The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 31. Arloji Kuno



Dao mulai mengingat saat pertama kali bertemu Pria yang wajahnya mirip Liánhuā, tapi pikirannya kembali terganggu dengan keramaian yang ada di bus, hanya berharap secepatnya bisa sampai di rumah.


Bus berhenti tepat di halte depan rumahnya, Dao bergegas turun, “Lala, sampai bertemu lagi ....” sambil melambaikan tangan tanpa memandang temannya, Lala membalas lambaian tangannya dengan wajah yang bingung.


Dao bergegas menuju kamar, ia mulai membongkar tempat riasnya, mencari barang yang pernah di berikan Pria itu kepadanya, mencari di semua tempat hingga akhirnya ia temukan di bawah bantal, "Ah, di sini Kau rupanya."


Barang yang terlihat seperti arloji kuno berbentuk bulat pipih, berwarna keemasan dengan ukiran bunga di bagian penutupnya dan memiliki rantai yang bisa di jadikan kalung, Dao mengingat kembali cara ia mendapatkan barang tersebut.


**


Pagi yang cerah, Sang Surya kembali menghangatkan Bumi, Dao yang datang lebih awal akan selalu menuju taman kampus lebih dulu untuk menenangkan hati dan pikirannya agar bisa menikmati materi kuliah tanpa keterpaksaan, saat itu belum terlalu banyak mahasiswa yang datang ke kampus, jadi tidak membuat kebisingan yang menurut Dao itu akan mengganggu pikirannya.


Belum sempat menghampiri bangku taman, Dao di kagetkan dengan Seorang Pria yang berlari ke arahnya, terlihat seperti sedang terburu-buru, Dao menatap jelas wajah Pria itu hingga tepat di depan wajahnya, Pria itu pun tanpa permisi memegang tangan Dao dan memberikan barang yang terlihat seperti arloji, sesaat tersenyum ke arah Dao yang terlihat kebingungan, Dao kembali memperhatikan arloji itu, melihatnya secara teliti tanpa menghiraukan yang lainnya, “Barangnya kuno sekali, Aku bahkan memiliki hal yang lebih canggih dari ini, setidaknya ... Dia menggunakan ponsel pintar dan membuang barang kuno ini, bahkan waktunya terlihat tak beraturan, tapi ... untuk apa Dia memberikannya kepadaku?” gumamnya dalam hati.


Dao kembali tersadar bahwa Dia sedang berada tepat di depan Pria itu, Dao bermaksud untuk menanyakan hal ini kepadanya.


“Untuk apa Kau memberikan ....” tak sempat melanjutkan perkataannya karena Pria itu telah pergi, sekilas yang terlihat, dia berlari memasuki lingkaran yang terus berputar berlawanan waktu dan di ikuti beberapa Pria di belakangnya, terlihat seperti sedang mengejar Pria itu, saat semuanya memasuki lingkaran aneh, dengan secepat kilat menghilang entah kemana. Dao terlihat sangat bingung dengan situasi yang di lihatnya, sambil melihat sekelilingnya memastikan apakah hanya dirinya yang melihat hal aneh itu, dan ternyata tak satu pun yang memperhatikan kejadian itu.


Kembali Ia memandang arloji yang tak sedikit pun membuatnya terkesan, “Jelas ini sangat kuno, Kau seharusnya memberiku bunga jika ingin menarik perhatianku, bukan barang kuno seperti ini, cara yang aneh!”


Dao mulai menuju bangku taman, pikirannya mulai bertanya-tanya tentang kejadian yang terlihat tak masuk akal itu, berpikir tak nyata akan tetapi memegang barangnya secara nyata.


Baru akan mengutak-atik arloji itu, tiba-tiba Dao di kagetkan dengan teriakan Lala, “Dao, ayo ke kelas,” Dao langsung memasukkan arloji itu ke dalam tasnya, dan berusaha tak menceritakan apa yang di lihatnya tadi, ia kemudian menghampiri Lala dan menuju kelas bersama.


Di rumah saat malam tiba, ketika Xunzhao tengah sibuk dengan pekerjaannya, Dao kembali mengambil arloji kuno dan memeriksanya, “Cara pakainya bagaimana? Mengapa waktunya terlihat seperti ... hitungan derajat, angkanya pun sangat banyak, jarumnya juga tak hanya tiga bahkan ada yang terlihat seperti benang yang di tegakkan, jelas sulit terlihat bagian jarum yang kecil itu, aneh sekali ... di mana tombol pengaturannya? Bahkan di belakangnya terlihat mulus.”


