The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 53. Jebakan dalam Perayaan.



Pangeran Kàn Yún yang juga ikut bermain dalam siasat mulai melakukan aksinya, "Anda benar Yang Mulia, di lihat dari Keduanya Mereka begitu cocok. Salah satu alasannya memang untuk melakukan Perluasan Wilayah, akan tetapi jika harus merebut kekuasaan itu sangat tidak adil. Kekeluargaan akan menjadikan kerjasama yang baik sehingga perluasan bukan lagi menjadi suatu keserakahan. Benarkah begitu Pangeran Jīnlóng?"


"Kau benar Pangeran Kàn Yún," jawab Pangeran Jīnlóng. Mendengar kalimat persetujuan dari Adik Keempatnya itu, menambah kemarahan bagi Pangeran Lóng Huǒ, ingin sekali Ia bersuara tetapi kali ini gerakannya di tahan oleh Pangeran Shuǐlóng, yang seolah yakin Adik Keempatnya telah mendapatkan jawaban yang pantas untuk Ia utarakan. Pangeran Lóng Huǒ kali ini mencoba menahan lagi emosinya.


Kembali Pangeran Jīnlóng melanjutkan perkataannya, "Akan tetapi tidaklah baik jika tanpa persetujuan. seperti kata Pepatah Bahkan Sebuah Barang mempunyai Pemiliknya, jika mengambilnya dengan paksa maka tak ada bedanya seseorang itu dengan Pemberontak. Aku tak menyamakan hal ini dengan sebuah barang, melainkan Putri Yi Lan sendiri memiliki beberapa Orang yang juga berhak menentukan nasib kehidupannya, terutama untuk Seseorang yang selalu berusaha memperjuangkan kehidupan Putri Yi Lan agar tetap baik-baik saja hingga saat ini. Menurutku akan sangat buruk jika tak mengikut sertakan Pangeran Li De Lóng dalam menentukan masa depan Putri Yi Lan."


"Baiklah, jika seperti itu. Bagaimana menurutmu Pangeran Li De Lóng?" tanya Kaisar yang menyetujui pendapat Pangeran Jīnlóng.


"Maaf Yang Mulia, ini terlihat begitu mendesak, hal ini memanglah etikat baik, hanya saja terlalu dini untuk membicarakannya sekarang, karena melihat umur Putri Yi Lan yang masih terlalu muda untuk memikirkan hal ini. Bagi Kami Kakaknya,akan lebih menghargai apa yang menjadi pilihan Putri Yi Lan itu sendiri," kata Pangeran Li De Lóng menjelaskan.


Mendengar perkataan Pangeran Kedua, Kaisar hanya menganggukan kepalanya sambil mencoba memahami semua perbincangan yang terjadi, Ibu Selir mulai terlihat kesal, Ia merasa rencananya kali ini akan gagal, tetapi sifat pantang menyerah dalam diri Ibu Selir itu akan sangat sulit tergoyahkan, Ia akan terus memaksa keadaan untuk tetap mewujudkan keberhasilannya.


Sempat diam sejenak, karena semuanya tak bisa lagi membalas perkataan Pangeran Li De Lóng yang seolah mengunci mati semua pembicaraan yang terjadi. Tiba-tiba Pangeran Utara mulai angkat bicara, "Maaf Yang Mulia, menurutku apa yang di katakan Pangeran Li De Lóng memang benar. Terlalu dini jika harus membicarakannya, sementara kehadiran saya disini baru berjalan beberapa hari dan belum melakukan tugas utama dari penukaran keahlian yang telah Kerajaan Anda ajukan. Dan juga tentu akan lebih baik jika saya ikut berpartisipasi dalam mengatur Strategi Militer bersama Keempat Pangeran kebanggaan Anda Kaisar, selebihnya bisa Kita bicarakan jika memiliki waktu yang pantas untuk hal ini. Semoga Kaisar tidak keberatan dengan apa yang saya utarakan."


"Tentu tidak Pangeran Běiduān, Kau punya hak juga dalam mengajukan pendapat. Baiklah, Kau benar ada baiknya pembahasan ini kita bicarakan lain waktu saja," jawab Kaisar yang telah menyetujui pendapat Pangeran Utara.


