The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 61. Persidangan.



Istana.


Pagi kembali menyapa, suara Burung bersiul saling beradu, membuat keceriaan di Dunia yang penuh kepalsuan. Terlihat Pangeran Lóng Huǒ memasuki halaman Istana dengan menunggangi kuda, nampak jelas wajah sangar yang tak bisa di sembunyikannya. Mengingat semua masalah yang datang beruntun tanpa jeda, membuat kemarahan dalam hatinya tergambar jelas dalam raut wajah.


Tak seperti biasa, selalu Pangeran Jīnlóng menyambutnya, tapi kini tidak lagi, Ia berjalan sendiri menuju Ruang Pertemuan Istana. Berjalan melewati Koridor Istana, bahkan setiap teguran tak lagi di hiraukannya, dalam pikirannya hanyalah ingin menuntaskan semua masalah saat ini dan menanti masalah baru yang telah musuh persiapkan.


Tiba di Ruang Pertemuan, Pangeran Jīnlóng telah nampak di sana dan sedang duduk sambil menulis sebuah syair yang biasa Ia lakukan ketika pikirannya sedang kacau. Tanpa mencari tempat lagi, Pangeran Lóng Huǒ langsung duduk di sebelah Adik Keempatnya, masih saja dengan wajah sangarnya tak lagi meladeni sapaan dari Para Perdana Menteri yang juga hadir dalam sidang Perdana Menteri Li Feng.


Semuanya masih sibuk dalam perbincangan masing-masing sembari menunggu Kaisar tiba. Tak nampak dalam Ruangan, sosok yang penuh ambisi itu, Pangeran Kàn Yún. Kedua Pangeran itupun tak memperdulikan hal itu, karena mereka tahu dan telah terbiasa melihat Pangeran Kàn Yún akan berjalan dengan gagahnya di belakang Kaisar, agar bisa terus mengambil simpati darinya.


"Kakak, apa Kau membawanya?" tanya Pangeran Jīnlóng dengan bersikap santai sambil terus menulis syair tanpa memandang Kakak Ketiganya.


"Tentu saja!" jawaban singkat dari Pangeran Lóng Huǒ, sambil sesekali merapikan baju dan sepatunya.


Mendengar jawaban singkat dari Kakaknya, Ia pun langsung menghentikan tulisannya dan langsung menengok ke arah Kakak Ketiganya,"Apa yang sedang Kau lakukan? Kendalikan emosimu."


"Aku sedang memperbaiki sepatuku agar bisa dengan mudah menendangnya ketika akan menyeretnya keluar Istana," jawab kesal dari Pangeran Lóng Huǒ.


Pangeran Jīnlóng langsung tersenyum mendengar perkataan konyol dengan wajah sangar dari Kakaknya, sesaat Ia terdiam dan mengingat sesuatu, "Kakak, apa Kau ingat perkataan Yi Lan kemarin kepadamu?" sambil sedikit berbisik.


"Iya, Aku mengingatnya. Hah, perkataan Yi Lan yang tak bisa di bilang tidak masuk akal itu, membuatku ragu untuk mengikuti sidang ini. Anak itu tak pernah berkata bohong, itu hal yang paling utama ketika mendengar setiap ucapan yang keluar dari mulutnya, meski aneh tapi Aku mempercayai Anak itu, seolah pikirannya telah melangkah lebih dulu sebelum kita melakukannya.Tapi ... yang Aku herankan, mengapa Yi Lan tak pernah menjelaskan secara rinci apa yang sebenarnya terjadi, membuat penasaran bahkan untuk dirinya sendiri," ungkap Pangeran Lóng Huǒ yang juga ikut memelankan suaranya.


"Kita lihat nanti seperti apa, bahkan Kita tak bisa lari dari kenyataan saat ini," ucap Pangeran Jīnlóng yang kembali melanjutkan tulisannya.


Pangeran Lóng Huǒ pun hanya menjawabnya dengan anggukan dan mulai menyamankan posisi duduknya.


Tiba-tiba terdengar suara lantang dari salah seorang Prajurit, seakan menggema dalam ruangan, "Yang Mulia, akan memasuki ruangan ...."


Mendengar ucapan lantang itu, seluruh Anggota Kerajaan yang telah hadir segera berdiri dan membungkukkan badannya, "Hormat Yang Mulia," ucapan serentak dari seluruh Anggota Kerajaan.


Sesuai dugaan dari Kedua Pangeran, telah berjalan dengan langkah gagahnya penuh kesombongan, tanpa menampakkan wajah kekhawatiran sama sekali. Pangeran Kàn Yún berada tepat di belakang Kaisar, bersama dengan Pangeran Utara yang juga tampak hadir dalam Persidangan. Pangeran Kàn Yún langsung mengambil tempat sambil menoleh ke arah Kedua Pangeran dengan wajah sinis. begitupun dengan Pangeran Utara yang lebih memilih tempat di dekat Pangeran Jīnlóng, karena suatu alasan telah memiliki keakraban dengannya.


