
Pagi itu Amira berjalan dengan terburu-buru menuju ruang rapat pagi, Amira mengintip dan ternyata baru ada Bima yang duduk merokok sembari menikmati udara pagi yang masuk melalui jendela yang dia buka selebar mungkin, dari balik jendela itu terlihat jelas rumput dan dedaunan hijau dari taman di bagian belakang rumah. Saat itu masih jam enam pagi.
“Oh, maaf pak.. Bima?”, Amira merasa bingung harus memanggil teman Arthur itu seperti apa.
“Ya?”, Bima berdiri perlahan saat menyadari kehadiran Amira dan bukan Arthur.
“Saya pikir Arthur tak bisa bekerja hari ini, sejak pulang dari acara kemarin malam dia demam”, Amira terlihat ragu mengatakan hal itu.
“Ah, oh ya, tak masalah”, Bima menatap Amira yang terlihat menggunakan baju rapi serba hitam membawa tas tangan.
“Hmm, maafkan aku, tapi bisakah anda menjaganya sampai siang?,aku perlu mendatangi pemakaman kenalanku”, Amira tetap mengajukan permintaan walau ragu.
Bima terdiam beberapa saat, dengan rokok yang menjauh dari mulutnya.
“Ya tak masalah”, jawab Bima sembari tersenyum.
Pemakaman ibu Galih berjalan dengan baik, Beberapa kali Amira menatap Galih yang terlihat seperti kehilangan nyawa, sedang Tya yang berdiri di samping Amira terdengar sesenggukan mengantar kepergian bibinya itu. Amira perlahan mengulurkan tangannya ke punggung Tya, menepuk-nepuk punggung kecil itu pelan, berharap hal itu bisa menjadi penghiburan yang cukup.
Galih yang biasanya banyak bicara jika bertemu dengan Amira, hanya terdiam tak mengatakan apapun saat mata mereka bertemu pandang, Galih bahkan terlihat tak memiliki energi untuk sekadar menyapa Amira. Amira mengerti hal itu, rasa kehilangan yang teramat sangat membuat semua perasaan kita seolah ikut terkubur bersama orang terkasih itu, hanya meninggalkan rasa kosong dan sedih. Amira kembali teringat saat dirinya kehilangan ibunya, air matanya tak bisa di bendung selama berhari-hari, lalu kemudian saat airmata itu kering, perasaan aneh yang terasa buruk menyelimuti kehidupan Amira sebelum kemudian bisa terganti oleh perasaan merelakan.
Di hari berkabung itu, Amira dengan segera kembali ke rumah Arthur sesaat setelah proses pemakaman berakhir, Amira tak begitu tenang karena meninggalkan Arthur yang semalaman menggigil dengan suhu tubuhnya yang panas. Mata lelah Amira yang tak sempat tidur dengan benar semalaman akhirnya bisa di istirahatkan walau sebentar di dalam mobil di perjalanan pulang.
Saat Amira sampai di rumah, dengan tergesa-gesa Amira menuju kamar Arthur, namun kasur sudah kosong tak di tempati. Amira berjalan mengelilingi rumah mencari Arthur dan mendapati Arthur sedang duduk di ruang kerjanya di rumah itu.
“Arthur”, Amira memanggil Arthur sembari berjalan mendekati Arthur yang terlihat sedang bekerja menggunakan jaket tebal di jam sepuluh pagi, yang saat itu sinar matahari sebenarnya sudah mulai terasa merambat-kan hangat ke beberapa ruangan di rumah.
“Oh, kamu pulang?”, Arthur tersenyum melihat wanita yang saat itu telah menjadi istrinya.
“Kenapa kamu tak istirahat dengan benar?”, Amira menggapai kepala Arthur dengan tangannya.
“Ya tuhan, demam-mu bahkan masih tinggi”, Amira yang berhasil menyentuh dahi Arthur setengah mengomeli Arthur dengan kata-katanya.
“Haha, ya aku hanya mengerjakan hal ringan, karena merasa bosan berbaring terus di kasur”, Arthur tersenyum lemah sembari melingkarkan lengannya ke pinggang Amira, dan kemudian membenamkan wajahnya ke pelukan Amira.
“Haah, ini nyaman”, mendengar perkataan itu dari mulut Arthur, Amira terdiam beberapa saat lalu kemudian memeluk balik Arthur.
“Kemari lah”, Arthur menarik Amira ke pangkuannya dengan lembut.
“Arthur, aku berat”, Amira merasa tak enak hati jika harus duduk di pangkuan orang yang sedang sakit, namun walau sedang sakit, tenaga Arthur masih tetap lebih kuat daripada tenaganya.
