
Tatapan tajam Yi Lan mengarah kepada Pangeran Li Lóng Huǒ, semuanya bahkan terlihat bingung. Langkah kaki Ketiga Pangeran terhenti tepat di selasar rumah, tatapan yang tak biasa itu membuat tanya terutama bagi Pangeran Li Lóng Huǒ.
Kembali Yi Lan mengalihkan pandangannya dan mulai memberi salam, "Yi Lan memberi hormat" sambil membungkukkan badannya. Kekaguman terhadap bunga yang baru mekar, seperti itulah tatapan Ketiga Pangeran kepadanya.
Yi Lan kembali menatap tajam Pangeran Li Lóng Huǒ, rasa penasaran yang tak tertahankan, dengan segera Pangeran Ketiga itu membungkukkan badannya agar sejajar dengan tinggi Yi Lan dan mulai mengajukan pertanyaan.
"Ada apa Gadis cantik, mengapa menatap Kakakmu seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" kembali menegakkan badannya sambil terus memeriksa keadaan dirinya.
Pangeran Li De Lóng yang juga telah berdiri di samping Yi Lan, ikut menunggu jawaban dari Adiknya itu.
"Kakak, pakaianmu terlihat kejam, Aku melihat noda merah di lengan bajumu" sambil menunjuk noda merah yang dilihatnya.
Pangeran Li De Lóng menatap kesal kepada Li Lóng Huǒ, karena tak merapikan dirinya sebelum menuju ke Paviliun, kebiasaan yang sulit Ia ubah.
Pangeran Li Lóng Huǒ tak tahu lagi harus menjawabnya dengan apa, sampai-sampai Ia harus diam sejenak untuk merangkai kata yang baik sebagai jawabannya.
"Ini noda darah hewan hasil buruan. Ah, tidak-tidak itu akan menakutinya, atau ... seperti ini saja, Aku adalah Jendral Perang jadi tentu saja akan ada bekas darah. Ah, apalagi seperti itu, terlalu jelas kekejamannya. Ya ampun ... mengapa Adik kecil ini harus memperhatikan hal itu, astaga apa yang harus Aku katakan padanya?" gumamnya dalam hati.
Melihat Pangeran Li Lóng Huǒ yang mulai terlihat bingung, dan masih saja diam di hadapan Yi Lan, dengan segera Pangeran Li Jīnlóng menjawabnya.
"Adik manis, itu hanya noda getah pohon, karena lelah dalam perjalanan menuju kemari, Kakak Ketiga singgah sebentar di bawah pohon, dan tak menyadari getah itu menempel di bajunya."
Pangeran Li Lóng Huǒ akhirnya kembali bernapas lega, sambil menganggukkan kepalanya untuk membenarkan perkataan Pangeran Li Jīnlóng.
"Tapi Kakak, mengapa rompi bajumu terbuat dari logam? Bukankah itu berlebihan?"
"Oh, Baju keras ini? Mengapa Aku memakainya? He ... itu karena ...." sambil menggaruk kepalanya yang tak bisa lagi berpikir, kembali Ia memandang Pangeran Li Jīnlóng.
"Karena Kakakmu sedang melatih Prajurit Kerajaan, jadi harus menggunakan pakaian seperti ini," sambung Pangeran Li Jīnlóng lagi.
Kembali Pangeran Li Lóng Huǒ membenarkannya lagi dengan anggukan. Untuk menjaga agar tidak terjadi pertanyaan yang membingungkan lagi, Pangeran Li Jīnlóng akhirnya mulai mengambil alih pembicaraan.
"Yi Lan, apa Ketiga Kakakmu ini tak akan Kau persilakan untuk masuk? Sepertinya ... akan melelahkan jika harus terus berdiri."
"He ... Aku hampir melupakannya. Baiklah, silahkan masuk Kakak"
Pangeran Li Jīnlóng mulai berbisik ke Kakak ketiganya, "Kakak, segera lepaskan baju perangmu itu, jika tak ingin menjawab perkataan aneh yang keluar dari bibirnya."
"Ah ... baiklah," sambil melepaskannya.
Ketiga Pangeran itu pun melanjutkan langkahnya menuju ruang tamu yang juga sebagai tempat bersantai Keempat Pangeran saat sedang berkumpul. Kembali mereka melanjutkan perbincangan, kali ini Pangeran Li Lóng Huǒ tak lagi menggunakan baju perangnya itu. Yi Lan yang juga ikut duduk di atas pangkuan Kakak Kedua, mencoba memperbaiki cara duduknya.
Pangeran Kedua memulai perbincangan, "Yi Lan, apa Kau sudah tahu kalau Mereka adalah Kakakmu?"
