
"Besok Kita akan ke Perjamuan Teh Bunga Persik," kata Liánhuā dengan sangat terpaksa.
Táohuā yang mendengarnya, kini mulai tersenyum tetapi masih tetap memalingkan wajahnya agar Liánhuā tidak melihat kegembiraannya.
"Wah, apa yang terjadi dengan pria ini? Sepertinya ... Dia salah minum obat, atau mungkin karena ... Dia sangat kasihan padaku, ah ... wajah pemelasan Ku berhasil rupanya," kata Táohuā dalam hati sambil terus tersenyum bahagia, agar tak membuat pasangannya terlihat curiga dia pun memulai perkataannya.
"Mengapa tiba-tiba? Bukankah ... tadi tidak ingin pergi? Apa jangan-jangan ... Kau telah berbuat janji dengan seorang Dewi disana," tanya Táohuā yang berpura-pura kesal.
"Apa kau pikir itu sifatku? Aku mendapatkan surat dari Kakeknya Xiǎoyù, Dia ingin bertemu denganku di Perjamuan Teh besok, tapi ... Aku akan segera mengirimkan surat pembatalan jika Kau sudah tidak ingin pergi lagi."
Mendengar perkataan Liánhuā, dia langsung mengalihkan tubuhnya ke hadapan Liánhuā sambil berkata "Jangan seperti itu! Maksudku ... tidak baik menolak tawaran orang yang sudah tua, sebaiknya kita pergi menemuinya besok."
"Menolak tawaran? Siapa yang sedang melakukan penawaran dengan Pria Tua itu?"
"Apapun itu Aku tidak peduli, yang penting Kita bisa kesana," kata Táohuā sambil mengedipkan matanya di tambah dengan senyuman manis seolah mengisyaratkan bahwa dirinya tidak kesal lagi.
Liánhuā telah terbiasa dengan tingkah Táohuā seperti itu sehingga tak menganggapnya aneh. dia kemudian mengambil tangan Táohuā untuk di genggamnya seakan telah melupakan kekesalan yang baru saja terjadi.
"Terimakasih Kakek Guru Putih, karena telah berada di pihakku kali ini," kata Táohuā dalam hati sambil terus memandangi Liánhuā dengan senyuman manisnya.
"Lihatlah, apa yang Kau lakukan pada bunga lotus itu," kata Liánhuā
Táohuā pun langsung menjawabnya" Aku ... aku akan meminta maaf padanya lain waktu."
Liánhuā yang terlihat begitu menikmati kebersamaannya, kini menyandarkan kepala Táohuā ke pundaknya sambil terus menggenggam tangan Táohuā, kehidupan penuh kedamaian yang sangat dia rindukan.
"Aku berharap terus menggenggammu."
"Bukankah Kau terus melakukannya? Mengapa Kau terlihat gelisah? Jangan memikirkan hal yang buruk, jika suatu saat Kau tak bersama genggamanmu ini, maka ... Kau hanya perlu mencariku atau menungguku kembali."
"Terdengar begitu mudah untuk di bicarakan, tapi tak bisa di bayangkan seberapa sulit untuk melakukannya, apapun itu Aku tetap akan melakukannya," kata Liánhuā dengan perasaan penuh kekhawatiran.
Sadar akan kegelisahan pasangannya, Táohuā pun langsung membuat candaan "Liánhuā, apa Kau tidak lihat ... kalau Kau sedang menggenggamku sekarang? Atau jangan-jangan ... semua ini hanya alasanmu saja agar bisa menggenggam wanita lainnya."
Perkataan Táohuā seketika membuatnya tenang meskipun tengah meledek dirinya, dia pun mulai mengacak rambut Táohuā karena telah menuduhnya dengan hal yang tidak biasa dia lakukan.
"Baiklah, ayo kembali," kata Liánhuā
Táohuā membalasnya dengan anggukan.
Keheningan malam terasa dingin seolah menampakkan kesedihan, seakan berada dalam lamunan kepahitan, setiap saat bersama entah kapan akan selamanya.
"Kenapa harus Táohuā? Mengapa harus Genggamanku? Mengapa tak ada cara lain?" pertanyaan berentetan entah harus ditanyakan pada siapa.
Tiba-tiba Táohuā pun datang menghampirinya, seakan lamunan Liánhuā lenyap.
"Ada apa? Mengapa masih di sini? Sudah larut cepat istrahatlah, meskipun perjalannya akan singkat, bukankah Kau membutuhkan tenaga lebih untuk bisa kesana bersamaku?"
