
Seperti Petir menyambar tepat di depannya, tak peduli lagi seberapa banyak orang memandang dengan ribuan mimik aneh yang terarah kepadanya, tetap membiarkan gelas kaca yang pecah berantakan, masih terus menatap tajam kedua pengantin itu tanpa berkedip sedikit pun, hati seakan berkecamuk melebur dengan kegelisahan yang selama ini di tahannya, semua terlihat jelas di depannya, tetapi semakin menambah tanda tanya yang telah memenuhi pikiran seakan tak sanggup lagi menahan beban hati yang entah kepada siapa harus menceritakan semuanya.
Air mata tiba-tiba jatuh mengisyaratkan hal yang aneh di pikiran para tamu, ribuan kalimat yang tumpang tindih hingga membuatnya sulit untuk berpikir, hanya kata mungkinkah terus saja terdengar hampir setiap tamu di sana menggunakannya, dengan segera menutup telinga mencoba memulihkan perasaan.
“Dao, Kau baik-baik saja, tidak ada yang salah dalam Dirimu, semuanya terlihat nyata, lantas apa salahnya dengan semua itu? Ayolah Dao ini tidak baik, Kau akan merusak segalanya jika seperti ini,” katanya dalam hati, berusaha menstabilkan perasaannya yang mulai meresahkan semuanya itu.
“Ma ... maafkan Aku, Aku ... tadi ... terlalu terpesona dengan Pengantinnya, sekali lagi maafkan Aku” sambil terus membungkuk kepada semua tamu.
Dao yang terlihat malu mulai berjalan ke arah Tian dan langsung bersembunyi di belakangnya sambil terus mengintip apakah semua telah kembali normal, setelah mengetahui semua baik-baik saja, Dao mulai berpindah posisi berdiri tepat di samping Tian, kedua pengantin kembali berjalan menuju altar pernikahan bak singgasana yang di penuhi taburan bunga persik, yang menambah kesan romantis. Kembali meneteskan air mata mengingat mimpi yang memilukan dan tersenyum saat melihat kenyataan yang penuh kebahagiaan.
“Hiduplah bahagia, bersama selamanya, pastikan tak ada lagi Bayangan yang menghampiri dalam kehidupan kalian,” kata yang di sematkan di sela tangisan yang tertahan, seakan membuat tanda tanya yang besar bagi Tian yang sempat mendengar perkataan dengan nada pelan itu.
Tian yang tak lagi fokus dengan keramaian pesta, terus saja mengerutkan dahinya menahan pertanyaan yang segera ingin di ungkapkan kepada Dao.
Dao tak lagi memperdulikan hal yang terjadi sebelumnya, dalam pikirannya hanya satu yaitu Liánhuā, mengapa dia tak pernah ada dalam nyata, seakan memperburuk keadaan karena yang sebenarnya, dialah orang yang diharapkan ada dalam kenyataan.
Acara pernikahan yang menghabiskan banyak waktu dengan tepukan tangan meriah, menikmati keromantisan yang dipamerkan kedua mempelai yang sedang berbahagia, tarian, kecupan, kalimat romantis dan bahkan pelukan mesra telah terjadi di dalam alur cerita bahagia, tetapi semuanya tak pernah benar-benar di nikmati, matanya terlihat sedang mencari-cari, hatinya penuh pengharapan, seakan menginginkan hal yang sama, bertemu seseorang yang selalu menggenggamnya, selalu berusaha ada dalam setiap kehidupannya, mengorbankan apapun demi bisa bersama, Dao berharap kenyataan yang indah sehingga bisa memperjelas semuanya bahwa lamunannya jelas nyata.
Tak puas hanya dengan memandang, Dao mulai mengelilingi ruangan yang begitu ramai, hatinya sangat yakin akan menemukannya, terus menahan tangisan, mencoba mengontrol emosi yang mulai menggodanya untuk berteriak sangat keras, kini mulai tampak wajah kecewa, keyakinan perlahan memudar, tak bisa lagi menahan kendali, Dao bergegas keluar gedung menumpahkan amarah serta tangisannya, perasaan yang begitu menyesakkan dada, tak ingin lagi menatap langit seakan membenci semuanya.
