The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 2. Penantian Waktu



" Sudah waktunya," gumamnya dalam hati.


" Jiějiě ada apa denganmu? Mengapa Kau diam? Apa Kau menyembunyikan sesuatu? Ayolah beritahu, Aku bahkan telah hidup lama bersamamu, tapi Kau tak pernah memberitahukan apa yang Kau ketahui, bukankah itu menyebalkan?"


"Aku bukan tidak ingin memberitahumu, hanya saja ... sekalipun Aku mengatakan yang sebenarnya, tak akan ada yang bisa menentang Alam, takdir yang di berikan langit, itulah yang harus di jalani, yang bisa di ubah hanyalah hati, jika suatu saat hal yang buruk itu akan terjadi, kendalikan hatimu dan jadilah baik , buatlah kekuatan mu untuk kebaikan"


"Baiklah, akan Aku lakukan sebisaku, tapi mengapa Aku merasa seperti kehilangan?" jawab Mèimei dengan wajah tampak gelisah.


"Sudahlah, jangan memikirkan apa yang belum terjadi, sudah larut ayo kita tidur."


Kedua sahabat itu kembali ke gubuk untuk tidur.


***


Di waktu yang sama, jauh di seberang bukit tempat yang sangat gelap terdapat Markas Sekte Bayangan, masalah yang rumit telah terjadi di dalamnya, siapapun ingin menjadi penguasa.


Perkumpulan ini awalnya bernama Sekte Iblis dan sekarang terpisah menjadi Sekte Tulang Putih dan Sekte Bayangan, inilah yang membuatnya menjadi rumit. Sekte Bayangan memiliki ambisi besar untuk melampaui kekuatannya, Sekte ini akan terus mencari kekuatan Dewa yang turun ke bumi dan menyerap kekuatannya, lain halnya dengan Sekte Tulang Putih meski berada di Dunia Iblis mereka selalu berkerja sama dengan Dewa untuk menumpas Para Iblis yang melenceng dari aturan seperti Sekte Bayangan.


Hóng Wūyā (iblis gagak merah) nama dari Ketua Perkumpulan Sekte Bayangan, wajahnya yang mengerikan, merah dan memiliki tanduk layaknya kerbau, rambut dibiarkannya terurai berantakan, membuat semua ketakutan saat berhadapan dengannya.


Saat ini Sekte Bayangan memiliki rencana baru, mereka seolah telah mencium aroma Kekuatan Iblis yang besar dan kuat, tetapi masih ragu menentukan siapa pemilik kekuatan itu sebenarnya, mereka sangat yakin jika dapat menyerap kekuatan itu, tak perlu lagi menyerap seluruh kekuatan Dewa yang ada di bumi dan akan menjadi Sekte yang tak terkalahkan dan mampu menguasai Bumi.


Di satu sisi Sekte Tulang Putih yang kini di kKetuai Liánhuā, pria yang telah hidup sekitar ratusan tahun tetapi tak sedikitpun terlihat tua, wajahnya yang rupawan membuat banyak Dewi mengaguminya tanpa memikirkan usianya.


Liánhuā tak merencanakan apapun untuk menyelamatkan Kedua Dewi itu. hanya saja dia yakin Sekte Bayangan tak akan mendapatkan kekuatannya, bahkan Liánhuā menyadari diapun tak akan mampu menangani kemarahan Dewi nantinya, dia hanya menunggu waktu kapan saatnya untuk ikut campur dan untuk saat ini dia akan tetap memantau dari kejauhan.


***


Tempat Sekte Bayangan.


Informasi baru yang di dapat saat ini, "Lapor Ketua, kami menemukannya, yang memilikinya adalah Seorang Dewi tapi kami belum begitu yakin siapa diantara Mereka berdua yang memilikinya," kata Anggota Sekte Bayangan yang sedang menghadap sembari membungkuk menghormati ketuanya dengan penuh ketakutan.


"Seorang Dewi? Rupanya langit sudah merencanakan sesuatu, baiklah, lakukan rencana selanjutnya, panggilkan Yín Gōng, (seorang pria yang memiliki kekuatan panah berapi) suruh Dia menghadap."


Tak lama berselang, Yín Gōng pun datang.


"Yín Gōng menghadap," jawabnya dengan membungkuk untuk memberi hormat


"Apa Kau sudah membuatnya?"


"Sudah Ketua, tetapi ... kekuatannya hanya sekali panah saja," jawab Yín Gōng


"Baiklah, lakukanlah tugasmu pastikan tepat sasaran, Kau harus memperhatikan siapa Dewi yang memilikinya, jika Kau salah maka kita akan berada dalam masalah dan Kau tidak akan selamat."


"Baik ketua," Yín Gōng bergerak pergi menuju tempat kejadian perkara.


***


Pagi pun tiba, Jiějiě dan Mèimei kali ini terbangun bersama, Mèimei yang tak biasa melihat moment ini langsung saja memulai pembicaraannya.


"Ada apa ini ... tidak seperti biasanya, bukankah ... Kau akan lebih dulu menghilang dan Aku pada akhirnya?"


Jiějiě yang tak mempedulikannya langsung beranjak pergi untuk melihat tanaman bunganya.


"Baiklah, Aku akan memasak, Aku sudah terbiasa dengan cara mu yang tak menyapa dan langsung pergi itu," Jiějiě pun berbalik dan menyapa.


"Bagaimana kabarmu hari ini? Apa kau baik-baik saja? Apa tidur mu nyenyak semalam?"


