The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 46. Pertempuran Melawan Pemberontak



Keesokan harinya, Pangeran Li De Lóng yang berdiri di teras rumahnya, menunggu datangnya Pengawal Dìbàng . Masih terus memikirkan strategi yang di lakukan Ibu Selir, dengan kalimat yang di gunakan bahkan Ia tak tahu rencana apa yang dilakukan oleh Kubu Lawan di setiap kesempatan yang ada.


Tak lama Pengawal Dìbàng tiba, memasuki Paviliun sambil memberi hormat, " Hormat Pangeran," membalasnya dengan anggukan dan mereka langsung memasuki rumah menuju Ruang Pertemuan.


"Dìbàng, sebaiknya Kau pergi ke Perkemahan Pangeran Lóng Huǒ, bantulah Pengawal Xuè Chèng dan yang lainnya untuk menjalani misi baru. Pemberontakan semakin tak berkesudahan, sepertinya Kubu Lawan ingin membuat Kita lelah. Katakan kepada Pangeran Lóng Huǒ untuk kembali menyerang Pemberontak, cari Markas Mereka. Kita lihat, seperti apa reaksinya. Kagetkan Ular dengan memukul rumput di sekitarnya, itu akan mempermudah Kita membaca strategi lawan. Berhati-hatilah, Pemberontak itu pasti akan sangat sulit di atasi karena jumlah Mereka yang tak sedikit."


"Baik Pangeran, Aku permisi!" sambil berbalik untuk kembali, akan tetapi saat sampai di teras rumah, Ia di tahan oleh Putri Yi Lan.


"Pengawal Dìbàng, Kau akan pergi kemana?"


Dìbàng langsung membungkuk untuk menyapa, "Saya ditugaskan Pangeran Kedua untuk pergi ke perkemahan Pangeran Lóng Huǒ."


"Apa Kau akan menjalankan misi?" tanya Yi Lan dengan gaya Pendekarnya.


"Benar Tuan Putri, apakah Anda perlu sesuatu?" tanya Pengawal Dìbàng penasaran.


"Tidak ada, kalau begitu bawalah Apel ini untuk Kau makan di jalan nanti. Sampaikan juga salamku pada Kakak Ketiga," sambil memberikan buah apel yang sedari tadi telah di pegangnya.


"Baiklah Tuan Putri, akan segera saya sampaikan salam Anda. Terima Kasih, Saya permisi dulu," kembali membungkuk.


"Baiklah," sambil melambaikan tangan mungilnya ke arah Pengawal Dìbàng.


Tibalah Dìbàng di Perkemahan Pangeran Ketiga, Ia menjelaskan semua yang di pesankan Pangeran Li De Lòng kepadanya. Karena hal itu semuanya bersiap sambil menunggu malam tiba untuk beraksi. Hari mulai gelap, Keempat Pengawal berkumpul, sambil menaiki Kuda mereka menuju Perbatasan Wilayah dimana tempat yang sering terjadi Pemberontakan. Mereka pun membagi strategi, Dìbàng mengambil bagian utama untuk menempatkan dirinya di kerumunan banyak orang yang saat itu terlihat seperti Pasar Malam. Ia bermaksud memancing lawan untuk keluar, sedangkan yang lainnya memilih bersembunyi sambil terus mengawasi jika ada yang terlihat mencurigakan. Saat sedang melihat-lihat barang dagangan, Ia mendengar bisikan yang terdengar aneh dari Pemuda yang menggunakan baju seperti layaknya pedagang biasa kepada pemilik Toko Pakaian. Kata yang sempat terdengar hanyalah, Jebak Dia! tanpa berpikir panjang Dìbàng langsung mengikuti Pemuda itu.


Masih tetap berada dalam waspada, berjalan perlahan untuk mengintai, rupanya Pemuda itu telah mengetahui jika dirinya sedang di buntuti. Ia segera mempercepat langkahnya, begitupun dengan Dìbàng. Tiba di jalan setapak yang penuh dengan pepohonan rimbun, Ia mulai menyadari bahwa dirinya telah memasuki area jebakan. Akan tetapi, memang hal itulah yang Ia inginkan agar bisa menemukan Markas Pemberontak. Geraknya semakin waspada dengan panca indera yang juga bersiaga, Pemuda itu menuju Rumah yang memang hanya ada satu rumah disana.


"Siapa Pemilik rumah itu? Aku yakin Rumah itu adalah Markas Mereka," ucapnya dalam hati. Kembali Ia melangkah mendekati Rumah yang terlihat sunyi bahkan tak terdengar keributan di dalamnya. Kewaspadaan yang terbagi dengan pikiran yang terus saja bertanya-tanya, sehingga melupakan kata Jebakan yang pertama kali di dengarnya. Tiba-tiba dari arah depan, terlihat lesatan panah melaju ke arahnya. Tak sempat menghindar hanya bisa mundur beberapa langkah ke belakang, panah itu mengenai dirinya. Dengan spontan Ia memejamkan mata, akan tetapi Ia segera membukanya karena panah yang mengenai tubuhnya tak sedikit pun membuatnya sakit. Sambil memeriksa kembali dengan menarik panah yang masih tertancap pada tubuhnya, dan senyuman kembali menghiasi wajahnya, sambil berkata dalam hati, "Terima Kasih Putri Yi Lan, Kau telah menyelamatkanku," Dìbàng mengeluarkan buah apel yang tersimpan dalam bajunya, dan memakannya karena bahagia.


