The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 1. Awal Perubahan



"Kelahiran merupakan rencana kehidupan dan Kematian adalah awal dari kehidupan baru"


Jauh sebelum abad 2205 SM, bahkan tak tercatat dalam Sejarah Dinasti. Dinasti Sia adalah awal mula cerita ini di mulai.


Saat itu terdengar teriakan Burung Phoenix yang begitu nyaring, terbang melintasi Cakrawala.


Terlihat jelas bagaimana dia membawa pergi Kedua Dewi itu, mereka begitu menikmati pemandangan saat perjalanan, jangan membayangkan hal yang aneh, ini tak seperti Seekor eElang yang memangsa Anak Ayam🙄. Tepat di Bukit Kecil itu Keduanya di jatuhkan, ah ... tidak! Bukan seperti itu, lebih tepatnya di turunkan🤭.


Jiějiě dan Mèimei panggilan akrab kedua sahabat, seolah mereka bersaudara. Entah apa alasan keduanya di tempatkan di bukit itu, mereka bahkan tak memikirkannya.



Jiějiě wanita dengan paras cantik, rambut terurai panjang dengan sedikit kepangan kecil yang membuatnya terlihat anggun. Sifatnya yang lembut dan pendiam membuatnya sulit berkomunikasi dengan siapapun, tapi ... kali ini ada pengecualian, ya ... Mèimei satu-satunya mahkluk yang bisa membuatnya berbicara.



Lain halnya dengan Mèimei, meskipun cantik dia benar-benar tak terlihat anggun dan juga sangat ceroboh, rambutnya selalu saja di kuncir dengan tusuk rambut yang terbuat dari Giok Merah, lebih anehnya lagi dia begitu mengagumi kecantikannya sendiri.


Menggabungkan tenaga dalam dan energi spiritual akan menciptakan kekuatan, itu yang mereka selalu pelajari sampai saat ini , sehingga mereka mampu melakukan kultifasi.


Kedua sahabat ini duduk di sebuah batu sembari memandangi lingkungan sekitarnya, Mèimei menoleh ke arah Jiějiě seakan ingin mengajukan ribuan pertanyaan kepadanya, hanya saja itu terlalu mustahil.


Mèimei menarik napas "Baiklah satu pertanyaan saja untuknya," kata Mèimei dalam hati.


"Jiějiě apa yang Kau pikirkan?" mulai mengajukan pertanyaan.


Khayalan Jiějiě seketika lenyap mendengarkan suara nyaring yang tak bernada itu membuatnya kaget dan hanya bisa berkata, "Apa ... Aku? Ti ... tidak ada!"


"Hah, baiklah sudah Ku duga, kata yang bisa di hitung." jawab Mèimei dalam hati sembari memandang Jiějiě dengan senyuman aneh, lebar, dan seperti tak bernyawa, Mèimei menghela napas ketika Jiějiě membalas senyumannya dengan sangat polos.


Mèimei memulai pembicaraannya lagi, "Baiklah, sepertinya ... tempat ini sangat indah, tapi hari akan mulai gelap, apakah Kita akan tidur di atas pohon? seperti ... Tupai, Kelelawar, Burung, Hewan Melata, Katak ... oh tidak-tidak, Katak tidak tidur di atas pohon, Katak macam apa itu? Setidaknya ... ada tempat yang layak utuk Kita tidur," kalimat terakhir dengan memasang wajah penuh memelas, menunduk dan sedikit melirik ke arah Jiějiě , berharap ada sedikit kata yang di ucapkan.


Mèimei menghela napas putus asa " Dia benar-benar bisu," jawabnya dalam hati.


Jiějiě memandangi pohon-pohon kecil seolah memikirkan sesuatu, perlahan Iya mengangkat tangannya sembari mengeluarkan kekuatan, dia memotong pepohonan itu dan seketika menjadikannya gubuk kecil yang tak berdinding.


"Wah Kau sangat hebat," menepuk tangannya penuh kekaguman.


"Tapi ... setidaknya Kau harus menutupi gubuk nya dengan tirai, Kita harus meletakkan kasur juga atau apapun itu yang tidak membuat badan Kita sakit."


Wajah Jiějiě terlihat begitu kesal mendengar segala ocehan yang berentetan itu, dan pada akhirnya dia pun bicara.


"Mèimei, (penuh kelembutan dengan sedikit kekesalan) bukankah Kau juga memilikinya? Bisakah Kau membantuku untuk melakukan hal yang Kau bicarakan tadi? Setidaknya membuat sesuatu yang Kau sukai."


