The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng

The Journey Of Yi Lan And Zhen Di Feng
Episode 38. Suasana Baru



"Cepat berangkat!" kata Pangeran Li De Lóng yang terlihat terburu-buru memasuki kereta. Dengan segera Pengawal Dìbàng memperlaju keretnya.


Dalam Istana, Permaisuri yang tak kuasa menahan tangis, memeluk erat Sang Kaisar seakan meluapkan kesedihannya, perasaannya hancur bahkan terasa sulit meski hanya untuk menjelaskannya, semasa kecil putrinya tak bisa berlama-lama di pangkuannya dan sekarang bahkan tak bisa lagi melihat senyumannya.


***


"Kakak, tubuhku sangat dingin, tolong Aku rasanya sakit sekali," sesaat Ia terdiam dan mengatakan hal yang lainnya.


"Kakak, tubuhku sangat panas," Pangeran Li De Lóng mulai kebingungan, tubuh Yi Lan yang berada di pangkuannya melemah, Ia berusaha mengumpulkan tenaganya untuk menyalurkan energi kepada Yi Lan. Cahaya hijau bersinar memenuhi telapak tangannya, Ia meletakkan tangannya kebagian dada Yi Lan dengan sedikit menekannya.


Rengekan kesakitan tak lagi terdengar, kembali Ia memperbaiki cara tidur Yi Lan yang ada di pangkuannya dengan sesekali mendekap erat tumbuhnya, matanya sedikit berkaca-kaca berusaha menahan kesedihan.


Dalam benaknya terus saja berharap kesembuhan yang benar-benar pulih, jauh dari ramalan buruk yang menyelinap masuk dalam pikirannya.


"Yi Lan, tenanglah Kau akan baik-baik saja," suara yang terdengar jelas di telinga Yi Lan, hanya bisa di balasnya dengan anggukan lemah.


Telah berada jauh dari Istana, keadaan Yi Lan mulai membaik, Ia pun mulai memamerkan keahlian bicaranya, meskipun sedikit menahan sakit yang masih tersisa.


"Kakak, rambutku berantakan, kali ini sepertinya ... Kau yang melakukannya."


Memandang sesaat dengan senyuman, kembali Ia mendekap Yi Lan sambil berbisik pelan, "Kakak akan memperbaikinya nanti, jika Kita sudah sampai."


"Apa Kita akan kembali ke rumah? Bukankah ... Kita akan berangkat esok hari? Kakak ... Aku mengantuk."


"Kalau begitu tidurlah, Kakak akan membangunkanmu jika telah sampai," Yi Lan membalasnya dengan anggukan dan mulai memejamkan mata hingga terlelap di pangkuan Pangeran Li De Lóng.


Sepanjang jalan kereta terus saja melaju, memecah keheningan malam, terlelap dalam buaian mimpi yang tak jelas.


Di Paviliun, kabar rupanya telah terdengar oleh Ketiga Pangeran, mereka terlihat mondar-mandir sambil sesekali memandangi jalan setapak, wajah kegelisahan seakan sulit untuk di sembunyikan, tak sabar menanti kepulangan Pangeran Kedua bersama Putri Yi Lan. Tak lama kereta memasuki Paviliun, Ketiga Pangeran bergegas menghampiri Pangeran Li De Lóng yang keluar perlahan sambil menggendong Putri Yi Lan yang masih tertidur pulas, segera Ia meletakkan jari telunjuknya di bibir seakan ingin mengisyaratkan untuk tidak membuat keributan, semuanya pun hening bahkan hanya sekedar melangkah.


Tiba di kamar Pangeran, Ia membaringkan Putri Yi Lan di ranjang miliknya, menyelimutinya agar tetap hangat disertai kecupan untuk menemani mimpi indahnya. Kembali Pangeran keluar dan duduk bergabung bersama Ketiga Pangeran, hanya letih yang kini tergambar jelas di wajahnya, kepanikan yang terjadi sebelumnya perlahan memudar, terhapus oleh pandangan Yi Lan yang tertidur pulas sejak masih dalam pangkuannya.


Semuanya mengharapkan cerita yang jelas dari Pangeran Li De Lóng, dengan sisa tenaganya yang telah di renggut kekhawatiran, kini mencoba menceritakan dengan jelas dari awal kata hingga titik akhir cerita. Ekspresi wajah kekhawatiran masih tergambar jelas diwajah Keempat Pangeran, terjaga sepanjang malam seakan sulit tertidur saat memikirkannya.


