The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 34. Pangeran Kerajaan



Xunzhao menatap Dao, dengan wajah yang penuh ribuan tanda tanya, hatinya semakin gelisah karena selama kehidupannya, baru kali ini dia melihat hal yang aneh, dan itu dari saudaranya sendiri.


“Entahlah, Aku akan siap atau tidak mendengarnya, tapi ... kalau Aku tak mengetahuinya, bisa-bisa akan mati penasaran, semuanya telah kulihat dengan jelas dan sekarang sebaiknya Kau ceritakan semuanya, mengapa barang ini ada di tanganmu?”


Dao menarik napas panjang, bersiap untuk menjelaskan semuanya.


“Baiklah, sekarang dengarkan tanpa memotong pembicaraanku dengan pertanyaanmu, ini jelas sangat rumit,” kembali ia memperbaiki cara duduknya agar membuat ia nyaman saat bercerita.


Sesaat memandang Xunzhao dan memulai ceritanya.


“Saat itu Aku baru saja sampai dan akan menuju Taman Kampus, tapi ... tiba-tiba Aku di kagetkan Seorang Pria yang berlari dengan begitu cepat ke arah Ku, ah ... andai saja Pria itu mengikuti lomba lari, pasti Dia akan memenangkannya,” sambil membayangkan lomba lari maraton yang di menangkan pria itu, kembali Dao melanjutkan ceritanya.


“Pria itu tepat di hadapanku, tersenyum sesaat dan memberikan Arloji Kuno ini padaku, tapi ... belum sempat Aku menanyakannya, Pria itu berlalu pergi, sekilas Aku melihat, caranya menghilang sangatlah aneh, Dia memasuki sebuah lingkaran entah dari mana asalnya, lingkaran itu berputar sangat cepat bahkan membuatku mual saat melihatnya, saat Pria itu masuk, ada lagi beberapa Pria yang sepertinya sedang mengejarnya dan juga masuk dalam lingkaran itu, dengan sekejap lingkaran itu menghilang entah kemana bahkan tak ada Seorang pun yang memperhatikan kejadian itu,” Dao diam sejenak dan melanjutkan ceritanya.


“Saat di rumah, Aku segera memeriksa Arloji Kuno ini, hal yang aneh seperti yang Ku lihatkan padamu tetapi saat itu waktunya berjalan mundur, karena pikiranku lelah Aku berniat melanjutkan observasinya besok, dan terus memandangnya hingga tertidur, dan akhirnya ...” Dao menghentikan pembicaraannya, ia khawatir perasaan Xunzhao akan kacau sepertinya, jelas itu tidak akan nyaman.


“Mengapa menghentikannya? Apa yang terjadi?” tanya Xunzhao yang semakin penasaran.


Dao kembali melanjutkan bicaranya, “Xunzhao, jika Kau mengalami hal yang aneh dan perasaanmu menjadi kacau, ceritakan semuanya padaku, setidaknya ...bisa mengurangi kegelisahanmu, setidaknya ... masih ada yang memercayai cerita anehmu, berjanjilah tak akan menceritakan kepada siapa pun selain kepadaku, sepertinya ... ini akan jadi Rahasia terbesar Kita, Aku hanya berpikir akan terjadi hal yang buruk jika Barang ini jatuh di tangan orang lain,” melihat kegelisahan yang tampak di wajah Dao, Xunzhao hanya membalasnya dengan anggukan kepala.


Dao kembali melanjutkannya, “Saat Aku tertidur, Aku bermimpi hal yang aneh, bahkan sangat panjang dan orang-orang yang ada di dalamnya sebagian ada dalam nyata, salah satunya ... Kau Xunzhao, kemudian Jian dan Istrinya, yang belum pernah Aku lihat sebelumnya, termasuk Pria yang memberikan Arloji ini, Dia bernama Liánhuā dan merupakan Pasanganku, entahlah bagaimana bisa di bilang tak nyata jika Aku melihatnya dalam nyata.”


Xunzhao mulai mengerti sekarang mengapa Dao terlihat aneh saat di Acara Pernikahan itu, “Pantas saja Kau terlihat aneh saat di acara itu, rupanya itu alasannya? Ah, pikiranku akan benar-benar kacau saat ini.”


“Xunzhao, Aku sudah mengubah putaran girnya dengan dua alur putaran yang saling berlawanan, Aku jadi penasaran, bagaimana ... kalau Kau menggenggamnya dalam tidur, jika terjadi hal yang aneh ceritakan semuanya padaku, Aku akan membongkar semua teka-teki dalam pikiranku ini, apa ... Kau bersedia melakukannya?”


Xunzhao diam sejenak mencoba melepas semua kekhawatirannya, “Hah, baiklah ... berikan padaku.”


Dao pun memberikan Arloji Kuno itu kepadanya, “Sudah larut, ayo Kita tidur, tenangkan pikiranmu, itu akan membuatmu membaik.”


Xunzhao membalas dengan anggukan dan langsung kembali ke tempat tidurnya, mereka pun terlelap.


***


[Hijau, Subur, Elok, terlihat jelas dari Perbatasan, menunggangi Kuda menuju Ibu Kota.]


[Singgah sebentar di Lembah Sungai Wei, membersihkan diri sambil meneguk air.]


[Berjalan di Wilayah Tanah Air, tak ada yang perlu di takuti.]


