
Di saat yang sama, setibanya di tempat tinggal Xiǎoyù dan Kakek Guru Putih.
Terjadi percakapan yang juga serius antara dirinya dan Kakek Guru Putih.
“Xiǎoyù, duduklah, bagaimana perasaanmu saat ini” tanya Kakek Guru.
Sambil mengambil tempat untuk duduk dia pun langsung menjawab pertanyaan kakeknya itu.
“Tentu saja baik, pada akhirnya Aku bisa bertemu Táohuā, meskipun hanya sebentar.”
“Apa Kau ingin bersamanya lebih lama?”
“Ah, Kakek apa maksudmu? Itu mana mungkin terjadi, Dia sangat sibuk dengan tugasnya yang menggunung, yang paling tidak mungkin adalah Pasangannya, Yī Tuán Bīng itu sudah jelas tak akan mengizinkannya berlama-lama denganku.”
“Xiǎoyù, apa Kau menyayangi temanmu?” tanya Kakek lagi, membuat Xiǎoyù makin merasa curiga, tetapi tetap saja dia menjawabnya.
“Tentu saja, meskipun hanya sesaat saling mengenal, bahkan bertemu hanya di Perjamuan Teh Bunga Persik saja, Aku merasa sangat nyaman saat berteman dengannya, ah ... Kakek katakanlah terus terang jangan membuat pertanyaan yang aneh seperti ini, bisa-bisa Kau akan membuatku mati penasaran.”
Kakek tersenyum mendengar perkataan Xiǎoyù, diapun langsung ke pembahasan yang sebenarnya.
“Xiǎoyù, ini bukanlah akhir dari perjalananmu, bisakah Kau melindungi Táohuā di kehidupan barunya?”
“Táohuā, apa yang terjadi padanya? Apa dia berbuat kesalahan?”
“Hei, Kakekmu ini sedang bertanya, bisa tidak?mengapa malah mengajukan pertanyaan, aiyo ... Anak ini benar-benar.”
“Ah, Kakek bicaralah sejelas mungkin, jika kau mempertanyakan hal seperti itu secara tiba-tiba bukankah ... itu akan membuat banyak pertanyaan di pikiranku?”
“Hah ... baiklah, kalau begitu dengarkan.”
“Tugas yang di berikan Langit kali ini sangatlah sulit, sudah tentu bagi Temanmu dan Pasangannya, mereka terpaksa harus tak bersama untuk menjalani tugas ini, meskipun itu hanya pada awalnya saja, Táohuā tiba-tiba mendapat Kekuatan Baru yang membuat Racun Murni dalam tubuhnya mulai tidak terkontrol, Jiwa Iblis dalam dirinya akan semakin menguasai, tentu saja akan sangat berbahaya jika dia terhasut oleh siapa saja yang ingin menguasai Alam Semesta, Kekuatan Liánhuā melemah jika harus terus berada di dekat Táohuā, untuk itu Langit membuat rencana agar Táohuā bisa mengontrol dirinya sendiri, tetapi ... jika dalam kesendirian itu akan membutuhkan waktu lama untuk mengontrol dirinya, saat ini ada banyak Dewa yang telah menjadi korban Penyerapan Kekuatan oleh Iblis Hóng Wūyā Anggota Sekte Iblis yang telah berkhianat. Jika sampai Táohuā berada dalam kendalinya, maka sudah jelas akan sangat berbahaya, dan Hóng Wūyā akan sepenuhnya menguasai Bumi"
"Di kehidupan barunya Dia akan melupakan ingatan masa lalu terutama Denganmu, itu juga merupakan Rencana Langit agar Dia tak bisa mengingat kekuatannya, pikirannya akan benar-benar lupa dengan hal itu, dan saat ini hanya Kaulah yang mampu mengontrol kekuatannya, untuk itu Kau yang akan menemaninya, bukankah Kau ingin bersamanya lebih lama?"
"Di Bumi, kepribadianmu akan berbeda tak seperti biasanya, itu karena Naga Putih telah menitipkan Inti Es dalam hatimu, jelas semua kekuatan akan mempengaruhi kepribadianmu, Kau akan tetap mengingat apa yang Aku ceritakan tapi tidak selebihnya, tugasmu hanya perlu mengontrol Táohuā, terus jaga Dia sampai tugasmu selesai, apapun yang terjadi di sana sudah merupakan Kebaktianmu pada Langit, jika suatu saat sesuatu yang buruk akan terjadi itu pun sudah menjadi Rencana Alam tak ada yang mampu mengubahnya, apa kau mengerti maksudku?”
Xiǎoyù hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Baiklah, jika Kau sudah mengerti, sekarang berdirilah di Lingkaran Patkwa itu, tak perlu berada dalam kebingungan ini sudah terencana,” kata Kakek menjelaskan.
