The Hell

The Hell
Black box



Pagi itu Amira duduk di ruang tengah sebuah rumah yang sebenarnya dirinyapun tak tahu ia dimana. Hari itu adalah hari kelimanya di sana, dengan siksaan insomnia yang menggentayangi-nya setiap malam, Amira benar-benar tak bisa menikmati ketenangan suasana desa yang sepi itu. Ada beberapa orang yang sering keluar masuk menemui Galih di ruang kerja Galih, namun Amira hanya bertemu dengan Galih di jam makan Rutin di pagi, siang dan malam hari.


Biasanya Amira akan mengurung diri di kamar, namun pagi itu Amira membulatkan tekad untuk menunggu Galih di ruang tengah sejak pagi buta, dirinya bermaksud memutuskan untuk kembali pulang ke Arthur jika Galih tak melakukan apapun yang meyakinkan.


“Amira”, Galih mendatangi Amira dengan ragu, sebuah tas di tangan kanan Galih terlihat menjadi alasan Galih menjadi gugup.


“Apa itu?”, Amira memiringkan kepalanya.


“Ini?, hanya…, ini hanya peralatan”, Galih mengangkat bahunya, lalu duduk di samping Amira.


“Aku merasa tak enak, tapi aku tak bisa menyerah atas sepupuku, aku…”, Galih menggigit bibirnya ragu.


“Tak apa, tak perlu ragu”, Amira yang sadar kalau Galih memutuskan untuk membuat bukti penyekapan dirinya, tanpa ragu meyakinkan Galih. Bagi Amira, jika memang Arthur menculik Tya, setidaknya Arthur mungkin akan mengembalikan Tya. Jika tidak, maka dengan semua ini, mungkin akan memperjelas semua hal yang menjadi tanda tanya di kepala Amira.


“Apa sekarang?”, Amira segera berdiri, mencoba mengatakan kalau dirinya sudah siap saat itu juga.


“Kita menunggu pasungnya datang”, Galih terus berbicara dengan nada rasa tak enak hati.


“Apa sakit?”, Galih bertanya dengan ekspresi khawatir saat kaki Amira di pasung dengan pasungan besi di kamar Amira.


“Ya?, oh tak apa”, Amira yang sedang di make up oleh seseorang yang tak Amira kenali menjawab dengan ragu. Satu photo dua photo, hingga beberapa video di ambil oleh Galih menggunakan ponsel miliknya. Amira berakting tak berdaya, menahan sakit, bahkan pingsan dengan riasan luka-luka yang cukup parah di sekujur tubuhnya.


“Apa sudah cukup?”, Amira mengintip layar ponsel Galih yang sedang melihat-lihat hasil jepretan.


“Ya, cukup”, Galih tersenyum menatap Amira yang terlihat sangat fokus ke hasil foto yang sedang dia lihat.


“Apa ini terlewat?”, Galih menunjuk ke area pergelangan tangan Amira yang terlihat masih memiliki merah dan sedikit lebam. Padahal pembersihan make up sudah selesai beberapa menit lalu.


“Oh, ini aku tak sengaja terbentur tembok, jadi gelang rantainya tertarik mendadak”, Amira menunjuk ke arah rantai tangan yang masih menggantung di tembok.


“Haha, tak apa”, Amira tersenyum setelah melihat rasa bersalah yang benar-benar keluar dari ekspresi wajah Galih.


“Cepat kirim ke suamiku”, Amira memajukan dagunya, meminta Galih agar secepatnya menjalankan rencana mereka.


“Oh, ya”, Galih tersenyum, lalu di hadapan Amira, Galih mengirimi nomor tak dikenal yang mengancam dirinya sebelumnya dengan berbagai ancaman agar melepaskan Tya, dilampiri photo dan video Amira.


“Aku tak tahu kapan dia akan merespon, tapi jika tak hari ini, apa kamu akan pulang?”, Galih bertanya ragu kepada Amira.


“Ya?. oh, tak apa, aku akan pulang besok, kita tunggu saja sampai besok”, Jawab Amira sembari mengusap-usap beberapa kotoran di pakaiannya.


“Apa kamu..”, Galih mulai bertanya lagi walau ragu.


“Hmm?”, Amira mengangkat alisnya meminta Galih agar tak ragu untuk meneruskan pertanyaannya itu.


“Apa yang akan kamu lakukan jika pada akhirnya kamu tahu kalau Arthur adalah pembunuh ibuku dan penculik Tya?”, Galih bertanya sambil melirik Amira melalui sudut matanya.


“Ya?, memangnya apa yang akan kulakukan?”, Amira yang sebenarnya tak memiliki ide apapun selain merasa bersalah hanya mengembalikan pertanyaan dari Galih tersebut.


“Apa kamu akan berhenti mencintainya?, kamu tahu, kamu mungkin akan kecewa jika tahu suamimu adalah penjahat”, Galih dengan hati-hati mengantisipasi jawaban dari pertanyaannya itu.


“Entahlah, tapi kupikir akan sulit untuk berhenti mencintainya, entah kenapa aku merasa bahkan jika dia adalah iblis, aku mungkin akan rela ikut ke neraka agar bisa bersama dia”, Amira mengatakan isi hatinya, walau di beberapa titik, rasa malu menggelitiknya pelan. Sedang di sisi lain, Galih terdiam menatap Amira tanpa ekspresi.


