The Hell

The Hell
Pulang



“Aku tak pernah membayangkan akan memandang uang 34 juta sangat besar setelah selama ini mengelola The Hell”, Heru menatap tumpukan uang yang baru saja mereka berempat hitung.


“Jangan berlama-lama, kita harus cepat pergi”, Bima dengan terburu-buru memasukan uang-uang itu kedalam tas dan menyerahkannya kepada Arthur.


“Ada apa?”, Bima menatap Arthur karena tak kunjung menerima tas yang ia sodorkan.


“Tidak, hanya saja aku tak pernah berencana untuk ikut dengan kalian, pergilah tanpaku”,Arthur mengudarakan niatnya selama ini.


“Apa kau gila?, setelah ikut perampokan?.Kalau kamu tidak ikut maka akan mudah untukmu di tangkap polisi, dan jika itu terjadi akan sia-sia bagi kita bertiga untuk pergi ke luar provinsi, kita akan mudah tertangkap saat kau di tekan untuk mengaku kemana kita bertiga pergi”.


“Maka pergilah ke tempat lain yang tak pernah aku tahu”, Arthur kembali menjawab, dan jawabannya kembali membuat teman-temannya terdiam kehabisan kata-kata.


“Bugghh!!”, Suara keras terdengar saat Bima melayangkan tinjunya ke wajah Arthur. Sedang Heru sibuk mencoba menahan Bima yang tersulut emosi.


“Terserahlah bangsat!!”, Bima berteriak sembari menggendong tas berisi uang di punggugnya.


“Ayo pergi, kita tak ada waktu, tinggal lebih lama di sini hanya ada dua pilihan. Kalau bukan di tangkap polisi sebagai perampok maka pasti di temukan sebagai mayat”. Bima menggerutu menjauh dari tempat Arthur berdiri, di susul oleh Farhan.


“Kau yakin tak mau ikut?”, Heru mencoba untuk memastikan.


“Ya, pergilah”, Arthur tersenyum kepada Heru, berharap senyuman itu mengantarkan Heru dan temannya yang lain dengan selamat.


Sembari menatap punggung teman-temannya pergi, Arthur duduk bersandar ke tembok terowongan penyangga jalan tol di atasnya. Tempat itu persis mirip seperti tempat dimana untuk pertama kalinya dia merasa sedih karena merasa kehilangan, seorang nenek tua yang cukup dengan senyumannya memberi dirinya rasa hangat sebuah keluarga.


“Arthur”, Farhan berlari terengah-engah menghampiri Arthur.


“Kupikir kamu harus makan juga selama disini bukan?”, Farhan menyodorkan segepok uang hasil rampokan setelah membujuk Bima.


Arthur melihat ke arah Bima dan Heru yang berdiri sangat jauh dari sana, menunggu Farhan yang kembali menemui Arthur dengan sabar.


“Tidak perlu”, Arthur tersenyum, kembali memaksakan sudut bibirnya yang kaku untuk terangkat.


“Jangan bilang kamu berencana untuk bunuh diri?”, Farhan berbicara tanpa saringan untuk memastikan.


“Haha, apa maksudmu, hanya saja tak sulit untuk mendapatkan makan di sini, tenang saja”, Arthur menjelaskan sesuatu yang sebenarnya kebalikan dari yang ia rasakan dulu saat hidup di jalanan.


“Tidak, kamu harus menyimpan ini”, Farhan memaksa menyimpan uang itu ke pangkuan Arthur.


“Di sana, kasir perempuan yang kita todong pisau, adalah orang yang sering ku bawa ke rumah dulu!”, Arthur setengah berteriak kepada Farhan saat kulitnya merasakan uang itu menyentuhnya.


“Jangan perlihatkan lagi uang itu, itu cukup memuakan untuk teringat orang itu bergetar ketakutan”, Arthur menggeser duduknya, menjauh dari uang yang jatuh dari pangkuannya.


Farhan terdiam beberapa saat. Dia jelas tahu seberapa sukanya Arthur kepada wanita itu, walau Farhan tak pernah mengingat dengan jelas wajah wanita itu, tapi cukup sering dirinya melihat punggung wanita itu dari kejauhan dulu.


“Baiklah, semoga kamu beruntung”, Farhan mengambil kembali uang yang tergeletak, dan kembali pergi menyusul Bima dan Heru dengan berlari.


