The Hell

The Hell
Dia baik-baik saja



Kamu baru ya?, seorang lelaki tua duduk tepat di samping Arthur.


“Ya”, Arthur menjawab sembari mengangguk.


“Kenapa?”, Tanya lelaki tua itu sembari memakan makanan yang dia bawa.


Arthur terdiam sembari mengunyah nasi berkuah sayur bayam yang dia lahap sebelumnya.


“Rampok”, Arthur menjawab dengan tenang.


“Ohh, sudah sering?”, lelaki tua yang memiliki tingkat rasa ingin tahu yang tinggi itu sepertinya tak akan berhenti bertanya.


“Tidak”, Arthur menjawab.


“Hahaha, jangan bilang kamu maling pertama kali langsung ke tangkap warga sampai babak belur begitu?”, lelaki itu terkekeh menahan tawa.


“Dan lagi dia di laporkan pacarnya sendiri”, seorang lelaki paruh baya lain ikut bergabung.


“Hahaha, bagaimana kamu tahu?”, lelaki tua yang sepertinya sudah mengenal lelaki itu langsung bertanya.


“Dia satu sel denganku”, lelaki paruh baya itu melanjutkan.


Arthur berdiri dari duduknya.


“Saya duluan”, Arthur berjalan meninggalkan meja itu menuju tempat penyimpanan piring kotor.


“Dia babak belur begitu karena bos di selmu?”, lelaki tua itu bertanya kepada pria paruh baya bernama pak Basir itu.


“Dia bos nya” pak Basir berbisik.


“Hah?, kalo yang menang aja seperti itu, bagaimana dengan bos lama yang kalah?”, lelaki tua itu mulai fokus pada gosip yang sudah seperti salah satu pilihan hiburan di lapas.


“Tidak separah itu, anak itu sudah terluka sejak masuk lapas, tapi dia bisa mengalahkan alpha di sel ku dengan mudah”, pak Basir bercerita dengan semangat.


“Tapi kenapa kamu sepertinya malah senang dan tidak segan kepada anak itu?”. “Dia tidak banyak tingkah, dan lebih menyukai ketenangan di sel. Rasanya suasana di sel ku jadi lebih terasa tenang dari pada sebelumnya”, pak Basir tertawa dengan gembira.


“Tapi..”, pak Basir menarik tengkuk lelaki tua dengan hati-hati sembari menengok ke sekeliling.


“Ku dengar tuntutannya sempat di cabut, namun entah kenapa tiba-tiba saja dia di tuntut kembali. Terlebih komplotannya yang sudah di tahan lebih dulu sudah bebas dan tidak ikut di tuntut kembali”, pak Basir menceritakan rumor yang dia dengar.


“Lalu?”, “Bukankah itu aneh?, dan terkadang beberapa sipir memperlakukan dia dengan segan”, ucap pak Basir.


“Jadi maksudmu dia bukan orang sembarangan?”, lelaki tua mengambil kesimpulan.


“Jadi karena itu kamu sok dekat dengan dia seperti tadi?”, lelaki tua kembali menyampaikan kesimpulan yang dia pikirkan.


“Ya namanya juga usaha, hanya dengan satu sel dengan dia, aku bisa bernafas lega, apalagi kalau bisa dekat”, pak Basir menatap teman seangkatan di depannya dengan penuh arti. Seperti memberikan sebuah kiat rahasia.


Siang itu Amira duduk di sebuah tempat makan.


“Amira!”, Ibu tiri Amira menghampiri Amira dengan penuh senyum di wajahnya.


“Bagaimana kabarmu?”, tanya ibu tiri Amira.


“Baik, kabar ibu bagaimana?”, Amira mengembalikan pertanyaan dari sang ibu.


“Ibu juga baik, mau makan apa?”,ibu tiri Amira dengan semangat membolak-balik buku menu yang tergeletak di meja.


“Ngomong-ngomong kapan kamu mau berkunjung pulang?, kamarmu kosong terus kamu tahu, dari pada sewa tempat tinggal, menurut ibu akan lebih hemat untuk tinggal di rumah bukan?”, ibu tiri Amira berbicara dengan sangat ramah.


“Kalau sebagai gantinya ibu mau keluar dari sana, mungkin aku bisa tinggal di rumah untuk merawat ayah”, jawaban Amira menyisakan sepi diantara mereka berdua.


“Amira, ibu mengerti mungkin tidak mudah untukmu menerima ibu, tapi ibu bersungguh-sungguh menyayangi ayahmu, dan ibu juga bersungguh-sungguh peduli padamu”, Ibu tiri Amira tersenyum dengan canggung menatap Amira sembari menahan air mata.


Untuk beberapa saat Amira terdiam menatap ibu tirinya yang terlihat memiliki cekungan pipi yang lebih jelas.


“Yah, kalau seperti itu mau bagaimana lagi”, Amira tersenyum.


Pertemuan yang awalnya cukup menyenangkan itu harus di selesaikan dengan kecanggungan yang kian meningkat.


Amira berjalan pulang, dia membuka tas kecilnya yang terasa bergetar degan sedikit terburu-buru.


“Mir kamu masih di kos yang dulu?”, suara Rani jelas terdengar di kuping Amira.


“Ya, memang kenapa?”, Amira menjawab.


Dan saat Amira sampai di depan pintu kamarnya, di sana dia mendapati Rani yang memang sudah menunggunya sembari memamerkan gigi depannya, tersenyum lebar menutupi rasa tak enaknya.


“Kenapa?”, Amira terkekeh sambil bertanya saat melihat temannya itu.


