
Dao hanya membaca pesan singkat dari Xunzhao tanpa membalasnya.
“Aku baru saja sampai, tapi Anak ini sudah menyuruhku pergi lagi.”
Dao kembali menuju halte menunggu taksi lewat, pandangannya tertuju ke arah gedung yang ada di depannya, mengingat kejadian yang pernah dia lihat sebelumnya.
“Bayangan Hitam itu mengapa tak muncul lagi? Apakah ....”
Belum sempat melanjutkan katanya, taksi pun langsung berhenti di hadapannya, membuyarkan seluruh pertanyaan, tanpa berpikir panjang dia pun segera masuk.
Kembali dalam lamunannya, mencoba menjawab pertanyaannya sendiri, dengan banyak kata mungkin di setiap jawabannya.
“Ah, ini tidak mungkin! Mungkinkah ... itu karena pikiranku sedang kacau? atau mungkin ... Aku terlalu banyak melamun? hah Ku rasa bukan itu, mungkin saja ... Aku terlalu banyak melihat acara dokumenter di balik jendela, ah itu juga sepertinya tidak,” kata Dao dalam hati sambil terus memikirkan mengapa keadaannya seperti ini, tanpa sadar dia memperjelas suaranya, hingga sopir taksi itu mendengar kata yang di ucapkan Dao.
“Mungkin .... ”
“Mungkin Anda sudah sampai Nona .... ”Kata sopir itu sambil tersenyum dan memberhentikan mobilnya tepat di depan Butik Xunzhao.
“Mungkin Anda juga terlalu ikut campur,” Jawab Dao kesal sambil turun dengan wajah yang tak ada lagi senyuman.
Sambil berlalu pergi sopir itu berteriak kepadanya, “Semoga harimu menyenangkan Nona ....”
“Hah, Aku juga berharap seperti itu,” tanpa memalingkan badannya ke arah sopir taksi dia mulai melambaikan tangannya sebagai tanda terima kasih.
Kembali dia berjalan memasuki Butik, kali ini terlihat tak begitu banyak pelanggan yang ada di dalamnya, seperti biasa Dao akan berjalan lurus melewati para pelanggan Xunzhao menuju ruang pribadinya.
“Xunzhao, Aku datang,” dengan suara tak bergairah, sambil meletakkan tasnya di lantai dan langsung berbaring di sofa yang biasa dia tempati.
Dao yang tengah berbaring tak lagi memperdulikan pelanggan Xunzhao yang sejak tadi telah ada di dalam ruangan.
Pelanggan itu mulai mengajukan pertanyaan kepada Xunzhao.
“Nona Xunzhao, siapa gadis itu? Ada apa dengannya?”
“Ah, itu Saudaraku, Dia baru pulang dari kampus jadi agak sedikit kelelahan.”
“Oh, seperti itu rupanya, kasihan sekali Dia, mungkin aktivitasnya sangat padat.”
Xunzhao hanya tersenyum mendengar kalimat yang di ucapkan pelanggannya itu.
Dao yang mendengarnya mulai bergumam dalam hati, “hah, kata itu masih saja membayangiku, pelanggan ini apa tidak memeriksanya lebih teliti? Bagaimana bisa Dia menanyakan siapa, sudah jelas-jelas Aku kembarannya masih juga bertanya, tapi setidaknya itu lebih baik di bandingkan Aku harus menyerupai setiap orang yang berada di dekatku, bukankah ... itu merepotkan ketika akan menjelaskannya? Apa Aku terlihat menyedihkan, hingga Dia merasa kasihan padaku? Ah pelanggan itu benar, rutinitasku sangat padat, bahkan aku harus menaiki dua jenis jasa perjalanan dalam waktu singkat.”
“Wah, anak ini tidurnya seperti mati, Dao ... bangunlah ... apa Kau tidak akan pergi ke pesta pernikahan? Ayo bangun ... cepatlah bersiap.”
“Ah, Xunzhao teriakanmu membuat orang sekompleks bangun, bisakah hanya berbisik saja dengan lembut?” sambil memaksakan tubuhnya untuk bangkit Dao mulai bersiap.
Meski terlihat lelah sebelumnya, saat memakai Gaun Hanfu buatan Xunzhao seakan melupakan kegelisahan dalam hatinya, terus memamerkannya di hadapan Xunzhao.
“Aku sudah siap, ayo berangkat ...”