"Baiklah, kalau begitu Aku akan memperkenalkan Mereka satu persatu. Ini adalah Pangeran Li Shuǐlóng, Kakak pertama mu, dan yang memiliki noda merah di lengan bajunya itu adalah Pangeran Li Lóng Huǒ, Dia Kakak Ketigamu, kemudian yang terakhir adalah Pangeran Li Jīnlóng, Kakak Keempatmu, dan Aku sendiri adalah Kakak Kedua. Apa ... Kau telah mengingatnya?"
Sambil memandang sebentar semua Kakaknya, Ia pun kembali menjawab pertanyaan Kakak Kedua, "Iya, Aku mengingatnya dengan baik."
"Yi Lan, besok Kakak akan pergi ke Istana, merampungkan urusan Kerajaan, tapi itu tidak akan lama. Jadi ... Aku akan mengantarmu ke Paviliun Kakak Pertama, bukankah ... Kau juga ingin jalan-jalan?"
"Benarkah? Apa Aku juga bisa kesana? Apa Paviliun milik Kakak Pertama sangat indah juga? Ah, Aku sudah tidak sabar ingin kesana, tapi ... apa Kakak Pertama akan mengajakku jalan-jalan jika sampai disana?" sembari memandangi Kakak pertamanya dengan wajah memelas.
Pangeran Li Shuǐlóng hanya menjawabnya dengan anggukan lembut, sesuai kepribadiannya yang tak banyak bicara.
Di sela pembicaraan Pangeran Li Lóng Huǒ yang terlihat semakin menyukai tingkah Yi Lan, mulai bertanya kepada Adiknya itu, "Yi Lan, apa Kau juga ingin berkunjung ke Paviliun milikku?"
"Tentu saja, Aku akan mengunjungi semuanya. Apa ... Kakak Kedua akan mengantarku juga kesana?"
Pangeran Li De Lóng hanya bisa tersenyum dengan memaksakan anggukannya, kembali Ia menatap Li Lóng Huǒ dengan kesal.
"Ada apa? Bukankah ... Dia juga Adikku?" Kata Pangeran Ketiga yang juga ingin berbagi kebersamaan dengan Adik perempuannya.
"Bagaimana dengan Kakak Keempat? Mengapa ... Kau tak mengajakku untuk jalan-jalan? Kata Kakak Kedua tempat tinggalmu di Istana, tapi ... sepertinya Aku belum di perbolehkan Kakak Kedua untuk pergi kesana, jadi ... Apa Kakak akan menemaniku jalan-jalan di lain waktu?"
"Baiklah, Aku hanya bisa menunggu giliran untuk mengajakmu."
Tak lama berselang, Xuè Chèng Pengawal Pangeran Li Lóng Huǒ datang ke Paviliun, wajahnya terlihat ingin menyampaikan hal penting kepada semua Pangeran.
"Xuè Chèng menghadap!"
Mengetahui hal itu, Pangeran Kedua mulai menyuruh Yi Lan kembali ke kamarnya, "Yi Lan, bisakah Kau pergi ke kamar sebentar? nanti Kakak akan menyusulmu."
"Baiklah ...." sambil berjalan menuju kamar.
Yi Lan bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga penurut. Ia akan mendengarkan perkataan Kakaknya, dan selalu mengingat semua nasehat yang di berikan kepadanya, sehingga tak akan sulit untuk mengurusnya.
Setelah Yi Lan memasuki kamar, Xuè Chèng melanjutkan perkataannya, "Pangeran, Mereka mengubah rencana. Sepertinya ... Mereka telah mengetahui siasat Kita, jika harus melakukannya sekarang itu tidak akan baik."
"Kita akan menundanya, mencoba melihat perlahan rencana Mereka, sementara berhenti melakukan pemantauan, itu mungkin akan terlihat jelas. kerjakan urusan Kerajaan seperti biasa, setidaknya bisa mempelajari siapa saja yang bermain di dalamnya." Kata Pangeran Keempat yang di ikuti anggukan setuju oleh Pangeran lainnya.
Pangeran Li Shuǐlóng yang juga bertanggung jawab dalam pemantauan, mulai berpamitan untuk menginformasikan kepada pengawalnya tentang penundaan rencana, "Baiklah, kalau begitu Aku kembali lebih dulu. Bīng Lín harus menunda rencananya, ini tidak akan baik jika Dia terus melakukan pemantauan."
"Aku juga akan segera kembali ke Istana, sepertinya rencana awal Mereka di sana."
"Hah, ulah ini seakan di tutupi dengan Mahkota. Tidak masuk akal! Sepertinya Aku harus kembali melatih Prajurit, sampaikan salamku pada Gadis Kecil itu, Aku permisi."