The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 7. Ingatan Masa Lalu



Liánhuā kini beralih menatap Mèimei, dan langsung mengajukan pertanyaan.


"Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Jauh lebih baik, tapi ... mengapa Kau tiba-tiba bertanya seperti itu?"


"Itu karena saat ini Aku akan segera memulihkan ingatanmu, apa Kau bersedia?" kata Liánhuā yang kini telah duduk di samping Mèimei.


"Jika Kau bersedia maka genggamlah tanganku," sambil mengulurkan tangannya kearah Mèimei


"Apa Kau yakin tidak akan berpengaruh buruk padamu?"


"Genggaman ini hanya untuk Táohuā, apapun yang terjadi mari lakukan bersama."


Mèimei mulai menggenggam tangan Liánhuā menatapnya sejenak dan kemudian memejamkan matanya.


***


Langit yang biru, butuh berapa kecepatan menuju kesana. Lapisan pertama, lapisan kedua, lapisan ketiga, tak bisa menghitung lagi ada berapa lapisan disana, bisa melihat jelas seberapa besar Bulan dan Bintang, seberapa banyak Dewa dan Dewi yang ada disana, banyak acara perjamuan yang terjadwalkan, mulai mengumpul awan dan duduk diatasnya, menjelajahi beberapa tempat sepertinya ada banyak istana disana, jelas tak terduga keindahannya.


Seiring musim berganti banyak perjamuan yang terlewatkan, kali ini harus terencana.


Saat ini langit akan mengadakan Perjamuan Teh Bunga Persik, Táohuā sangat hafal dengan jadwal perjamuan ini, dia begitu menantikan momen mekarnya Bunga Persik jelas sudah dia begitu menyukai Bunga Persik. Tak hanya itu perkumpulan Dewa dan Dewi semuanya akan datang tak terkecuali sahabatnya, ya ... hanya di Perjamuan Teh Bunga Persik dia bisa bertemu dengan sahabatnya itu, selain perjamuan itu dia tak akan menghadirinya karena banyak tugas langit yang harus dia kerjakan tentunya bersama pasangannya yang tak lain adalah Liánhuā. kali ini dia berharap bisa bertemu dengan Xiǎoyù sahabat yang sangat ingin dia temui yang ternyata adalah Jiějiě.


Sehari sebelum Pejamuan Teh Bunga Persik, telah terjadi percakapan bahkan perdebatan antara Táohuā dan Liánhuā di tempat tinggal mereka.


"Liánhuā, apakah Kita akan pergi ke Perjamuan Teh Bunga Persik?" tanya Táohuā memulai percakapan.


"Tidak! Kita tidak akan kesana, Kita hanya akan ketempat Bunga Persik itu(suatu tempat di langit yang memiliki banyak tanaman bunga persik), Kita akan menghabiskan banyak waktu berdua disana," jawab Liánhuā


"Liánhuā, Kita selalu bersama, tinggal bersama, bahkan melakukan semua hal bersama, tapi ... beda dengannya, hanya di Perjamuan Teh Bunga Persik saja Aku bisa bertemu dengannya, hei ... bisakah Kita ke Perjamuan Teh lebih dulu setelah itu Kita akan ke Tempat Bunga Persik, bagaimana menurutmu?" kata Táohuā penuh harap.


"Tidak! Aku tidak mengijinkannya," sembari memalingkan badannya dari hadapan Táohuā


"Liánhuā ..." membujuk sambil menarik-narik pakaiannya.


Liánhuā menarik pakaiannya kembali dan terus berkata "Aku tidak mau ..."


Táohuā terlihat kesal, dia langsung beranjak pergi meninggalkan Liánhuā, menuju pondok kecil di dekat kolam lotus yang berada tak jauh dari rumahnya.


Dia pun duduk di pondok itu sambil terus mencipratkan air kebunga lotus untuk melampiaskan kekesalannya pada Liánhuā.


"hah, Aku benar-benar kesal! Liánhuā mengapa Kau sekejam ini padaku, jika Kau tak ingin Aku melihat banyak Pria tampan disana, bagaimana denganmu? Apa Kau pikir Aku tidak akan kesal, jika Kau terlalu lama bercerita dengan para dewi disana? Meskipun tentang urusan penting itu akan tetap sama, memang benar saat sedang bersama Mereka, Kau terus menggenggam tanganku, tapi ... tetap saja kau mengabaikanku."


