hal ini, Kita tunggu besok Pangeran Utara itu, Pelajari sifatnya jangan sampai Dia menjadi mata-mata di balik rencana baru Kàn Yún."
"Kakak ... Kalian sudah kembali?" sambil meregangkan otot yang kaku karena cara tidurnya yang berantakan.
"Hei, Pendekar Wanita, Apa Kau bermimpi indah saat tidur di ranjangku?"
"Iya Kakak, Aku bermimpi Dua Orang Pelayan sedang membongkar Ruanganmu untuk mencari tahu Rencana yang Kau buat, akan tetapi Kakak hanya memenuhi meja kerja dengan syair yang Kau tulis entah untuk siapa," Kata Yi Lan yang semakin membingungkan Kedua Kakaknya.
"Yi Lan, Perjelaslah maksud perkataanmu. Kau sedang bermimpi atau telah melihatnya secara nyata?"
"Aku mendengar Kedua Pelayan itu berbicara saat akan menuju Keruangan Kakak. Ada baiknya tidak menulis apapun tentang hal yang penting, karena Mereka berniat mencobanya sekali lagi. Hah, Ibu Selir itu sangat perhatian padamu Kakak, sampai-sampai terus menyuruh Pelayan itu memantau keadaanmu."
"Ah, Kau benar juga. Aku tak menyangka Dia akan perhatian padaku, menurutmu ... apakah Aku harus menuliskan syair untuknya sebagai tanda terima kasih atas perhatiannya itu?"
"Tepat sekali Kakak, dan kirimkan melalui Pelayan itu. Siapa tahu Ibu Selir akan menyukainya," sambil tersenyum geli, karena candaan konyol yang mereka buat. Lagi-lagi Pangeran Kedua hanya bisa geleng kepala dengan cerita konyol mereka.
"Yi Lan, sudah waktunya kembali. Dan Kau Jīnlóng, jika Pangeran Utara itu datang ajaklah ke tempatku. Aku Permisi."
"Baiklah Pendekar, hati-hati ... perhatikan langkahmu," jawab Pangeran Jīnlóng yang kembali tenang, karena telah mendapat hiburan oleh Adik lucunya itu.
***
Di tempat lainnya, Pangeran Kàn Yún hampir setiap saat tak bisa lepas dari kemarahannya.
"Pengawal ...." teriak Kàn Yún dengan sangat keras.
Dengan segera berlari menghampiri Tuannya, dan langsung bersimpuh karena rasa ketakutannya, "Kau tahu bukan? Aku tak memiliki belas pengasihan sama sekali, jadi katakan sekarang! Siapa yang menyuruh untuk melakukan Pemberontakan!" sambil mengangkat dagu Pengawal yang tertunduk lemas dengan ujung pedangnya yang sedikit menusuk dagu Pengawal itu hingga meneteskan darah.
"Ma ... maaf Tuan, Kami hanya mengikuti Perintah Nyonya Selir. Karena semenjak Tuan tidak berada di tempat Nyonya Selirlah yang mengatur semua Rencana selanjutnya."
"Ibu? Kau bilang Ibuku yang mengaturnya?"
"Itu benar Anakku," Kata Selir Kaisar yang berjalan perlahan memasuki Paviliun Pangeran Kàn Yún. Kembali Ia berkata, "Jangan sering menyakiti Orang Kita, jika Kau terus melakukannya, maka Orang Kita akan sangat sedikit. Dan Kau! Cepatlah pergi cari tahu informasi terbaru."
"Baik Nyonya," segera bangkit dan berlari pergi, dengan sesekali menyapu dadanya saat telah berbalik, "Nyawaku terselamatkan," kata Pengawal itu dalam hati.
"Ibu, mengapa Kau melakukannya? Rencanamu sangat kacau, Aku hampir terjebak dalam pertemuan tadi."
"Kàn Yún, Perdana Menteri Li Feng hanyalah umpan. Untuk memperlambat gerak lawan, hingga Kau kembali ke Istana. Li Feng sangat serakah dan menggilai harta jadi sangat mudah memanfaatkannya."
"Tapi Ibu, Lawan Kita tidak bodoh. Mereka tahu jika Perdana Menteri Li Feng ada bersama Kita."
"Mereka tahu, tapi Kaisar tak tahu tentang hal ini. Kau tinggal datang menemuinya dan memaksa Li Feng untuk bunuh diri. Dengan cara itu, maka kasus akan segera terhenti. Ibu pergi dulu, Kau bisa mengatur rencana selanjutnya," sambil berbalik meninggalkan Paviliun dalam Istana.
Pangeran Kàn Yún bergegas pergi menuju kediaman Perdana Menteri Li Feng yang ada di luar Istana. Sesampainya disana, Li Feng, Pria Tua itu sedang asyik bercumbu dengan Pelayan Wanita bayarannya.
Kàn Yún mendorong pintu menggunakan Kakinya dengan tekanan yang cukup kuat, Ia pun mulai berkata, "Apa Kau menikmatinya Perdana Menteri Li Feng? Seberapa banyak yang Kau dapat dengan hasil Perampokan? Jelas Kau terlihat takut saat di pertemuan tadi, tapi sekarang? Kau sedang asyik dengan nafsumu sendiri! Apa Kau ingin mati!" sambil menghunuskan pedang di hadapannya. Seketika Tiga Wanita bayaran itu segera berlari keluar menyelamatkan diri.
"Ampuni Aku Pangeran, A ... Aku hanya ...."
"Hanya melaksanakan tugas, begitu maksudmu?" lanjut Pangeran Kàn Yún.
"Be ... be ... benar Pangeran."
"Benar katamu? Bahkan Kau telah memperburuk Rencana, Apa Kau juga tahu hal itu?" sambil melempar tali ke arah Perdana Menteri Li Feng, kembali Ia berkata, " Cepat lakukan Rencana selanjutnya."