
Pangeran Shuǐlóng melempar batu tepat di dekat Seekor Kelinci, saat seorang prajurit itu menoleh kembali ke arah bunyi yang baru di dengarnya, dia meliat seekor kelinci itu, sehingga tak lagi menaruh curiga bahwa ada seseorang di sana, tak berpikir panjang prajurit itu berbalik dan bergabung kembali dengan prajurit lainnya. Mereka ternyata tak cuma menyeret paksa ayah Huálì, tetapi juga mengambil barang berharga yang ada di rumahnya. Karena ayah Huálì yang juga adalah seorang perampok maka tak heran mereka juga melakulan hal yang sama atas perintah Pangeran Kàn Yún.
Kemarahan yang tak bisa lagi di tahan oleh Huálì, membuatnya memaksakan diri untuk melawan, akan tetapi Pangeran Shuǐlóng menahannya dan segera membawanya pergi untuk ikut bersamanya, cara yang sedikit memaksa, dengan menggandeng erat tangan Huálì dan membawanya dengan kekuatan meringankan tubuh yang Pangeran Shuǐlóng miliki. Tak bisa melakukan apapun, hingga tiba di jalan setapak yang berada cukup jauh dari rumahnya. Huálì menarik paksa lengannya yang masih saja dalam pegangan erat pangeran Shuǐlóng yang juga masih tak menyadari hal itu.
"Lepaskan tanganku! Mengapa Kau membawaku kemari, Aku akan membuat perhitungan dengan Mereka," ucapan lantang dari Huálì yang bergerak pergi untuk kembali lagi ke rumahnya bermaksud melawan Para Prajurit yang telah membuat keonaran di rumahnya.
Melihat hal itu, Pangeran Shuǐlóng dengan cepat menahan kepergiannya dan sekali lagi menarik tangannya, karena cara tiba-tiba itulah membuat Huálì hilang keseimbangan saat melangkah, Ia hampir terjungkal, untung saja Pangeran Shuǐlóng tepat berada di belakangnya. Tubuh Huálì kini menumpu pada satu tangan milik Pangeran Shuǐlóng, kembali saling menatap cukup lama entah sepersekian detik lamanya, bahkan terlihat seperti waktu seakan terhenti kala itu karena posisi yang masih saja sama.
Posisi yang baru tersadarkan ketika suara burung elang melintasi cakrawala, suara yang begitu melengking seakan membuyarkan lamunan Keduanya, "Menjauhlah, jangan mengambil kesempatan lagi. Dasar Pria tidak tahu malu," ucap Huálì sambil bergerak mundur saat bangkit dari posisi sebelumnya.
"Nona, mengapa Kau terus menyalahkanku? Aku hanya melarangmu untuk pergi. Apa Kau mengenal Pria kejam itu? Dia tak memiliki belas kasihan sama sekali meski Kau bersujud di hadapannya" ujar Pangeran Shuǐlóng.
"Lantas bagaimana denganmu? Terlihat seperti Pendekar, bahkan melihat orang tak bersalah di seret dengan paksa, Kau hanya diam saja," jawab Huálì kesal.
"Jangan menuduh Seseorang jika tak tahu alasan sebenarnya. Jika Kau ingin mengetahui semuanya maka ikutlah denganku," balas Pangeran Shuǐlóng yang sebenarnya mulai mengkhawatirkan Huálì jika harus tinggal sendiri di tempatnya yang telah berantakan.
"Kau tidak sedang bercanda bukan? Aku ikut denganmu? Apa Aku tidak salah dengar? Kau pikir Aku akan semudah itu Kau bohongi?" ucap Huálì yang masih saja ragu, akan tetapi hatinya tak bisa di bohongi kalau rasa penasaran dengan perkataan Pangeran Shuǐlóng masih saja bermain dalam pikirannya.
"Baiklah, Aku tidak akan memaksamu untuk ikut. Aku pergi sekarang, jaga dirimu Nona ...." balas Pangeran Shuǐlóng, yang seolah tahu jika Huálì mulai penasaran dengan apa yang di katakannya. Ia pun berjalan perlahan meninggalkan Huálì.
"Bagaimana jika yang di katakan pria itu ada benarnya. Apa ada sesuatu yang terjadi tanpa Aku ketahui? Ah entahlah, ada baiknya Aku ikut dengannya. Mungkin saja Aku bisa mengetahui sesuatu," gumam Huálì yang mencoba mengikuti perasaannya sambil memandangi bunga yang masih saja di genggamnya sejak tadi.
