The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 44. Pendekar Wanita



"Yi Lan, Ayo Kita kembali," kata Pangeran Li De Lóng yang telah berada di dalam ruangan.


"Kakak, bisakah Kita main kesini lagi? Aku masih ingin berlatih pedang. Kakak Ketiga, ajari Aku berlatih pedang lain waktu."


"Baiklah Pendekar Kecil, temui Aku nanti," kata Pangeran Lóng Huǒ.


"Lóng Huǒ, jika Kau ada waktu, besok datanglah ke Paviliun. Aku pemisi."


Pangeran Lóng Huǒ, kembali membalasnya dengan anggukan kepala. Keduanya pun kembali menunggangi kuda menuju Paviliun.


**


Keesokan harinya, Pangeran Li De Lòng menyempatkan waktu berkunjung ke Istana, masih tetap bersama Yi Lan dan juga Dìbàng, untuk menemui Pangeran Jīnlóng. Sesampainya di Istana Yi Lan yang sedang bermain di taman Istana di temani Pengawal Dìbàng. Tiba-tiba di hampiri oleh Putri Yōuměi yang merupakan anak bungsu dari Selir.


"Yi Lan, bukankah Kau tak di ijinkan lagi masuk ke Istana? Mengenai penyakitmu sepertinya akan membuat kutukan bagi Istana, jadi ada baiknya Kau pergi dari sini sekarang," kata Putri Yōuměi yang sejak awal tak menyukai Yi Lan.


Mendengar perkataan kasar dari Putri Yōuměi, Pengawal Dìbàng menegurnya dengan sopan, "Maaf, Putri Yōuměi. Mohon tidak berkata seperti itu karena Putri Yi Lan juga adalah saudari Anda."


"Kau siapa? Beraninya Kau menegur Putri Kaisar, Aku akan mengadu kepada Ayah soal hal ini," kata Putri Yōuměi yang mulai mengancam dengan penuh kesombongan.


"Mohon maafkan Saya, Putri Yōuměi. saya hanya bermaksud ...."


"Bermaksud baik Kakak. Pengawal Dìbàng tak ingin Kau berkata kasar kepada Adikmu sendiri. Jika kau mengadu kepada Ayah soal Pengawal Dìbàng maka Aku hanya tinggal mengatakan kepada Ayah hal yang sebenarnya. Bukankah ... seperti itu aturan sebenarnya?" kata Yi Lan yang terlihat seperti Pendekar saat membela Pengawal Dìbàng.


"Apa? Beraninya Kau melawanku? Anak sakit-sakitan sepertimu tak ada gunanya, akan Ku adukan semuanya pada Ayah."


"Kak Yōuměi, Kau pikir Aku akan takut melawanmu? Jika Kau anak Ayah, apa Kau lupa Aku juga adalah Anaknya? Apakah ... Kau mau merasakan serangan dari Pendekar Wanita ini? Kau hanyalah Putri anggun yang tak tahu apa-apa."


Putri Yōuměi pun mendekati Yi Lan bermaksud memukul, akan tetapi Pengawal Dìbàng menghalanginya, sekarang berbalik Yi Lan yang mulai menghampiri Putri Yōuměi dengan maksud yang sama. Tiba-tiba Pangeran Kedua yang sedang berjalan menuju Taman Istana di buatnya kaget dengan pertengkaran yang telah terlihat jelas meski dari kejauhan, segera Ia berlari dan menggendong dengan paksa Yi Lan yang sedikit lagi tangannya hampir mencapai wajah Putri Yōuměi, dan langsung di bawanya pergi menjauh.


"Lepaskan Aku, Kakak ... Dia harus tahu seberapa kuat Pendekar ini memukulinya. Kakak, Anak Selir itu mencoba memukulku, Dia pikir Pendekar ini akan takut padanya," kata Yi Lan yang masih saja kesal.


"Yi Lan ...." tegur Pangeran Kedua agar tidak lagi berulah.


"Baiklah Kakak, maafkan Aku. Hah, padahal hampil sedikit lagi tanganku menempel di wajahnya."


Masih dalam gendongan Pangeran Kedua, wajahnya masih sedikit kesal memandangi Putri Yōuměi dari kejauhan. Mereka pun berjalan kembali menuju Ruang Pangeran Jīnlóng.


"Yi Lan, apa Kau sudah bosan bermain? Atau Kau sudah tidak sabar ingin menemui Kakak Keempat-mu ini, bukankah begitu anak manis?" tanya Pangeran Jīnlóng.


"Kau salah Kakak, Pendekar Wanita ini hampir saja memukuli Seseorang saat bermain."


Yi Lan yang masih kesal tak lagi menjawab pertanyaan Kakak Keempatnya, akan tetapi Pangeran Li De Lóng kembali menjelaskannya dengan singkat.