"Apa ... Aku ... benarkah?" jawab Mèimei.


Jiějiě menggelengkan kepala dan berlalu pergi.


Mèimei melanjutkan pembicaraannya dengan sedikit berteriak, "Apa Kau akan pergi mencari kayu bakar? Carilah yang banyak dan segeralah kembali, jangan khawatir, Aku akan membereskannya, Kau tenang saja serahkan semuanya padaku,"


meskipun tak ada balasan, Mèimei tak memperdulikannya.


Lagi-lagi Mèimei menggerutu, "Apa yang kudengar tadi? Bukankah ... kalimatnya sangat panjang kali ini? Ah ... setidaknya Dia memiliki peningkatan dalam berkomunikasi."


Mèimei kembali memandangi gubuk kecil yang baru saja dibuat, "Apa ini ... Aku harus melakukan apa?"


Ia pun mulai mencoba kekuatannya dengan mengangkat tangan dan melipat sebagian jarinya, seolah sedang memegang pistol, imajinasi buruk yang sering di lakukannya.


"Tirai ... tirai ... Aku membutuhkan tirai," tangannya pun beralih menunjuk gubuk kecil itu.


"Apa ... ? Apa yang Ku lakukan? Mengapa seperti ini?"


Mèimei hanya membuat gubuk itu penuh dengan tanaman merambat.


"Baiklah, ayo coba sekali lagi, Ku mohon kali ini jadilah tirai," sambil memejam kan mata dia melakukannya lagi.


Pada akhirnya dia hanya membuat tanaman merambat itu semakin lebat, Mèimei kini mulai tertunduk lesu.


"Ah ... Aku tak bisa membantu apapun."


Tak lama berselang jiějiě akhirnya kembali.


"Ah ... Jiějiě Kau sudah kembali?"


Jiějiě dengan spontan melempar kayu bakarnya karna terkejut, "Apa yang Kau lakukan?" sembari menuju kearah gubuk.


"Apa ...? Aku? Aku hanya ... hanya membuat tirai, ya ... tirai lihatlah, bagus kan?" Mèimei mengalihkan pandangan seolah tak ingin melihat apa yang terjadi.


"Inikah yang Kau maksud dengan tirai?" sembari menyentuh tanaman merambat.


"iya ... "


Jiějiě langsung menoleh ke arah Mèimei.


"Bu ... bukan, maksudku ini tanaman, ya ... tanaman," mengendalikan dirinya dengan menyatukan kedua ujung telunjuknya berulang-ulang.


"Jiějiě, maksudku tadi, Aku sudah benar-benar membayangkan tirainya, hanya saja .. tiba-tiba Aku terbayang sesuatu di Hutan Hitam sana, sepertinya ada yang aneh coba Kau perhatikan, disana ... terlihat benar-benar gelap."


"Ya itu benar, memang aneh, begitu banyak tanaman merambat disana dan pada akhirnya tumbuh di gubuk ini" jawab Jiějiě seolah sedang menyinggung Mèimei.


"Jika Kau bisa melakukannya dengan semudah ini, mengapa harus begitu merepotkanku," Jiějiě pun diam dan tak menghiraukannya.


***


Malam yang indah meski kau membayangkannya, tak sesempurna apa yang terlihat disana, benar-benar sempurna.


Jiějiě dan Mèimei, kedua sahabat ini duduk di selasar gubuk, seolah tak ingin melewatkan malam yang indah, Mèimei seperti biasanya memulai pembicaraannya lebih awal.


"Jiějiě bisakah Aku mengatakan sesuatu?"


"Katakanlah."


"Kau tahu, Aku merasa ... aku terlalu cepat dewasa seolah pertumbuhan ku begitu cepat."


Jiějiě meresponnya dengan tersenyum, Mèimei melanjutkannya lagi.


"Aku bahkan tidak mengingat dimana pertama kali Aku berada, Aku benar-benar tak mengetahui siapapun, termasuk dirimu, dan tak tau mengapa kita disini, apa kau mengetahuinya?"


"Apa ... Aku ? tidak ... Aku tidak tau."


Mèimei mengalihkan pandangannya ke langit,


"Aku rasa ... Kau mengetahui alasannya, Aku tidak akan memaksa mu untuk mengatakannya, Aku hanya berharap tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi."