Kembali Ia memfokuskan dirinya, mencari cara untuk bisa masuk. Ketiga Pengawal, telah hadir juga bersamanya. Bīng Lín mencoba memancing mereka keluar, dengan menggunakan ketajaman Indera Pendengarnya, Ia mencoba mencari tahu letak posisi setiap orang yang ada di dalamnya. Saat telah mengetahuinya iya mulai melemparkan pisaunya menembus sela-sela jendela yang hanya teralas kertas dan langsung saja terdengar teriakan yang tertahan, karena pisau itu tepat mengenai leher lawan dan dengan segera tumbang tak bernyawa.


Karena kejadian itu, semua kawanan mereka yang sedari tadi hanya berdiam diri dalam persembunyian. Mulai menampakkan batang hidungnya satu demi satu dengan wajah penuh kemarahan. Tak sedikit jumlahnya akan tetapi tak sedikitpun menggetarkan Keempat Pengawal itu, mereka telah memiliki jiwa petarung bahkan lebih dari sekarang pernah di tuntaskan habis.


Denting suara pedang terdengar jelas, satu demi satu lawan menghabiskan nyawanya di tangan Keempat pengawal, tanah yang sedikit basah akibat gerimis di sore hari kini bercampur darah segar dari tubuh yang penuh dengan tebasan. Hanya sisa beberapa orang lagi, menghabisinya tanpa ampun dan sekarang tinggal Seorang Pemimpin Pemberontakkan yang memang sengaja di biarkan hidup untuk suatu pertanyaan, kepanikan tak bisa lagi di sembunyikan. Mulai berpikir untuk kabur dan tetap saja sia-sia, Pengawal Xuè Chèng berlari mengejarnya dan berhasil menghadangnya dari depan, dengan segera Ia mencengkeram baju Pemberontak itu dengan sedikit mengangkatnya dan mulai bertanya, "Katakan padaku! Siapa yang menyuruhmu untuk memberontak."


"Ti ... tidak ada!" kata Pemberontak itu menutupi rahasianya.


Dan terdengar bunyi "Buk!" Pengawal Xuè Chèng kembali memukulnya dan membuat cengkeramannya semakin kuat.


"Ba ... ba ... baiklah, Aku akan mengatakannya," diam sejenak karena masih dalam keraguan untuk mengatakannya.


"Buk!" terdengar kembali pukulan yang tak sabar lagi menunggu perkataan, "Cepat katakan!"


"Pe ... Perdana Menteri Li Feng yang memerintah Kami," hanya dengan jawaban itu Xuè Chèng langsung melepaskan cengkeramannya dan dengan segera Pemberontak itu berlari pergi, tetapi Ia kemudian terjatuh karena Pengawal Bīng Lín melemparnya dengan pisau tepat mengenai kepala.


"Mengapa Kau membunuhnya?" tanya pengawal Xuè Chèng.


"Tak ada yang harus tersisa," kalimat singkat yang begitu dingin keluar dari mulut Bīng Lín.


"Baiklah, Kita kembali sekarang," sambung Pengawal Huáng Lín sekaligus menutupi akhir pertempuran yang terjadi. Dengan membiarkan korban yang berjatuhan mereka pun kembali untuk melaporkan informasi yang didapatkan. Berpisah di pertengahan jalan sambil membungkuk menghormati satu sama lain dan menuju Paviliun Pangeran masing-masing.


Keempat Pangeran yang telah mendapatkan informasi itu, bersepakat untuk membiarkan sementara waktu Perdana Menteri yang telah berulah itu, untuk mengetahui apa rencana selanjutnya setelah ini.


Masih tetap dalam rutinitas yang sama, hanya saja tak ada lagi terdengar informasi Pemberontakan sampai saat ini.


***


Masa Kecil terasa cepat melewatinya, lintasan waktu mengubah cara pikir seseorang, masa remaja menyapa dengan berjuta warna, tapi tak bisa melupakan kebahagiaan kala itu. Hingga sekarang masih saja sama, terus saja di banjiri kasih sayang yang tiada henti oleh Keempat Pangeran pelindungnya.


Cantik, Ceria, Cerdas, kumpulan yang menyatu dalam tubuh mungilnya. Pendekar, kata yang membanggakan saat itu, masih tersimpan rapat dalam jiwanya. Tak ada yang bisa mengubah keinginannya itu, meski tak pernah turun langsung dalam peperangan baginya melakukan cara lain selain perang akan bisa membantu Keempat Kakaknya.


"Kakak ...." teriakan yang masih saja keluar dari bibirnya hingga saat ini.