Mèimei sontak kaget dengan pertanyaan yang berentetan itu.


"A ... apa yang kau lakukan barusan? Aku baik-baik saja, mengapa tiba-tiba menanyakan kabar? Aneh sekali apa kau sedang mengigau?"


"Bukankah terlihat aneh jika Aku melakukannya?" jawab Jiějiě dan langsung beranjak pergi.


"Yang benar saja, itu jelas sangat aneh, wah ... Dia benar-benar sedang membodohiku."


Mèimei menoleh kearah Jiějiě yang begitu serius merawat bunganya,Mèimei pun menghampirinya.


"Jiějiě, apa yang Kau lakukan? Mengapa pertumbuhannya lambat sekali, bahkan Kau begitu sabar merawatnya, harusnya ... Kau mempercepat pertumbuhannya agar segera terlihat tanpa perlu menunggu, jangan sampai Kau tak sempat menikmati keindahannya."


Jiějiě sontak terdiam, Mèimei yang sadar dengan ucapan anehnya itu seolah merasa bersalah, dia pun langsung mengalihkan pembicaraannya.


"Jiějiě, apa Kau ingin melihat kekuatan ku? Aku ingin mencobanya, Kau lihat ini."


Mèimei mengarahkan kekuatannya pada tanaman bunga dan tiba-tiba tanaman itu membesar melampaui besar normalnya dan tumbuh sangat lebat.


"Mèimei ... mengapa Kau lakukan itu? Aiyo ..."


"Ha ... ha ... ha ... Aku bisa melakukannya, Jiějiě, lihatlah, Aku bisa terbang, ayo coba kejar Aku," Jiějiě tersenyum melihat Mèimei yang begitu bahagia dengan pulihnya kekuatan.


"Jiějiě, mana kekuatan mu, ayo perlihatkan padaku, Jiějiě, ayolah kejar Aku."


Jiějiě menggelengkan kepalanya, dalam hati dia berkata, "Kau tak pernah tahu yang terjadi, sebenarnya ... kekuatanku telah melemah."


Kembali beralih ke Mèimei


"Hei ... kembalilah! jangan terlalu jauh."


Jiějiě yang ingin mengejar, tiba-tiba melihat seseorang yang mengintip di balik pepohonan, saat di perhatikan orang itu sedang menarik busurnya dan mengarahkannya ke Mèimei, sadar dengan semua itu, Jiějiě dengan seluruh kekuatannya terbang menuju ke arah Mèimei.


Jiějiě dengan berteriak "Mèimei, awas ...!"


Saat Mèimei menoleh, Jiějiě yang saat itu menuju ke arahnya segera menghalangi panah yang akan melesat kearah Mèimei dan pada akhirnya Jiějiě lah yang terkena panah itu.


Mèimei yang melihat jelas kejadian itu langsung berteriak.


"Jiějiě ... " Dia bergegas menghampiri Jiějiě yang tergeletak di atas Bukit tempat pertama kali mereka diturunkan. Mèimei membaringkan kepala Jiějiě di pangkuannya sembari menangis.


"Maafkan Aku ... ini salahku, Jiějiě, ayolah gunakan kekuatanmu, ini akan baik-baik saja bukan? Jiějiě, ijinkan Aku mencobanya, tenanglah Aku akan menyembuhkan mu," penuh kepanikan


Jiějiě yang berada di pelukannya, mencoba menahan tangan Mèimei yang mengeluarkan kekuatannya.


"Jangan lakukan itu, Kau akan melilit ku dengan tanaman merambat," sambil melemparkan senyuman manisnya seakan ingin mengatakan semua akan baik-baik saja.


Tangisan Mèimei semakin pecah.


"Gunakan kekuatanmu di saat yang tepat."


Mèimei menganggukkan kepala dan masih dengan tangisannya, bibirnya kelu hanya untuk mengatakan ini tidak mungkin.


"Panah yang Mereka lesatkan memang sudah direncanakan, Mereka menggunakan Kekuatan Cahaya saat membentuknya itu akan mampu menghancurkan Kekuatan Dingin yang Aku miliki, sudahlah, jangan terlalu dipikirkan."


Mèimei terlihat begitu marah saat mendengarnya.


"Lihatlah bunga itu, Kau benar ... Aku harus mempercepat pertumbuhannya, berkatmu, Aku masih sempat melihat keindahannya."


"Jangan mengatakan apapun, semua baik-baik saja, Kau akan baik-baik saja," memeluk Jiějiě dengan erat.


"Mèimei, jangan mengubahnya, Kau harus menerima takdir seburuk apapun itu, semua yang terencana memiliki alasan, tak perlu menyesalinya, jaga hatimu dan jadilah baik, itulah yang bisa Kau ubah, kita akan selalu bertemu jangan khawatirkan itu."


"Jiějiě, jangan seperti ini, Kau tak boleh meninggalkan ku," kata Mèimei sambil terus menangis.


Jiějiě menarik napas panjang sembari menyentuh wajah Mèimei " Táohuā ..." kata terakhir yang Jiějiě ucapkan dan dia pun menghilang seperti debu yang terhempas angin.


"Jiějiě ..."


Teriakan Mèimei seakan membuat angin menjadi riuh, dia mengepalkan tangannya dengan penuh amarah dan mengalihkan pandangan ke Yín Gōng, pria pemanah itu yang saat tadi masih terus memantau. Mèimei menuju ke arahnya, mendekatinya perlahan dengan tatapan yang sangat dingin.