The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 13. Tak Terduga



Jelas dalam ingatan, tempat yang penuh kisah, banyak tawa yang telah di lewati meskipun setiap saat harus menentang maut, semuanya tak memiliki beban untuk hal itu, melangkah perlahan, memandangi seluruh sudut ruangan, semua kini hadir dalam ingatan.


Barisan Anggota Sekte Tulang Putih telah siap menyambut Sang Dewi Beracun, seolah seperti Pasukan berani mati, semuanya akan siap berada di barisan terdepan untuk melindungi dirinya.


Saat memasuki ruangan pertemuan, semuanya hening tak ada yang melakukan pergerakan sama sekali.


Tiba-tiba terdengar suara yang begitu lantang, seperti Panglima perang yang ingin mengatakan, "serang ...!" Tapi tidak untuk saat ini, lamunan konyol itu ternyata salah.


“Beri hormat kepada Nona Táohuā ...”kata salah satu Anggota sSekte dengan suara yang begitu lantang dan bergema seakan memenuhi seluruh sudut ruangan.


Semua Anggota pun langsung membungkuk dan serentak berkata, “ Selamat datang kembali Nona Táohuā, ” kali ini benar terlihat seperti para prajurit gagah.


Táohuā yang tidak terbiasa dengan cara formal yang di lihatnya, kini mulai berbisik kepada Liánhuā.


“Hei, apa yang Mereka lakukan? Ini bukan ruangan kekaisaran, bahkan Aku bukan orang yang perlu di hormati,” Liánhuā hanya tersenyum mendengarnya.


Tak lama berselang Xiǎo Mìfēng datang berlari kearahnya, dan langsung memeluk Táohuā tanpa memperdulikan banyak orang disekitarnya.


Táohuā kaget dengan perlakuan Xiǎo Mìfēng, tetapi yang lebih penting dia telah mengingat anak ini, benar-benar jelas mengingatnya.


“Ah, Nona Táohuā, Aku benar-benar merindukanmu” kata Pelayan setianya itu yang masih tetap memeluk Táohuā.


“Hei, bukannya ... sedari kemarin Aku disini? Mengapa baru mengatakannya sekarang?”


“Apa Kau lupa saat kemarin Aku juga mengatakannya? Mengapa Kau melupakannya? Apa ingatanmu tak berfungsi normal lagi?”


“Benarkah begitu? Aku tidak mendengarnya, lupa katamu? Hah, siapa yang lupa? Aku mengingat perkataanmu kemarin, bukankah ... Kau juga mengatakan hal yang buruk tentang Liánhuā?“


Liánhuā langsung memandangi Xiǎo Mìfēng dengan sedikit kesal seakan ingin tahu hal buruk apa yang telah dia katakan kepada pasangannya itu.


“A ... Aku? Mengatakannya? Ah, Nona Táohuā ayolah jangan seperti itu, Aku tak melakukannya, aiyo ... Ketua Sekte, jangan menatapku ... Aku tak mengatakan apapun,” kata Xiǎo Mìfēng yang mulai khawatir.


Táohuā yang melihat wajah tegang Xiǎo Mìfēng langsung tertawa, Liánhuā hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah mereka.


Beberapa saat berselang Liánhuā mulai mengambil alih situasi, dia mulai membahas siasat untuk menangkap Iblis Hóng Wūyā. Kali ini Táohuā mulai menampakkan wajah seriusnya, wajah yang selalu terlihat hanya ketika menjalani tugas penting saja, setelahnya tak bisa dibayangkan lagi.


“Informasi apa yang Kalian dapatkan,” tanya Liánhuā.


Salah satu Anggota pun mulai maju ke depan dengan memberikan Peta kepada Liánhuā untuk dilihatnya, sambil tetap menjelaskan secara lisan.


“Kami menemukan Markas Sekte Bayangan, letaknya di arah Utara dari Bukit tempat Nona Táohuā pertama tinggal, dari sana Kita akan melewati sungai, setelah itu akan terlihat Perbatasan yang sangat aneh, banyak Serangga berbahaya di sana sehingga akan sulit untuk di lewati, tetapi ... dari batas itu Kita bisa melihat Area Markas Sekte Bayangan, untuk masuk ke sana Kami belum berani mencobanya lagi, terakhir mencoba Anggota Kita hampir meregang nyawa.”


“ Jika harus melakukan penyerangan, sepertinya ... Anggota Kita tidak cukup banyak, bahkan kemungkinan besar akan berakhir hanya sampai di perbatasannya itu saja,” kata salah satu Anggota lainnya melanjutkan.


“ Serangga Beracun? Hewan Ganas? Hm ... rupanya Mereka telah terbiasa bermain dengan hal semacam itu.”