“Mengapa membuaiku dengan harapan yang bahkan Kau sendiri saja tak bisa memastikannya, bisakah melihat kegilaanku yang terus saja mencari jejak langkahmu? Mengapa mengingatkan dalam lamunan dan hanya memamerkan sebagian yang nyata, apa Kau pikir semua perasaan ini hanya mainan? kapan bisa menahan perasaan ini yang bahkan tak seorang pun bisa mengerti, apa maksud semua ini? Teruslah memamerkan senyum indah itu dalam mimpi, sehingga aku benar-benar yakin kau tak pernah ada, Kau melepas Genggaman ini, Kau sungguh melepaskannya,” Tangisan yang memecah keheningan di akhir kalimat, dengan terus mengepalkan tangannya.
“Aku ingin kembali ... Aku ingin kembali ... tolonglah ... Aku ingin kembali ....”
Bulan tertutup awan mendung, tak jelas terlihat bintang malam itu, suram, membuat perasaannya terus berlarut dalam kesedihan, tak mampu lagi menatap langit dengan segala kekesalannya.
Dao mulai menyeka air mata, mencoba bersikap seperti biasa, perasaan perlahan mulai membaik dengan tarikan napas panjang bermaksud mendinginkan perasaannya, saat akan kembali ke dalam ruangan, Dao menabrak Tian yang sedari tadi telah berada di belakangnya.
“Aduh, mengapa menghalangi jalanku? Menyingkirlah.”
Tian terus saja menghalangi jalannya sambil berkata dengan wajah yang penuh keseriusan, “Apa yang sebenarnya terjadi? Jangan menyembunyikan hal itu padaku, katakan! Apa Kau menyukai Kakakku?”
Wajah polos dengan tatapan bingung, terus memandang Tian, tak ada lagi yang bisa di katakan karena dirinya lelah dengan semua yang telah terjadi kepadanya.
Tian tetap melakukan hal yang sama sambil berkata, “Katakan yang sebenarnya.”
Dao menatap Tian dengan penuh amarah, seakan kesabarannya mulai habis, “Menyingkirlah sekarang!” tatapan yang terlihat dingin berbaur dengan situasi yang sunyi dan mencekam, membuat Tian tak lagi bisa menghalangi langkah Dao yang melenggang bebas menuju ke dalam gedung.
Saat berada dalam ruangan kembali, berharap semuanya akan baik-baik saja, tetapi entah mengapa langkahnya begitu berat menuju ke arah kedua mempelai yang telah tersenyum manis kepadanya, dari kejauhan Dao membalas kembali senyuman mereka, Xunzhao yang sedari tadi telah berada bersama mereka mulai memanggil Dao.
“Dao kemarilah ....”
“Astaga, anak ini tak bisa mempelajari situasi, bahkan Dia tak bisa mengartikan kode yang Aku maksudkan, bagaimana bisa di bilang Saudara kembar?” dengan langkah sedikit memaksa, Dao menghampiri ketiganya.
“Dao, bukankah Kau ingin bertemu dengan Mereka?”
“Apa? Aku? Benarkah begitu? Ah, maksudku ... iya, itu benar,” sambil terus menyatukan kedua jari telunjuknya agar tidak terlihat canggung.
“Kenalkan, ini Dao Qian Yin, Saudara Kembarku.”
“Apa kabar, senang bertemu dengan Kalian,” sambil membungkukkan badannya.
“Dao, ini lili dan ini suaminya Jian,” kedua pengantin baru itu menyapa Dao dengan senyuman.
“Kalian Pasangan yang serasi, maafkan kejadian tadi, Aku tak bermaksud merusak acaranya,” kembali membungkuk.
“Ah, soal itu ... jangan terlalu di pikirkan, hanya kecelakaan kecil saja,” kata Jian sambil menggenggam kembali tangan istrinya.
Dao menatap perlakuan itu dengan wajah sedih, Tiba-tiba Tian pun datang menghampiri, “Dao, Kau disini rupanya?”
“Apa kalian saling kenal?” ucapan bersamaan dari ketiganya sehingga mengundang tawa bagi mereka kecuali Dao, masih tetap diam menyimpan kekesalannya.
“Iya, Kami teman sekelas” jawab Tian sambil menoleh ke arah Dao hanya ingin memastikan apa masih terlihat kesal.
Dao mengalihkan pembicaraan, sambil mengarahkan pandangannya pada Jian, “Tapi ... sepertinya Aku pernah bertemu, bukankah ... Kau yang ....”