The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 56. Bukti Palsu



Yi Lan yang sejak tadi serius mendengarkan perbincangan antara Keempat Kakaknya dan Pengawal sambil terus membuat rajutan, hingga di ujung penjelasan Huáng Lín, Ia pun menghentikan rajutannya dan mulai berkata, "Kakak, apa Kau menyimpan surat itu dengan aman? Aku sempat mengingat Pelayan Istana yang mencoba mencari sesuatu di ruangan Kakak. Meski bukan Surat ini awalnya yang Mereka cari, tapi jika Mereka mencobanya kembali dan menemukan surat dari Perdana Menteri Li Feng, maka masalahnya akan sangat rumit."


"Kakak tak menyimpannya dalam Istana, Kau bahkan tahu dimana tempat yang sangat aman untuk menyimpannya bukan?" kata Pangeran Jīnlóng.


Yi Lan mengangguk tanda mengerti, semuanya bahkan tahu dimana tempat teraman untuk menyimpan hal penting. Tempat yang begitu tenang, tetapi memiliki bnyak jebakan, dimana salah satu Pangeran tinggal di sana yaitu Pangeran Shuǐlóng.


Kembali mereka membahas rencana untuk mengalahkan pihak Pangeran Kàn Yún.


"Lantas bagaimana sekarang, apakah Kita langsung membuktikannya bersalah di depan Kaisar? Dengan bukti yang Kita miliki?" tanya Pangeran Lóng Huǒ.


"Tidak, jangan secepat itu. Beri Mereka kesempatan untuk membela diri, jika langsung menjurus kepada Pangeran Kàn Yún justru Kita yang akan terlihat telah merencanakan semuanya. Aku memiliki firasat bahwa Mereka akan membuat alasan baru untuk masalah ini. Pangeran Kàn Yún adalah anggota keluarga kerajaan, jangan sampai semuanya melihat hal ini hanyalah masalah saling iri antar Pangeran. Itu akan menyudutkan Kerajaan Kita nantinya," ungkap Pangeran Li De Lóng menjelaskan.


"Apa yang di katakan Pangeran Li De Lóng ada benarnya, mengusut kasus ini membutuhkan waktu yang tidak singkat, meski Kita telah mengantongi semua bukti, alangkah baiknya untuk menundanya sementara waktu, sehingga Mereka tak mencari celah untuk menjatuhkan Kita, dengan cara mencurigai kesiapan bukti yang dengan cepat bisa Kita miliki," Kata Pangeran Shuǐlóng membenarkan.


"Jadi sekarang Kita hanya akan menunggu Pangeran Kàn Yún menghadap Kaisar lebih dulu untuk mengajukan bukti. Baiklah Kita akan lihat seperti apa perkembangan selanjutnya," kata Pangeran Lóng Huǒ menambahkan.


Setelah pertemuan itu, semuanya langsung berpamitan menuju Paviliun masing-masing, Pangeran Lóng Huǒ dan Pangeran Jīnlóng telah kembali lebih dulu bersama Pengawal Mereka. Tinggal-lah Pangeran Shuǐlóng yang masih di tahan oleh Yi Lan karena sesuatu hal yang Ia inginkan.


"Kakak Pertama, bisakah Aku meminta sesuatu kepadamu?" tanya Yi Lan penuh harap.


"Tentu saja Gadis Kecil, katakan apa yang ingin Kau minta?" jawab Pangeran Shuǐlóng dengan lembut.


"Saat Aku pergi ke Paviliun Kakak, Aku melihat bunga yang begitu indah di atas bukit, Bunga berwarna ungu, ingin sekali Aku memetiknya saat itu akan tetapi waktu terlalu singkat. Bisakah ... Kakak membawakan bunga itu untukku?"


"Baiklah, Aku akan membawakannya untukmu, jika Aku kesini," jawab Pangeran Shuǐlóng menyetujui permintaan Adiknya.


Senyuman yang merekah dari Yi Lan mendengar persetujuan dari Kakaknya. Pangeran Shuǐlóng kemudian pergi menuju kediamannya. Yi Lan pun melambaikan tangan sambil mengucapkan kalimat aneh sehingga membuat Kakak Keduanya yang juga menyimak pembicaraan tadi menjadi bingung.


"Berilah Ia senyuman Kakak, Kau harus mengalah," gumam Yi Lan dengan suara pelan.