"Tapi Yi Lan mengapa Kau terlihat lesu? Apa Kau menyetujui perjodohan ini? Dan sedikit kecewa karena Kita masih menundanya?" kata Ibu Selir yang memancing kembali keadaan.


Pangeran Lóng Huǒ yang semula mulai terlihat tenang kini kembali kesal, ingin sekali Ia menggorok leher Ibu Selir itu agar tak lagi dapat bersuara. Tetapi Ia terus saja menahannya, Yi Lan bahkan terlihat bingung harus menjawab apa, Ia mencoba mengeluarkan katanya dengan sedikit lambat dan terbata-bata, mendengar suara dari Yi Lan wajah Ibu Selir nampak sumringah, Ia berpikir sedikit lagi rencananya akan berhasil. Lain halnya dengan Keempat Kakaknya yang terlihat tegang dan sangat sulit untuk membela Adiknya lagi, mereka kembali terjebak dalam siasat Ibu Selir, dalam pikiran Mereka saat ini hanyalah kepasrahan kepada Alam Semesta yang juga ikut bermain dalam cerita yang sedang berlangsung.


"Ada masalah apa? Mengapa terlihat panik?" tanya Kaisar Penasaran


"Lapor Yang Mulia, Kami menemukan Perdana Menteri Li Feng tewas gantung diri di rumahnya," kata Prajurit menjelaskan.


Semuanya nampak terkejut, tapi tidak untuk Pangeran Kàn Yún dan juga Ibu Selir. Karena mereka jelas telah mengetahuinya lebih dulu. Perasaan Keempat Pangeran dan juga Yi Lan kembali lega karena pembahasan kali ini terhalangi. Kekesalan untuk kesekian kalinya bagi Ibu Selir. Ia tak lagi berkutik dan terpaksa menunda kembali rencana busuknya.


"Baiklah, Kita akan kesana. Segera siapkan Kereta," lanjut Kaisar memerintah.


Semua Pangeran yang juga ikut pergi bersama Kaisar untuk melihat kematian Perdana Menteri Li Feng yang masih dalam keadaan tergantung di dalam rumahnya, bahkan tak ada seorang pun yang berani menyentuhnya dan menurunkannya tanpa perintah Sang Kaisar. Semuanya telah ada dalam aturan kerajaan.


Tiba di rumah Perdana Menteri Li Feng. Kaisar terbelalak menatap raga yang terbujur Kaku di hadapannya, "Apa yang terjadi? Mengapa sampai seperti ini? Apa ada masalah dalam kehidupannya? Jika masalah kekayaan, Aku rasa sangat lebih dari cukup yang telah Ia dapatkan selama ini," kata Kaisar sambil terus memikirkan alasan sebenarnya dari kasus Perdana Menteri Li Feng.


"Maaf Yang Mulia, Kami sempat mendapat informasi bahwa Perdana Menteri Li Feng adalah dalang dari Pemberontakan yang terjadi di Perbatasan Wilayah, hanya saja Kami belum begitu yakin sehingga harus mengusut kasus ini lebih lanjut, akan tetapi jika alasan ini menjadi sebab kematian Perdana Menteri Li Feng, Kami rasa itu akan sedikit tidak masuk akal," kata Pangeran Jīnlóng menjelaskan.


"Apa maksudmu tidak masuk akal? Mungkin karena Dia berpikir hukumannya akan sama seperti yang di lakukannya sekarang ini, jadi Ia lebih memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri, di bandingkan harus menanggung malu dan juga siksaan dari Kerajaan, Ia jelas pantas mati karena telah melakukan kesalahan besar, jadi untuk apa mengusut kasus yang telah terbukti jika Ia memang bersalah?" kata Pangeran Kàn Yún yang berusaha menyembunyikan perbuatannya agar mereka tak lagi mengusut kasus Perdana Menteri Li Feng.


Pangeran Lóng Huǒ yang penasaran dengan aksi bunuh diri yang di lakukan Perdana Menteri Li Feng, kini mulai mendekat ke arah Pria Tua yang tergantung dengan seutas tali itu. Ia memeriksanya dengan teliti, terus memperhatikannya dari atas hingga bawah, tetapi tiba-tiba pandangannya justru tertuju ke arah lainnya, "Ini tidak masuk akal," gumam Pangeran Lóng Huǒ.