The Hell

The Hell
Kamu Tak Bisa Pergi



“Kamu tak bisa pergi”, Arthur mencengkram lengan Amira yang membawa tasnya hendak pergi dari rumah Arthur.


“Arthur, kita bukannya berpisah. Kita hanya pisah tempat tinggal, dan bisa bertemu sesekali”, Amira mencoba meyakinkan Arthur.


“Akan lebih baik lagi jika kamu ikut denganku, dan meninggalkan semua ini”, Amira kembali berbicara dengan intonasi yang lebih rendah, menandakan keraguan saat mengungkapkan kalimat tersebut.


“Hahh, aku tak mengerti, kenapa kamu ingin sekali keluar dari sini dan menjalani hidup yang rumit dan sulit itu. Padahal kamu bisa dengan nyaman tidur dan makan disini, dan kamu juga bisa kuliah tanpa memikirkan biayanya”, Arthur mencoba menyadarkan Amira.


“Arthur, caramu hidup itu lebih rumit lagi, apa kamu sadar seberapa bahaya bisnis yang kamu jalankan?, semua itu terlalu beresiko!”, Amira mengungkapkan kalimat itu untuk kesekian kalinya. Selama setengah tahun terakhir dia menumpang di rumah Arthur, Amira menjalani hubungan dengan banyak konflik selama tiga bulan terakhir.


“Tidak!, kamu tidak bisa keluar dari sini!”, Arthur menarik Amira masuk kedalam kamar, dan menguncinya dari luar.


“Arthur!, kamu gila?”, Amira berteriak sembari menggedor pintunya. Namun sepertinya Arthur tak berniat untuk membukakannya pintu ataupun menjawab teriakan Amira.


Sudah 3 jam berlalu Amira duduk di sofa kecil yang ada di kamar Arthur, dia menatap ponselnya beberapa kali, memastikan jam berapa saat itu.


Yang membuat Amira resah adalah, kalau dia tak bisa keluar dari sana sampai besok pagi, maka mungkin saja dia akan kehilangan pekerjaan pertamanya.


“Trak!”, suara kunci kamar di putar. Amira menoleh dengan segera. Dia melihat Arthur masuk dengan masih menggunakan jaket yang biasa dia gunakan saat keluar rumah, sembari membawa sekresek makanan di tangannya, Arthur kembali mengunci kamar itu dari dalam, dan memasukan kuncinya ke saku celananya.


“Makanlah”, Arthur menyimpan keresek itu di atas meja.


“buka kembali pintunya!”, Amira berucap dengan tenang.


Namun Arthur hanya senyap dan berjalan perlahan ke kamar mandi yang ada di dalam kamar.


Selama arthur di kamar mandi Amira beberapa kali mencoba membuka pintu, berharap Arthur tak menguncinya dengan benar, namun itu percuma saja, pintu kamar tak bisa di buka.


“Kamu tak lapar?”, Arthur keluar dari kamar mandi menggunakan kaos dan celana training.


“Buka pintunya”, Amira merasa berada di batas kesabarannya.


“Lihat, aku membeli banyak menu yang kamu suka dari restoran XXX”, Arthur mengeluarkan satu persatu boks makanan dari kresek yang tadi dia bawa.


“Arthur!, dimana kuncinya?”, Amira melangkah ke kamar mandi dan membongkar keranjang cucian, dia merogoh saku celana yang tadi di pakai Arthur. Semua saku di pakaian yang tadi Arthur pakai Amira periksa tanpa kecuali, sedangkan Arthur masih sibuk menata boks makanan dan membuka tutup boks makanan itu satu persatu.


“Arthur!, kumohon !”, Amira berteriak setengah menangis.


“Mari makan”, Arthur tak menanggapi keinginan Amira untuk keluar dari kamar itu sama sekali.


Amira dengan marah menghampiri Arthur, mencoba memeriksa saku celana training yang sedang Arthur kenakan.


“Hentikan Amira!”, teriakan itu adalah teriakan paling keras yang pernah Arthur lemparkan kepada Amira.


Amira tersentak dan terdiam beberapa saat, sebelum kemudian melanjutkan merogoh saku celana Arthur dan mengambil kunci yang sedari tadi Arthur coba amankan.


Amira dengan terburu-buru mengambil tasnya dan membuka pintu kamar Arthur.


“Braakkk”, salah satu boks makanan menghantam pintu yang Amira coba buka. Makanan di dalam boks itu berhamburan di ambang pintu. Bukannya menghentikan Amira, hal itu membuat Amira mencoba untuk lebih cepat keluar dari kamar itu, dia membuka pintu kamar, hingga pintu kamar itu menyapu makanan yang berhamburan di baliknya.


Amira setengah berlari melewati pintu depan, dan bergegas menuju gerbang.


“Amira!, jika kamu melewati gerbang itu, maka semua di antara kita akan berakhir!”, Arthur berteriak dari ambang pintu depan, memelototi Amira yang seperti sangat terburu-buru untuk meninggalkannya.