"Tapi ... kali ini bukan soal Pria tampan, terus terang Aku tak memperdulikannya, itu hanya semata-mata ingin menggodamu saja, Aku kesana karena Xiǎoyù, ah ... Xiǎoyù, kali ini Kau memang benar, aku telah berhadapan dengan Sebongkah Es saat ini," Táohuā terus saja menggerutu dan masih saja menciprati Bunga Lotus di kolam itu, seolah Bunga itu adalah Liánhuā.


Liánhuā yang masih berada di rumah, yang juga kesal dengan tingkah Táohuā karena terus memaksa untuk pergi ke Perjamuan Teh Bunga Persik, tiba-tiba mendapatkan pesan dari Burung pemberi kabar, pesan itu ternyata berasal dari Kakek Guru Putih yang tidak lain adalah Kakek Xiǎoyù dan juga Teman dari Liánhuā, hanya saja meski umur mereka terbilang sama tetapi Liánhuā terlihat jauh lebih muda, karena dia mempelajari Ilmu Pencuci Tulang Sum-Sum agar fisiknya tetap terlihat muda, tapi itu bukan salah satu alasannya, dia terus mendalami ilmu tersebut agar dapat menyeimbangi Kekuatan Táohuā yang penuh dengan Kekuatan Racun Iblis, itulah alasan mengapa mereka harus melakukan tugas bersama karena sebagian dari Kekuatan Táohuā akan disalurkan pada Liánhuā dan jika tidak mempelajari Ilmu Pencuci Tulang Sum-Sum itu, maka Kekuatan Táohuā akan membahayakan Liánhuā.


"Aku menunggumu di Perjamuan Teh Bunga Persik, ada hal penting," surat singkat yang ditulis Kakek Guru Putih


"Hah, Pria Tua ini, mengapa Kau juga ikut menggagalkan rencanaku, bisakah bertemu di tempat lain saja, ah ... tapi kurasa benar padanya kali ini, itu akan terlihat mencurigakan jika bertemu di tempat lain."


Liánhuā mulai berpikir bagaimana cara untuk membujuk Táohuā, sambil memandangi Táohuā dari jendela rumahnya.


"Ah, tak perlu memikirkan caranya, jika Aku mengatakan Kita akan ke Perjamuan Teh besok, pasti Dia akan segera melupakan kekesalannya padaku, Táohuā Kau benar-benar gadis bodoh yang tak memperdulikan hal buruk didepanmu, yang Kau tahu semua akan baik-baik saja," kata Liánhuā yang kini mulai berjalan ke arah kolam lotus tempat Táohuā berada.


Táohuā masih melakukan hal yang sama, terus saja mencipratkan air ke Bunga Lotus kali ini dengan menggunakan kakinya.


Liánhuā yang telah berada di tempat Táohuā berada,kini memulai pembicaraan.


" Apa Kau masih kesal?"


"Jika Kau melihatnya, mengapa masih bertanya?" jawab Táohuā yang jelas masih menampakkan wajah kekesalan.


"Hei, jangan melakukannya terus, itu akan membuat bunganya mati," kata Liánhuā lagi yang merasa terganggu dengan apa yang di lakukan Táohuā.


"Siapa yang peduli, Aku bahkan akan membuatnya sulit bernapas," Táohuā menjawabnya lagi dengan kesal.


Liánhuā yang masih berdiri di belakangnya, mulai menggelengkan kepala melihat tingkah Táohuā, dia pun mulai duduk di sampingnya, karena masih merasa kesal, Táohuā yang menyadari Liánhuā telah berada di sampingnya, langsung memalingkan badannya ke arah lain.


"Untuk apa Kau kesini?" tanya Táohuā


"Aku? Aku hanya ... sedang ingin melihat pemandangan."


"Kau bisa melakukannya dari jendela rumah atau dari tempat lain, bukankah ... tempat lainnya juga terlihat indah, mengapa harus kesini?" kata Táohuā yang masih saja marah.


"Tapi, menurutku ... tempat ini sangat indah, jadi ... Aku memilih tempat ini untuk Ku datangi."


"Terserah Kau saja! Sebenarnya apa yang ingin Kau bicarakan?" tanya Táohuā yang sudah paham dengan kelakuan pasangannya.