Dao yang penasaran mulai berpikir untuk membongkarnya, Ia menuju meja belajarnya dan mulai mengambil alat jitunya untuk memperbaiki barang elektronik, hal yang paling dia sukai selain membuat syair. Dao kembali memperhatikan secara jeli barang aneh itu dan akhirnya menemukan celah untuk membukanya, saat telah terbuka terlihat banyak lempengan logam berbentuk gir yang semuanya berkaitan satu sama lain, Dao terlihat bingung dan tak tahu harus bagaimana cara memperbaikinya, Dao mencoba menahan salah satu gir dengan obeng pipihnya yang berukuran sangat kecil, sebagian jarum jam terhenti tetapi lainnya terus berputar, Dao semakin penasaran di buatnya kembali dia mengambil jam beker dan membongkarnya, mencoba menyamakan aturan waktu, kemudian ia kembali membandingkan tempo detik arloji kuno dengan detik yang ada di ponselnya, dan ternyata hanya ada satu jarum saja yang tempo detiknya sama, selebihnya memiliki tempo yang berbeda-beda. Dao mencabut kembali obeng yang menahan putaran gir dan menahan gir lainnya, terjadi perubahan yang berbeda dari sebelumnya, jarum jam berputar berlawanan waktu dan semakin membuatnya lelah saat memikirkannya, pada akhirnya dia mencoba tetap menahan gir tersebut dengan patahan lidi, bermaksud akan melanjutkan observasinya esok hari, Dao kembali menutup bagian belakang arloji kuno itu dan menuju ke kasur sambil terus memandang jarum arloji yang telah memutar berlawanan waktu.


“Ah, ini akan menjadi observasi yang sulit, tetapi Aku menyukai hal ini, Aku akan memperbaikimu esok hari,” sambil terus memandangi arloji kuno hingga terlelap.


**


**


Keesokan paginya, Dao tiba lebih awal tak seperti biasanya, dia menumpang mobil Xunzhao agar lebih cepat sampai. Perasaan yang tak stabil yang di rasakannya kini berganti menjadi rasa penasaran, Dao menuju bangku taman, pagi itu belum terlalu ramai sehingga membuat pikirannya tenang.


“Kejadian kemarin Pria itu juga berdiri di tempat yang sama, mengapa ... arloji itu di berikan kepadaku? Menghilang kemana lingkaran itu?”


Tak lama berselang Tian datang menghampirinya, “Dao, cepatlah mendaftar waktumu hanya tinggal 2 hari lagi, apakah Kau sudah menyiapkan syairnya?”


“Aku ... masih belum membuatnya, kemarin Aku sangat sibuk jadi ... tak sempat memikirkan hal itu, he ... Aku akan berusaha secepatnya”


“Apa Kau sibuk dengan lamunanmu lagi? Ayolah Dao, Kau harus fokus setidaknya untuk lomba ini, soal tugas kampus Aku akan berusaha mengurusnya, Kau harus menang!”


“Wah, Kau baik sekali ... ada apa denganmu? Mengapa ... Kau memaksaku untuk menang? Wajahmu juga tampak kesal.”


“Aku, tak menyukai Suji, entahlah Aku tak membencinya sedikit pun tapi ... Aku hanya sedikit kesal karena semua Mahasiswa memujanya, memuja Seseorang yang tak berada di kampus ini.”


“Oh, begitu ternyata, Pria idola kampus ini mulai tak di perhatikan penggemarnya karena penyair Suji itu, ah ... Aku turut sedih mendengarnya, baiklah ... jika ingin Aku menang mulai sekarang Kau harus mengerjakan semua tugas kampusku, bagaimana menurutmu?”


“Baiklah, itu tidak masalah, selama ... Kau terus lolos setiap tahap, tugasmu akan Aku urus.”


“Astaga, Idola kampus ini sepertinya sedang memanfaatkanku.”


Tian hanya tersenyum mendengar ejekan Dao, dia pun mengajak Dao menuju kelas. Ketika telah berada di kelas Dao mulai menyadari sesuatu.


"Jangan-jangan ... arloji itu yang membuat Aku ...."