Liánhuā tak mengatakan apapun dan segera masuk bersama genggamannya.
*Bumi, banyak hal yang terjadi di dalamnya, jelas terlihat Siang dan Malam, Musim yang terus berganti, Waktu yang tanpa di sadari terus saja berulang, melihat hal baru di Langit, siapa yang akan percaya bahwa sebagian orang bisa melakukannya, hanya saja ... semua penuh rahasia.
Berjalan bersama Genggaman, menempuh Ribuan kilometer bersamanya, menjelajahi Tiga Alam, menjalani tugas yang tak pernah henti, melewati semua hal yang tak terduga bersama, seakan tak ingin melepaskan Genggaman itu sedetik saja*.
Liánhuā tak bisa tidur sepanjang malam, kegelisahan terus saja menghantui pikirannya, antara siap dan tidaknya menghadapi kenyataan, dia terus saja memandangi Táohuā dan berkata dalam hatinya.
"Kelahiranmu yang telah aneh sejak awal, menyimpan banyak Kekuatan dan Kau tak pernah ketahui itu, seolah Langit sedang memanfaatkanmu untuk menitipkan banyak Kekuatan dalam dirimu, ya ... dirimu, wanita bodoh yang telah di takdirkan menjadi Genggamanku."
"Aku mengingat saat Kau bertanya tentang Kelahiran, entah apa yang harus Ku katakan, bagaimana bisa dengan mengatakan Kau terus saja hidup dan melupakan ingatan masa lalu, jika mengatakan yang sebenarnya, itu sama saja menentang Langit, Táohuā ... Aku ingin selalu menggengam tanganmu."
***
Keesokan Harinya ...
Situasi di langit terlihat begitu ramai, saat memasuki Ruangan akan terlihat banyak Dewa dan Dewi disana, saling berbincang, menanti siapa pun yang ingin Mereka temui, bahkan ada yang hanya ingin menikmati makanan lezat yang telah dihidangkan disana, semua itu terjadi di Perjamuan Teh Bunga Persik, Táohuā tak pernah tau maksud dari perjamuan itu, yang dia tahu hanyalah bertemu Sahabatnya Xiǎoyù.
Meskipun langit bukan kali pertama dia datangi, tetapi dia tak pernah tau apapun soal urusan langit, yang dia tahu hanyalah menyelesaikan tugas yang di berikan, tentu saja bersama Liánhuā pria yang terus saja menggenggamnya.
"Saat ini bukanlah hari yang buruk, tentu saja tak ada yang harus di permasalahkan, tugas telah selesai hanya tinggal menanti tugas berikutnya, sekarang saatnya bersenang-senang, jika suatu saat akan ada hal buruk terjadi, pikirkanlah nanti," kata Táohuā dalam hati.
Di lain sisi, meskipun belum sekarang hal buruk itu terjadi, Liánhuā terus saja berada dalam kegelisahan, yang lebih menyedihkan adalah dia terus saja berusaha tak menampakkan semua perasaan kacaunya itu kepada Táohuā.
"Perjalanan yang melelahkan, meskipun hanya sekejap, kalau bukan karena Pria Tua itu telah membuat janji, Kita tak akan pergi ke Perjamuan ini," kata Liánhuā kesal.
"Hei, kenapa harus di peributkan, bahkan Kita telah sampai, seharusnya Kau sedikit menghormatinya, akan terlihat tidak sopankan jika Kakek Guru Putih itu yang harus menemui kita? Dia terlalu tua untuk melakukan hal itu," jawab Táohuā seolah membela.
Liánhuā menggelengkan kepalanya karena pembelaan Táohuā yang tidak masuk akal.
"Percuma, Kau tak akan mengerti, Pria Tua itu selalu menyembunyikan Kekuatannya dari wajah yang terlihat seperti Kakek itu," celetuknya dalam hati.
Mereka berdua mulai memasuki Ruangan Perjamuan, jelas dengan raut wajah yang berbeda, Táohuā yang jelas terlihat bahagia sedari tadi karena tak sabar menemui teman lama , seolah dia telah memenangkan pertarungan yang sengit bersama Pasangannya dan sekarang akan menikmati hasil dari kemenangan itu, berbeda dengan Liánhuā sejak semalam sulit tertidur, karena kegelisahannya dan bahkan sampai sekarang masih dengan perasaan yang sama.