"Hei, tunggu! Aku akan ikut denganmu," teriak Huálì sembari melangkah cepat untuk menyusul Pangeran Shuǐlóng.
Pangeran Shuǐlóng yang tengah bersiap untuk menaiki kudanya, kini mulai tersenyum karena berhasil mengajak Huálì ikut dengannya. Saat Huálì telah berada di dekatnya, Ia pun kembali menyembunyikan senyuman yang memang jarang Ia tampilkan itu.
"Ada apa? Apa Kau berubah pikiran?" ujar Pangeran Shuǐlóng sedikit meledek. Huálì pun menjawabnya dengan anggukan.
"Kalau begitu, naiklah!" titah Pangeran Shuǐlóng mempersilahkannya naik lebih dulu.
"Apa? Aku? Menaiki Kuda bersamamu? Tidak! Itu tidak mungkin!" kata Huálì menolak.
"Nona, jarak yang Kita tempuh akan sangat jauh. Apa Kau memiliki tunggangan lainnya?"
"Kalau begitu naiklah, jika tidak silahkan ikuti Aku sambil berjalan kaki." ucap kesal Pangeran Shuǐlóng yang mempersilahkan Huálì sekali lagi untuk naik.
Akhirnya Huálì dengan terpaksa naik tetapi sedikit waspada. Pangeran Shuǐlóng pun ikut naik setelahnya. Kembali lagi dalam posisi yang begitu dekat, tak ada kata apapun yang terjadi sepanjang perjalanan menuju tempat kediaman Pangeran Li De Lóng, di karenakan rasa canggung dari Keduanya.
***
Di Kediaman Pangeran Li De Lóng.
Yi Lan yang kini telah duduk di selasar rumah, mulai terlihat cemas, "Mengapa lama sekali Mereka tiba, apa terjadi sesuatu yang tak Aku ketahui? Hah bodohnya Aku tak bisa menghitung waktu," gumam Yi Lan dalam hati sambil terus memandangi jalan setapak.
Tak lama Pangeran Li De Lóng keluar dari dalam rumahnya, "Masih menunggu Tamu Misterius itu? Apa Mereka benar-benar akan tiba hari ini?" tanya Pangeran Li De Lóng yang kini telah duduk di dekat Yi Lan.
Yi Lan pun hanya menjawabnya dengan anggukan lesu, masih dengan wajah yang sedikit cemas.
Dari kejauhan terdengar suara Kuda berlari menuju ke arah kediaman mereka. Yi lan mulai menampakkan senyumannya, akan tetapi wajahnya kembali berubah lesu karena yang datang bukanlah Tamu Misterius itu melainkan Pangeran Lóng Huǒ.
Tiba di halaman rumah, dan menyapa Keduanya, "Hai Kakak, hai Gadis manis. Perbaiki wajahmu mengapa cemberut begitu?" kata pangeran Lóng Huǒ ketika menginjak selasar rumah.
"Apa ini yang Kau maksud dengan Tamu Misterius itu?" tanya Pangeran Li De Lóng
"Bukan Kakak ... bagaimana bisa mengatakan Kakak Ketiga adalah Tamu Misterius jika Kau mengenalinya Kakak...."
Lóng Huǒ yang juga mendengarkan percakapan itu, kini menjadi penasaran, Ia pun mulai menanggapi perkataan Adiknya, "Tamu Misterius? Apa kalian tengah menanti Seseorang? Tapi mengapa harus mengatakannya sebagai Tamu Misterius?"
Yi Lan terlihat kesal dengan pertanyaan dari Kedua Kakaknya yang mengganggu pikirannya, "Kakak, jika Kau juga penasaran dengan Tamu Misterius itu ada baiknya tunggu sampai Ia datang, akan percuma jika harus menjelaskannya saat ini, karena bukan Aku yang akan menjelaskan semuanya, tetapi Seseorang yang akan membawanya kesinilah yang akan menceritakan semuanya."
Ucapan yang membuat Kedua Kakaknya semakin penasaran. Pangeran Lóng Huǒ pun mulai mendekat ke arah Pangeran Kedua sambil membisikkan sesuatu, "Kakak apa Kau tak merasakan ada yang aneh dengan Adik Kita?"
"Entahlah, Lóng Huǒ tapi sepertinya ... Yi Lan terlihat serius dengan apa yang di katakannya, bahkan sejak kemarin Ia telah mengatakan hal yang aneh itu. Sudahlah, Kita lihat nanti setelah Tamu Misterius yang di katakan Yi Lan itu tiba," bisik Pangeran Li De Lóng kembali.