“Oh, maafkan aku, aku bukannya tak merasa bersalah terhadap apa yang menimpamu, tapi Arthur itu ..”


“Sudah, tak apa, aku mengerti..”, Galih memotong pembicaraan Amira sebelumnya yang sepertinya merasa tak enak hati.


“Aku mengerti rasanya terobsesi pada cinta, sampai kita tak bisa merelakan perasaan itu”, Galih tersenyum tipis sambil mengucapkan kalimat itu.


Amira termenung sendirian di kamarnya, menatap pasung yang belum di bereskan di kamarnya.


“Heuup”, Amira berusaha mengangkat lempengan besi itu, tapi terlalu berat untuknya, bahkan untuk menggesernya sedikit saja Amira sudah tak sanggup.


“Pantas saja sampai di gotong tiga orang tadi”, Amira merebahkan tubuhnya ke atas kasur, lalu mulai terlelap karena rasa lelah.


Amira melihat Arthur berteriak-teriak sembari merusak perabotan rumah di sekitarnya, rasa frustasi dan perasaan hancur terlihat jelas di sirat wajahnya.


“Arthur?”, Amira bertanya, di satu sisi Amira merasakan perasaan tak nyaman yang terasa seperti dejavu.


“Arthur?, kenapa?”, Amira menghampiri Arthur yang terus berteriak dengan airmata yang membuncah, membasahi seluruh wajahnya. Amira melihat wajah Arthur yang terlihat agak asing.


‘Ah, Arthur terlihat lebih muda’, pikir Amira saat melihat wajah Arthur yang terlihat kesakitan itu. Amira melihat ke sekeliling, Amira baru menyadari kalau tempat tersebut adalah rumah Arthur yang dulu.


“Arthur?”, Amira segera meraih pergelangan tangan Arthur yang sepertinya tak menyadari kehadirannya.


“A.. Amira?”, Arthur yang mengamuk tiba-tiba diam, mata mereka bertemu pandang dalam waktu yang lama.


“Arthur?, kenapa?, apa ini mimpi?”, Amira menatap wajah Arthur yang perlahan berubah ke wajah tiga puluhan.


“Amira, jangan pergi dariku lagi”, tiba-tiba Arthur mencengkram tangan Amira dengan keras.


“Jangan pergi dariku, kumohon”, Arthur berteriak dengan air mata yang mulai terbuncah kembali.


“Arthur?”, Amira yang merasa bingung dengan situasi itu hanya bisa mengucapkan nama Arthur berkali-kali.


“BRAK!, BRAK!, BRAK!”, tiba-tiba Amira membuka mata, keringat dingin menyelimuti seluruh tubuh Amira. Amira terduduk di ranjang kamar yang di sediakan Galih, dengan masih menggunakan baju dengan robek dan bercak darah bekas dirinya berakting di sandra siang tadi. Amira melirik ke arah jendela yang ternyata tirainya sudah tertutup, padahal terakhir kali dia tidur jendela itu terbuka lebar.


“BRAK!”, suara dobrakan pintu itu mengagetkan Amira lagi. Ya dirinyapun terbangun karena suara gedoran pintu yang terdengar sangat keras.


Amira berjalan perlahan ke arah pintu, membuka pintu perlahan, lalu mengintip ruang tengah yang sepi, tak ada seorangpun di sana.


Perlahan Amira berjalan ragu, kearah ruang tamu , yang dimana tempat itu adalah tempat dimana suara ketukan keras yang lebih terdengar seperti seseorang yang mencoba mendobrak itu berasal. Pintu keluar berada di sana, perlahan Amira mengintip dari balik tirai jendela kecil di samping pintu, tak ada siapapun di luar sana, hanya ada sebuah kotak hitam tergeletak di teras.


Karena rasa penasaran, Amira membuka pintu lalu menyentuh kotak itu, kotak yang ternyata terbuat dari kayu yang di cat hitam itu cukup mencurigakan.


“Apa ini bom?”, Amira bertanya-tanya.


“Sepertinya bukan”, Amira bergumam sendirian saat menyadari tak ada kabel apapun yang menempel di sekitar tutup.


“Tapi aku tak tahu..”, Amira yang sudah melepaskan gembok tak terkunci, yang mengait di kotak itu langsung terdiam karena dia sadar kalau dirinya tak tahu apapun mengenai bom.


“Hmm”, Amira menatap sekitarnya, mendapati sebuah jala yang bersandar di pohon besar yang tersorot lampu taman.


Amira bergegas mengangkat kotak yang terasa cukup berbobot itu, meletakkannya di tengah taman, lalu mencoba membukanya dari kejauhan menggunakan jala. Suasana sepi di malam hari membuat Amira hanya mendengar suara angin dan beberapa serangga. Hawa dingin pedesaan di malam hari menggeliat di sekitar tubuh Amira.


“Blak”, penutup kotak hitam itu terbuka, tak ada ledakan apapun.


Amira perlahan berjalan sambil terus menatap ke arah isi kotak tang tak terlalu jelas terlihat.


Setelah beberapa langkah, Amira terdiam, keringat dingin mencekik Amira, tubuh Amira mulai bergetar..


“AAKKKKHHHH!!!”, Amira berteriak cukup panjang dan melengking, saat melihat wajah Tya mengintip dari dalam kotak itu, wajah dengan beberapa noda darah merah, mata terbelalak dari kepala tanpa tubuh itu membuat Amira hampir kehilangan kesadarannya.