Amira memandangi langit-langit kamar kosnya, sepertinya hal itu sudah menjadi kebiasaan barunya, melamun setiap pulang dari beraktifitas sembari terlentang di atas kasurnya. Sudah lebih dari seminggu sejak dia syok menyadari kalau salah satu dari komplotan perampok adalah Arthur.


“Haaahh”, Amira melenguh mengeluarkan sebagian energi negatif yang mencekiknya.


“Tok,tok,tok”, suara pintu kamar Amira di ketuk.


“Masukk!”, Amira berteriak, dia dengan sengaja tak mengunci pintu kamarnya karena tahu Rani akan datang menginap.


“Mir!, Hah.. gue capek banget”, Rani menjatuhkan dirinya ke ubin kamar sembari mengembuskan nafasnya cukup panjang.


“Mandi sana, bau asem”, Amira yang menghirup aroma mengganggu dari arah Rani langsung mencibir temannya itu.


“Bentar tong, lemes banget ini”, Rani dengan penampilan yang berkeringat dan lengket mengeluh kepada Amira.


“Eh, udah ketangkep belum para perampok di tempatmu kerja?”,Rani bertanya untuk kesekian kalinya setiap dia bertemu dengan Amira.


“Ga tau, belum ada kabar”, Amira menjawab sekenanya.


“Kenapa belum ke tangkap juga ya?, biasanya semingguan cukup buat nangkep perampok kayak gitu”, Rani bergumam sendiri.


“Ngeri ya akhir-akhir ini, kamu di todong perampok, temen gue yang lain kena ba*ok tau, katanya si pelakunya geng motor gitu”, Rani melanjutkan obrolannya.


“Ya untungnya masih selamat, dia harus di rumah sakit agak lama, gue jadi ngeri kalo pulang jauh bawa motor ke rumah”. Rani seolah menjelaskan alasannya seminggu ini terus menginap di kos Amira.


“Kamu jadi besok pulang Mir?”, Rani bertanya kepada Amira.


“Iya,kata kakak ayah sakit”, Amira menjawab.


“Padahal masih satu kota, kok rasanya kamu seperti mau pulang kampung ke tempat yang jauh ya?, haha”, Rani berceloteh.


“Memang kenapa?”, Amira yang tak mengerti maksud celotehan Rani bertanya.


“Kamu kan sudah hampir tiga tahun gak pernah pulang”, Rani menyemburkan fakta kepada Amira yang merasa kalau waktu berjalan cukup cepat.


Pagi itu Amira berjalan berkeliling di pasar tradisional, memilah buah yang sekiranya cocok untuk di konsumsi oleh penyandang darah tinggi.


Dengan kedua tangan yang menjinjing kresek, Amira berjalan di sebuh komplek perumahan yang dulu hampir setiap hari dia lewati.


“Eh yooo, yuk barengan”, Kakak tiri Amira menepi dengan motornya, Amira pun dengan otomatis naik ke motor kakaknya itu, walau sebenarnya rumah ayahnya sudah sangat dekat.


“Oh Amira!!, Nabila!!”, Ibu tiri Amira dengan semangat melambaikan tangan. Dia terlihat baru saja menerima pesanan makanan Online di depan gerbang rumah.


Entah kenapa dengan refleks Amira membalas dengan senyuman yang penuh semangat juga, walau beberapa saat kemudian, dia baru menyadari kalau dirinya sebenarnya masih sama canggungnya dengan ibu tirinya, sama seperti tiga tahun lalu saat dirinya terakhir kali melihatnya.


Mereka bertiga masuk sembari bercakap menanyakan kabar.


“Begitu cara kalian?, tertawa saat berniat menjenguk orang sakit?”, suasana hangat sebelumnya berubah menjadi dingin dalam hitungan detik. Ayah amira duduk di sofa ruang tengah sembari menonton tv, lehernya di lilit sorban yang di pakai seperti syal, sedangkan pelipisnya sangat mencolok dengan koyo yang menempel di kedua sisinya.


“Biar ku siapkan dulu bubur, sekarang sudah waktunya makan obat”, Ibu tiri Amira berjalan menuju dapur untuk mengambil mangkok dan sendok. Amira jelas terpaku saat tak sengaja menyadari luka memar di area pundak ibu tirinya, luka itu mengintip dari celah baju yang ibu tirinya pakai.


