
Dengan berpakaian hitam, sebagian wajah di tutupnya, hanya nampak mata yang menyala, Pengawal Bīng Lín tengah bertugas melakukan pemantauan.
"Hormat Pangeran, telah terjadi pemberontakan di Wilayah Selatan Perbatasan, Aku tak berani ikut andil di dalamnya, karena akan ada nanti yang akan mencurigaiku. Tak terlihat Anggota Kerajaan dalam penyerangan itu, tapi sepertinya ... Aku mengenal wajah dari salah satu pemberontak itu. Dia adalah Perampok yang dipekerjakan Selir saat melakukan politik dagangnya yang kejam."
"Sudah diduga, ini akan terjadi, semuanya hanyalah siasat untuk mengelabuhi Kita, sehingga tak memiliki kesempatan bergerak untuk rencana selanjutnya."
"Apa Mereka menjarah barang Para Pedagang? Ini mulai tidak benar, Aku hanya berpikir Mereka ingin memperbesar kesempatan untuk mengambil alih Wilayah Kekuasaan," lanjut Pangeran Li De Lóng.
Kembali Pengawal Bīng Lín menjelaskan kejadian yang di lihatnya, "Mereka melakukan perampokan yang kejam, sepertinya Mereka baru melakukannya pertama kali, warga tak satupun melakukan perlawanan, sehingga tak ada yang tewas, tapi tak sedikit juga yang terluka."
"Jika ini sampai ke telinga Kaisar, maka Adik Ketiga akan menjadi sasaran kemarahan Kaisar, dan kemiliteran akan di alih tugaskan kepada yang lainnya. Sudah jelas Kàn Yún akan mengusulkan Seseorang dari kubunya, karena saat ini Kaisar sangat mempercayai Kàn Yún dalam hal politik ini. Li De Lóng ada baiknya besok Kau segera pergi ke perkemahan Adik Ketiga, agar Ia bisa secepatnya mengantisipasinya.
Pangeran Kedua membalasnya dengan anggukan. Tak lama Bīng Lín pun berpamitan, "Pangeran, Aku permisi."
"Baiklah, jaga dirimu."
***
Pagi menyapa, Yi Lan yang masih memeluk erat Kakak Keduanya, seakan tak ingin beranjak dari tempat tidur. Pangeran Li De Lóng yang sebenarnya telah bangun sedari tadi, tak bisa lagi berbuat apapun dalam dekapan erat Adiknya.
Sambil berbisik pelan Pangeran Kedua mulai membangunkan Yi Lan, "Bangunlah ... apa Kau tidak ingin jalan-jalan lagi?"
Yi Lan membalasnya dengan gelengan kepala sambil menahan tubuh Kakaknya dengan satu kaki dan memeluknya sangat erat bermaksud agar tetap berbaring.
Kembali Pangeran Kedua berbisik, "Yi Lan, bangunlah ... Kita akan pergi ke Perkemahan Kakak Ketiga."
"Benarkah? Kalau begitu baiklah, Aku akan segera bersiap," Ia pun segera bangkit dari tempat tidurnya dan mulai bersiap, seperti biasa masih dalam bantuan Kakak Keduannya dalam urusan rambut.
**
"Semuanya siap. Kakak, ayo berangkat," kemudian mereka berjalan menuju teras rumah yang disana telah ada Pangeran Pertama.
"Kakak Pertama, terima kasih sudah mengajakku jalan-jalan,dan maaf telah merepotkanmu kemarin. Aku akan kembali lain waktu," sembari membungkuk memberi hormat.
"Baiklah, Anak manis. Ini permenmu, makanlah saat di perjalanan," sambil mengusap lembut kepala Yi Lan.
Yi Lan langsung mengambilnya dengan wajah penuh bahagia, "Terima kasih Kakak, Aku permisi."
"Kakak, Aku permisi. nanti kuberi kabar selanjutnya," kata Pangeran Li De Lòng yang juga ikut berpamitan, sembari membungkuk dan pergi meninggalkan Paviliun bersama Yi Lan yang terus saja melambaikan tangannya hingga tak terjangkau lagi oleh pandangan.
***
Suasana yang masih terlihat cerah, masih tetap menikmati pemandangan sepanjang perjalanan. Tak ada nyanyian tanpa arti saat itu, karena Yi Lan tak ingin lagi kelelahan dan membuat semua Kakaknya khawatir.
Tiba di Perkemahan Pangeran Ketiga, banyak Prajurit yang terlihat berlatih dengan seriusnya. Pandangan mata Yi Lan tak habis-habisnya menatap semua Prajurit yang berlatih dengan begitu gagah. Tepat di depan ruang Pangeran Ketiga, Xuè Chèng menyapa Keduanya. Tak lama Pangeran Lóng Huǒ keluar.
"Kakak? Ada apa kemari?" tanya Pangeran Ketiga.
"Aku hanya mengajak jalan-jalan Yi Lan, dan ada yang ingin di bicarakan."
"Baiklah, Kita bicarakan nanti. Kau kedalam dulu Kakak, ada laporan penting yang juga harus Kau lihat disana. Aku ingin mengajak Gadis Kecil ini jalan-jalan," sembari mengacak rambut Yi Lan.
Dan hanya di balasnya dengan anggukan disertai senyuman. Pangeran Ketiga yang juga mendengarnya kembali mengacak rambut Yi Lan.
