
"Anak Gadis bisakah Kau tak berteriak saat memanggil Kakakmu? Kau masih saja melakukannya meski sudah dewasa,"
kata Pangeran Li De Lòng yang masih dalam pembaringannya.
Yi Lan masih tetap tidur bersama Kakaknya, kali ini tempat tidurnya di sekat dengan selembar papan, bukan karena suatu alasan mencegah hal yang buruk terjadi, akan tetapi cara tidur Yi Lan yang masih saja berantakan sampai saat ini, sehingga membuat Kakaknya sulit untuk tertidur pulas.
Penyakit Yi Lan perlahan mulai pulih, tetapi akan kembali memburuk jika Ia tinggal bersama Ibunya, selebihnya semua baik-baik saja. Sesekali mengunjungi Ibunya di Istana, hanya sekedar ngobrol sebentar saja dan kembali, itu pun harus bersama Kakak Kedua jika akan berkunjung. Ketidakcocokan itu jelas telah terlihat saat masih dalam kandungan Ibunya, saat masa ngidam, Ibunya selalu merindukan Pangeran Kedua, dan ingin selalu bersamannya, ketika Pangeran Kedua tak bisa mengunjunginya, keadaannya akan terus sakit-sakitan akan tetapi Ibunya terus merahasiakan hal ini kepada Anak Keduanya itu. Hingga akhirnya tak tahan menahan sakit dan Bayi Yi Lan harus terpaksa keluar di usia kandungan yang belum matang. Semua tak ada yang kebetulan kalimat yang selalu terulang dalam setiap cerita, menggambarkan betapa berkuasanya Alam Semesta untuk setiap cerita di Bumi dan Langit.
"Kakak, apa Kau akan ke Istana hari ini?" Kata Yi lan yang masih berbaring.
"Iya, Kakak harus menghadiri Pertemuan di Istana. Ada apa?"
"Bisakah ... Aku ikut? Kakak ... Kau tak akan meninggalkanku sendiri bukan? Ayolah jangan menatapku seperti itu."
"Berjanjilah untuk tidak berbuat ulah, Kakak akan sangat sibuk nanti, jadi jika Kau tidak berjanji, Kakak tak akan mengajakmu untuk ikut."
"Baiklah Aku berjanji, segera bersiap ..." langsung bangkit dari tempat tidur dan bersiap.
Keceriaan masih terus tergambar dalam raut wajahnya, asyik dalam dunianya sendiri itulah kata yang menggambarkan karakternya. Tak akan sedih meski hanya sendiri saat bermain.
Menaiki Kereta hingga sampai ke Istana, segera turun dan berlari menuju taman, tempat yang paling Ia sukai, "Yi Lan," tegur Pangeran Kedua agar bisa berjalan dengan baik.
Yi Lan menghentikan langkahnya, menanti Sang Kakak yang berjalan ke arahnya. Saat melanjutkan langkah bersama, kembali Kakak kedua berkata, "Ingatlah janjimu, dan Kau adalah Seorang Putri, bukan Seekor Kelinci. Maka perbaiki langkahmu."
Yi Lan membalasnya dengan anggukan kesal, dan kesalnya bertambah saat menengok Pengawal Dìbàng yang juga ikut tersenyum. Kembali Ia mengalihkan wajahnya ke arah lain untuk menghilangkan kekesalannya.
"Kakak, bukankah Aku tak akan mengikuti Pertemuan itu? Lantas mengapa Aku harus mengikuti langkahmu? Bisakah Aku ke Taman segera?"
"Pergilah, dan kembali ke Ruang Kakak Keempat jika lelah menunggu."
Membalasnya dengan anggukan, dan berjalan sedikit melompat menuju taman, jelas seperti Putri Kelinci. Pangeran Li De Lóng hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah konyol Yi Lan.
Tiba di Taman Istana, saat sedang asyik bersantai, tiba-tiba Putri Yōuměi datang menghampiri, "Yi Lan sejak kapan Kau kesini?" tanya Yōuměi dengan keangkuhannya.
"Ah, Kak Yōuměi. Bagaimana kabarmu? Aku sudah dari tadi sampai, bersama Kakak Kedua."
"Bagaimana dengan penyakitmu? Apa semakin memburuk?"
"Semakin kesini sudah ada perubahan baik, terima kasih telah mengkhawatirkanku."
"Mengkhawatirkanmu? Yang benar saja, Aku hanya mengkhawatirkan Istana yang akan hancur jika Kau terus saja sakit. Entahlah, Aku bahkan tak habis pikir, nasib Istana bergantung kepada Orang tak berguna sepertimu."
Yi Lan semakin kesal di buatnya, Jiwa Pendekarnya hampir saja keluar, Ingin sekali iya menampar Putri Yōuměi, akan tetapi Ia mengingat janji kepada Kakak Keduanya. Sambil terus menatap Putri Yōuměi, Ia membayangkan telah mencabik-cabik kulit Putri Yōuměi, sedikit terdengar pelan dari bibirnya, "Habislah Kau," berkata sambil menyatukan gigi bagian atas dan bawah. kembali Ia menarik napas dan menghembuskannya bermaksud menstabilkan emosinya.
