
Pagi itu adalah hari pemakaman ayah Amira, Arthur melamun di dalam mobil yang terparkir di bahu jalan, dia melihat ke arah tempat pemakaman umum yang cukup ramai pagi itu.
“Kamu tidak turun?”, Bima berkomentar setelah cukup bosan dirinya menemani Arthur di dalam mobil tersebut, bahkan sejak subuh saat rombongan pengantar jenazah belum datang dan para penggali baru mulai bekerja.
“Yah, tak perlu”, Arthur menjawab.
“Kenapa mempersulit diri sih?, kalau dari caranya berusaha untuk membesuk kamu saat berada di penjara, kelihatannya wanita itu juga masih sangat menyukaimu, dan kamu jelas sudah tergila-gila”, Bima sepertinya tak bisa mengerti dengan tingkah temannya itu. Namun kalimat yang dia lontarkan tadi tak di gubris sedikitpun oleh Arthur.
“Kalau aku jadi kamu, aku sudah melamarnya tanpa berpikir dua kali”, Bima yang tak terbiasa mengobati kejenuhan dengan bermain ponsel sepertinya mulai meracau semaunya. Namun tentu saja Arthur tetap tak bersuara.
“Ada dua tipe orang saat di hadapkan dengan rasa cinta”, Arthur membuka mulutnya setelah beberapa saat mengabaikan temannya itu. Bima melirik dan menatap Arthur yang masih memandang ke luar kaca mobil.
“Orang yang tak banyak memikirkan segalanya dan yang terpenting untuk mereka adalah perasaan mereka, dan orang yang kedua adalah orang yang terlalu banyak berpikir dan menimbang-nimbang sehingga terus menahan perasaan mereka”, Arthur berbicara dengan tenang.
“Dan kamu adalah nomor dua?”, Bima membuang pandangannya dari Arthur sembari tersenyum seolah mengejek pandangan itu. Bagi Bima menanggapi cinta dengan rumit seperti itu hanyalah membuang-buang waktu dan terlalu konyol. Baik itu nomor satu ataupun nomor dua yang Arthur sebutkan, keduanya omong kosong
.
“Dulu aku nomor satu..”, Arthur bergumam.
“Lalu?, kenapa kamu jadi nomor dua?”, Bima menggaruk pelipis matanya tanpa sebab.
"....,"
“Tidak kah menurutmu di sana terlalu damai?”, Arthur bertanya sembari tetap memperhatikan proses pemakaman dari jauh, walau sebenarnya benar-benar terhalang oleh semak dan pepohonan. Bima yang mendengar itu menengok mencoba mengintip ke arah Arthur memandang dengan sedikit usaha.
“Hmm, ya mungkin”, Bima berucap dengan ragu. Tapi memang terlihat diantara pengantar jenazah yang lewat sebelumnya, tak terlalu terlihat di selimuti oleh rasa kehilangan seperti pada pemakaman pada umumnya.
“Itu karena yang mereka gotong itu adalah perisak, yang cenderung selalu memberikan masalah dan perasaan tidak senang kepada sekelilingnya. kemudian saat mereka kehilangan orang tersebut, mereka bingung diantara rasa sedih atau rasa lega, atau jika lebih jauh lagi, mungkin ada orang yang merasa senang”, Arthur menjelaskan.
“Hmm, lalu?..”, “Apa hubungannya dengan kamu menjadi nomor dua?”, Bima kemudian mencoba membawa kembali topik pembicaraan ke pembicaraan awal.
“Itu karena aku mirip dengan dia..”, Bima mengerutkan keningnya mendengar ungkapan Arthur itu, Bima mungkin berpikir ungkapan Arthur terlalu di paksakan, karena dirinya yakin akan ada banyak orang yang merasa kehilangan jika sampai Arthur tiada, termasuk dirinya yang selama ini merasa berhutang budi. Bima mengerutkan kening beberapa saat lalu mencoba membuka mulutnya, namun dia terhenti saat menyadari Arthur menarik nafas untuk melanjutkan kata-katanya.
“Setidaknya untuk Amira”, kelanjutan ungkapan Arthur itu semakin membuat kerung wajah Bima.
“Kamu memukulinya?”, Bima bertanya dengan perasaan tak percaya, itu karena Bima sadar Arthur benar-benar selalu berusaha melindungi Amira bahkan selama mereka sudah berpisah. Se sayang itulah Arthur kepada Amira, hingga tak terbesit dalam pikiran Bima bahwa Arthur akan menyakiti Amira secara fisik.
“Hanya saja lingkunganku selalu membuatnya tidak nyaman, dan cenderung membahayakannya, dan membuatnya selalu merasa ingin keluar dari lingkungan itu, yang berarti meninggalkanku”, Arthur memijat pelipisnya sembari menarik nafas dalam.
“Hmm.., tapi bukankah sekarang mungkin tidak akan?, kita sudah memutuskan untuk fokus di dunia terang, dan aku akan berusaha memastikan Heru melakukan tugasnya dengan benar”, Bima menepuk pundak Arthur sembari tersenyum.