“ Lebih tepatnya Mereka mengendalikannya, sehingga Serangga itu akan menuruti apa yang Mereka perintahkan,” kata anggota melanjutkan penjelasan.


“Ah, begitu rupanya, baiklah ... itu tidak masalah, kita lakukan perlahan, Aku akan mengambil Seekor Serangga Beracun yang ada di Perbatasan itu, Aku akan menjinakkannya,” kata Táohuā yang mulai membuat rencana.


“Jika menjinakkan mengapa hanya satu saja? Apa ... Kau sedang mencari teman baru atau semacamnya?” Liánhuā berpikir bahwa Pasangannya telah memulai kekonyolan lagi.


Semua yang ada diruangan langsung tersenyum mendengar perkataan Ketua Sekte, sehingga membuat Táohuā kesal, mereka jelas tak mengerti apa maksud dan tujuannya.


“Hei, Aku belum selesai, dengarlah ... apa kalian pikir Aku telah mempelajari cara menjinakkan Serangga? Jika kalian melihat kejadian saat itu, sepertinya ... hanya kebetulan saja, tapi ... saat terjadi perubahan sekarang ini, Aku bahkan melupakan bagaimana caranya (sambil menggaruk kepalanya), karena itulah Aku akan mencoba mempelajarinya pada Satu Serangga saja, jika itu berhasil maka Aku akan mencoba mengendalikan Mereka(Serangga Beracun), apa kalian mengerti maksudku sekarang?”


Semua menganggukkan kepala sebagai tanda telah mengerti.


***


Markas Sekte Bayangan


Para Pasukan Sekte Bayangan tiba di Markasnya, sambil menahan kesakitan dan berjalan sempoyongan saat memasuki ruangan.


“Yín Gōng menghadap Ketua” Pria Pemanah Api itu tertunduk karena misinya yang gagal.


“Mengapa masih berani menampakkan wajahmu disini! Aku tidak suka mendengar berita kegagalan, harusnya Kau mati saja di tangan Dewi itu, benar-benar mengecewakan! Kau (menunjuk salah satu pasukannya) bawa Dia pergi! jauhkan Dia dari hadapanku! Aku tak membutuhkannya lagi” kata Iblis Hóng Wūyā.


Pasukan itu lalu menghampiri Yín Gōng dan membawanya dalam ruangan yang bisa di bilang seperti penjara itu, saat melewati setiap ruangan dia melihat seorang gadis berada dalam ruangan yang sangat tidak layak untuk di tempati.


Yín Gōng tiba-tiba terhenti, rupanya dia mengenali Gadis itu, dia memaksa Pasukan Sekte Bayangan untuk menempatkan dirinya dalam ruangan bersama Gadis yang di lihatnya tadi, tak berpikir panjang pasukan itu langsung memasukinya dalam ruangan dan menguncinya.


Dalam ruangan Yín Gōng melangkah perlahan ke arah Gadis yang terlihat sangat lesu, rambutnya berantakan, pakaiannya kotor karena duduk di atas lantai yang penuh debu, tatapannya kosong, dia tak lagi menghiraukan siapa pun.


Tak terasa air mata Yín Gōng menetes, dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya, saat telah berada di hadapannya dan benar-benar sangat dekat, Gadis itu tak menghiraukan Yín Gōng sama sekali, jiwanya seperti tak berada di tempat itu.


Yín Gōng masih dengan tangisannya, dan mencoba memanggilnya dengan suara pelan dan lembut, “Xiǎo Húlí ...” lamunan Gadis itu seketika buyar seolah jiwanya telah kembali.


Xiǎo Húlí mulai memandangi Yín Gōng, memandangnya begitu lama, meyakinkan dirinya kalau dia tidak sedang bermimpi, Yín Gōng kembali memanggil namanya “Xiǎo Húlí ...” kali ini sambil menyentuh pipi Gadis itu.


Tangisannya pun pecah, Gadis itu bahkan tak sanggup mengatakan hal apapun meski hanya satu kata, perasaan hatinya bercampur aduk, dia masih saja berpikir dirinya sedang bermimpi.


Yín Gōng mulai memeluk Gadis itu, dia benar-benar bersyukur bahwa Gadis yang dia sayangi masih hidup. kini dirinya mulai bertanya-tanya dalam hati apa yang sebenarnya terjadi, yang dia tahu Gadis ini telah tiada, tetapi kenyataannya hanya di sembunyikan dalam ruangan itu.


Semuanya jelas tak terduga, kesalahpahaman yang terjadi kini harus dia tanggung sendiri, entah bagaimana harus memulainya, bahkan hanya untuk berterus terang dirinya telah terjebak dalam ruangan kosong dan sulit untuk keluar.