
Pandangan yang masih tak berkutik, pikirannya terus bertanya, "Pria Tua ini memang terlihat gantung diri, tapi ... jika Ia melakukan hal ini sendiri, Aku pikir Ia tidak akan mungkin melakukannya sekuat itu,"
Tak tahan dengan apa yang di lihatnya, Pangeran Lóng Huǒ pun mulai angkat bicara, "Prajurit, Siapa yang lebih dulu masuk ke rumah ini?"
"Saya Pangeran," jawab salah Seorang Kasim Istana.
"Apa Kau mengubah posisi barang yang ada di rumah ini?" tanya Pangeran Lóng Huǒ kembali.
"Tidak Pangeran, Saya hanya membuka pintu dan terkejut saat menatap Perdana Menteri tergantung menghadap arah depan sehingga terlihat jelas bahwa itu adalah Perdana Menteri Li Feng. Mengetahui hal itu, Saya segera berlari dan menyuruh Prajurit untuk melaporkannya kepada Kaisar," kata Kasim Istana menjelaskan.
"Jika benar seperti itu yang Kau ceritakan, maka ... hal ini tak bisa di bilang bunuh diri, melihat dari tubuh yang telah membengkak sepertinya kejadian ini telah terjadi beberapa hari lalu, " kata Pangeran Lóng Huǒ yang mulai menaruh curiga.
"Apa maksudmu berkata seperti itu Pangeran Lóng Huǒ?" tanya Kaisar bingung.
"Maaf Yang Mulia, Sepertinya ada kejanggalan disini. Jika di lihat, memang benar Perdana Menteri Li Feng tewas tergantung, akan tetapi ... ini ada unsur paksaan dan juga pembunuhan. Yang Mulia, Seseorang yang akan gantung diri tidak akan menendang pijakannya sejauh itu," sembari menunjukan sebuah kursi pijakan yang terletak jauh dari posisi Perdana Menteri Li Feng.
Kembali Pangeran Lóng Huǒ melanjutkan penjelasannya, sambil terus melangkah bolak balik dari letak kursi pijakan yang terlempar dan berbalik lagi ke arah Perdana Menteri Li Feng yang masih tergantung, "Jarak sekitar 4 langkah, sungguhlah hal yang tidak masuk akal, apalagi dengan usia Perdana Menteri yang telah berumur, itu sangat mustahil di lakukan, jika Ia melakukannya dengan penuh kemarahan, itu juga akan menjadi alasan yang tak berguna, bahkan sepertinya ini sebaliknya. Justru Pelaku itu yang tak bisa menahan emosinya saat mendorong pijakan itu, karena pikirannya penuh amarah Dia bahkan sampai lupa meletakkannya di posisi yang benar, Bagaimana menurutmu Pangeran Kàn Yún? Apakah bisa di bilang Pelaku ini sangat ceroboh saat melakukan aksinya?" sambil menatap tajam Pangeran Kàn Yún dengan senyuman sinis.
Wajah Pangeran Kàn Yún memerah karena kesal, Ia ingin mengajukan alasan lainnya agar tak lagi ada yang mengusut kasus Perdana Menteri Li Feng, akan tetapi Ia terlambat, perkataannya telah di lambung oleh Kaisar, "Baiklah, alasan yang cukup kuat, segera usut kasus Perdana Menteri Li Feng. Tetapi uruslah lebih dulu mayatnya, buatkan upacara yang layak untuknya, meski begitu Dia juga termasuk bagian dari Istana yang ikut mengsejahterakan Kerajaan, beri kabar selanjutnya untuk kasus ini."
Kaisar pun kembali ke Istana, bersama beberapa Pengawal dan Kasim Istana. Para Prajurit pun mulai menurunkan Perdana Menteri Li Feng yang telah terlihat membengkak, karena beberapa hari tergantung. Semua Pangeran pun ikut kembali ke Istana.
***
Di dalam Istana, Perayaan yang seketika berakhir semuanya kembali ke tempat masing-masing, Yi Lan yang juga tetap di Istana kini mulai berjalan bersama Ibunya menuju ruangan Pribadi Permaisuri, begitupun dengan Selir dan Anaknya Putri Yōuměi dengan wajah yang terlihat kesal dari keduanya, membuat Para Pelayan mulai ketakutan, dan berusaha tak melakukan kesalahan sekecil apapun.
Sesampainya di Ruangan Permaisuri, Mereka pun melakukan perbincangan yang begitu Pribadi hingga menyuruh semua Pelayan untuk keluar dari ruangan sementara waktu.