“Aku senang karena ternyata kamu belum pindah, aku lagi ribut dengan ibu di rumah, jadi malas pulang”, ucap Rani.


“Tapi kapan kamu pindah?, kamu sudah bilang berkali-kali mau pindah, tapi sudah sebulan berlalu, gak jadi juga”, Rani bertanya sembari masuk kedalam kamar mandi.


“Yah, gak tau, aku malas pindahan”, Amira menjawab pelan.


“Kalau itu, nanti aku bantu, aku bisa pinjam mobil pamanku”, Rani berteriak dari dalam kamar mandi.


“Dari pada kamu pulang-pergi jauh banget ke tempat kerja barumu”, Rani masih mencoba menawarkan kemudahan untuk Amira.


Amira terdiam tak menjawab, jelas mungkin ada sesuatu yang Amira harapkan dengan tetap tinggal di lingkungan itu.


Hari berganti, Amira kini bekerja sebagai karyawan bagian akuntan di sebuah perusahaan menengah. Sore itu Amira pulang menggunakan sepeda motor yang ia mulai cicil sejak satu bulan yang lalu.


Amira memarkirkan motornya didepan mini market yang dulu dia pernah bekerja di sana.


“Kak!”, Amira memanggil seorang lelaki yang seringkali menjadi rekan shiftnya.


“Oh Amira?”, lelaki muda itu sepertinya sudah cukup terbiasa dengan kedatangan Amira.


“Gimana?, ada kabar?”, Amira bertanya tanpa basa-basi.


“Emm, ga ada. Para atasan sepertinya tak mau di tanyai, kenapa tidak kamu coba hubungi pak supervisor?”, ucap lelaki itu.


“Sepertinya aku di blok”, Amira menjawab dengan lesu.


“Atau kamu langsung datang ke kantor polisi saja, dan bilang ingin besuk”, Satu saran lagi terucap dari lelaki itu. Namun Amira hanya terdiam sembari menghembuskan nafas.


“Aku tak mengerti, tapi sepertinya aku di halangi untuk bertemu dengan Arthur, aku benar-benar khawatir”, Amira terdiam dengan wajah sedih.


“Maafkan aku kak, rasanya aku terlalu sering mengganggumu untuk alasan ini”, Amira berucap dengan wajah menghadap tanah, tertunduk seolah berusaha menyembunyikan kesedihan yang sangat jelas terlihat.


“Mir”, lelaki itu memanggil Amira dengan ragu.


“Ya?”, Amira yang sudah bersiap mengendarai motornya itu menatap teman lelakinya itu tanpa berkedip.


“Traktir aku soto di sebrang dong”, ucap lelaki itu sembari memegang stang motor Amira dan memberi isyarat agar Amira mundur.


“Ap, ah ya”, Amira yang setengah bingung segera mundur sehingga dirinya duduk di jok penumpang.


Dalam diam, Amira sesekali menatap mantan rekan kerjanya yang sedang sibuk memilih menu, walau pada akhirnya memilih soto sesuai dengan ucapannya di awal.


“Tapi jangan bilang kalau aku yang memberi tahumu”, lelaki itu tiba-tiba berbicara.


Amira yang memang sudah menantinya segera menatap lelaki di depannya dengan lekat.


“Aku memberi tahumu karena sepertinya kamu sangat khawatir, tapi sebenarnya kamu tak perlu khawatir”, lelaki itu mulai menjelaskan.


“Lalu?”, Amira menagih penjelasan lebih saat tiba-tiba temannya itu terdiam dan berhenti berbicara.


“Hmm, Arthur itu dia baik-baik saja”, jelas lelaki itu sembari memalingkan pandangannya dari Amira.


“Persis seperti itu”, Amira menimpali lelaki di hadapannya setelah beberapa saat terdiam.


“Apa?”, “Polisi pun persis seperti itu setiap kali aku bertanya mengenai Arthur”, Amira berbicara setengah mendesah karena rasa frustasi.


“Begini Amira, tapi kamu tidak boleh melakukan apapun yang menunjukan bahwa kamu tahu yang sebenarnya”. Lelaki dihadapannya terlihat mencoba bersiap-siap menumpahkan rahasia yang dia coba pertahankan sejak tadi.


“sebenarnya perusahaan sudah mencabut tuntutan dan tiga rekan Arthur sudah di bebaskan”, “ aku pun sudah menerima uang kompensasi yang cukup besar”, “tapi tiba-tiba kudengar Arthur meminta agar dirinya kembali di tuntut sendirian dan di tahan selama lima bulan “. Lelaki yang dulu menjadi saksi mata perampokan bersama Amira itu menjelaskan dengan terbata-bata merasakan desakan dari sorot pandang Amira.


“Aku tidak terlalu mengerti kenapa, tetapi mereka meminta agar hal ini di sembunyikan darimu, dan dari cara mereka memberi tahuku, jelas para atasan kita memihak kepada Arthur, dan sepertinya mereka sedang melakukan sesuatu yang benar-benar aku tidak mengerti”, Amira masih terus menatap lelaki itu meminta penjelasan lebih.


“Karena itu, kamu tak perlu khawatir”, lelaki itu menunduk menatap lurus pada hidangan soto yang ia tunggu sejak tadi, Dia mengaduk soto itu dengan serius, sembari mengindari tatapan Amira yang masih belum berakhir juga.


“Aku benar-benar hanya tahu sampai di sana!”, lelaki itu menyerah dan menatap lurus ke mata Amira.


“Ah, maafkan saya, terimakasih karena memberitahu saya”, Amira melanjutkan lamunannya, mencoba menerka apa sebenarnya yang sedang terjadi.