Tak lama berselang, mereka pun tiba di tempat acara pernikahan. Bertempat di gedung yang begitu megah, hiasan bunga di mana-mana, tamu yang begitu ramai dan masih saja terus berdatangan, ada banyak pramusaji di sana, mengantar dan menata makanan hampir tak henti mengerjakannya, hidangan berada di segala sisi ruangan, sesuka hati bisa mencicipi apapun, sambil menunggu kedua mempelai hadir menyapa para tamu.
“Dao, Aku harus menuju ruang rias pengantin, Kau disini saja, Aku tidak akan lama, ingat jangan berbuat ulah”
Dao hanya menganggukkan kepalanya sambil terus mencicipi hidangan pesta yang jarang dia nikmati. Xunzhao langsung meninggalkan Dao menuju ke arah ruang rias pengantin, meski setelan jas dan gaun telah di bawa pelanggannya itu, dia merasa harus merapikan sendiri hingga terlihat indah saat telah dipakai oleh kedua pengantin itu.
Dao yang masih sibuk dengan makanan yang di ambilnya satu demi satu, di buat kaget oleh Tian yang juga hadir dalam acara pesta pernikahan itu.
“Sisakan untuk tamu yang lain, jangan habiskan semua.”
Dao sangat kaget dengan suara yang tiba-tiba terdengar nyaring di telinganya itu, membuat dia tersedak dan kebingungan mencari minuman, Tian pun langsung memberikan minuman kepada Dao.
Saat telah membaik Dao mulai memarahi Tian dengan kalimat yang berentetan, “Apa Kau ingin membunuhku? Bagaimana jika Aku tadi kesulitan bernapas? Apa Kau tidak lihat Aku sedang menikmati makanan? Ah, Kau membuatku kehilangan selera makan, lagian makanannya sangat banyak, siapa suruh pengantin itu mengundangku, tunggu! Mengapa Kau juga hadir?”
“Hah, napasku hampir sesak mendengarnya, jelas saja Aku hadir, karena Aku Adik dari pengantin pria, jadi Aku adalah Tuan Rumah disini dan Kau ... mengapa bisa ada disini?”
“Ada apa dengan tanda tanya yang ada di pikiranmu? Segera singkirkan, Kau pikir Aku hanya datang numpang makan disini? Aku juga di undang oleh pengantin itu, lebih tepatnya mereka mengundang saudaraku, Xunzhao yang membuatkan gaun pengantin dan setelan jas yang akan di pakai kakakmu nanti, jadi Aku juga termasuk Tuan Rumah disini.”
“Benarkah begitu? Wah Saudaramu sangat hebat, tapi ... melihat penampilanmu sekarang sepertinya Kau tak terlihat seperti Gadis Kuno.”
“ Berhenti memanggilku dengan sebutan itu, tapi... apa pakaianku terlihat keren?” sambil memamerkan gaun miliknya dengan sekali putaran.
Tian yang menyaksikan tingkah aneh Dao mulai tertawa, sehingga membuat Dao sangat kesal, tetapi tak berselang lama mereka pun akur kembali.
Akhirnya yang di nanti-nantikan telah tiba, kedua mempelai telah memasuki ruangan yang begitu megah, para tamu yang sedari tadi tak sabar ingin melihat kedua pasangan yang sedang berbahagia itu kini mulai bersorak dengan tepukan tangan meriah seakan memenuhi ruangan, semua ekspresi tampak jelas di wajah tamu yang hadir, ada yang tersenyum bahagia bahkan ada yang sampai meneteskan air mata entah apa alasannya. Dao lagi-lagi sibuk dengan makanan yang ada di dekatnya, Tian yang juga ikut bertepuk tangan menyambut kedua mempelai kini beralih pandangan ke Dao.
“Hei, Pengantinnya telah tiba, apa Kau tak ingin melihatnya? Setidaknya Kau melihat karya seni yang di buat Saudaramu.”
“Ah, iya-iya Kau cerewet sekali.”
Sambil meneguk minuman dia pun mulai memandangi wajah kedua pengantin itu, Dao sangat kaget, wajahnya terlihat pucat, dia menggelengkan kepalanya sambil terus mundur dan tanpa sadar menjatuhkan gelasnya, semua pandangan kini tertuju padanya termasuk Xunzhao yang tepat berada di belakang pengantin.