“Ah ... Kakek apa Kau tidak akan mengucapkan selamat tinggal, atau apapun itu? Wah, rupanya Kau sangat senang jika Aku tak bersamamu, baiklah ... itu tidak masalah Aku akan membuat perhitungan denganmu nanti setelah tugasku selesai,” kata Xiǎoyù menghibur, Dia sedari tadi telah memperhatikan raut kesedihan Kakek yang sengaja di sembunyikannya.
“Aiyo ... Anak ini, percuma jika mengatakan hal seperti itu, Kau tak akan mengingatnya,” kata Kakek yang kini mulai memutar Lingkaran Patkwa dengan kekuatannya.
“Apa? Maksudmu ... Aku akan ....”
Xiǎoyù tak sempat melanjutkan pembicaraannya karena dirinya telah pergi dari pandangan Kakek.
“Xiǎoyù ... Xiǎoyù ... Hah, Anak ini baru saja pergi, Aku bahkan sudah merindukannya,” kata Kakek sambil mulai berjalan pergi meninggalkan ruangan itu.
*Pena menari seperti tahu kesedihan hati, seolah menulis kenangan di masa lalu.
*Mengorbankan hati untuk sebuah kedamaian, entah mengapa cerita ini di buat.
Ini hanyalah cerita, yang terekam di balik pejaman mata, Jangan tanyakan kenyataan, itu sangatlah pahit*.
*Mendambakan seseorang itu adalah hasrat, tetapi bukan itu maksud ceritanya.
Menceritakan kehidupan, seakan kiranya sang penguasa.
Ini bukan tentang orang bijak, tetapi tentang bagaimana menanti genggaman*.
***
Kekuatan cahaya mulai memudar, seiring terbukanya pejaman mata, ingatan Táohuā telah pulih bahkan tak ada yang tertinggal, semuanya telah kembali.
Táohuā tak mampu lagi mengatakan hal apapun, air mata terus saja mengalir di pipinya, dia terus memandangi Pria yang sejak tadi berada di depannya, dan masih saja menggenggam tangannya.
Ya ... tentu saja Liánhuā, Pasangannya yang dengan sabar menanti waktu untuk bersama, dan terus saja berusaha memulihkan ingatannya.
“Liánhuā ...” kata Táohuā Sambil terus menangis.
Liánhuā yang mendengarkan panggilan itu, langsung memeluk Táohuā dengan begitu erat, panggilan yang sangat dia rindukan selama ini dalam penantiannya.
Liánhuā mulai menyeka air mata genggamannya itu, sambil berkata
“Sudahlah, berhentilah menangis, Aku akan selalu ada bersamamu, dan sekarang telah menggenggammu kembali.”
Kini giliran Táohuā yang memeluk Liánhuā kembali, seolah masih merasakan kesedihan dalam hatinya.
“Liánhuā, maafkan Aku, ini jelas salahku.”
“Ini bukan salahmu, tak ada yang perlu di salahkan, semuanya jelas Rencana Langit jadi berhentilah menyalahkan dirimu.”
Táohuā mulai melepaskan pelukannya, di ikuti dengan kecupan Liánhuā di keningnya, keduanya mulai tersenyum, dan saling memandang dengan waktu yang lama seakan sedang melepas seluruh kerinduan yang masih tersisa dalam benak mereka berdua.
“Ayo keluar semua telah menantimu,” kata Liánhuā sambil mengulurkan tangannya.
“Baiklah, ah ... tunggu sebentar, apa Aku terlihat berantakan?” tanya Táohuā memulai tingkahnya.
Liánhuā hanya bisa tersenyum melihat tingkah konyol yang selalu dirindukannya itu, dia pun mulai berpura-pura membenahi rambut Táohuā.
“Selesai, ayo keluar,” kata Liánhuā meyakini Pasangannya itu bahwa dirinya benar-benar telah rapi.
“Aiyo ... sebentar, apa Mereka tidak akan menyerangku saat Aku keluar? Ah itu tidak mungkin terjadi, apa jangan-jangan ... Mereka akan memelukku, benarkah itu? Wah ... Mereka benar-benar begitu mengagumiku,” kata Táohuā yang mulai berada dalam imajinasi konyolnya.
“Mereka akan membunuhmu saat Kau keluar nanti,” kata Liánhuā yang berusaha membuyarkan lamunan konyol pasangannya itu.
“Wah, Kau kejam sekali, Kau pikir Aku adalah Hewan buruan.”
Liánhuā tersenyum dan mulai mengajak Táohuā untuk keluar, kali ini dia mulai menurutinya.