"Kak Yōuměi, sepertinya Aku harus kembali ke Ruangan Kakak Keempat, Aku pemisi. Semoga harimu menyenangkan," sembari membungkuk untuk berpamitan. Segera Ia berbalik sambil mengepalkan tangannya menahan kekesalan.
Hampir sampai di Ruang Kakak Keempat, langkah Yi Lan terhenti karena mendengar pembicaraan dari kedua Pelayan yang sedikit berbisik pelan di salah satu Ruangan, "Apa Kau telah melaksanakan tugas yang di perintahkan oleh Nyonya Selir?"
"Sudah, tapi ... Aku tak bisa menemukan apapun dalam Ruangan Pangeran Keempat, sepertinya Mereka tak pernah menulis Rencana. Entahlah, jika Aku tak menemukan sesuatu disana, bisa-bisa Aku akan di hukum oleh Nyonya Selir. Aku akan mencobanya lagi jika memiliki kesempatan."
Yi Lan bergegas pergi saat mengetahui Kedua Pelayan itu akan keluar dari Ruangan. Tibalah Ia dalam Ruang Kakak Keempat, sambil memeriksa meja kerjanya, Ia pun tersenyum karena meja kerjanya hanya di penuhi dengan kertas syair yang di tulis Kakaknya, "Hah, Ibu Selir itu memang bodoh, Kakakku hanya menulis Syair, bukan Rencana."
***
Ditempat lain dalam Ruang Pertemuan. Terjadi Perdebatan sengit, seperti biasa lagi-lagi Pangeran Kàn Yún memulai aksinya.
"Lapor Yang Mulia, Kami telah menemukan Kerajaan yang bisa melakukan Penukaran Ahli."
"Bagus! Jadi dimana letak wilayahnya?" tanya Kaisar yang terlihat sumringah saat mendengar kabar baik.
"Tempatnya di Uyghur khaganate, bagian Wilayah Utara kerajaan. Pangeran Utara, sangat handal dalam kemiliteran, tentu saja akan membuat perluasan wilayah yang lebih besar. Kita bisa menukarnya dengan Perdana Menteri yang ada di Kerajaan ini, tentu saja dalam bidang seni. Mereka telah menerima kesepakatan ini dengan baik, dan tak lama lagi Pangeran Utara akan menuju ke Kerajaan untuk bertemu dengan Kaisar."
"Baiklah, Jika Pangeran Utara itu tiba, layani Ia dengan baik. dan Kau Pangeran Jīnlóng, tugasmu adalah mengajaknya melihat bagian Kemiliteran yang Kita miliki."
"Baik Yang Mulia," jawab Pangeran Jīnlóng.
"Pangeran Jīnlóng, Aku mendengar banyak terjadi Pemberontakan akhir-akhir ini, apa Kau telah memberitahu hal ini kepada Kaisar?" tanya Pangeran Kàn Yún mencoba menyulut kemarahan Kaisar kepada Pangeran Keempat.
"Siapa yang memberontak? Mengapa tak ada yang memberitahu hal penting ini!" Tanya Kaisar dengan nada keras.
Kembali Pangeran Kàn Yún menambah minyak dalan api, "Mungkin bagian Kemiliteran, tidak ingin di katakan lalai dalam menjalani tugas. Fokus menjaga Pertahanan bahkan Pemberontak di Wilayah sendiri, tengah asyik berkeliaran."
"Maaf Yang Mulia, persoalan ini telah Kami selesaikan, akan tetapi Dalang dari semua ini, masih Kami usut satu persatu. Jika telah menemukan akan segera Kami Laporkan kepada Yang Mulia. Mohon Yang Mulia memberi waktu," jawab Pangeran Jīnlóng.
"Pastikan segera! Aku tak ingin menunggu terlalu lama, ini benar-benar memperburuk Kemiliteran yang Kita pegang."
"Fokuskan dirimu dalam Kemiliteran saja Pangeran Jīnlóng, jangan terlalu bermain dengan Politik, itu mengganggu pertahanan Kerajaan."
"Kalau begitu sibukan juga dirimu dengan perpolitikan yang Kau kuasai, bukan dengan Pemberontakan yang terjadi. Pangeran Kàn Yún"
Mendengar percakapan itu, Kaisar langsung bertanya, "Jadi Siapa Dalang yang Kau dapati?"
"Masih mengusutnya Yang Mulia, Aku akan pastikan segera, tanpa mengecewakan Anda," jawab Pangeran Jīnlóng sambil menatap tajam ke arah Pangeran Kàn Yún yang kembali terlihat tegang.
"Ada apa denganmu Pangeran Kàn Yún? Mengapa wajahmu terlihat tegang? Apa Kau ... mengetahui Dalang dari Para Pemberontak itu?"
Pangeran Kàn Yún masih terus diam, dan sibuk mencari jawaban yang menjebaknya itu.