The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 23. Gadis Kuno



“Ada apa dengan Gadis ini? Hei, mengapa Kau seperti ini? Aku dengar Kau tadi di tertawakan teman-teman sekelasmu gara-gara Kau hanya berada dalam lorong waktu, kalau seperti ini terus Dosen bahkan akan kehabisan welas asih padamu.”


“Kau mendengar gosip itu? Hah, ya ampun mengapa cepat sekali beritanya viral, pantas saja semuanya tersenyum saat melewatiku, rupanya hanya hal sepele ini, bukankah ... semua orang pernah melakukannya juga? Astaga ... Aku bahkan hampir gila dengan keadaanku sekarang.”


“Sudahlah, tak usah di pikirkan, anggap saja Kau sedang sial hari ini, ayo lanjutkan makannya,” kata Lala sambil tersenyum saat memandangi Dao seolah ikut mengejeknya juga, kemudian melanjutkan makannya, begitu pun dengan Dao.


Setelah selesai mengisi energi mereka pun kembali berjalan menuju kelas masing-masing.


“Lala, kita pulang bersama, tunggu Aku jika Kau lebih dulu selesai”


“Baiklah ...” jawab Lala yang akan memasuki kelasnya.


Dalam kelas yang penuh keributan, Dao terkenal dengan sebutan “Gadis Lorong Waktu” alasannya karena Dao hampir setiap saat selalu berada dalam lamunannya, dan tak menghiraukan yang ada di sekelilingnya, meskipun begitu dia adalah orang yang ramah dalam kelasnya.


Dao memilih duduk dibangku sebelah kanan dekat jendela, berada di barisan paling belakang, posisi yang paling nyaman untuk menikmati pemandangan luar, melihat banyak Mahasiswa kesana kemari, baginya seperti tontonan Dokumenter dalam acara televisi, terlebih udara yang di dapatkan jauh lebih segar dibandingkan harus duduk di antara sekelompok orang yang tak mengerti tentang apa yang dia pikirkan.


“Perhatian semuanya, harap tenang dulu, Aku mendapat pesan dari Dosen kalau hari ini Beliau memiliki urusan mendadak jadi belum bisa mengajar” kata Tian Ketua Tingkat di kelasnya.


Tian, Pria yang juga memiliki wajah oriental ini memiliki banyak pengagum, terutama kaum hawa yang menggilai Boy Band Korea, bagi mereka Tian adalah Pria yang bisa di kategorikan sama seperti Idola mereka, entahlah sepertinya hanya Dao yang tak begitu tertarik, sehingga julukan Dao semakin banyak, Gadis Kuno menjadi sebutan baru untuk dia kali ini.


Setelah mendengar informasi dari Ketua Tingkat, semua mulai ribut dan sibuk membereskan tas mereka masing-masing bersiap untuk pulang begitu pun dengan Dao.


Dengan wajah lesu, dia keluar ruangan menuju halaman kampus untuk menunggu Lala yang masih memiliki jam kuliah. Tian yang sedari tadi memperhatikan Dao yang tampak tak semangat hari ini, kini mulai menghampiri Dao yang telah berada di taman.


“Dao, mengapa belum pulang? Apa ... sedang menunggu jemputan?”


“Aku sedang menunggu Lala, tak ada yang menjemputku, Xunzhao sangat sibuk hari ini,” jawab Dao dengan wajah cuek tak seperti Mahasiswi lain pada umumnya, yang akan salah tingkah ketika Pria ini mengajukan pertanyaan.


“Bisakah Aku ikut duduk?”


“Ada apa denganmu? mengapa formal sekali? Duduk saja jika itu yang Kau inginkan, lagi pula Aku tak membawa Kursi Taman ini dari Rumah,”


Tian hanya tersenyum mendengar perkataan aneh dari Gadis Kuno itu.


“Hah, begini ternyata rasanya duduk bersama Idola Kampus,” kata Dao yang sejak tadi telah memperhatikan lirikan sinis Mahasiswi kepadanya.


“Ada apa? Memangnya kenapa?”


“Lihatlah, Para Gadis itu mulai membuat kerutan di wajah mereka saat melihat Kau duduk bersamaku, bukankah ... itu akan membuat wajah Mereka menjadi cepat tua? Hah, Ku rasa Mereka akan membuat julukan baru lagi untukku.”