"Kakak, Dia mengacak rambutku lagi. Aku tak menyukainya." sembari menampakkan wajah kesal.
"Apa? Kau tidak menyukaiku? Bagaimana kalau Aku mengajarkan Kau memanah, apa Kau menyukainya?"
"Baiklah, tapi ... rambutku ...."
"Serahkan padaku, Aku bisa merapikannya. Kakak, pergilah melihat catatan militer di atas mejaku, Aku akan kembali setelah ini. Ayo jagoan kecil."
"Ayo!" jawab Yi Lan sembari menggandeng tangan Kakak Ketiganya dan pergi meninggalkan Pangeran Li De Lóng.
Tiba di kawasan Prajurit Pemanah, Pangeran memanggilnya dalam ruangan untuk memperbaiki rambutnya, "Yi Lan, Kau adalah Pendekar sekarang, jadi ikatan rambutmu tidak akan cocok jika seperti ini, apa Kau ingin menjadi seperti Pendekar?"
"Benarkah? Kakak, kalau begitu ubahlah rambutku agar terlihat seperti Pendekar," kata Yi Lan sembari memperbaiki cara duduknya.
Pangeran Lóng Huǒ mulai mengubah rambut Yi Lan dengan cara menguncir seluruh rambutnya tepat di bagian atas kepala, sama seperti cara Ia mengatur rambutnya sendiri, " Selesai! Lihatlah, Kau mirip denganku sekarang. Ayo Pendekar, Kita segera pergi berlatih memanah."
Yi Lan membalas dengan anggukan, Ia terlihat senang dengan rambutnya yang terlihat seperti Pendekar. Pangeran Lóng Huǒ kini mulai melatih Yi Lan cara memanah, hingga tak tahu lagi seberapa lama mereka menghabiskan waktu bersama, saat Yi Lan sedang menarik busur panah, Ia mendengar suara Pangeran Li De Lóng memanggil.
"Yi Lan?" panggil Pangeran Kedua, sekedar memastikan apa yang di lihatnya adalah Yi Lan karna model rambutnya yang telah berubah.
Yi Lan menjawab panggilan itu dengan membalikkan badannya sambil terus menarik busur yang ada di tangannya, sontak Para Prajurit yang berada tepat di depan busur itu, segera tiarap. Hampir saja Yi Lan melepasnya, tetapi Pangeran Lóng Huǒ segera menahannya. Semua yang menyaksikan akhirnya bisa bernapas lega.
"Yi Lan, mengapa rambutmu seperti ini? Ayo ikut, Kakak akan memperbaikinya."
"Jangan Kakak, ini adalah kunciran rambut Seorang Pendekar. Bukankah begitu Kakak Ketiga?"
"Apa? He ... Iya benar," jawab Pangeran Lóng Huǒ sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain, sambil menggaruk kepalanya yang tak terasa gatal.
"Pendekar? Baiklah kalau begitu, ada baiknya Pendekar Cantik ini beristirahatlah sebentar. Kakak ingin berbicara dengan Kakak Ketiga setelah itu Kita akan kembali ke Paviliun. Ayo ...." sembari menggendong Yi Lan memasuki ruangan, di ikuti oleh Pangeran Lóng Huǒ.
Setibanya di ruangan, "Yi Lan, Kau istrahatlah dulu, jangan keluar sebelum Kakak kembali, Kakak hanya sebentar saja. Xuè Chèng tolong jaga Putri Yi Lan," kata Pangeran Li De Lóng.
Yi Lan menganggukan kepalanya tanda mengerti, begitupun dengan Xuè Chèng.
Di luar Ruangan, kembali Kedua Pangeran itu membahas masalah Kerajaan, Pangeran Kedua mengawali pembicaraan.
"Lóng Huǒ, Wilayah Selatan Perbatasan, telah terjadi pemberontakan, ada baiknya Kau mengutus Prajurit di setiap Wilayah, dan segeralah menambah Prajurit baru untuk di latih. Kakak Pertama juga ikut menjaga bagian yang ada di wilayahnya, sambil menunggu Prajurit utusanmu."
"Apa Ayah telah mengetahuinya?"
"Sementara ini belum ada kabar untuk hal itu, karena baru semalam kejadiannya. Karena itu, Aku menemuimu untuk menyampaikan hal ini. Segeralah melakukan tindakan sebelum Ayah mendengar Laporannya."
"Baiklah, Aku akan segera mengirim Prajurit. Kakak, Aku juga telah mengatur mata-mata untuk semua Wilayah termasuk dalam Istana. Mereka adalah Prajurit lepasku, jadi tak ada yang mengenalnya termasuk kalian. Dalam Istana sebenarnya telah ada beberapa sebagai Pelayan, tetapi hanya sebagai penampung informasi saja, tetapi mata-mata yg akan ku utus kali ini adalah yang benar-benar berpengalaman dalam berbagai bidang, sehingga mampu mengambil hati Para Perdana Menteri kubu lawan. Kita lihat nanti akan seperti apa selanjutnya.
"Ada baiknya Kau tak memberi Mereka Identitas, agar bisa menjaga anggota keluarganya. Baiklah, Aku harus segera kembali, jangan lupa selalu beri kabar," sembari melangkah memasuki ruangan untuk menjemput Yi Lan.