***


Musim Semi menghadirkan mentari pagi, menyelimuti Bumi dengan penuh kehangatan, terbangun tampa dekapan saat pejaman mimpi terbuka. Memandangi langit-langit kamar yang terlihat berbeda dari sebelumnya, tetapi hati tak bisa di bohongi bahwa kenyamanan telah di rasakannya saat ini.


Pangeran Li De Lòng bergegas menuju kamar, "Putri Yi Lan sudah bangun rupanya, apa Kau tertidur pulas?"


Yi Lan tak menanggapi pertanyaan Pangeran Kedua, tetapi mulai bertanya, "Kakak, Apa ini rumahmu? Apa Kau akan mengajakku untuk melihat-lihat? Kakak, bisakah Kau merapikan rambutku?"


Pangeran Li De Lóng kembali tersenyum bahagia, meskipun pertanyaan yang keluar dari bibir gadis kecil itu terkadang sulit untuk di jawabnya tetapi Ia akan terus merindukan hal itu. Sambil mengajaknya duduk di depan cermin untuk merapikan rambutnya, Pangeran Li De Lòng mulai menjawab satu demi satu pertanyaan adik kecil itu.


"Kau bahkan belum menjawab pertanyaan Kakak, Kita akan jalan-jalan setelah sarapan, dan akan memperkenalkan Kakak lainnya kepadamu."


"Kakak? Apa Aku masih memiliki Kakak yang lainnya? Aku pikir Kau adalah satu-satunya Kakakku, apa Mereka akan baik sama sepertimu? Tapi, mengapa ... Aku baru mengetahuinya sekarang? Ah tidak! maksudku ... mengapa Kakak baru memberitahunya sekarang? Apa Mereka juga tinggal di Istana? Aneh sekali, jika itu terjadi mengapa Mereka tidak pergi menemuiku?"


Pangeran Li De Lòng hanya bisa menggelengkan kepalanya, Ia tak menyangka pertanyaan sebanyak itu akan di lakukannya hanya dengan sekali bicara. mulailah Ia menjawab perlahan semua pertanyaan Yi Lan.


"Kau memiliki Empat Kakak dari Ibu Permaisuri, Kau juga memiliki Kakak lainnya dari Ibu Selir, Mereka semua hadir saat Kau lahir, akan tetapi Ketiga Kakakmu memiliki kesibukan yang tak bisa di tinggalkan, semuanya menyangkut pertahanan Kerajaan, hanya Kakak Keempat saja yang tinggal di Istana, tapi saat Kau disana Ia tak berada di tempat, selain dari Kakak Keempat semua tinggal di Paviliun masing-masing, soal kebaikan itu sudah tentu, Kau tak perlu meragukannya."


"Berarti akan sangat banyak yang menjagaku nanti," sambil tersenyum bahagia.


"Itu sudah pasti Nona Cantik."


Seusai merapikan rambut, mereka mulai sarapan dan setelahnya berjalan mengelilingi Paviliun yang penuh dengan Tanaman bunga.


"Kakak, bisakah Kau memetik bunganya untukku?" sambil menunjuk kesalah satu bunga yang ada di taman.


"Tak perlu memetiknya, itu tidak akan membuatnya cantik lagi, jika Kau menyukainya Kau boleh datang ke taman ini, dan pandanglah sampai kau merasa puas."


"Ah, seperti itu rupanya, baiklah ... Aku akan mengunjunginya jika ingin melihat bunga itu lagi," kembali mereka berjalan menuju ruang tamu sambil menanti kedatangan Ketiga Pangeran yang akan datang menemui Yi Lan kembali.


sambil duduk mereka pun melanjutkan perbincangannya, "Kakak, apa semalam Mereka juga ada dirumah ini?"


"Iya, Mereka ingin melihat keadaan mu, hanya saja melihat Kau tertidur pulas, Mereka kembali melanjutkan tugas, tapi ... mengapa Kau menanyakan hal ini?


"Saat berada di gendongan semalam, Aku sekilas mendengar suara langkah kaki yang sangat banyak, Aku pikir Kita telah sampai, tapi mataku saat itu terasa berat untuk di buka."


Tak berselang lama Ketiga Pangeran pun datang memasuki Paviliun dengan menunggangi kuda. Wajah yang hampir mirip sudah jelas Yi Lan dengan mudah bisa menebaknya, dengan penuh keceriaan dan senyuman merekah Ia pun beranjak dari tempat duduknya segera ingin menyapa Ketiga Kakak yang baru di lihat nya, akan tetapi wajah Yi Lan kembali berubah dengan sedikit mengerutkan dahinya.