“Kamu perlu makan lebih banyak lagi untuk menjadi berat”, Arthur sepertinya tak berbohong mengatakan nyaman saat memeluk Amira. Amira bisa merasakan tubuh panas Arthur bergelayut lemah dan berat di beberapa sudut tubuhnya, terutama bahunya.
“Hmm, kamu sudah sarapan?”, Amira mengangkat kedua tangannya lalu kemudian melingkarkan-nya ke leher Arthur.
Sepuluh menit berlalu dan mereka berdua masih berada dalam posisi berpelukan seperti itu, dan ternyata bukan hanya Arthur yang menemukan kenyamanan, tapi Amira yang hampir terpejam karena kantuk pun merasakannya.
“Arthur aku mengantuk, ayo istirahat di kamar”, Amira beranjak dari duduknya sembari khawatir kalau kaki Arthur mungkin saja mati rasa karena menahan tubuh Amira.
“Berjalanlah dengan benar, bisa-bisa kita tersandung”, Amira mengeluh sambil tersenyum.
Amira bangun dari tidur siangnya, menyadari ternyata hari itu sudah jam satu siang setelah tak sengaja melihat ke arah jam dinding yang tergantung di kamar.
Lengan kirinya yang merasakan berat menyadarkan Amira bahwa dirinya sedang memeluk kepala Arthur, perlahan Amira mengecek kembali demam Arthur dengan menempelkan punggung tangannya ke dahi dan pipi Arthur, dan ternyata demam Arthur sudah mulai turun walau masih sedikit demam. Keringat dingin terasa membasahi tubuh Arthur dan tubuh Amira yang bersentuhan dengan tubuh Arthur. Perlahan Amira menarik tangannya yang terasa kesemutan.
“Mau kemana?”, Arthur yang sepertinya terbangun karena merasakan pergerakan tangan Amira bertanya dengan linglung.
“Tak kemana-mana”, Amira tersenyum sambil menatap wajah bantal Arthur, wajah mereka berhadapan dengan jarak kurang dari sepuluh jari.
“Apa kamu masih pusing?”, Amira bertanya sembari mengelap keringat di wajah Arthur dengan tangannya.
“Ya, rasanya aku tak tahan ingin menciumi-mu”, Arthur tersenyum menatap Amira.
“Haha, apa hubungannya dengan pusing-mu?”, Amira terkikik.
“Tentu saja karena aku merasa frustasi menahan keinginan itu, dan itu terasa memusingkan”, Arthur menjawab.
“Kenapa harus di tahan?”, Amira kembali bertanya.
“Aku sedang demam dan sepertinya aku juga akan flu, kamu mungkin akan tertular”, jelas Arthur dengan suara berat dan serak.
“Hmm, begitu ya”, Amira bergeser mendekat, lebih dekat ke arah Arthur, hingga hidung mereka saling bersentuhan.
“Apa kamu ingin sakit?”, Tanya Arthur.
“Tidak.., aku menginginkan ciuman darimu..”, Amira mengangkat kepalanya sedikit berusaha menyentuh bibir Arthur menggunakan bibirnya. Namun Arthur menutupi mulut Amira menggunakan tangannya, Amira memanyunkan bibirnya kecewa, namun entah bagai mana, tiba-tiba tangan Arthur itu menarik kepala Amira dan membuatnya kembali terlentang di atas kasur, sedang bibir Arthur yang panas terasa menjelajahi leher Amira.
Perlahan tubuh Arthur mulai memanjat menghimpit tubuh Amira.
“Arthur?”, Amira membelai rambut Arthur perlahan dengan wajah yang mulai memerah. Seiring banyaknya ciuman dan sisa basah dari mulut Arthur di area leher Amira, Amira merasakan dirinya merasa terbakar di tengah hari itu.
“Haah, Arthur”, Amira memanggil nama Arthur sembari memainkan telinga dan rambut Arthur sambil tersenyum simpul.
“Amira..”,Arthur membisikan nama Amira itu tepat di telinga Amira, Amira bisa merasakan dengusan nafas panas Arthur kian memberat.
"Amira, kamu mengucapkan janji tadi malam, bahwa kamu akan selalu ada di sisiku, sepanjang sisa hidupmu, jangan lupakan itu". Arthur memandang tepat dari atas wajah Amira sembari membelai lembut lembaran rambut Amira.
" Haha, aku membaca apa yang tertulis di kertas" ,Amira terkekeh menggoda Arthur.
"Tapi kamu sudah mengatakannya dan bersedia membacanya sebagai janji, kamu tahu itu". Arthur mengerutkan dahinya.
" Ya, karena isinya sangat mirip dengan apa yang memang aku inginkan" , penjelasan Amira sambil mengusap alis Arthur yang terlihat agak menegang, dan membuatnya berubah menjadi senyuman di wajah Arthur.