Permaisuri memulai perbincangannya, "Yi Lan, bagaimana keadaanmu akhir-akhir ini? Apakah telah membaik? Hah, Ibu terus saja khawatir jika mengingat kejadian kala itu."
"Yi Lan baik-baik saja Ibu, semakin kesini tampak membaik. Semua Kakakku terus saja mencari cara untuk menyembuhkanku, jadi Ibu tak perlu khawatir. Oh ya Ibu, ada sesuatu untukmu," sambil memberikan sebuah kotak kecil kepada Permaisuri.
"Apa ini?" tanya Permaisuri sambil tersenyum ke arah Yi Lan.
"Itu benar Anakku, Ibu hanya menginginkan kehadiran Kalian, hadiah terindah yang Ibu harapkan, terutama denganmu yang begitu jarang berkunjung ke Istana."
"Ibu kan tahu sendiri kalau Aku hanya akan pergi bersama Kakak Kedua, dan Kakak sendiri sangat jarang ke Istana. Jika harus pergi sendiri, itu akan membuat Kakak Kedua marah. Apa Kau tahu Ibu? Jika Kakak marah, selalu saja ada hukuman yang menimpa Pendekar Wanita ini, bukan! Maksudku ... menimpaku, Iya benar menimpaku he ...."
"Pendekar Wanita? Yi Lan, Kau adalah Seorang Putri. Tapi ... Pendekar Wanita ini ... tidak sedang berbuat ulah kan?"
"Tidak Ibu, Aku Pendekar yang baik mana mungkin berbuat ulah. Ibu, ayo buka kotaknya. Aku jadi penasaran apakah Ibu menyukainya."
Permaisuri pun segera membuka kotak dan langsung memakai hadiah pemberian dari anak-anaknya itu, sambil berkata kepada Yi Lan, "Gelangnya sangat bagus, Ibu menyukainya. Ibu akan memakainya sepanjang waktu." puji Permaisuri kepada anak-anaknya.
Permaisuri kembali menatap Yi Lan dengan tatapan serius, seakan ingin memulai topik utama pembicaraan.
"Ada apa Ibu? Mengapa menatapku sangat lama? Apa Ibu baik-baik saja?" tanya Yi Lan penasaran.
"Yi Lan, Ibu ingin bertanya sesuatu kepadamu soal Pangeran Běiduān, Apakah ... Kau setuju jika akan dijodohkan dengannya?" tanya Permaisuri.
Yi Lan kembali sulit menjawabnya, Ia takut perkataannya akan membuat Permaisuri kecewa, karena saat itu Ibunya menyetujui apa yang di katakan Ibu Selir.
"Aku ... maksudku ... Ibu maafkan Aku ...." kata Yi Lan terbata-bata.
"Katakanlah yang sebenarnya, Ibu tidak akan marah. Itu akan jadi keputusanmu sendiri, Ibu hanya ingin tahu perasaanmu sebenarnya," sambil memegang tangan Yi Lan yang terlihat sedikit gugup.
Yi Lan mencoba mengatakan perasaannya yang sebenarnya, sambil menarik napas panjang, Ia pun memulai perkataannya, "Baiklah Ibu, sebelumnya maafkan Aku telah mengecewakan Ibu. Aku belum ingin di jodohkan Ibu, karena saat ini Aku belum memikirkan hal itu, lagi pula Aku masih sangat muda di tambah lagi dengan kondisiku yang belum bisa berada jauh dari Kakak Kedua. Satu hal lagi, Aku masih ingin bermain bersama Keempat Kakakku, bukankah rencana ini begitu tiba-tiba Ibu? Bahkan Aku begitu ketakutan saat mendengarnya. Ibu ... bisakah Ibu membujuk Kaisar untuk belum membahas masalah ini sementara waktu? Aku belum siap Ibu," sembari bermohon.
"Baiklah, Ibu akan usahakan. Setidaknya sekarang Ibu bisa lega mendengar hal sebenarnya dari ucapanmu. Bersenang-senanglah, jadilah Pendekar Wanita yang baik, tapi tetap menjaga pribadimu seperti Seorang Putri," kata Permaisuri menenangkan.
Usai pembicaraan serius itu, tiba-tiba terdengar suara salah satu Pelayan Permaisuri, "Maaf Permaisuri Pangeran Li De Lóng, ingin bertemu."
"Persilahkan Ia masuk," suara lantang Permaisuri yang terdengar dari seberang pintu.