The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 55. Kasus Perdana Menteri II



Pangeran Li De Lóng pun masuk ketika mendengar ucapan dari Permaisuri. Ia segera membungkuk memberi hormat.


"Ada apa Pangeran? Apakah masalahnya telah selesai?"


"Akan segera di selesaikan Ibu, Aku kesini hanya untuk mengajak Yi Lan kembali. Semoga Ibu tidak keberatan, karena Kami harus melakukan rapat penting untuk masalah ini. Jika tidak mengajak Yi Lan, Aku khawatir ... Ia akan berbuat ulah disini. Itu hanya akan menambah masalah baru," kata Pangeran Kedua sedikit meledek.


"Kakak, bisakah Kau mengatakannya tanpa menyinggungku? Setidaknya Kau menggunakan kata kiasan agar Aku tak memahaminya," balas Yi Lan kesal.


"Baiklah, jika ingin kembali, Putri Yi Lan perbaiki langkahmu nanti." kata Permaisuri yang juga ikut meledek Anaknya.


"Baiklah Ibu ... Kami permisi," ucap Keduanya sambil memberi hormat.


"Ayo," kata Pangeran Li De Lóng sambil mengarahkan jari telunjuknya ke Arah Yi Lan yang juga telah mengerti maksud tersebut.


Sepanjang jalan menuju halaman depan Istana, tangan mungil dari seorang gadis kecil, terus menggenggam telunjuk sang Kakak sambil melangkah ceria dengan sedikit loncatan kecil yang telah menjadi kebiasaannya. Senyum terpancar dari Ketiga Pangeran yang saat itu menyaksikan dari kejauhan tingkah Seorang Putri yang tak bisa memperbaiki langkahnya.


"Jīnlóng, gaun itu tak pantas untuknya. Ia lebih cocok menggunakan pakaian Pendekar. Hah, Gadis kecil ini bahkan tak terlihat anggun meski menggunakan gaun. Lihatlah cara Ia melangkah, seperti Seekor Kelinci yang telah menelan buah anggur, terus melompat untuk mengambilnya lagi," Kata Pangeran Lóng Huǒ.


"Setidaknya, Ia masih menyukai jika dirinya terlihat rapi. Aku tak bisa bayangkan jika Ia di rawat olehmu Kakak? Kelinci yang menelan anggur? Kalimat apa yang Kau buat?" tanya Pangeran Jīnlóng


"Entahlah, Aku bahkan tak habis pikir dengan kalimat itu. Adik Kita sangat lucu seperti Seekor Kelinci, mungkin itu maksud dari pikiranku," sambil menatap Yi Lan yang sedikit lagi langkahnya akan mendekati Mereka.


Pangeran Shuǐlóng hanya bisa menggelengkan kepala karena kegilaan yang di buat oleh Kedua adiknya itu.


"Kakak, mengapa Kalian masih disini? Apa semuanya akan pergi bersamaku juga? Tapi ... bisakah tidak mengajak Pangeran Utara itu lagi?" tanya Yi Lan saat telah sampai di halaman Istana.


"Kau tak perlu khawatir Pendekar, Pangeran Utara itu telah Aku kunci di salah satu ruangan kosong tanpa makanan," sambung Pangeran Lóng Huǒ


"Lóng Huǒ..." tegur Pangeran Shuǐlóng agar tak membuat ulah.


Menyadari hal itu, Pangeran Lóng Huǒ hanya bisa menggaruk kepalanya sambil tersenyum ke arah Kakak Pertama. Yi Lan yang juga memahami tingkah buruk Kakak Ketiganya itu ikut tersenyum sambil memasuki Kereta.


Semuanya pun bersiap untuk berangkat, menuju Paviliun Pangeran Li De Lóng.


Sesampainya di Paviliun, Mereka langsung membahas masalah Perdana Menteri Li Feng yang terkait dengan Pemberontakan.


"Jīnlóng, apa Kau yakin kalau surat itu di buat oleh Perdana Menteri Li Feng? Aku bahkan menjadi ragu jika Ia yang menulisnya," kata Pangeran Lóng Huǒ mengawali diskusi permasalahan rumit dalam Istana.


"Aku sangat yakin Kakak, karena Perdana Menteri Li Feng membuat cap khusus dengan jarinya sendiri. Hal lain yang menguatkan pembuktian itu adalah pemantauan dari Pengawal Huáng Lín yang dilakukannya setelah pertemuan di ruang Istana saat itu." Jawab Pangeran Jīnlóng menjelaskan.