Tugas Heru adalah pengamanan dan urusan-urusan jalur belakang yang tak bisa dihindari perusahaan. Itu karena kebanyakan perusahaan menengah keatas beberapa atau bahkan kebanyakan tentu berjabat tangan dengan dunia gelap jika ingin bertahan kokoh. Dan Bima adalah orang yang mengatur dan memastikan semua jadwal dan masalah terselesaikan pada tempatnya, baik itu Farhan ataupun Heru.
“Yah, tapi pada kenyataannya kita masih belum stabil dan aman, kamu tahu bahwa tak semua perangkat keamanan dan pemerintahan bisa di bereskan dengan mudah, tak sedikit dari mereka yang bertanggung jawab pada sumpah, dan karena itu kita dengan hati-hati mencoba menyembunyikan dan memusnahkan segala sesuatu yang sekiranya akan menghancurkan kita”, Arthur mengangguk-anggukan kepalanya pelan.
“Yah..”, Bima tentu saja berhenti dari pembicaraan itu, karena pada akhirnya Arthur benar. Bima sekali lagi tersenyum, kali itu tersenyum sambil diam tak bersuara.
“Kudengar kamu meminta rekomendasi karyawan dari beberapa kampus, dan cukup memaksa kepada seorang dosen dengan spesifikasi mahasiswi yang sangat spesifik. Farhan mengeluh terakhir kali karena harus membujuk dosen itu berkali-kali”, Heru tertawa.
“Kamu bilang tak bisa menyentuhnya sekarang, tapi kamu menggenggamnya dengan cara seperti itu”, Bima kembali memaparkan.
“Yah, aku tak bisa membiarkan dia menghilang sebelum aku siap untuk kembali kepadanya”, Arthur membuka kunci pintu mobi.
“Kemana?, katanya tak perlu kesana..”, Bima menatap Arthur yang turun dari mobil.
“Yah, ini jam-jam untuk melihat wajahnya”, Arthur kemudian menutup pintu mobil sembari melihat ke sekeliling.
“Dasar budak cinta, kamu lebih cocok di sebut penguntit”, Bima mengeluh karena dirinya tahu kalau Arthur hampir setiap hari mengikuti Amira sejak berita kepergian ayah Amira.
Tiga hari terakhir Arthur merasa buruk setiap kali melihat Amira dari kejauhan, itu karena dia tak terlihat menangis sedikitpun, namun wajahnya terlihat sangat berantakan.
Tanpa sadar Arthur membeku saat menyadari dirinya sedang saling bertatapan dengan Amira, dan bertanya-tanya apakah Amira akan mengenalinya dari jarak ini?. para pengantar jenazah sudah mulai pergi, namun Amira dan seorang wanita terlihat masih terdiam, dan malah berpindah tempat. Arthur melangkah beberapa langkah untuk memastikan Amira bisa terlihat oleh dirinya. Saat itu Arthur terdiam saat melihat Amira menangis sembari berpelukan dengan wanita itu, hari itu adalah kali pertama Arthur melihat Amira menangis sejak kematian ayahnya.
“Aah, dia kakak tirinya”, Arthur bergumam saat menyadari kalau wanita itu terlihat seperi di foto yang di tunjukan Heru. Arthur mendengar garis besar kasusnya dari Heru yang memiliki informan di kepolisian. Namun dirinya masih bertanya-tanya kenapa Amira malah memberikan kesaksian palsu?, Arthur cukup kerepotan saat harus membereskan hal itu, karena Amira hampir saja menjadi komplotan pembunuhan berencana dengan ibu dan kakak tirinya, mungkin akan menjadi ‘Anak kandung berkomplot dengan ibu tiri dan kakak tirinya untuk membunuh ayah kandungnya sendiri’, mungkin begitulah garis besar judul yang akan keluar di berita pikir Arthur.
“Hahhh, kalau Farhan telat beberapa jam saja menghubungiku, kamu pasti sudah di penjara, setidaknya karena menutupi kejahatan”, Arthur bergumam tidak jelas.
Arthur berpikir kalau Amira itu terlalu bodoh jika sampai menganggap polisi akan tertipu hanya dengan kesaksian canggung seperti itu, dalam keadaan dirinya tak tahu apapun tentang keadaan, dia tak di perbolehkan berbicara apalagi berkoordinasi dengan terduga pelaku saat itu. Belum lagi perkiraan motif pelaku juga jelas, karena saat kejadian ibu tiri Amira dalam keadaan lebam-lebam yang cukup parah, sangat jelas bisa disimpulkan sebagai dendam atau tak tahan dengan perlakuan korban. Arthur menggelengkan kepalanya frustasi.
“Apa kamu sangat menyayangi ibu tirimu?, atau merasa kasihan?, atau merasa bersalah?”,Arthur terus menatap Amira lekat.