"Yi Lan bertengkar dengan Yōuměi saat bermain. Yi Lan Kau disini dulu bersama Kakak Keempat, Kakak akan menemui Ibu Permaisuri. Jīnlóng, temani Pendekar ini sebentar, beri Ia nasehat agar tak mengulanginya lagi. Ayo Dìbàng, ikut Aku."


Kembali berjalan di Koridor Istana, Pangeran Li De Lòng menumpahkan kekesalannya, "Ah, anak itu. Sudah jelas tubuhnya sangat kecil, masih juga berani melakukan perlawanan, cara bicaranya pun sudah sangat kasar. Entahlah, apa yang sudah di ajarkan Lóng Huǒ kepadanya, baru sehari saja anak itu dengannya sudah terlihat brutal menyamai dirinya. Bahkan menamai Gadis Kecil itu sebagai Pendekar, dan sekarang harus memulainya dari awal untuk mengajarkannya etika."


Pengawal Dìbàng tersenyum mendengar setiap keluhan yang keluar dari mulut Pangeran Kedua."


***


Lain halnya dengan Yi Lan yang melakukan perbincangan serius dengan Pangeran Keempat, sekaligus ikut menumpahkan kekesalannya, "Kakak, Kau tahu Anak Selir itu ingin melaporkanku kepada Ayah, apa Dia pikir Aku tak akan berani melaporkannya juga kepada ayah? Ia hanya memiliki satu Kakak yang akan membelanya, tapi Aku memiliki empat Kakak yang tak tertandingi kehebatannya. Berani-beraninya Dia melawan Pendekar Wanita ini."


"Wah Kau sedang membanggakan Keempat Kakakmu? Yi Lan, siapa yang menjadikanmu Pendekar Wanita?"


"Kakak Ketiga yang mengajariku menjadi seorang Pendekar. Katanya Pendekar haruslah pemberani, siap melawan siapapun yang tidak baik. Maka itulah Aku berani melawan Kak Yōuměi, karena Ia telah menghinaku."


"Sudah kuduga pasti Kak Lóng Huǒ yang mengajari hal ini, Hah, andai saja Ia melihat langsung hasil ajarannya ini, bahkan Ia tak akan bisa lagi berbuat apa-apa. Ia pasti sudah lupa jika Adiknya adalah seorang Gadis?" gumam Pangeran Jīnlóng.


Kembali Pangeran Jīnlóng berkata, " Yi Lan, apa Kau tidak mendengar tadi? Kakak Kedua menyuruhku untuk menasehatimu. Mengapa ... Kau malah melampiaskan kekesalanmu? Bagaimana jika Kakak Kedua memarahi Kita?"


Apa yang harus Kita lakukan?"


"Kakak, percuma Kau menasehatiku jika Aku masih dalam keadaan kesal. Itu tidak akan masuk dalam pikiranku."


"Benar juga katamu, jadi ... apa yang harus kulakukan?"


"Kakak, Kau tinggal bilang saja bahwa Kakak sudah menasehati Pendekar Wanita ini. Hanya seperti itu saja, pasti Kakak Kedua akan segera percaya."


"Baiklah, tapi ... ada baiknya Kau hilangkan kekesalanmu. Melakukan pertengkaran, sebenarnya itu merupakan ide yang buruk. Kau harusnya lebih mengalah, seperti kata pepatah mundur selangkah lebih baik dibandingkan harus maju tetapi melukai. Apa Kau mengerti anak manis? Jika pertengkaran hebat itu sampai terjadi, maka masalahnya akan bertambah besar dan bisa-bisa akan melibatkan semuanya, bukankah ... itu tidaklah baik Pendekar kecil?"


"Baik, Aku mengerti Kakak. Tapi ... apakah Kakak Kedua akan menghukumku karena hal ini? Ah, semua ini salah Kak Yōuměi, jika Ia tidak menggangguku tadi, pasti Kakak Kedua tidak akan marah padaku. Sungguh benar-benar tidak adil!"


"Soal itu ... Kakak Keempatmu ini tak bisa ikut campur. Ada baiknya, Kau menurut saja agar hukumannya tidak bertambah."


"Kakak, apa Kau sedang menakutiku? Kau bahkan tak berniat membelaku. tapi, Pendekar Wanita ini tak akan takut."


"Benarkah? Apa Kau yakin?" balas Pangeran Jīnlóng yang mulai meledek Yi Lan.


Tiba-tiba Pangeran Li De Lóng memasuki ruangan, Yi Lan mulai terlihat tegang, dan tak mampu lagi memperlihatkan jiwa Pendekarnya, kini hanya ada wajah memelas yang tergambar dari raut wajah Yi Lan, sambil membayangkan apa yang akan terjadi nanti pada dirinya.