“Aku juga jadi penasaran, bahkan tak sabar menunggunya,” jawab Tian yang mulai meledek Dao.


“Ah, jangan-jangan Kau sengaja datang kesini agar Aku mendapat julukan baru, benar begitu? Ya ampun, kasihan sekali Para Gadis itu, mengidolakan Pria yang tidak baik sepertimu, katakan! Apa maksudmu datang kemari.”


“Astaga, Aku tak bisa membedakan perhatian atau celaan dari perkataanmu itu, sudahlah ... Aku baik-baik saja jangan permasalahkan itu, lebih baik Kau pergi dari sini, agar Aku tak mendapatkan julukan baru dari penggemarmu.”


Tian hanya meresponnya dengan senyuman, menepuk bahu Dao kemudian berlalu pergi, tak lama berselang Lala datang menghampiri Dao.


“Kita pulang sekarang?” tanya Lala yang masih berdiri di hadapannya.


“Lala, apa Kau sibuk hari ini? Bisakah Kita pergi ke Toko Buku lebih dulu?”


“Baiklah, terserah Kau saja, ayo Kita pergi.”


Mereka pun beranjak pergi menuju ke Toko Buku, sesampainya di sana Lala terlihat bingung karena Dao hanya membeli kuas kecil dan kertas.


“Jauh-jauh kesini, Kau hanya membeli peralatan menulis? Entahlah itu untuk melukis atau menulis, hah, Gadis Kuno ini hampir membuatku gila”


“Lala, Kau bahkan tahu kalau Aku bukan Gadis Kutu Buku, Aku hanya senang menulis, jadi ... wajar saja jika Aku membeli alat tulis, kunonya di mana? Semuanya bahkan akan membeli alat tulis bukan? mengapa terlihat aneh jika Aku membelinya juga.”


“Hei, jelas itu sangat aneh, semua akan membeli alat tulis yang normal pada umumnya, tapi ... Kau malah membeli Kuas dan lembaran kertas kosong yang tipis.”


“Percuma, Kau tidak akan mengerti meski Ku jelaskan, ayo ke Kasir,” Dao membayarnya dengan Kartu Kredit, satu-satunya alat pembayaran yang paling dia nikmati.


“Aku pikir Kau akan membayarnya dengan Kepingan Uang Perak zaman dulu, syukurlah, setidaknya Kau masih mengikuti Perkembangan Jaman.”


“Aku menikmati cara pembayaran ini, karena jika memintanya langsung kepada Xunzhao, itu akan membuat perdebatan yang panjang, ah, sudahlah ayo kita pulang.”


Mereka pun pulang menaiki bus menuju rumah masing-masing, jarak rumah yang tak cukup jauh tetapi bisa melelahkan jika harus berjalan kaki, Dao akan lebih dulu sampai dan Lala setelahnya.


Dao yang kini telah berada di rumah, langsung memasuki kamarnya dan mulai membaringkan tubuhnya ke kasur, tempat paling nyaman dalam kehidupannya. Sambil melihat smartphone canggih yang ada di ganggamannya, dia mulai mengirim pesan kepada Xunzhao.


‘Xunzhao, aku sudah berada di rumah sekarang, bisakah kau pulang lebih cepat?’ pesan terkirim.


Dao menatap langit-langit kamar, mimpi semalam masih terus bermain dalam pikirannya saat ini.


“Hah, ini tidak masuk akal, mengapa mimpiku begitu aneh? Liánhuā, Pria tampan itu begitu mengagumkan, andai saja ada dalam Dunia nyata, ah, pikiranku mulai memburuk, benar-benar konyol! Dewi beracun, apanya yang beracun? Bahkan Xunzhao berada di dalamnya, semuanya tidak masuk akal, tapi ... sepertinya Aku pernah bermimpi hal ini sebelumnya, ya ampun, Aku mulai tidak waras.”


Tiba-tiba terdengar suara mobil memasuki garasi, sudah bisa di tebak kalau itu adalah Xunzhao.


“Dao ... kemarilah, bantu Aku sebentar,” teriak Xunzhao.


Dao pun bergegas menghampirinya, “Astaga! apa yang terjadi? Mengapa penampilanmu seperti ini?”