The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 3. Táohuā



Mèimei berjalan perlahan mendekatinya


"Berlarilah jika itu sempat, Yín Gōng! "


Pria yang sedari tadi melihat situasi yang terjadi, kini mulai khawatir dan perlahan mundur di ikuti seluruh pasukannya.


Mèimei tak seperti biasanya, seperti yang terlihat di mimpinya, gaun Mèimei perlahan menghitam disertai api yang berada dibawah gaun, tapi tak sedikitpun membakar dirinya, aura gelap dan hitam seperti penuh racun melingkari seluruh tubuh, rambut yang sering di kuncir kini terurai lepas tanpa hiasan apapun, bibir terlihat menghitam, bola mata yang menyalak hampir tak terlihat bagian putihnya, meskipun begitu dia tetap terlihat anggun, jelas seperti Dewi Beracun nampak mempesona ketika di terpa angin. Tapi tidak untuk kemarahannya, dia tak akan memperdulikan apapun dan akan menghancurkan yang ada di dekatnya, setiap yang dilewati akan menghitam seperti hangus terbakar, semua serangga ganas dan beracun seketika masuk kedalam tubuhnya, ular, lebah dan bahkan gagak mengikuti langkahnya seolah pasukan.



Yín Gōng dan pasukannya melesatkan panah berulang kali, tak sedikit pun mengenai tubuh dan seketika hangus terbakar, mereka semakin sulit berlari karena lilitan tanaman merambat (teringat saat Mèimei melakukannya pertama kali😁).


"Lakukan apapun yang bisa membuatmu selamat, jika tidak nikmatilah penderitaan mu," kata Mèimei dengan tetap berjalan menghampiri Yín Gōng.


Yín Gōng berusaha untuk keluar dari lilitan tanaman merambat, hanya saja semakin dia bergerak lilitannya akan semakin kuat, dia menatap tajam wajah Mèimei yang kini berada tepat di hadapannya.


"Hei, lihatlah wajah sangar ini, begitu menakutkan," membisikkannya ke telinga Yín Gōng penuh kelembutan dengan sedikit menggoda sembari meraba lehernya dari arah telinga perlahan turun dan mencekiknya, Yín Gōng yang sedari tadi merasa tersiksa kini mulai sulit bernapas.


"Apa itu menyiksamu?" teriak Mèimei tepat di wajahnya


"Aku ... ha ... hanya."


Mèimei melepaskan tangannya dari leher Yín Gōng, pria itu dengan spontan menarik napas panjang. Tetapi dia masih tetap saja berulah dengan mengeluarkan Kekuatan Api miliknya untuk melepaskan diri.


"Ckckck, Yín Gōng, Kau benar-benar tidak tau di untung."


Mèimei kini mengulurkan tangannya dan seketika keluarlah ribuan serangga beracun menghampiri Yín Gōng dan pasukannya, seakan tahu tugas mereka masing-masing.


Serangga itu masuk kedalam tubuh dan merusak organ dalam tubuh mereka, "Tolong ampuni kami ..."


"Ha ... ha ... ha ..." Mèimei tak henti-hentinya tertawa seakan ingin membuat mereka lebih menderita sebelum mengakhirinya.


Tiba-tiba terlintas bayangan Jiějiě di hadapannya.


"Mèimei, gunakan kekuatanmu untuk hal yang baik."


Kata itu selalu melambung dalam ingatan membuat Mèimei terdiam, dia menggelengkan kepala sambil mengatakan, "Tidak! Yang aku lakukan sudah benar."


"Mèimei, ini tidak benar, Kau tidak harus melakukannya, Aku mohon hentikanlah," bisikan itu terus saja datang.


"Jiějiě, kaukah itu? Apa Kau kembali?"


Nampak bayangan Jiějiě di hadapannya tersenyum dan mengatakan


"Lakukan hal yang baik, Aku baik-baik saja," Perkataan yang selalu dilontarkan sejak awal.


Saat Mèimei ingin memeluknya, bayangan itu memudar.


"Jiějiě ... Jiějiě ... Jiějiě, Ku mohon kembalilah," teriak Mèimei sambil memandang kesegala arah berharap melihatnya lagi.


Mèimei kembali menatap Yín Gōng dan pasukannya yang saat ini sedang sekarat, dia kembali mengulurkan tangannya untuk menarik kembali serangga yang ada di tubuh mereka.


"Kali ini kalian selamat, pergilah! Sebelum aku berubah pikiran."


Mèimei kembali ke Bukit, tempat pertama dan terakhirnya bersama Jiějiě, wanita penuh welas asih yang sudah dianggapnya Saudara.


Dia merebahkan badannya di padang rumput di bukit itu, gaunnya tetap hitam tak seperti semula, tatapannya kini kosong kearah langit.


