The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 25. Kejadian Aneh



Dao tiba-tiba melihat ada Bayangan Hitam menyerupai asap, menembus tembok Bangunan yang ada di depannya.


“Lala, apa Kau melihatnya juga?” tanya Dao yang masih tak percaya.


Lala yang tengah memeriksa buku catatan di tasnya seolah tak mau peduli dengan apa yang Dao bicarakan, membuat Dao harus mengulang pertanyaannya.


“Hei, apa Kau juga melihatnya?” kali ini Lala mulai meresponsnya.


“Ada apa? Aku tak melihat apapun, memangnya apa yang Kau lihat?”


“Sudahlah, percuma Kau tak akan percaya meski Ku jelaskan.”


“Aku tadi sibuk merapikan tasku jadi tak melihat apapun selain buku catatan, jadi ... apa yang Kau lihat? Ah, buatku penasaran saja.”


“Tak perlu Kau jelaskan, Aku bahkan melihat apa yang Kau buat tadi, sudahlah ... itu hanya kebetulan saja jangan membahasnya lagi.”


“baiklah, terserah Kau saja, busnya tiba, ayo naik!”


Sesampainya di kampus, Dao yang terlambat memasuki kelas, mulai memikirkan cara agar tak ketahuan Dosen saat masuk ke kelasnya.


“Ah, aku harus bagaimana?”


Tian tak sengaja menengok ke arah pintu dan melihat Dao yang sedang sibuk memikirkan cara agar bisa masuk.


Dao yang menyadarinya, mulai meminta bantuan Tian agar bisa di ajaknya bekerja sama, tetapi Tian pun bingung harus melakukan apa. Untung saja terjadi keributan di taman tepat di bawah jendela ruangan kelasnya, sehingga membuat Dosen berpaling untuk melihat apa yang telah terjadi dari dalam jendela kelas, Dao bergegas masuk sambil menyeret tasnya hingga sampai di tempat duduknya, situasi yang menegangkan itu membuat Tian dan Dao lega saat berhasil melakukannya.


Teman sekelas Dao yang telah terbiasa melihat hal semacam ini, bahkan tak memperdulikan apa yang terjadi.


“Hah, untung saja acara Dokumenter segera berlangsung, kalau tidak Aku tak akan bisa masuk, sepertinya ... Aku semakin suka dengan acara ini,” gumamnya dalam hati sambil tersenyum.


Situasi berlangsung normal kembali, bahkan Dosen tak menyadari kalau Dao baru saja memasuki kelas. Tak lama berselang acara belajar-mengajar pun selesai. Semuanya kembali riuh, melanjutkan kegiatan mereka masing-masing.


Lala yang juga selesai dengan kegiatan yang sama, kini menghampiri Dao yang masih berada dalam ruang kelasnya, entah memiliki maksud lain atau benar-benar sedang mengunjungi temannya.


“Dao, apa Kau tadi berhasil masuk?”


“Tentu saja, hah ... Idolamu itu tak membantu apapun, mengapa kemari?”


"Aku? Kesini? Maksudku ... "


“Ah, sudahlah ... tak perlu Kau jelaskan, Aku sudah mengerti apa maksudmu, Tian tak akan memandangimu meski Kau menggunakan riasan tebal.”


“Hei, pelankan suaramu, Aku akan malu jika Tian mendengarnya, ah ... Kau ini, bisakah tak sekejam ini pada Temanmu?”


“Wah, anak ini jarang menggunakan pikirannya, jika Kau malu mengapa kesini?”


Tian yang sedari tadi sibuk menyelesaikan tugas laporan, kini mulai berjalan ke arah Dao, Lala yang masih berada di depan Dao, di buat salah tingkah dengan tatapan dan senyuman manis dari Tian saat sedang menyapa kedua gadis itu, seperti biasanya Dao hanya terlihat santai tak seperti gadis penggemar, Dao jelas tak tertarik dengan Idola kampus itu.


“Dao, apa Kau menyimpan materi kemarin? Berikan padaku, Aku harus melengkapi Tugas Kelompok.”


“Ku pikir Gadis Kuno sepertimu tak akan memiliki alat semacam ini,” ledeknya sambil tersenyum


“Berhentilah memanggilku dengan sebutan itu, Aku memiliki banyak alat canggih lainnya yang tidak Kau miliki, ah, Pria ini bagaimana bisa jadi Idola Kampus.”