Jiějiě terdiam dan menatap Mèimei seakan ingin mengatakan sesuatu tetapi di urungkannya.


"Hei, Jiějiě, Kau lihat bintang itu? Apa Kau pernah kesana?"


Jiějiě menggelengkan kepalanya sebagai jawaban tidak.


"Apa Kau ingin kesana? Jika Burung Phoenix itu datang lagi, bisakah Kita mengajaknya kesana?"


"Apa Kau tidak menyukai tempat ini?" tanya Jiějiě


"Bukan seperti itu, Aku sangat menikmati tempat ini, Aku serasa baru terlahir kembali dan langsung menemukan Teman baru di tempat yang begitu indah, Jiějiě apa Kau memiliki Nama?"


"Bukankah Kau sudah membuat Nama untukku?"


"Apa ... Aku? Kapan Aku membuatnya? Benarkah itu? Tapi ... Aku merasa baru mengenal mu, Aku hanya memanggil mu Jiějiě karna Kau sangat dewasa, apa Kita pernah bersama sebelumnya? Ah, percuma Kau tak akan memberitahunya." Mèimei kembali memandangi langit dengan kesal.


"Panggil Aku Jiějiě untuk saat ini, jika Kau kembali mengingatnya, ingatlah Namaku dalam waktu lama."


"Ah, langit memang banyak menyimpan rahasia," kata Mèimei menggerutu.


"Tidurlah sudah larut, bukankah ... Kau lelah setelah membawa tanaman merambat dari hutan itu?" Jiějiě mengalihkan pandangan ke tempat lain dan tersenyum.


Mèimei yang di buatnya kesal segera masuk dan berbaring, Jiějiě yang masih berada di luar masih terus memandang langit.


"Apa ini ...mengapa tak bisa mengatakannya? Bukankah ... seharusnya Dia perlu mengetahuinya? Tugas apa ini, bahkan Aku tak tau bagaimana cara mengerjakannya."


Jiějiě dengan kegelisahannya menghampiri Mèimei yang telah tertidur, memandangnya sesaat dan ikut terlelap.


Pagi pun tiba, Mèimei yang terbangun lagi-lagi tak melihat Jiějiě di sampingnya.


"Ada apa dengan wanita itu, bahkan seorang Dewi harus membutuhkan tidur bukan?"


Mèimei pun pergi menghampiri Jiějiě, "Apa yang Kau lakukan?"


"Menanam sesuatu agar terlihat indah, pergilah memasak, Aku sudah membuat dapur di dekat sungai itu," kata Jiějiě sambil menunjuk tempatnya.


"Baiklah Aku akan memasak, kali ini serahkan kepadaku."


Beberapa saat kemudian Jiějiě yang telah selesai menanam, menghampiri Mèimei yang tengah serius dengan masakannya.


"Apa yang Kau masak?" tanya Jiějiě sambil memperhatikan Mèimei yang memasak.


"Aku sedang memasak sayur, dan akan terus memasak sayur,sayur,sayur,sayur dan sayur."


"Buatlah, meski hanya terlihat lezat, setidaknya tidak beracun," jawab Jiějiě.


"Jiějiě bicara mu lumayan banyak kali ini, tapi ... bisakah tidak membuatku kesal? Akhirnya selesai juga, Jiějiě ayo Kita makan," sembari menghampiri Jiějiě dengan membawa sayur makanan spesial yang akan terus dibuatnya.


***


Seiring berjalannya waktu, entah berapa kali terjadi siang dan malam, bahkan tak ada yang ingin menghitungnya, kegiatannya selalu sama dan terus menikmatinya.


Saat malam, Mèimei yang tertidur lebih awal tiba-tiba terbangun karena mimpinya, lagi-lagi Jiějiě tak berada di sampingnya, dia pun segera keluar seolah mengetahui keberadaan Jiějiě, Jiějiě yang sedari tadi menatap langit seperti biasanya dibuat kaget dengan teriakan Mèimei.


"Ada apa mengapa Kau belum tidur?"


"Jiějiě Kku bermimpi."


Jiějiě mengubah posisi duduknya menghadap Mèimei seolah ingin tahu jelas mimpinya.


"Aku bermimpi, bajuku berubah menjadi hitam dan berapi, apa Kau mengerti maksud mimpiku ini?"


Jiějiě terlihat sedikit cemas dan ingin memberitahukan sesuatu, tetapi tetap saja tak bisa di lakukannya.