"Benar Pangeran, Aku memantaunya hingga penyerahan surat itu terjadi," sambung Pengawal Huáng Lín membenarkan. Ia pun kembali menjelaskan secara rinci hasil pemantauan yang di lakukannya.


***


"Setelah keluar Istana, masih nampak jelas wajah pucat penuh ketegangan dari Perdana Menteri Li Feng. Ia berjalan pulang menuju paviliun miliknya, Aku mengikutinya hingga mencoba mengintip dari sela-sela jendela dari arah samping, tak ada Seorang pun disana, hanya Perdana Menteri Li Feng yang terlihat panik dan tergesa-gesa ketika menyelupkan penanya ke dalam tinta, tangannya gemetar sehingga menumpahkan tinta ke arah kertas, kembali Ia mengulanginya dengan hati-hati. Menulisnya begitu lama, hingga tulisannya memenuhi selembar kertas. Aku tak melihat jelas apa yang di tuliskan tetapi dari wajahnya terlihat kesedihan berbaur dengan kecemasan saat tengah menulis, sesekali Ia menyeka air matanya dan terus berkonsentrasi pada apa yang di tulisnya. Kemudian Ia berdiri dan pergi ke arah susunan laci tepat di belakang mejanya. Sebelum membuka laci itu, Ia menoleh ke segala arah, memastikan kalau tak ada yang melihatnya, Aku dengan sigap bersembunyi saat itu, tak lama Aku menoleh kembali, Ia mengambil selembar kertas yang telah terlipat rapih dan membukanya, nampak kemarahan tergambar di wajahnya sambil sedikit meremas kertas yang di genggamnya. Suara pelan yang terdengar dari Perdana Menteri Li Feng 'Kau menghianatiku Pangeran Kàn Yún' saat mendengar kalimat itu Aku baru menyadari bahwa tumpahan kekesalan itu ternyata di tujukan kepada Pangeran Kàn Yún. Perdana Menteri Li Feng rupanya mengingat kembali waktunya yang semakin sempit, bergegas Ia kembali ke arah mejanya dan membariskan kedua lembaran kertas itu, Ia kemudian menggigit ibu jarinya hingga berdarah dan menempelkan ke lembaran kertas yang ada di depannya sebagai bukti cap, kembali Ia melipat kedua lembaran kertas itu dengan tak beraturan dan memasukkannya kedalam sampul surat. Perdana Menteri Li Feng berjalan keluar meninggalkan Paviliunnya dan pergi ke suatu tempat dimana Seorang Pria telah menantinya disana. Aku bahkan tak tahu kapan Perdana Menteri Li Feng itu telah membuat janji dengannya. Ia memberikan surat tersebut beserta seuntai koin sebagai tip. 'Berikan ini kepada Pangeran Jīnlóng' kalimat yang sempat terdengar olehku, Pria itu mengambilnya dan bergegas pergi menuju tempat Pangeran Jīnlóng. Saat kepergian Pemuda itu ke Istana, rupanya ada juga yang sedang membuntutinya. Tiba di jalan yang sepi seseorang yang membuntuti Pria itu berusaha menghalangi jalannya menuju ke Istana, mencoba mengacam untuk membunuhnya. Terjadi perkelahian sengit saat itu, Pria pengantar pesan berhasil di kalahkan dan ketika akan di bunuh Aku segera keluar menyelamatkannya dan menyuruhnya lari. Tanpa berpikir panjang Pria itu melakukan apa yang Aku perintahkan. Ketika bertarung Aku berusaha membuka penutup wajahnya, dan itu berhasil ku lakukan, tatapan yang kini terlihat jelas di hadapanku, Aku mengenal jelas Pria itu, Dia salah satu Pengawal Pangeran Kàn Yún, begitu mengetahuinya, Aku pun melepasnya dan membiarkan Ia pergi. Aku kembali menuju Istana, masih dari kejauhan terlihat Pria pembawa pesan itu tertahan oleh Prajurit penjaga gerbang Istana, dengan segera Aku membuka penutup wajahku dan berjalan menuju gerbang dan melaporkan bahwa Aku yang membawa Pria itu atas perintah Pangeran Keempat. Tanpa berpikir lagi Prajurit itu membiarkannya masuk dan Aku langsung mengantarnya ke Ruangan Pangeran Jīnlóng. Ia memberikan surat itu tanpa mengatakan apapun dan berpamitan pergi."


Semua yang begitu serius menyimak penjelasan panjang oleh Pengawal Huáng Lín, kini kembali yakin jika surat itu di buat langsung oleh Perdana Menteri Li Feng.


Tiba-tiba terdengar suara Yi Lan yang tengah memperjelas sesuatu yang ada dalam pikirannya.