"Salam Pangeran, sepertinya Aku agak terlambat kali ini. Akhir-akhir ini aku begitu tertarik dengan barang dagangan yang ada di wilayah kerajaan ini, hingga tak terhitung telah berapa kali aku mengunjungi pusat perdagangan itu. Aku melihat Kalian begitu sibuk, bahkan belum sempat melakukan strategi untuk perluasan wilayah, karena masalah kerajaan, jadi Aku menyibukkan waktuku untuk berjalan-jalan sambil menunggu masalah ini selesai," tutur Pangeran Utara.


"Maaf telah membuatmu melakukan hal yang menyenangkan itu tanpa seorang Teman, Aku akan membayarnya nanti jika masalah ini telah selesai, Aku akan pastikan hal itu," ucap Pangeran Jīnlóng mengungkapkan rasa bersalahnya.


"Jangan sungkan Pangeran Jīnlóng, baiklah Aku akan menagihnya nanti," balas Pangeran Běiduān sembari melemparkan senyumannya ke arah Kedua Pangeran itu.


Kaisar yang telah duduk rapi di tahtanya, kini memandangi seluruh Anggota yang hadir. Pandangan Kaisar tepat mengarah pada Kedua Pangeran, " Pangeran Jīnlóng, dimana yang lainnya, mengapa tak menghadiri sidang. Bukankah, Aku memerintahkanmu untuk mengundangnya?" tanya Kaisar.


"Maaf Yang Mulia, Kedua Pangeran yang lainnya sedang memantau Perbatasan, menggantikan tugas Pangeran Ketiga, jadi belum bisa menyempatkan untuk hadir di sidang ini," jawab Pangeran Jīnlóng menjelaskan.


"Harusnya Mereka hadir untuk ikut membahas masalah ini, tapi sudahlah jika alasannya seperti itu, akan sangat buruk nantinya kalau urusan yang lainnya juga ikut terbengkalai," ucap Kaisar.


Kembali memandangi seluruh Anggota Kerajaan, sembari berkata, "Baiklah, ayo Kita mulai saja Persidangannya," titah Kaisar kepada seluruh Anggota yang hadir.


Mendengar perintah dari Kaisar, salah Seorang Perdana Menteri Kerajaan yang bernama Li Yīng maju kedepan untuk membacakan Perihal masalah Perdana Menteri Li Feng.


Dengan suara lantang Perdana Menteri Li Yīng itu membacakannya, "Perdana Menteri Li Feng, aktif menjalankan tugas Kerajaan dalam bidang Perdagangan, keberhasilan yang terlihat atas meningkatnya sumber penghasilan yang tertata dan sudah banyak menguntungkan pihak Istana dan para pedagang akan hal itu. Tetapi berdasarkan kasus yang di dapati bahwa terjadinya Pemberontakan merupakan rencana yang telah di atur Perdana Menteri Li Feng dan atas hal itu Perdana Menteri Li Feng terbukti bersalah. Kasus berkelanjutan atas kematian Perdana Menteri Li Feng memberikan banyak pertanyaan serta ada kemungkinan faktor kematian Perdana Menteri Li Feng ada hubungannya dengan rencana yang telah di buatnya. Pembuktian atas faktor kematian masih belum jelas, Kasus ini kami serahkan kembali kepada Kaisar untuk memutuskan hasil akhirnya," setelah membacakannya Perdana Menteri Li Yīng kembali ke posisi semula.


Sesaat suasana menjadi hening, karena menanti ucapan dari Kaisar, Pangeran Kàn Yún pun mulai berpikir untuk memanfaatkan keadaan, "Aku harus lebih dulu memulainya, agar Anggota lainnya terutama Kaisar bisa terpengaruh dan membenarkan pendapatku lebih dulu, sehingga Kedua Orang Pengacau itu tak bisa lagi bisa berkutik," ucap sinis Pangeran Kàn Yún di dalam hatinya


Pangeran Kàn Yún, yang terlihat telah bersiap untuk maju, sambil sesekali memberi kode kepada beberapa Perdana Menteri yang juga telah bersekutu dengannya agar bisa memancing keadaan ketika Ia bersuara, ketika akan melangkah maju, Kaisar kembali bersuara membuat langkah Pangeran Kàn Yún terhenti. Terlihat jelas kekesalannya dari kepalan tangan yang seolah ingin memukul seseorang.


"Sialan!" ucap geram Pangeran Kàn Yún