Perjalanan waktu tak ada yang bisa menerka, meski siang dan malam tak bisa di hentikan, siapa sangka bisa melakukannya. Hari yang cerah, Matahari memuntahkan cahayanya, Dinasti Tang, kehidupan baru Gadis itu di mulai.


Berawal dari Masa Kejayaan Dinasti Tang, terdapat Kerajaan Kecil di Wilayah Tibet bagian Timur, masih termasuk Wilayah Kekuasaan Kerajaan Tang.


Kaisar yang juga bijaksana, selalu mendengarkan semua pendapat, baik dari Perdana Menteri, Kepala Kemiliteran, dan bahkan Ketua Kelompok Masyarakat yang ada di bagian wilayahnya, entah itu akan menjadi hal buruk atau baik soal kebijaksanaannya itu, tak ada yang bisa menebaknya sekarang.


Permaisuri memiliki 4 anak laki-laki sedangkan selir kaisar memiliki satu anak laki-laki dan satu anak perempuan.


Ke Empat Anak Permaisuri masing-masing di beri Nama,


Li Shuǐlóng (kakak pertama)


Li De Lóng (kakak kedua)


Li Lóng Huǒ (kakak ketiga) dan


Li Jīnlóng (kakak ke empat)


Dan Kedua Anak Selir Bernama,


Li Kàn Yún (anak pertama laki-laki)


Li Yōuměi (adik perempuan)


Setiap Kerajaan selalu saja ada muslihat yang terjadi di dalamnya, entah itu di karena kan dari wilayah luar yang ingin berkuasa atau bahkan sebaliknya bagian dari Kerajaan itu sendiri yang menginginkan Tahta, semuanya tak bisa di duga.


Ke empat pangeran dari permaisuri memilih ikut andil di bagian Kemiliteran, masing-masing memiliki keahlian. Para dewa yang turut ikut andil dalam cerita Kejayaan Dinasti Tang membuat banyak Para Pendekar memiliki Kekuatan Dewa termasuk ke Empat Anak Permaisuri itu sendiri.


Li Shuǐlóng, Pangeran Pertama ini memilih bagian Pemantauan dalam kemiliteran, karena sifatnya yang dingin dan tak banyak bicara, selalu senang berkelana dan lebih memilih berada dalam kesunyian di luar Istana, jarang berada dalam Istana, dia akan ada kecuali memiliki kepentingan mendesak dan di perlukan dalam kemiliteran, selebihnya dia memilih tinggal di Paviliun miliknya.


Seperti Pangeran lain pada umumnya, Li Shuǐlóng juga memiliki Pengawal Setia yang selalu ada saat dia perlukan, Bīng Lín adalah Nama Pengawal setianya, seorang pria yang juga gagah dan tak perlu di ragukan lagi soal kekuatannya akan melakukan hal apapun yang di perintahkan oleh Pangeran Li Shuǐlóng, selalu mengikutinya di mana pun Pangeran itu akan pergi, umpamanya Sisik Naga yang melekat dalam tubuh Naga itu sendiri.


Pangeran Shuǐlóng memiliki julukan Pendekar Naga Putih, semua Para Pendekar mengenal julukan itu di bandingkan dirinya yang seorang Pangeran Utama.


Julukan itu di sematkan karena kekuatan bicaranya yang mampu melumpuhkan lawan sebelum melakukan peperangan ataupun perlawanan, jelas berbeda dengan sifatnya yang pendiam dan tak banyak bicara.


Memilih tinggal sendiri dirasanya nyaman karena tidak terlalu banyak melihat kemunafikan yang terjadi di dalam Istana, bahkan hanya dengan menatapnya saja dia akan tahu siapa saja yang melakukan kelicikan di dalamnya, tetapi untuk memiliki bukti itu sangatlah sulit, kebusukan ditutupi kebusukan lainnya jelas nyata di pandangan bahkan tak bisa melakukan apa-apa, itu sebabnya ia tak ingin mengambil alih Tahta Kerajaan, baginya bergelut di dalam Istana akan sama seperti mati sia-sia.


Seperti sekarang ini, di akhir Musim Gugur dia memilih tinggal di kaki bukit, melakukan pertapaan untuk menyempurnakan kekuatannya, hingga berusaha menahan dingin di tengah badai bersalju, sementara Pengawal Setianya disuruhnya tinggal dalam Paviliun miliknya, menampung semua informasi kemiliteran yang masuk, dan merampungkan hal militer yang menurutnya bisa dirampungkannya sendiri tanpa harus menunggu perintah dari Pangeran Li Shuǐlóng.


Siang dan malam terus berganti, peperangan karena perebutan wilayah, ikut andil dalam Militer Ibukota Kerajaan Tang, sudah tentu hal biasa baginya, dan tak akan ada yang bisa memaksanya untuk ikut turun berperang, semuanya tergantung hatinya ingin melawan atau diam saja, terlihat seperti pemberontak tetapi selalu menjaga wilayahnya tetap aman.


Khas Tarian Pedang Es, tak ada yang berani mendekat jika ia berjalan maju bersama pedangnya, hanya menikmati peperangan di balik pepohonan bahkan juga berada di atas pohon, terus memantau dan akan turun hanya di saat-saat genting saja.


Pangeran ini tak menyukai peperangan, tetapi ia harus melakukannya dengan alasan menjaga setiap orang terdekatnya terutama ke tiga adiknya.


Kehidupan akan terus berubah, seiring musim berganti, putaran waktu pun tak terelakkan, bahkan ia tak akan tahu nasibnya selanjutnya.