"Jiějiě, Kau lihat sekarang? Aku melakukan apa yang Kau inginkan, apa Kau bahagia? Bahkan Aku tak tahu harus melakukan apa saat ini, hei ... Langit apa kau merawat Jiějiě dengan baik? Aku mohon jagalah dengan baik, jika tidak ... Aku akan membuat perhitungan denganmu."


Mèimei setengah menggila saat ini karena hatinya merasa kehilangan, dia masih tetap merebahkan badannya dan kini menoleh ke arah kiri tepat di Gubuk Kecil, tempat penuh kenangannya bersama Jiějiě.


"Aku tak ingin kesana lagi, biarkan Aku disini menunggu waktu untuk kembali, Jiějiě, lihatlah bunga itu masih tetap mekar, Aku tak merusaknya, Aku sungguh menyesal, sungguh menyesalinya."


Mèimei memejamkan mata menahan kesedihan tetapi tetap saja air matanya terus menetes, dia kembali mengalihkan pandangannya ke langit


Meskipun kau di lahirkan di langit, kau tak akan pernah tahu rahasia langit, yang semua tahu ... hanyalah suatu kelahiran dilangit dan di bumi akan selalu membuat cerita baru.


Aku tak tahu asal dan alasan mengapa di ciptakan, bertemu denganmu hati tanpa keraguan, bersahabat denganmu serasa ingin selalu bersama, kadang kita tak saling merindukan, tetapi ketika bertemu kita tak akan melewatkannya.


Berdua mencari rahasia, kadang menutupi kesedihan bersama, teriakan ceria mungkinkah kita bertemu kembali?


Air mengalir ke bambu ke Bukit Kecil itu, di sana ada sebuah Gubuk Kecil, ribuan tanaman untuk kehidupanmu memang berlebihan, tapi itu memang untukmu, pejaman mata ini benar-benar menggoda ku, adakah yang bisa melihat keindahan itu?


Rambut lurus terurai, dengan sedikit kepangan kecil yang menahan hembusan angin, Bunga bermekaran dimana-mana, nyanyian Burung berbalas pantun,suara Kecapi dan Seruling yang menyatu, hanya dengan pejaman mata bisa merasakannya.


Sinaran Bulan terlihat sempurna, Bintang saling menyapa, Kunang-Kunang memamerkan cahayanya, Rubah bernyanyi memanggil pasangannya untuk duduk bersama di bawah Sinar Bulan.


Seperti tak ada kejahatan, Burung Hantu yang terlihat menakutkan, mencoba memamerkan kebolehannya bernyanyi melepas keheningan malam yang indah, hanya dengan memejamkan mata, kita bisa merasakannya.


Mungkin kita berpikir tak ada kejahatan, melihat pengorbanan mu membuat perasaan ini hancur, seakan menyalahkan waktu yang berlalu begitu cepat.


Entah mengapa langit sering membuatku dalam kesendirian, jika ingin melihat Kemarahan pergilah dalam Kegelapan, maka aku akan menghancurkan segalanya, kesendirian ini benar-benar menantimu di setiap cerita baru, meskipun harus melupakan memori sebelumnya.


Syair yang dibuat Mèimei untuk menenangkan hatinya saat ini.


Tiba-tiba terdengar suara Kecapi mengalun perlahan mengikuti suara angin hingga sampai ke telinga Mèimei.


"Suara Kecapi siapa itu? Ah ...suara Kecapi ini begitu indah, ini seperti lamunan yang nyata," kata Mèimei yang sedari tadi masih memejamkan matanya.


" Tidak! Suaranya benar-benar nyata."


Mèimei segera bangun dan kini berada pada posisi duduk, dia menoleh ke segala arah mencari datangnya suara, pada saat itu terdengar suara seseorang yang begitu menggema.


"Táohuā ..."


Mèimei yang tadinya duduk segera berdiri, dia terus mencari datangnya suara itu, tapi ketika dia berbalik, dia melihat suatu tempat yang letaknya lumayan jauh dari bukit tempat dia berdiri.


Tak berpikir panjang Mèimei pun segera menuju ke tempat itu, sekarang tidak begitu melelahkan, meskipun letaknya jauh dia tak membutuhkan waktu lama untuk sampai disana, sesampainya disana Mèimei melihat tempat itu penuh dengan ribuan bunga persik, Mèimei begitu terkesima dengan pemandangan yang di lihatnya.


Senyumannya merekah saat bunga yang telah jatuh terbawa angin bertaburan di tempat dia berdiri, tetapi senyumannya kembali pudar saat mengingat Jiějiě, dia sedih karena tak bisa melihat hal yang indah ini bersamanya.


"Aku akan mengajak mu kesini lain waktu," kata Mèimei sembari menyentuh bunga persik


"Táohuā ..." Suara itu terdengar lagi, kali ini terlihat jelas siapa yang mengatakannya.