“Ayah bagaimana kabarmu?”, Amira menyimpan kresek bawaannya di atas meja, lalu kemudian menyodorkan tangannya hendak menyalami ayahnya.


“Bagaimana rasanya hidup di luar selama tiga tahun tidak pulang?”, Ayah Amira yang sepertinya semakin kekanakan di usianya yang semakin tua, membuat Amira tertegun.


“Yah itu bagus”, Amira tersenyum mencoba menanggapi ayahnya dengan sabar, walau tangan kanannya harus kembali ia tarik tanpa mendapatkan salaman dari ayahnya.


Amira kemudian duduk di samping ayahnya, menatap lurus ke layar TV yang menyala. Amira baru menyadari kalau kakak tirinya sudah tidak ada di ambang pintu, dan terdengar sedang membantu sang ibu di dapur.


“Padahal sudah ku bilang, kamu bukan lagi anakku, jadi apa yang kamu lakukan dengan datang ke sini?”, Ayah Amira memulai provokasi lagi.


“Kudengar ayah sakit, jadi aku datang. Lagian mau di bantah bagaimanapun, secara nyata kita jelas ayah dan anak”, Amira kembali menjawab dengan tenang sembari tersenyum, berharap ayahnya akan melunak.


“Tapi syukurlah, ayah terlihat masih sangat bugar”, Amira melihat ke arah ayahnya yang memang sepertinya hanya terserang penyakit flu biasa.


“Kalau kamu ingin aku menerimamu kembali, menikahlah dengan orang yang aku pilihkan”, ucapan dari mulut ayah Amira itu membuat Amira syok terdiam beberapa saat. Dia tak menyangka, kalau dirinya akan mendengar kalimat seperti itu dalam kehidupannya.


“Ayah, mari kita hidup rukun tanpa mencampuri hal-hal seperti itu di antara kita”, Amira menahan nafasnya saat menjawab ucapan sang ayah.


“Kamu masih sama kurang ajarnya seperti dulu ternyata, masih sangat suka membantah ucapan orang tua”, Ayah Amira berbicara dengan nada tinggi.


“Haahh, baik. Mari buat kesepakatan, aku akan menikah dengan siapapun itu, asalkan ayah akan menceraikan ibu, dan berjanji tak akan menikah dengan siapapun lagi”, Entah dari mana Amira terpikir untuk mengucapkan kalimat itu. Tapi masalah terbesarnya adalah, kalimat itu terlontar tepat saat ibu tiri dan kakak tirinya berdiri di ambang pintu yang menghubungkan dapur dan ruangan itu.


Ibu tiri Amira berdiri kaku mendengar ucapan Amira, begitupun dengan kakak tirinya. Namun berbeda dengan ayahnya yang sudah siap melayangkan tangan ringannya ke arah wajah Amira.


“Plakk!!”, “beraninya anak seperti kamu memerintah ayahnya seperti itu?”, Amira dapat melihat urat amarah menyembul di wajah ayahnya.


“Anak seperti aku itu anak seperti apa?, entah kenapa aku yakin kalau orang yang akan ayah jodohkan denganku itu pasti rekan bisnis ayah, dan aku yakin mereka pasti seumuran atau lebih tua dari pada ayah. Jadi bukankah cukup adil dengan aku meminta persyaratan itu?”, pertama kalinya Amira menjawab kemarahan ayahnya dengan berani seperti itu.


“Kurang ajar kamu!!”, Ayah Amira memukuli Amira hingga Amira tersungkur ke lantai sembari berusaha melindungi kepalanya menggunakan tangan.


“Mas..”, Ibu tiri Amira mencoba untuk menahan tangan suaminya itu walau gugup.


“AAAAKKKHHH!!!”, Amira berteriak sangat keras, membuat ayahnya terdiam beberapa saat karena kaget dengan suara teriakan itu.


“Persetan dengan hubungan ayah dan anak, aku tak peduli, anggap saja aku anak durhaka yang sudah tak bisa di maafkan”, Amira bergegas berdiri dan mengambil tas kecilnya yang tergeletak di sofa.


“Tidak, lebih baik sekalian saja anggap saja aku orang yang tak pernah ayah kenal, dan semoga kita tak pernah berkenalan kedepannya!”, Amira meninggalkan rumah itu dengan emosi yang meluap-luap.