"Yi Lan? Mengapa berkata seperti itu?" tanya Pangeran Li De Lóng penasaran.


"Kau akan tahu sendiri nantinya Kakak," ucap Yi Lan sambil kembali ke tempat duduk di dekat jendela dan mulai melanjutkan rajutannya.


***


Di tempat Pangeran Kàn Yún.


"Tidak! Ini tidak boleh terjadi, Mereka tak boleh mengusut terus kasus ini. Aku harus segera menghentikannya, tapi apa yang harus Aku lakukan? Bukti apa yang Mereka dapatkan sebenarnya? Tidak, tidak, Aku yakin Mereka masih mencari buktinya juga," ujar Pangeran Kàn Yún sambil terus mondar mandir dengan wajah gelisah.


Tiba-tiba dengan langkah yang tak lagi anggun, Ibu Selir memasuki Paviliun Pangeran Kàn Yún. Ia yang juga ikut gelisah akan kecerobohan Anaknya, kini mulai mencari cara untuk menutupi kebusukan Mereka.


"Bagaimana sekarang? Apa Kau punya rencana?" tanya Ibu Selir.


"Aku belum mendapatkannya Ibu, bahkan Aku tak habis pikir mengapa Li Feng harus bekerja sama dengan Pemberontak yang tak berpengalaman sama sekali. Benar-benar b*d*h!"


"Saat malam itu Kau membunuh Li Feng, Ibu mendapatkan kabar dari mata-mata Kita kalau Perdana Menteri Li Feng telah menyuruh seseorang untuk memberikan sebuah surat kepada Pangeran Jīnlóng, dan dengan bodohnya Ia tak mendapatkan surat itu," kata Ibu Selir menjelaskan.


"Sebenarnya apa yang di berikan Li Feng? Jika itu adalah bukti kuat, mengapa ... Mereka tak melaporkannya segera kepada Kaisar? Apa mungkin itu hanya pengalihan sementara? Hah, harusnya Aku memilih membunuh dan membuangnya di hutan, sehingga Mereka akan berpikir Para Pemberontak itu yang telah membunuhnya, ini semua salahmu Ibu."


"Kau jangan menyudutkan ku, Kaulah yang ceroboh dan tak bisa menahan emosimu sebentar saja! Tak perlu berdebat lagi, waktu Kita terlalu sempit. Begini saja, Aku sempat mengetahui bahwa Perdana Menteri Li Feng memiliki permasalahan dengan Pemimpin Pemberontak lainnya, Aku tak tahu persis apa masalahnya. Yang jelas sekarang Kau harus menyeret Pemimpin pemberontak itu dan memaksanya untuk mengatakan bahwa Dia yang melakukan semuanya. Dan setelah semua itu segera bunuh Dia."


"Tapi apa Kau yakin Ibu, cara ini akan berhasil?" tanya Pangeran Kàn Yún ragu.


"Aku tak bisa menjamin hal itu, lagipula Kau tak punya cara lain bukan?"


"Baiklah, Aku akan pergi mencarinya besok."


***


Keesokan harinya.


Yi Lan yang telah berdiri di dekat jendela kamar sambil menghirup udara pagi, kini mulai terhanyut dalam lamunannya, Ia terlihat seperti mengetahui sesuatu. Pangeran Li De Lóng yang sempat menyaksikan Yi lan telah asyik dalam lamunannya sambil tersenyum, membuat Kakak Keduanya makin penasaran dan segera menghampiri Yi Lan.


"Apa yang Kau lamun kan Gadis kecil? Ini masih Pagi, jangan mengawalinya dengan hayalan yang tak berarti."


"Aku sedang tidak melamun Kakak, tetapi Aku sedang menunggu seorang teman."


"Seorang Teman? Siapa? Apa Kau sedang membuat janji dengannya? Tapi ... mengapa Kau tak memberitahu Kakak sebelumnya?" tanya Pangeran Kedua yang semakin bingung.


"Aku tak membuat janji dengan siapapun Kakak, Kau akan tahu nanti setelah Temanku itu tiba kesini," jawab Yi Lan yang masih saja membuat tanda tanya.


Pangeran Li De Lóng, tak lagi bertanya terlalu jauh, Ia mencoba ikut menanti teman Yi Lan yang misterius itu.