Di sela pembicaraan Lala pun ikut meledek, “ alat canggih yang baru di belinya adalah kuas dan kertas tipis, bahkan tak dimiliki banyak orang.”


“Ah, rupanya kalian berdua sangat cocok, Pasangan yang senang meledek Temannya sendiri, bagaimana menurutmu?” sambil memandangi Lala.


Lala menjadi salah tingkah di buatnya, Tian yang sadar akan hal itu, mulai mengalihkan pembicaraan.


“Dao, apa Kau sudah mendaftar Lomba? Cepatlah mendaftar, Aku dengar batas pendaftarannya tinggal seminggu lagi.”


“Benarkah? Tapi ... Aku melihat masih sebulan lagi, ah, pikiranku masih kacau bagaimana bisa mengikuti lomba.”


“Jangan terlalu serius Aku hanya bercanda,” kata Tian sambil berlalu pergi.


Dao hanya bisa menatap Tian dengan kesal, tak tahu lagi apa yang harus dia katakan.


“Hei, jangan terlihat kesal, sepertinya ... Aku harus kembali ke kelas, perbaiki kerutanmu!” ledek Lala yang juga berlalu pergi.


Dao kembali menatap luar jendela, memandangi suasana yang penuh dengan kesibukan, perasaannya yang berkecamuk, entah mulai dari mana dia harus menceritakan semuanya kepada Xunzhao, jelas hanya dia satu-satunya yang masih mau menanggapi apa yang saudaranya ceritakan.


Kejadian-kejadian aneh yang selalu datang dalam kehidupannya, membuat konsentrasinya tak terarah, Dao semakin sulit untuk fokus pada perkuliahannya, tetapi tidak pada cita-citanya, impian menjadi seorang penyair ternama adalah hal yang paling dia inginkan dalam kehidupannya.


Rutinitas yang padat, menjadi bagian cerita dari kesehariannya, tetap belajar menikmati semua materi yang suka ataupun tidak akan di telan keseluruhannya.


Jam perkuliahan telah selesai, Dao yang biasa pulang bersama temannya Lala, kali ini memiliki agenda lain.


“Dao, ayo pulang,” Kata Lala yang telah berada di depan pintu kelasnya.


“Maaf Lala, kali ini Aku tak bisa pulang bersamamu, aku harus ke Butik Xunzhao.”


“Mengapa Kau tak mengatakannya dari tadi? Apa ... karena Kau kesal denganku barusan? Sampai Kau berubah pikiran, ayolah Dao, jangan marah padaku.”


“Hah, ya ampun ... anak ini, siapa yang marah padamu, Aku tadi lupa mengatakannya, Xunzhao menyuruhku ke Butik, jadi Aku harus kesana, jika Aku kesal padamu bukan seperti ini caranya, tetapi akan membuatmu lebih menderita,” Kata Dao sambil mencubit pipi Lala dan tersenyum.


“Baguslah kalau begitu, Aku pikir karena Kau kesal sampai seperti ini, pergilah ... hubungi Aku besok jika kau akan menaiki Bus.”


Dao mengangguk sambil melambaikan tangan kepada Lala, begitu pun dengan Lala.


Sambil berjalan keluar kampus, Dao berjalan dengan santai, menikmati waktu luang dengan pikiran yang penuh pertanyaan, yang lebih membuatnya gelisah adalah kejadian yang aneh selalu dilihatnya setelah dia bermimpi sangat panjang saat itu.


“Menyebalkan sekali, jika tak menceritakan hal ini kepada Xunzhao secepatnya, Aku akan terus seperti ini, tak tenang dengan Jiwaku sendiri, tetapi jika menceritakannya sekarang ... Xunzhao tak akan meresponsnya dengan baik, karena kesibukannya sangat banyak kali ini, hah, bagaimana bisa mengikuti lomba jika pikiranku kacau seperti ini,” gumamnya sambil terus melangkah pelan.


Setibanya di depan Kampus Dao mulai memanggil taksi, tetapi ketika taksi itu berhenti, Seorang Pria langsung menerobos masuk ke dalamnya, terlihat seperti sedang terburu-buru bahkan Dao tak di ijin kan untuk masuk, dengan segera taksi itu berlalu pergi, meninggalkan kekesalan di wajah Dao.


“Bisakah Dia mengatakan permisi saat menerobos masuk? apa Dia tidak tahu bagaimana caranya memanggil taksi? Ah menyebalkan sekali, tapi ... wajah itu terlihat seperti ...”