“Itu terdengar bagus, walau sejak awal kita memang tak memiliki hal yang bisa di akhiri, tapi mengakhiri semuanya di antara kita itu sangat bagus”, Amira menengok ke arah Arthur.


“Selamat tinggal”, Amira keluar dari rumah itu, meninggalkan Arthur yang terdengar beberapa kali berteriak keras sambil melemparkan barang-barang di sekitarnya.


Satu tahun berlalu, Arthur menatap tiga orang lelaki yang terikat berlutut di hadapannya.


“Siapa itu?”, Arthur bertanya. Namun tiga orang yang sudah babak belur itu terlihat tak berani bicara.


“Konyol sekali, kalian mencoba menerapkan kesetiaan pada hal tak penting seperti ini?”, Arthur berdiri menginjak kaki salah seorang dari mereka.


“Katakan, siapa dan apa yang sedang kalian rencanakan?”, Arthur berdiri condong, mencoba menempatkan beban tubuhnya pada kaki yang sedang menginjak kaki dari salah seorang yang di sandra.


“Ak.. akkkhh!!!”, lelaki itu berteriak menahan rasa sakit, karena sejak awal kaki yang sedang Arthur injak adalah kaki yang sudah patah karena perkelahian.


“Siapa?!”, Arthur bertanya kembali.


“Allan!, Allan yang menyuruh kita.., di..dia sedang merencanakan pemberontakan!”, Lelaki itu memuntahkan fakta sambil menahan rasa sakit.


“Begitu?”, Arthur yang sepertinya tak begitu terkejut berjalan membelakangi tiga orang sandra itu.


“Sepertinya daging busuk di Under Hell lebih besar di banding dengan yang kita perkirakan”, Arthur berjalan lurus ke arah pintu melewati beberapa bawahannya.


“Bereskan semua ini dan datanglah ke rumahku”, Arthur melemparkan rokok dari mulutnya sebelum kemudian menaiki motor miliknya dan pergi meninggalkan kawasan sepi itu.


Dalam perjalanan pulang, Arthur mampir di sebuah mini market, memarkirkan motornya dan kemudian masuk kedalam mini market. Dia mengambil beberapa makanan ringan, minuman kemasan dan banyak hal lain. Setelah penuh hingga dua keranjang belanja, Arthur menyimpannya di meja kasir.


“Apa anda memiliki kartu member pak?”, kasir wanita itu bertanya sesuai SOP.


“Tidak”, Arthur menjawab.


“Tolong rokok 3 bungkus”, Arthur berucap sembari mengeluarkan dompet dari sakunya.


“Kamu sepertinya sudah sangat hafal dengan merek rokok yang hendak aku beli”, Arthur berucap saat melihat 3 bungkus rokok merek XXX di masukan ke kantong keresek belanjaannya.


“Ya, anda cukup sering berbelanja disini”. Pegawai wanita itu tersenyum canggung ke arah Arthur, tepatnya Amira tersenyum canggung kepada Arthur.


“Totalnya 525.000 rupiah”, Amira melayani Arthur seolah dia tak pernah mengenalinya. Hampir setiap hari di tiga bulan terakhir Arthur datang ke mini market dimana Amira bekerja, seringkali sendirian atau terkadang membawa teman wanita kesana. Entah apa yang Arthur harapkan dengan datang ke sana, bertingkah menjadi seorang pelanggan yang tak mengenali kasir di sana sama sekali.


“Amira stok biskuit merek ini, apakah habis?”, seorang lelaki dengan seragam yang sama dengan Amira bertanya.


“Ini kembalian dan barang belanjaan anda, terimakasih sudah berbelanja disini”, Amira menyerahkan kembalian dan struk pembayaran kepada Arthur. Dan kemudian memalingkan wajah menatap ke arah lelaki yang sudah berdiri di sampingnya.


“Sebentar saya cek dulu”, Amira memeriksa stok barang di komputer.


“Ada yang bisa di bantu pak?”, rekan kerja Amira menatap Arthur yang masih berdiri beberapa menit setelah selesai di layani.


“Oh, ah itu. Tolong satu boks benda di sana”, Arthur menunjuk ke jajaran alat pengaman kontrasepsi.


“Ah, iya baik, di sebelah sini pak”, lelaki itu mengarahkan Arthur meja kasir lainnya.


Sedangkan Amira terus fokus pada komputernya tanpa menghiraukan hal itu.


“Dia setiap hari berbelanja disini sampai ratusan ribu, belanjaannya pun bukan hal-hal penting tapi camilan-camilan random”, rekan kerja Amira itu berbisik setelah Arthur keluar dari toko.


“Enak ya jadi orang kaya, bisa jajan banyak-banyak tanpa memikirkan dana yang ada”, lelaki itu setengah mengeluh sambil tertawa kecil.


Sedangkan Amira hanya mencoba sedikit tersenyum menanggapi keluhan rekan kerjanya itu.